NovelToon NovelToon
PUSAKA TAMBUN TULANG

PUSAKA TAMBUN TULANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:39.2k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Pusaka Tambun Tulang: Bangkitnya Pendekar Terbuang
Arya Wiguna, seorang yatim piatu yang difitnah mencuri Kitab Pusaka Jurus Pedang Penggetar Langit, diusir dari padepokan oleh pamannya sendiri, Bujang Larang. Dibuang ke Bukit Tambun Tulang yang menyeramkan, Arya diselamatkan oleh Panglima Hijau, seorang pertapa sakti. Di sana, Arya ditempa untuk menguasai Pedang Pusaka Tambun Tulang yang memberinya kekuatan kebal dan tenaga dahsyat, menjadikannya pendekar tak terkalahkan.
Kembali untuk membalas dendam, Arya harus menghadapi Bujang Larang yang kini bersekutu dengan komplotan bandit Bajing Bukit Tiga Puluh. Di tengah perjuangannya, ia bertemu dan jatuh cinta pada Anggun Sari, pendekar cantik dari Bukit Sanggar Puyuh, yang menjadi sekutu setia dan kekasihnya. Namun, pesona Arya menarik banyak gadis lain, memicu intrik romansa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pulang ke Desa Sungai Merah: Kebohongan Bujang Larang

Perjalanan dari Bukit Tambun Tulang menuju Desa Sungai Merah, meskipun memakan waktu beberapa hari, terasa berbeda bagi Arya.

Dulu, Arya Wiguna berjalan dengan langkah gontai, hati penuh luka. Kini, setiap langkahnya ringan, dipenuhi tekad. Ilmu Harimau Seribu memberinya kecepatan dan ketahanan yang luar biasa, sehingga ia mampu menempuh jarak jauh tanpa kelelahan berarti.

Arya melintasi hutan lebat di pinggir Sungai Batanghari, menyeberangi anak-anak sungai, dan mendaki perbukitan dengan mudah. Rasa lapar dan haus tak lagi menguasainya seperti dulu.

Setiap malam, Arya Wiguna beristirahat di bawah bintang-bintang, memanfaatkan waktu untuk mempraktikkan ajaran Kitab Jurus Pedang Tiada Tanding.

Arya memejamkan mata, merasakan energi Pusaka Harimau Putih mengalir, dan membayangkan jurus-jurus pedang itu bergerak secepat kilat.

Arya Wiguna tidak hanya berlatih fisik, tetapi juga mental, menjaga ketenangan hati dan menjauhkan diri dari amarah.

Akhirnya, setelah empat hari perjalanan, Arya tiba di gerbang Desa Sungai Merah.

Desa kelahirannya. Jantungnya berdebar kencang, ia ingin segera memeluk ibunya, menjelaskan segalanya, dan meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, ia juga dilanda keraguan.

Bagaimana ibunya akan bereaksi? Apakah ia akan percaya pada putranya yang telah diusir, ataukah ia sudah termakan omongan Bujang Larang?

Arya melangkah masuk ke desa. Suasana desa tampak seperti biasa, namun ada aura ketidaknyamanan yang samar.

Beberapa penduduk yang berpapasan dengannya menatapnya dengan pandangan terkejut, seolah melihat hantu. Bisikan-bisikan mulai terdengar, "Bukankah itu Arya Wiguna? Bukankah dia sudah...?"

Arya mengabaikan mereka, tujuan utamanya adalah Ibunya. Pemuda itu berjalan cepat menuju rumah mereka yang sederhana. Saat ia mencapai pintu, hatinya bergetar. Arya Wiguna menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu.

Pintu terbuka perlahan, dan muncullah sosok wanita tua dengan rambut yang sebagian telah memutih. Wajahnya keriput termakan usia dan kekhawatiran. Itu adalah ibunya, Taksiah Intan.

Taksiah Intan membelalakkan matanya. Mula-mula, ia hanya mematung, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Wajahnya yang kuyu tiba-tiba memancarkan ketidakpercayaan, lalu berubah menjadi kepanikan.

"Ar... Arya?" bisiknya, suaranya parau, hampir tidak terdengar.

Arya tak bisa menahan diri lagi, ia segera melangkah maju, memeluk ibunya erat-erat. "Ibu! Ini aku, Arya! Arya Wiguna. Aku pulang!"

Namun, Taksiah Intan tidak membalas pelukannya. Tubuhnya gemetar hebat.

Taksiah Intan ibunya Arya tersebut berusaha mendorong Arya putra si mata wayang menjauh, air mata mulai mengalir di pipinya, "Tidak! Ini tidak mungkin! Kau... kau sudah tiada! Jangan ganggu Ibu, Nak," ucapnya lirih, air matanya berderai jatuh di pipi.

Arya melepaskan pelukannya, menatap ibunya dengan bingung. "Ibu, apa yang Ibu katakan? Aku baik-baik saja! Aku masih hidup ibu," ucap Arya Wiguna hampir terbata.

"Tidak... tidak! Bujang Larang bilang... Bujang Larang bilang kau sudah tewas! Dimakan makhluk buas di Bukit Tambun Tulang! Dia datang sendiri ke sini, membawa kabar itu... dia bilang kau... kau berusaha mencuri Kitab Penggetar Langit dan dihukum mati oleh alam!" kata Taksiah Intan menggelengkan kepala, air matanya semakin deras.

