Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad Yang Sudah Bulat
Selena berjalan menyusuri lorong markas dengan langkah pelan. Ia sebenarnya hanya ingin mencari udara segar, tapi matanya tanpa sengaja menangkap pintu ruangan Valen yang tidak tertutup rapat.
Dari celah pintu, ia melihat map cokelat terbuka di atas meja. Hatinya berdebar, rasa penasaran menguasainya. Ia melirik ke kanan-kiri, memastikan tidak ada siapa pun, lalu melangkah masuk perlahan.
Tangannya gemetar saat menarik keluar selembar foto lusuh. Pandangannya langsung terpaku.
“Itu… Ayah?” bisiknya tercekat.
Di foto itu, jelas sekali Surya muda berdiri berdampingan dengan seorang pria yang Selena tahu reputasinya, bos mafia besar. Robin yang dulu menguasai separuh kota.
Selena menggigit bibir, matanya mulai berkaca-kaca. Tidak mungkin… Ayahku tidak mungkin terlibat dengan orang-orang ini…
Tapi sebelum ia sempat mencerna lebih jauh, suara berat Valen terdengar dari pintu.
“Kau seharusnya tidak melihat itu, Selena.”
Selena terlonjak, buru-buru menyembunyikan foto di belakang tubuhnya. Wajahnya memucat, tapi matanya menatap Valen penuh tanya.
“Jangan bilang… ayahku… pernah menjadi bagian dari dunia kalian?”
Valen hanya diam, menatapnya tajam sambil mengisap cerutunya. Senyum tipis yang muncul di bibirnya justru membuat Selena semakin goyah.
Selena meremas foto itu kuat-kuat, dadanya naik-turun menahan gejolak. Ia melangkah maju, menatap Valen tanpa gentar meski kakinya sedikit bergetar.
“Aku sudah terlalu lama hidup dalam ketidakpastian, Valen,” suaranya parau tapi tegas. “Sejak kecil, Ayah selalu terlihat seperti orang biasa. Pekerja keras, sederhana… tapi sekarang aku lihat sendiri buktinya. Kau tidak bisa terus menutup mulut dan berpura-pura tidak tahu.”
Valen menghela napas panjang, lalu menutup pintu perlahan hingga ruangan terasa lebih sempit dan mencekam. “Selena, ada hal-hal yang lebih baik tidak kau ketahui. Kebenaran tidak selalu membawamu pada ketenangan. Kadang justru menghancurkanmu.”
“Tidak!” potong Selena lantang, matanya berkaca-kaca. “Aku berhak tahu! Kalau memang ayahku kotor, kalau memang ia pernah jadi bagian dari dunia gelapmu, aku ingin dengar dari mulutmu sendiri, bukan dari selembar foto tua!”
Valen menatapnya lama, seolah menimbang apakah gadis itu sudah siap mendengar atau belum. Asap cerutunya melingkar di udara, membuat ketegangan semakin pekat.
“Kalau aku jujur, Selena,” gumam Valen akhirnya, “hidupmu tidak akan pernah sama lagi. Kau yakin siap menerima semua luka yang akan datang?”
Selena menggenggam foto itu lebih erat, air matanya jatuh membasahi kertas lusuh tersebut. “Aku lebih baik terluka oleh kebenaran… daripada hidup nyaman dalam kebohongan.”
Valen menghela napas panjang, lalu menutup pintu perlahan hingga ruangan terasa lebih sempit dan mencekam. “Selena, ada hal-hal yang lebih baik tidak kau ketahui. Kebenaran tidak selalu membawamu pada ketenangan. Kadang justru menghancurkan mu.”
“Tidak!” potong Selena lantang, matanya berkaca-kaca. “Aku berhak tahu! Kalau memang ayahku kotor, kalau memang ia pernah jadi bagian dari dunia gelap mu, aku ingin dengar dari mulutmu sendiri, bukan dari selembar foto tua!”
Valen menatapnya lama, seolah menimbang apakah gadis itu sudah siap mendengar atau belum. Asap cerutunya melingkar di udara, membuat ketegangan semakin pekat.
“Kalau aku jujur, Selena,” gumamnya akhirnya, “hidupmu tidak akan pernah sama lagi. Kau yakin siap menerima semua luka yang akan datang?”
Selena menggenggam foto itu lebih erat, air matanya jatuh membasahi kertas lusuh tersebut. “Aku lebih baik terluka oleh kebenaran… daripada hidup nyaman dalam kebohongan.”
