NovelToon NovelToon
SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

SARUNG TANGAN PENGHANCUR GUNUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Bagi Zei, dunia hanyalah hamparan lumpur sawah Desa Danau Keruh dan beratnya cangkul di pundak. Namun, segalanya runtuh dan lahir kembali ketika ia menyaksikan Turnamen Musim Semi. Di atas panggung kuarsa, ia melihat Qian Yue’er—sang "Permata" dari Sekte Cendrawasih—bertarung dengan keanggunan yang menyerupai tarian burung surga.

​Terpikat oleh keindahan yang mustahil itu, Zei menolak takdirnya sebagai petani. Menggunakan Qi elemen tanah yang kasar dan memodifikasi alat tani menjadi senjata, ia nekat merangkak naik dari turnamen ke turnamen. Di tengah cemoohan kaum bangsawan yang menganggapnya "pungguk merindukan bulan", Zei harus bertarung melawan rasa mindernya sendiri.

​Ini bukan tentang menjadi yang terkuat di kolong langit, ini tentang sebuah janji naif seorang anak desa: agar bisa berdiri di panggung yang sama dan melihat sang bulan menari sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK ES DI ATAS DARAH

​Hujan tipis mengguyur distrik barat Ibu Kota Wilayah ketika malam beranjak menuju fajar. Di dalam paviliun kayu yang tersembunyi di balik rumpun bambu, keheningan terasa begitu mencekam. A-Lang duduk di sudut ranjang giok, kedua lututnya ditekuk erat ke dada dengan tubuh yang sesekali bergetar samar. Ini adalah malam pertama setelah mereka merenggut nyawa manusia. Bau darah Guo Lei dan pengapnya Aula Tengkorak Hitam seolah masih menempel erat di ujung hidungnya, memicu gejolak mual yang sulit dihilangkan oleh anak muda yang dulunya hanya mengurus tanaman obat itu.

​Di seberang ruangan, Zei duduk bersila dengan ketenangan yang kontras. Wajahnya datar, seolah-olah dilapisi oleh lapisan kuarsa yang dingin. Menggunakan selembar kain rami bekas, ia mengusap permukaan besi hitam Sarung Tangan Penghancur Gunung miliknya dengan perlahan. Sisa darah kering milik murid elit Sekte Taring Emas itu perlahan terkikis, menyingkap kembali guratan segel emas kuno yang berkedip redup di bawah cahaya lilin yang bergoyang.

​"Zei..." suara A-Lang memecah kesunyian, serak dan bergetar. "Kita... kita benar-benar telah membunuh mereka. Apakah kita tidak ada bedanya dengan bajingan-bajingan itu?"

​Zei menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap A-Lang, lalu beralih menatap telapak tangannya sendiri. "Ada bedanya, A-Lang. Mereka membantai orang-orang tidak bersalah di desa kita demi memuaskan keserakahan atas tanah kuno. Sedangkan kita? Kita mencabut nyawa mereka agar tidak ada lagi desa lain yang bernasib sama seperti kita. Di dunia kultivator ini, kebaikan tanpa taring hanyalah umpan bagi serigala."

​Zei kemudian meraih kotak obat kayu milik tabib desa dan kantong spasial milik Guo Lei yang mereka jarah. Ketika kotak obat dibuka, kehangatan emosional menyelimuti dada mereka; di dalamnya terdapat beberapa lembar resep kuno penahan darah yang ditulis dengan tulisan tangan kasar sang tabib tua, serta beberapa botol salep tanah murni.

​Sementara itu, di dalam kantong spasial Guo Lei, selain ratusan koin spiritual dan obat pemulih, Zei menemukan sebuah gulungan rencana operasi militer. Begitu membukanya, mata Zei menyipit tajam. Gulungan itu berisi cetak biru ekspansi Sekte Taring Emas untuk memonopoli seluruh tambang batu kuarsa di wilayah luar kota, termasuk jalur bawah tanah yang baru saja mereka lewati. Jika ekspansi ini berhasil, Sekte Taring Emas akan menguasai separuh pasokan energi Ibu Kota.

​Pagi harinya, Ibu Kota Wilayah gempar. Kabar tewasnya Guo Lei, salah satu murid elit luar yang paling potensial dari Sekte Taring Emas, menyebar seperti api menyiram minyak di distrik bawah tanah hingga ke telinga para petinggi kota. Kematian itu dianggap sebagai tamparan keras bagi wibawa Sekte Taring Emas. Karena pembunuhan itu dilakukan dengan teknik penghancuran dalam yang sangat padat—khas elemen bumi tingkat tinggi—banyak pihak mulai berspekulasi bahwa ini adalah ulah sisa-sisa pengikut Sekte Bumi Suci kuno yang mencoba bangkit kembali dari kegelapan.

​Demi menjaga netralitas dan menghindari bentrokan sipil yang meluas, Mahkamah Penegak Hukum Ibu Kota melibatkan Sekte Cendrawasih—sekte papan atas berelemen es murni yang terkenal objektif—untuk memimpin tim investigasi gabungan di Aula Tengkorak Hitam.

​Lantai Aula Tengkorak Hitam yang retak dan berantakan masih menyisakan bau hangus ketika gerombolan murid berpakaian jubah putih salju melangkah masuk. Di barisan depan, dipimpin oleh seorang wanita muda berwajah anggun dengan tatapan sedingin es, Qian Yue’er. Selendang sutra barunya berkibar pelan mengikuti ayunan langkah kakinya yang anggun.

​"Periksa setiap sudut. Jangan biarkan murid Sekte Taring Emas menyembunyikan bukti apa pun sebelum kita menyelesaikan analisis forensik energi," perintah Qian Yue’er, suaranya yang jernih namun tegas menggema di dalam aula yang sepi.

