NovelToon NovelToon
Raja Cahaya Yang Mencintai Ratu Kegelapan

Raja Cahaya Yang Mencintai Ratu Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: leona athena

menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15 : air mata kristal dan kata kata dari hati

Suasana di dalam ruangan yang megah itu kembali hening. Hanya suara angin halus yang berhembus dan gema suara mereka yang masih terasa tersisa di dinding-dinding tinggi.

Elara masih menatap Xavier, matanya yang hitam pekat itu dipenuhi kebingungan yang begitu dalam. Ribuan pertanyaan berputar-putar di dalam pikirannya, namun tidak ada satu pun yang bisa ia temukan jawabannya. Seluruh pemahamannya tentang dunia, tentang manusia, tentang hubungan antar sesama makhluk, seolah-olah runtuh dan tergantikan oleh kenyataan yang ada di hadapannya ini.

Ia merasa bingung. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia terus bersikap dingin dan menolak, seperti yang selalu ia lakukan selama ribuan tahun ini demi melindungi dirinya sendiri? Atau haruskah ia membuka sedikit saja celah di benteng pertahanannya, dan memberi kesempatan pada hal yang baru ini untuk masuk?

Semua yang pernah ia alami menyuruhnya untuk menjauh, untuk tidak percaya, dan untuk mengusir orang ini secepatnya. Namun, perasaan yang baru muncul di dalam dirinya, perasaan yang hangat dan damai itu, justru menyuruhnya untuk diam dan mendengarkan, untuk membiarkan hal ini berlanjut.

Dalam kebingungan itu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

TITIK...

Satu tetes cairan bening, jernih dan berkilau seperti kristal murni, jatuh perlahan dari sudut matanya. Tetesan itu jatuh menuruni pipi putihnya, lalu jatuh membasahi gaun hitamnya, meninggalkan bekas yang berkilau sesaat sebelum menghilang.

Elara terkejut. Ia segera mengangkat tangannya, menyentuh pipinya, dan merasakan ada kelembapan di sana. Ia menatap jari-jarinya, dan melihat sisa tetesan itu yang masih berkilau di ujung jarinya.

Air mata.

Sudah berapa lama ia tidak menangis? Sudah ribuan tahun. Sejak hari di mana ia dikhianati, sejak hari di mana ia memutuskan untuk menutup hatinya rapat-rapat, ia tidak pernah lagi mengeluarkan air mata. Ia pikir hatinya sudah membeku sedemikian rupa, sehingga ia tidak bisa lagi merasakan kesedihan, tidak bisa lagi menangis. Tapi sekarang, tanpa ia sadari, air matanya mengalir dengan sendirinya.

Ia segera menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikannya. Ia tidak mau terlihat lemah. Ia tidak mau orang ini melihat sisi dirinya yang rapuh, sisi yang selama ini ia sembunyikan dari semua orang.

Namun, Xavier melihat semuanya. Hatinya terasa seperti tercabik-cabik melihat wanita yang ia cintai menangis, melihat betapa beratnya beban yang ia pikul sendirian selama ini.

Elara berusaha menenangkan dirinya, lalu kembali menatap Xavier, berusaha mengembalikan sikap dinginnya meski air matanya masih terus mengalir perlahan.

"Aku tahu..." ucapnya, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap tegas. "Kau datang karena mendengar tentang Bunga Bulan milikku. Bunga yang bisa memanjangkan umur, yang bisa menyelamatkan orang yang hampir mati. Kau pasti ingin mengambilnya, kan? Kau ingin menggunakannya untuk orang yang kau cintai, atau untuk dirimu sendiri agar bisa hidup selamanya..."

Ia mengira itulah alasannya. Itu satu-satunya hal yang berharga yang ia miliki selain kekuatannya. Itu satu-satunya hal yang menurutnya bisa membuat orang seberharga Raja Kehidupan mau datang mendekatinya.

Namun, mendengar kata-kata itu, Xavier hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Senyum lembutnya tidak pernah hilang dari wajahnya.

"Tidak, Yang Mulia..." jawabnya dengan suara yang begitu lembut, begitu hangat, dan begitu tulus sehingga suara itu terasa meresap langsung ke dalam tulang sumsum dan hati Elara. "Bunga itu indah, memang. Tapi bagiku, ia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan orang yang merawatnya, dibandingkan dengan orang yang menumbuhkannya dengan kasih sayang. Aku tidak datang untuk bunga itu. Aku tidak datang untuk kekuatanmu. Aku tidak datang untuk apa pun yang ada padamu."

Xavier berhenti sejenak, menatap mata Elara dalam-dalam, dan kata-kata yang keluar dari bibirnya selanjutnya diucapkan dengan penuh perasaan, seolah ia sedang menyanyikan sebuah lagu yang indah dan abadi.

"Aku datang karena aku mendengar namamu berulang kali dalam hatiku. Aku datang karena aku merasa ada bagian dari diriku yang hilang, dan aku baru menyadari bahwa bagian itu ada di dalam dirimu. Aku datang karena aku mencintaimu, Elara. Bukan karena apa yang kau miliki, tapi karena dirimu sendiri. Aku mencintaimu sebagai dirimu yang sebenarnya—seorang wanita yang terluka, yang kesepian, yang memikul beban yang terlalu berat untuk satu orang saja, tapi tetap bertahan dengan kuatnya."