Selena menatap Valen dengan sorot mata yang menuntut. “Kau tahu sesuatu. Jangan bertele-tele, katakan sekarang.”
Valen menghela napas panjang, lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya sehelai rambut. “Ya, ayahmu memang kaki tangan mafia. Tapi bukan itu yang seharusnya kau takutkan.”
Selena mengernyit, jantungnya berdetak semakin keras. “Maksudmu?”
Valen menunduk sedikit, suaranya berat dan dingin.
“Surya bukan sekadar bawahan. Dia adalah orang kepercayaan langsung dari Robin seseorang yang bahkan aku… tidak bisa menentang begitu saja. Dan tahukah kau, Selena? Ada alasan mengapa keluarga rival memburumu. Karena mereka menganggap kau adalah pewaris utang berdarah yang ditinggalkan ayahmu.”
Selena terdiam. Kata-kata itu menghantamnya seperti badai. Tangannya bergetar hebat, sementara air mata tak terbendung lagi.
“Ayah… meninggalkan aku dalam lingkaran ini?”
Valen menatapnya lekat-lekat. “Sekarang kau mengerti. Dunia ini sudah menunggumu sejak lama, Selena. Kau bisa lari sejauh apa pun, tapi darahmu sudah ditandai. Pilihanmu hanya dua, melawan… atau jadi korban.”
☘️☘️☘️
Sore mulai menyapa matahari menghilang dari peredarannya meninggalkan semburat jingga yang terlihat begitu indah. Namun tidak seindah hari seorang gadis yang saat ini tengah menatap langit keemasan itu.
Setelah perdebatan siang tadi bersama Valen, mulai saat ini Selena sudah memutuskan untuk terjun ke dunia mafia, dunia yang belum pernah ia bayangkan dalam kehidupan sebelumnya. "Demi menyelidiki masa lalu ayahku." ucapnya penuh dengan tekad.
Selena menggenggam jemarinya erat, seakan ingin menahan segala getaran yang bercampur antara takut, marah, dan semangat baru yang mulai tumbuh. Dunia mafia… bukanlah tempat yang aman bagi perempuan biasa. Tapi sejak Valen mengungkapkan rahasia besar tadi, hati Selena seperti ditarik paksa untuk ikut menapaki jalan berduri ini.
“Kalau ayahku dulu kaki tangan Robin,” gumamnya pelan, “maka aku harus tahu kebenaran, kenapa beliau memilih kabur… dan kenapa dendam itu akhirnya menimpa hidupku.”
Valen, yang berdiri tak jauh dari sana, menatapnya dengan sorot mata yang sulit terbaca. Antara resah dan kagum. Ia tahu, sekali Selena melangkah, jalan keluar hampir tidak ada. Dunia mafia hanya mengenal satu kata: loyalitas. Dan bila Selena gagal, ia bisa menjadi korban Robin berikutnya.
“Selena,” suara Valen dalam dan berat, memecah keheningan. “Begitu kamu masuk, kamu tak akan pernah jadi orang biasa lagi. Ingat itu.”
Selena menoleh. Ada semburat air mata di pelupuknya, tapi juga ada api yang berkobar di dalam sorot matanya.
“Kalau dengan begitu aku bisa menyingkap siapa sebenarnya Robin, kenapa ayahku terikat padanya… maka aku siap. Aku bukan lagi Selena yang kemarin.”
Langkah Valen perlahan mendekat. Bayangan senja jatuh di wajahnya yang tegas.
“Kalau itu keputusanmu, maka mulai malam ini… kamu akan ku latih. Dunia mafia tidak mengenal kelembutan, Selena. Dan aku…” ia berhenti sejenak, menghela napas panjang, “…akan jadi orang pertama yang menguji seberapa kuat tekadmu.”
Selena menelan ludahnya. Jantungnya berdebar cepat, tapi ia tidak goyah. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Valen lurus-lurus.
“Uji aku. Karena aku tidak akan mundur.”
Seiring ucapan itu, udara sore yang tadinya hangat seolah berubah berat. Di kejauhan, kabar tentang Robin yang mulai menggerakkan anak buahnya kembali terdengar. Lonceng perang lama berbunyi pelan, menandai awal dari perjalanan baru.
Selena memejamkan mata sesaat, membiarkan suara hati kecilnya berbisik. Ayah… aku akan melanjutkan jejakmu. Bukan untuk menjadi budak mereka, tapi untuk menghentikan lingkaran dendam ini.
Bersambung ....
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf