Saat pertarungannya melawan Hukum Langit mencapai puncak, Lin Xinyao seorang taois berbakat yang menentang takdir gugur dalam pertempuran. Namun sebelum jiwanya lenyap, sebuah cahaya putih menariknya ke dimensi lain, mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Yao Yao yang memiliki wajah identik dengannya. Yao Yao, yang lemah dan penuh luka batin, menyerahkan tubuhnya kepada Xinyao dan memintanya untuk hidup menggantikan dirinya.
Kini, Lin Xinyao terbangun di kehidupan baru yang bukan miliknya, membawa sumpah untuk suatu hari kembali menantang Hukum Langit sekaligus mengungkap rahasia kelam di balik tubuh yang kini ia huni.
---
CATATAN PENULIS
Karya ini adalah murni hasil khayalan dan imajinasi penulis. Segala nama, karakter, tempat, dan peristiwa tidak memiliki hubungan dengan dunia nyata. Jika ada kesamaan, itu semata-mata kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian kecil dari dua pria beda generasi
Keesokan paginya, saat langit masih diselimuti warna abu-abu pucat dan matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya, Meimei sudah lebih dulu terbangun. Apartemen itu masih sunyi, hanya suara jam dinding yang berdetak pelan menemani langkah kakinya. Dengan gerakan terlatih, ia merapikan rambut, mengganti pakaian, lalu mulai menjalani aktivitas paginya tanpa banyak suara.
Sementara itu, di kamar, Xinyao masih terlelap. Selimut menutupi tubuhnya hingga dagu, napasnya teratur, wajahnya damai seolah dunia di luar sana tak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya.
Di apartemen sebelah, Wei Chen sudah berdiri di dapur sejak subuh. Ia mengenakan celemek sederhana, tangannya cekatan mengolah bahan makanan. Aroma daging panggang dan roti hangat perlahan memenuhi ruangan. Setelah semuanya matang, Chen menata dua roti isi daging dengan rapi ke dalam kotak bekal, menambahkan satu kotak susu di sampingnya.
Ia berhenti sejenak, mengambil secarik kertas kecil, lalu menulis dengan tulisan tangan yang rapi:
Sarapan hari ini dua roti isi daging dan susu.
Makanlah dengan perlahan.
Hari ini aku ada kelas pagi, maaf tidak bisa menemanimu makan.
— Chen
Kotak bekal itu diletakkannya tepat di depan pintu apartemen Xinyao.
Chen berdiri sejenak, memastikan posisinya tidak menghalangi jalan, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.
Tak lama kemudian, Meimei keluar dari apartemen. Langkahnya terhenti ketika matanya menangkap kotak bekal di depan pintu.
“Hm?”
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Koridor itu kosong, sunyi, tak ada satu pun orang. Hanya lampu lorong yang menyala temaram.
Meimei berjongkok, mengambil kotak bekal itu, lalu melihat secarik kertas kecil di atasnya. Matanya menyapu tulisan itu pelan.
“Chen…” gumamnya.
Ia melirik ke arah apartemen sebelah.
“Mungkin sudah berangkat kuliah,” katanya lirih.
Meimei membawa kotak bekal itu masuk ke apartemen Xinyao dan meletakkannya dengan hati-hati di atas meja ruang tamu. Setelah itu, ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan singkat.
💬 Aku menemukan sesuatu di depan pintu. Barangnya ada di meja ruang tamu.
Pekerjaannya tak bisa menunggu. Meimei segera beranjak pergi, meninggalkan apartemen yang kembali sunyi.
Tak terasa, matahari semakin tinggi. Cahaya keemasan perlahan masuk melalui jendela apartemen Xinyao, menembus tirai tipis dan jatuh tepat di wajah gadis yang masih tertidur itu.
Tring.
Tring.
Ponsel di samping bantalnya bergetar tanpa henti.
“Siapa sih pagi-pagi ribut banget…” gumam Xinyao sambil membalikkan badan. “Nggak ada kerjaan apa, ganggu orang tidur aja…”
Getaran itu tak kunjung berhenti.
