"Saya penasaran, Berapa lama lagi tuan akan mencintai saya."
Cerita ini berlatar belakang era kolonial di Hindia Belanda, mengisahkan Santi, seorang gadis pribumi muda yang awalnya bekerja sebagai buruh tembakau. Kini beralih menjadi seorang baboe (pembantu rumah tangga) di rumah seorang Belanda.
Semua berawal dari sebuah pertemuan tak terduga di dalam gerbong kereta kelas tiga yang padat. Santi, yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari kota Surabaya, tanpa sengaja menolong seorang pria misterius yang tengannya terluka, Tuan Ludwig. Pria itu terus mengeluarkan suara menahan rasa sakitnya , Hingga Santi yang duduk di kursi dekat pria misterius itu memberanikan dirinya menawarkan sapu tangan untuk mengikatkan sapu tangan miliknya ke luka pria misterius itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PEACHESEEU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 15
Santi yang menundukkan kepalanya dalam-dalam dan matanya sedikit terbelalak, Ia seketika ingat. Di saat ia sudah memutar perban di sekitar bisep Tuan Ludwig, tangan Tuan Ludwig yang bebas dari luka perlahan bergerak. Santi merasakan sesuatu yang hangat dan halus menyentuh sisi wajahnya. Tuan Ludwig mengelus pipi Santi dengan punggung jarinya, gerakan itu sangat lembut dan tiba-tiba, membuat Santi tersentak kecil.
Santi seketika diam mematung, tidak berani mendongak maupun bergerak karena syok.
Lalu, sentuhan itu berlanjut. Ibu jari Tuan Ludwig mengusap lembut garis rahang dan leher Santi. Gerakan itu lambat, posesif, dan sangat tidak profesional. Itu bukan sentuhan kasih sayang, melainkan sentuhan penilaian—seperti seorang pemilik yang sedang memeriksa barang berharga. Santi menggerakkan kepalanya untuk menghindar dari sentuhan tuan Ludwig, 'Kenapa tuan tiba-tiba saja seperti ini, Ternyata apa yang dikatakan Bu Warti tadi. Sepertinya itu benar,'
Seluruh tubuh Santi menegang. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena romansa, melainkan karena ketakutan dan penghinaan. Ia merasakan panas menjalar di lehernya. “Aku sangat takut, Luka ini sudah selesai di balut. Lebih baik cepat-pergi dari ruangan tuan!!”
“Maaf tuan, luka anda sudah selesai. Saya pergi dulu ke dapur, Saya harus membantu Bu Warti di dapur sebentar!!” Ucap Santi dengan penuh kegugupan, Ia segera mengemasi kotak obat itu dan beranjak pergi dengan terburu-buru. Tuan Ludwig tidak berkata apa-apa, Ia hanya menarik tangannya dengan mata hijaunya hanya menatap Santi yang pergi keluar dari ruang kerjanya.. Ekspresinya tenang, puas, seolah ia baru saja membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri.
Santi yang bersimpuh di lantai kini menelan ludahnya dengan kasar, Ketika ia merinding dibuatnya. "Tuan maafkan saya karena lancang, Hari ini saya ada urusan di kota. Saya ingin meminta izin dari tuan untuk keluar sebentar dari rumah kediaman,"
"Izin dariku?? Memangnya kamu ingin pergi ke mana sekarang," Ujar Tuan Ludwig, Ia menatap Anton yang masih berdiam diam disana bak patung yang tak bernyawa. Dengan alisnya yang menungging, seperti ia sedang mengatakan pada Anton dengan matanya. 'Ah, Lihatlah Ini.'
“Saya, saya ingin pergi ke toko untuk membeli obat di kota. Tuan,”
“Obat?? Kenapa kamu ingin pergi ke sana,”
“Saya, Anu. Saya mendapatkan surat dari adik saya, Obat. Saya ingin membeli obat yang dibutuhkan ibu saya. Ibu saya sedang sakit di kampung tuan, Jadi saya meminta izin pada tuan untuk keluar sebentar ke kota.”
"Ah, Kalau begitu pergilah sekarang." Katanya, Sembari ia menghembuskan asap cerutu dari mulutnya. "Lagi pula aku juga ada urusan pekerjaan penting di luar, Kau bisa pergi dengan tukang delman yang sebelumnya menjemputmu dari stasiun kereta. Rumahnya tak jauh dari sini."
"Iya Tuan, Terimakasih tuan!!"
Santi bangkit dari tempat, Ia berbalik dan melihat manner Anton yang masih berdiri di tempatnya dengan tatapannya yang dingin. "Saya permisi tuan," Singkat Santi, Ia pun bergegas pergi.
"...”
...__...
Udara Surabaya terasa berat, bercampur antara aroma rempah, asap cerutu para Manner Belanda, dan debu jalanan yang dilalui trem listrik. Tujuan Santi adalah toko obat Tiongkok yang terletak di sebuah gang sempit, satu-satunya tempat yang menjual ramuan khusus yang dibutuhkan ibunya di surat itu. Kesehatan ibunya semakin memburuk sejak musim hujan lalu, dan obat inilah satu-satunya harapan yang tersisa.
"koh, Saya butuh obat yang ada di tulisan ini."
Pemilik toko yang melihat kedatangan Santi yang memberikannya secarik kertas, Ia memandangnya selama beberapa saat. Hingga ia memakai kacamata bulatnya dan membaca kertas yang diberikan oleh Santi, "Sebentar ya, Oek lihat dulu apa yang ditulis disini."
"Iya koh, Cepat ya. Saya butuh sekali obat ini koh,"
Kakek tua pemilik toko itu membaca tulisan yang ada di kertas, Lalu matanya beralih ke arah Santi lagi dengan tatapan tajam. "Obat ini ya,"
"Hayya, Oek tidak bisa kasih orang obat ini,"
"Kenapa koh?? Saya mau beli obat ini ko, Ibu saya sekarang sedang sakit dan butuh obat ini ko.
"Ya karena obat ini sudah habis di sini, Coba oek cari di toko yang lainnya. Belakangan ini Stok obat itu sangat sulit di dapat, Saya dari kemarin untuk itu pabrik kasih kirim ke saya. Tapi tidak dikirim kirim,"
Santi yang menegang kini tampak lemas, Ia mengatupkan bibirnya seperti tengah memikirkan sesuatu. "Iya ko, Makasih. Saya akan coba cari di toko lainnya,"
Santi pergi keluar dari toko itu dan saat itu juga pemilik toko itu hanya menghela nafas sembari ia melepaskan kacamata tuanya, Tatapan itu begitu misterius seperti ia tengah menyembunyikan sesuatu. Hingga ia melihat. ke arah bawah mejanya yang disana berserakan sebuah obat, 'Aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan pribumi itu, Hanya saja aku merasa kasihan dengan gadis itu. Tapi aku tidak bisa membantunya dengan memberi obat ini, Aku tidak mau kalau toko ditutup.'
"...."
Angin sore berhembus membawa debu dan suara klakson trem yang memekakkan telinga. Namun, bagi Santi, hiruk pikuk itu terasa jauh dan tuli di tengah kesibukannya. Ia telah menghabiskan seluruh hari itu untuk mencari. Dimulai dari toko obat Tiongkok di Kembang Jepun, ke Apotek Europeesch di Simpang, tempat para Nyonya Besar membeli parfum mahal—hingga ke kios-kios kecil di kampung Peneleh. Ia bahkan berani bertanya pada seorang pedagang India yang tampak mencurigakan di pelabuhan.
Hasilnya? Nihil.
Setiap jawaban yang didapatkan sama,"Ramuan itu sedang langka," atau "Kami tidak menjual obat Pribumi di sini," atau, yang paling menyakitkan, "Jual saja apa yang menurut kamu berharga, Nak, Nanti kamu baru kau bisa membeli obat ini jika kau mau."
Uang koin di genggamannya terasa dingin dan berat, namun tidak memiliki nilai sama sekali di hadapan ramuan penyelamat hidup ibunya. Setiap langkah yang ia ambil terasa membuang energi. Kakinya pegal, tenggorokannya kering, dan yang terpenting, harapannya terkikis habis menjadi debu. "Bagaimana ini,"
"Kenapa obat ini sangat susah dicari, Apa yang harus aku lakukan sekarang." Santi akhirnya menyerah.
'Aku sudah putus asa tadi dengan menemui Bu Warti untuk meminjam uang tadi, Beliau senang hati memberikannya tanpa bertanya apapun padaku. Aku kira meminjam uanglah yang akan sulit, Tetapi aku tidak menyangka jika obat ini jauh lebih sulit untuk di cari di kota sebesar ini. Kenapa tidak ada satu toko atau pedagang yang memiliki obat itu,' Ia berjalan ke pinggir jalan raya utama, menjauh dari keramaian kantor-kantor Belanda yang tampak megah dan acuh tak acuh. Ia menemukan tempat duduk di atas trotoar yang dingin, di bawah pohon asam tua yang daunnya berguguran.
“Kemana aku harus mendapatkan obat itu,”
Sore menjelang malam adalah waktu yang paling sunyi di tengah kebisingan kota Surabaya. Cahaya jingga meredup, digantikan oleh lampu-lampu gas yang mulai dinyalakan, menciptakan bayangan panjang dan bergidik. Santi menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di antara lututnya. Ia tidak menangis. Air matanya mungkin sudah kering, digantikan oleh rasa putus asa yang hampa.
Bagaimana sekarang?? Ia tidak bisa pulang ke kampung sekarang, Ia juga tidak bisa mengirimkan obat itu. Bagaimana dengan keadaan adikku yang sekarang menjaga ibu??
'Apakah memilih meninggalkan ibu dirumah dan bekerja di sini adalah kesalahan sekarang?? Dia bekerja jauh demi mendapatkan uang untuk membeli obat ibunya, Tapi sekarang Obat pun tidak bisa didapatkan di kota besar ini.'
Ia duduk di sana, membiarkan tubuhnya menjadi bagian dari kesunyian trotoar, merasa kecil dan tak berarti di bawah langit kolonial yang luas. Ia terlalu lelah untuk bergerak, Tiba- tiba, keheningan di depannya terganggu oleh sesuatu. Ia merasakan ada pergeseran udara. Aroma tembakau dan kain katun yang bersih, aroma yang berbeda dari bau selokan dan asap kendaraan yang biasa ia hirup, menusuk indra penciumannya.
Langkah kaki itu terhenti.
Santi yang masih menunduk, melihatnya. Sepasang sepatu pantofel kulit yang mengkilap, bersih dari debu Surabaya, berdiri tepat di hadapannya. "Siapa ini?? Kenapa dia berdiri disini, Apakah salah aku duduk diam di pinggiran jalan ini sekarang??"
"Sekarangkan sudah malam, Apakah orang yang berhenti didepanku ini?? Apakah ini tuan?"
Santi ragu. Apakah ini hanya halusinasi dari kelelahan? Atau mungkin seseorang akan mengusirnya karena duduk di area terlarang? Dengan sisa tenaga, perlahan, ia mendongakkan kepalanya. Pandangannya naik dari sepatu yang rapi, melewati lipatan celana panjang linen yang sempurna, hingga bertemu dengan wajah yang tak asing, yang menatapnya dengan ekspresi terkejut dan perhatian yang dalam.
Dani.
"Santi? Astaga, kamu kenapa ada disini?" Suara Dani tenang namun mendesak. Di tengah keputusasaan yang sunyi itu, kehadiran Dani terasa seperti sambaran petir.
"Dani...." Harapan yang mati mendadak hidup kembali, meski hanya berupa kerlipan kecil. Santi hanya mampu menggeleng, Ia tidak perlu berbicara. Matanya yang merah dan kelelahan menceritakan seluruh perjalanan putus asa hari itu.
Melihat Santi dalam kondisi itu, Dani memperhatikan sekitarnya yang ramai. Ia pun berjongkok dengan melepaskan coach miliknya untuk menutupi seluruh bagian Santi yang duduk dengan kondisi yang seperti itu, "Ada apa?? Kenapa kamu ada disini dan apa kamu menangis?? Bukannya sekarang kamu seharusnya berada di kediaman tuanmu, Apa yang kamu lakukan disini?? Sendirian"
“Aku-aku hanya Sedang-”
Orang-orang yang melewati jalanan itu melihat mereka berdua dan berisik, Dani yang sepertinya tak nyaman dengan pandangan itu ia mendekat ke Santi. "Jangan menangis disini, Kamu ikut aku dulu dan kita pindah tempat. Kamu bisa memberitahuku disana nanti, Disini banyak yang melihatmu menangis."
Santi menganggukan kepalanya, dengan Dani yang perlahan membantu berdiri Santi.
Di taman yang tidak jauh dari sana, Dani membawa Santi untuk duduk di bangku taman yang di bawah pohon kersen. "Duduklah, Akan aku ambilkan minum sebentar. Kamu tunggu dulu disini, Aku tidak akan lama. Kamu bisa menangis dulu disini sebentar, Aku tidak akan melihat kamu menangis." Kata Dani.