Kata-kata itu mengalun lembut, dan setiap kata seolah memiliki kekuatan magis yang mampu menembus lapisan demi lapisan pertahanan yang telah dibangun Elara selama ribuan tahun.

"Kau bilang kita bertolak belakang, bahwa kehidupan dan kematian tidak bisa bersatu..." lanjut Xavier dengan nada yang makin lembut dan romantis. "Tapi bukankah itu yang membuat kita sempurna? Siang dan malam, terang dan gelap, panas dan dingin—semuanya ada karena saling melengkapi satu sama lain. Tanpa kematian, kehidupan tidak akan ada artinya. Tanpa kehidupan, kematian tidak akan memiliki makna. Kita diciptakan untuk bersama, Elara. Kita adalah dua bagian dari satu kesatuan yang utuh."

"Kau bilang kau hanya bisa mengambil, hanya bisa membawa akhir dari segalanya..." katanya lagi, suaranya kini terdengar begitu menenangkan. "Tapi kau salah. Kau memberikan keseimbangan bagi dunia. Kau memberikan makna bagi waktu yang kita miliki. Dan bagiku... kau memberikan segalanya. Kehadiranmu saja sudah cukup. Senyummu saja sudah menjadi anugerah terindah bagiku. Bahkan air matamu itu... bagiku itu adalah hal yang paling berharga, karena itu berarti kau masih memiliki hati yang bisa merasakan, hati yang masih hidup, meski kau pikir ia sudah membeku."

"Elara..." panggilnya dengan lembut, seolah sedang memanggil nama orang yang paling dicintainya di seluruh dunia. "Aku tidak meminta apa pun darimu. Aku tidak meminta kau langsung percaya padaku. Aku tidak meminta kau membuka hatimu seketika itu juga. Aku hanya meminta satu hal saja..."

Ia berhenti, dan tatapannya makin dalam dan penuh cinta.

"Berikan aku kesempatan. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa aku berbeda dari mereka yang pernah menyakitimu. Berikan aku kesempatan untuk berada di sisimu, untuk menemani hari-harimu yang sunyi, untuk berbagi beban yang selama ini kau pikul sendirian. Biarkan aku menjadi orang yang bisa kau percayai, orang yang bisa kau andalkan, orang yang akan selalu ada untukmu, apa pun yang terjadi."

"Jika suatu saat nanti aku membuatmu kecewa, jika aku menyakitimu sedikit saja... maka kau bisa melakukan apa pun padaku. Kau bisa mengambil nyawaku, kau bisa mengusirku, apa pun yang kau inginkan. Tapi sebelum itu terjadi, biarkan aku membuktikan bahwa cintaku ini tulus, bahwa aku tidak akan pernah mengkhianatimu, bahwa aku akan menjagamu dan mencintaimu seumur hidupku dan bahkan setelah itu pun."

Kata-kata itu terucap begitu indah, begitu tulus, dan begitu kuat.

Elara mendengar semuanya, dan rasanya seolah ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Hatinya yang telah membeku selama ribuan tahun itu, perlahan-lahan mulai mencair. Perasaan yang muncul di dalam dirinya membuatnya bimbang dan kacau.

Di satu sisi, ia sangat ingin mempercayainya. Ia sangat ingin merasakan apa itu dicintai dengan tulus, apa itu memiliki orang yang selalu ada di sisinya. Ia sangat ingin melepaskan semua rasa takut dan sakit yang ia rasakan selama ini.

Namun di sisi lain, rasa takut itu masih ada. Takut untuk terluka lagi, takut untuk dikhianati lagi, takut bahwa semua ini hanyalah mimpi indah yang akan lenyap begitu saja dan menyisakan rasa sakit yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.

Ia berdiri di persimpangan jalan. Antara menerima perasaan ini dan membiarkan dirinya bahagia, atau membuangnya jauh-jauh dan kembali hidup dalam kesunyian dan keamanan yang dingin namun terjamin.

Elara menundukkan wajahnya, air matanya masih terus mengalir, dan ia tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata apa pun rasanya tidak cukup untuk menggambarkan apa yang ada di dalam hatinya. Ia hanya bisa diam, terombang-ambing di antara dua pilihan yang sama beratnya.

Di hadapannya, Xavier tetap berdiri di tempatnya, tetap menjaga jarak yang ia inginkan, menunggu dengan sabar. Ia tidak memaksanya. Ia tahu butuh waktu, dan ia bersedia menunggu selama apa pun yang diperlukan.

Suasana di ruangan megah itu kini tidak lagi terasa dingin dan menakutkan. Ada kehangatan yang perlahan menyebar, mengalir dari hati satu ke hati yang lain, menyatukan dua dunia yang selama ini dianggap tidak mungkin bisa bersatu.

 

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya diterima juga😊
𝐀⃝🥀Weny
pembukaan ceritanya sangat bagus dan bikin penasaran😊
leona: hihihihi/Hey/
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!