Dengan wajah kusut dan mata setengah terbuka, Xinyao meraih ponselnya.
“Banting juga nih, diam nggak?” omelnya, bahkan sempat menatap ponsel itu dengan kesal, seolah benda mati itu bisa mengerti ancamannya.
Ia membuka layar.
Beberapa pesan masuk dari Meimei, dari Qinglan, dari Wei Chen… dan dari Fengyun.
Begitu melihat nama terakhir, ekspresi Xinyao langsung berubah. Matanya membulat, mulutnya menganga.
“Fengyun?!”
Ia hampir berteriak.
“Seribu pesan cuma buat ngucapin selamat pagi dan bangunin aku?” keluhnya kesal, meski sudut bibirnya bergerak tipis tanpa ia sadari.
Belum sempat ia menutup ponsel, bel apartemen tiba-tiba berbunyi.
Ting!
“Siapa lagi sih yang bertamu pagi-pagi begini…” desah Xinyao frustasi.
Dengan langkah malas, rambut berantakan, ia turun dari tempat tidur dan berjalan ke pintu. Tangannya memutar gagang.
Ceklak.
Di balik pintu, berdiri seorang kurir dengan helm masih terpasang.
“Maaf, Paman,” ujar Xinyao refleks, “saya nggak pesan makanan. Ini juga baru bangun tidur. Sepertinya salah unit deh.”
Kurir itu menunduk, mengecek kembali alamat di ponselnya.
“Enggak kok, benar. Unit ini atas nama Yao Yao, kan?”
Xinyao terdiam sejenak.
“Iya… itu nama saya,” katanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Berarti benar,” kata kurir itu mantap.
“Oh…”
Dengan senyum canggung, Xinyao menerima kantong makanan tersebut.
“Berapa, Pak?” tanyanya refleks ingin membayar.
“Sudah dibayar. Saya cuma mengantar. Permisi.”
Kurir itu pergi begitu saja, meninggalkan Xinyao dalam kebingungan.
Ponselnya kembali bergetar.
“Fengyun…” gumamnya.
Ia membuka pesan itu.
💬 Aku mengirimkan mu beberapa makanan untuk sarapan, Makanlah dengan perlahan. Tidak ada yang akan mengambilnya.
Xinyao mengetik balasan dengan cepat.
💬 Baiklah. Terima kasih. Sering-sering ya.
Begitu pesan terkirim, ia melempar ponselnya asal ke atas tempat tidur.
Ia menghela napas panjang, menatap kantong makanan di tangannya.
“Mandi dulu… baru makan,” ujarnya singkat.
Pagi itu, tanpa ia sadari, perhatian kecil dari dua pria berbeda telah mengisi hari yang bahkan belum benar-benar dimulai.
Setelah selesai mandi, Xinyao keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil masih melilit rambutnya. Uap hangat masih menempel di kulitnya, membuat wajahnya tampak segar dan sedikit merona. Ia duduk manis di kursi makan, tubuhnya menghadap meja, matanya tertuju pada dua kotak makanan yang terletak rapi di hadapannya.
Sejenak, Xinyao terdiam. Tatapannya lembut, seolah dua kotak itu bukan sekadar makanan, melainkan perasaan yang diam-diam diselipkan seseorang.
Ia meraih kotak bekal pertama yang diberikan Chen. Jari-jarinya membuka tutupnya perlahan, lalu ia mengambil secarik kertas kecil di dalamnya. Matanya membaca setiap kata dengan saksama.
“Ouh…”
Xinyao menangkup dagunya dengan satu tangan, sudut bibirnya terangkat samar.
Ia segera meraih ponselnya.
💬 Chen, terima kasih.
Pesan itu terkirim. Namun tanda terbaca belum muncul.
“Mungkin masih sibuk,” gumamnya pelan, tak ada rasa kecewa, hanya pengertian yang tulus.
Xinyao kembali membuka kotak bekal itu. Aroma masakan langsung menyergap indra penciumannya. Tanpa ragu, ia mulai menyuap perlahan.
“Uwah…”
Matanya sedikit membesar.
“Enak banget. Masakan Chen memang nggak pernah gagal.”
Nada suaranya penuh kepuasan. Setiap suapan dihabiskannya dengan lahap, hingga tanpa sadar kotak bekal itu kosong. Namun perutnya masih belum sepenuhnya terisi.
Pandangan Xinyao beralih ke makanan kedua—kiriman Fengyun.
Ia membuka kemasannya. Di dalamnya, terselip secarik surat kecil dengan tulisan tegas namun rapi.
Mulai sekarang aku yang akan memasak untukmu.
Kamu tidak perlu pusing soal makanan.
Kurir akan datang mengantarkan makanan setiap hari.
MAKANAN INI AKU SENDIRI YANG MASAK, BUKAN BELI.
Alis Xinyao terangkat.
“Feng… bisa masak?”
Nada suaranya penuh keraguan, bahkan nyaris tak percaya.
Namun begitu ia membuka kotak makanannya, keraguan itu goyah.
“Uwah…”
Ia menatap isinya lekat-lekat.
“Penampilannya terlalu bagus untuk dibilang nggak enak.”
Dengan hati-hati, Xinyao menyendok sedikit nasi goreng dan dan secuil daging
Seketika matanya melebar.
“Enak.”
Tak ada komentar lanjutan. Tak ada keraguan. Dalam hitungan menit, nasi goreng itu habis tanpa sisa bahkan remahnya pun tak tertinggal.
Setelah selesai makan, Xinyao merapikan dirinya. Rambutnya diikat sederhana, pakaiannya diganti lebih rapi. Ia pun keluar dari apartemen dengan langkah ringan.
“Yao Yao!”
Suara Meimei terdengar dari area parkiran. Xinyao menoleh dan melambaikan tangannya ceria.
“Meimei, jangan khawatir! Aku baik-baik aja. Aku mau jalan-jalan dulu!”
Teriaknya dari kejauhan. Tanpa menunggu balasan, Xinyao melangkah pergi, meninggalkan Meimei di parkiran dengan ekspresi setengah cemas, setengah pasrah.
Xinyao berjalan menyusuri kota. Pagi itu terasa hidup. Anak-anak berlarian sambil tertawa di taman kecil, kucing dan anjing duduk berdampingan di pinggir trotoar seolah sedang menikmati dunia mereka sendiri. Senyum perlahan terbit di wajah Xinyao, matanya berbinar lembut.
Langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang nenek lansia berdiri di pinggir jalan, ragu-ragu hendak menyeberang.
Tanpa berpikir panjang, Xinyao menghampiri.
“Biar saya bantu, Nek.”
Ia menggenggam tangan keriput itu dengan lembut dan menuntunnya menyeberang hingga ke seberang jalan.
“Terima kasih, gadis kecil,” ucap sang nenek dengan suara bergetar.
Xinyao tersenyum hangat.
“Hati-hati melangkah, Nek.”
Dengan gerakan halus, nyaris tak terlihat, Xinyao menyelipkan sebuah jimat pelindung ke tangan nenek itu—mantra kecil agar perjalanan hidupnya hari ini tetap selamat.
Setelah memastikan sang nenek berjalan pergi dengan aman, Xinyao kembali melangkah, menikmati hangatnya pagi.
Namun ketenangan itu hancur seketika.
Seseorang menarik tangannya dengan kasar.
“Akhhh!”
Xinyao menjerit kaget saat tubuhnya tersentak oleh tarikan mendadak itu.
Bersambung 🥂
restu mendarat dengan mulus...
tapi yao2 gk gmpang ditaklukin 😜
,, saatny beraksi lagi xinyaoo... sembuhin nenek biar dpt restu camer~
bakal ketahuan gk nih masa depan pasangannya siapa 🙃🙃
selamany aja deh kek gitu...
lbh kasihan hauron, uangnya sia2 😜