​Yue'er berjalan mendekati pusat panggung, tepat di titik tempat mayat Guo Lei sebelumnya ditemukan. Ia berjongkok, jemari lentiknya menyentuh bekas retakan batu yang hancur berkeping-keping. Sisa-sisa energi Qi bumi di tempat itu terasa sangat masif, padat, dan memiliki kerapatan yang tidak biasa—sangat bertolak belakang dengan teknik bumi kasar yang biasa digunakan oleh para bandit lokal.

​‘Kerapatan energi ini... bukan milik kultivator biasa,’ batin Yue'er, dahinya berkerut dalam.

​Namun, saat ia memejamkan mata untuk memfokuskan indra spiritual es murninya lebih dalam ke sela-sela retakan batu, jantungnya mendadak berdetak dua kali lebih cepat. Di antara tebalnya sisa aura bumi yang membunuh, terdapat secercah getaran energi lain yang sangat tipis, hampir tidak terdeteksi oleh orang lain. Getaran itu terasa sangat dingin, jernih, dan membisikkan resonansi yang sangat ia kenali.

​Itu adalah getaran es murni miliknya sendiri. Lebih tepatnya, sisa getaran dari selendang sutra putih lamanya yang kini berada di tangan Zei.

​Jiwa es murni di dalam dantian Yue'er bergejolak hebat, mengenali bahwa selendang tersebut baru saja berada di tempat ini beberapa jam yang lalu, digunakan untuk menekan emosi yang meluap-luap dari sang pelaku pembunuhan.

​‘Zei... dia belum mati,’ sebuah kesimpulan mengejutkan seketika menghantam pikiran Qian Yue’er. ‘Dia tidak mati di Hutan Kematian. Dia ada di sini, di Ibu Kota... dan dialah yang menghancurkan tubuh Guo Lei.’

​"Senior Muda Yue'er, apakah Anda menemukan sesuatu?" tanya seorang murid Cendrawasih dari belakang, melihat Yue'er terpaku cukup lama di atas panggung.

​Qian Yue’er segera menarik kembali tangannya, mengepalkan jemarinya untuk menyembunyikan getaran batinnya. Mengingat kembali laporan gurunya tentang bagaimana Sekte Taring Besi memanipulasi dirinya untuk membantai desa pemuda itu, rasa bersalah yang mendalam kembali menggores hatinya. Jika ia membeberkan bukti ini sekarang, Sekte Taring Emas akan mengerahkan seluruh pasukan elit mereka untuk mencincang Zei sebelum pemuda itu sempat menuntut keadilan.

​"Tidak ada," jawab Qian Yue’er datar, bangkit berdiri dengan ekspresi wajah yang kembali sedingin es tanpa cela. "Pelaku sangat rapi. Energi bumi di sini terlalu kacau untuk dilacak rutenya. Sampaikan pada Sekte Taring Emas bahwa pembunuhnya kemungkinan adalah kultivator pengembara tingkat tinggi dari luar wilayah yang sudah pergi meninggalkan kota."

​Malam kembali turun membungkus Ibu Kota Wilayah. Di paviliun distrik barat, Zei sedang berdiri di dekat jendela, menatap rembulan yang tertutup awan hitam. Selendang putih di pinggangnya mendadak terasa sedikit hangat, memancarkan pendaran es tipis yang samar sebelum akhirnya mereda kembali. Zei menyentuh kain sutra itu, merasakan firasat aneh bahwa keberadaannya di kota ini mungkin telah disadari oleh pemilik asli selendang ini.

​Di tangannya, gulungan rencana ekspansi tambang Sekte Taring Emas telah ia pelajari sepenuhnya. Matanya berkilat menembus kegelapan malam.

​"Mereka mencari sisa-sisa warisan bumi di bawah tanah," gumam Zei pada diri sendiri, tudung jubah hitamnya kembali ia tarik ke atas untuk menutupi wajahnya. "Jika mereka ingin menggali bumi... maka aku yang akan menjadi kuburan mereka."

​Meskipun Qian Yue’er telah berhasil menemukan jejak takdirnya di atas darah Aula Lelang, takdir tampaknya masih menahan pertemuan langsung mereka. Keduanya kini bergerak di bawah langit malam yang sama; Yue'er yang mulai menyusun rencana rahasia untuk menyelidiki kebusukan sekutu sektenya sendiri, dan Zei yang bersiap melangkah lebih dalam ke dalam pusaran intrik Ibu Kota demi membalas dendam darah desanya yang belum tuntas. Panggung pertempuran yang sesungguhnya baru saja disiapkan di balik bayang-bayang tembok megah.

1
y@y@
👍🏾⭐👍🏻⭐👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏿🌟💥
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
💥👍🏿👍🏻👍🏿💥
y@y@
🌟👍🏾👍🏼👍🏾🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
🌟👍🏿👍🏻👍🏿🌟
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
💥🌟👍🏻🌟💥
y@y@
⭐👍🏾👍🏼👍🏾⭐
y@y@
👍🏿👍🏻🌟👍🏻👍🏿
y@y@
💥👍🏾👍🏼👍🏾💥
y@y@
⭐👍🏿👍🏻👍🏿⭐
y@y@
🌟👍🏼👍🏻👍🏼🌟
y@y@
⭐👍🏿👍🏾👍🏿⭐
y@y@
👍🏻⭐👍🏿⭐👍🏻
y@y@
👍🏾🌟👍🏼🌟👍🏾
y@y@
💥🌟👍🏼🌟💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!