Hati Arya mengecam mendengar perkataan ibunya. Jadi, ini sebabnya ibunya bereaksi seperti ini.

Bujang Larang telah menipu ibunya! Sebuah amarah dingin mulai merayap dalam dirinya, namun ia segera mengendalikannya.

Arya Wiguna tahu, dirinya harus tetap tenang untuk menjelaskan segalanya pada ibunya.

"Ibu, dengarkan aku baik-baik," kata Arya, mencoba menenangkan, ia memegang tangan ibunya, "Itu semua bohong, Ibu. Bujang Larang berbohong kepadamu. Aku tidak tewas. Aku tidak dicelakai makhluk buas. Aku... aku berhasil keluar dari Bukit Tambun Tulang, dan aku bahkan bertemu Panglima Hijau di sana," jelasnya.

Taksiah Intan masih tak percaya. "Panglima Hijau? Itu hanya dongeng, Arya! Bujang Larang bilang kau... dia bilang dia akan mengurus pemakamanku jika aku mati karena kesedihanmu. Dia bahkan memberiku sedikit uang untuk hidup," lanjut ibu Arya Wiguna.

Arya mengeraskan rahangnya. Bujang Larang tak hanya memfitnahnya, tetapi juga memanfaatkan kesedihan ibunya. Rasa marah kembali membakar, namun kali ini, ia berhasil menguasainya sepenuhnya.

Arya Wiguna tahu, kemarahan ini harus disalurkan menjadi tekad yang kuat, seperti yang diajarkan Panglima Hijau.

"Ibu, Paman Bujang Larang menipumu," kata Arya, suaranya kini lebih tegas namun tetap lembut. "Dia ingin menyingkirkanku dari Padepokan Macan Putih, dan dia ingin membuatmu percaya bahwa aku sudah mati agar ibu tidak mencariku lagi," lanjutnya.

Taksiah Intan masih menangis tersedu-sedu, namun perlahan, ia mulai menatap Arya dengan lebih saksama. Ia melihat mata Arya yang tenang, tidak lagi memancarkan amarah yang dulu sering ia lihat. Ia melihat tubuh putranya yang terlihat lebih tegap, auranya berbeda.

"Tapi... bagaimana bisa kau hidup, Nak? Apa yang terjadi padamu?" tanya Taksiah Intan, suaranya mulai dipenuhi sedikit harapan di balik keputusasaan.

Arya tersenyum tipis. "Aku akan menceritakan semuanya, Ibu. Tapi mari kita masuk dulu. Aku ingin Ibu tahu bahwa aku baik-baik saja, dan aku telah menjadi pendekar yang lebih kuat dari sebelumnya."

Taksiah Intan akhirnya mengalah. perempuan paruh baya itu membiarkan Arya membimbingnya masuk ke dalam rumah.

Setelah duduk di bangku kayu sederhana, Arya mulai bercerita.

Arya Wiguna menceritakan bagaimana ia diusir, bagaimana ia mengembara, dan bagaimana ia memutuskan untuk pergi ke Bukit Tambun Tulang.

Arya Wiguna juga menjelaskan tentang pertemuan dengan sosok bayangan misterius, pertarungannya dengan makhluk buas, dan bagaimana laki-laki berjubah hitam menyelamatkannya.

Lalu, ia menceritakan tentang pertemuannya dengan Panglima Hijau, ujian mentalnya, dan bagaimana ia berhasil mengangkat Pusaka Harimau Putih dan mempelajari Kitab Jurus Pedang Tiada Tanding, termasuk Ilmu Harimau Seribu dan dua belas jurus pedang tak terkalahkan.

Arya Wiguna juga menjelaskan tentang kekebalan tubuhnya dan tenaga gajah purba yang kini ia miliki.

Taksiah Intan mendengarkan dengan saksama, sesekali menyeka air matanya.

Wajahnya perlahan berubah dari kesedihan menjadi kelegaan, lalu kekaguman.

Ibu Arya itu tidak bisa sepenuhnya memahami semua ilmu dan pusaka yang Arya ceritakan, namun ia bisa merasakan perubahan aura pada putranya.

Arya yang sekarang berbeda, ia lebih dewasa, lebih tenang, dan memancarkan kekuatan yang nyata.

"Jadi... semua itu nyata, Nak?" tanya Taksiah Intan setelah Arya selesai bercerita, "Kau benar-benar bertemu Panglima Hijau dan mendapatkan pusaka-pusaka itu?"

"Nyata, Ibu," jawab Arya, mengangguk meyakinkan, "Aku tidak akan pernah berbohong pada ibu."

Taksiah Intan kembali memeluk putranya, kali ini dengan erat, membalas pelukan Arya. Air matanya kembali mengalir, namun kini adalah air mata kebahagiaan dan kelegaan.

"Syukurlah, Nak... Ibu sangat senang kau masih hidup. Ibu hampir gila mendengar kabar dari Bujang Larang itu."

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Ibu lagi," janji Arya, memeluk ibunya erat-erat.

"Bujang Larang akan membayar atas perbuatannya. Tapi bukan sekarang. Aku punya tugas lain yang harus kulakukan terlebih dahulu," lanjut Arya lagi.

Arya kemudian menceritakan tentang tugas yang diberikan Panglima Hijau: membantu Perguruan Mawar Putih di Desa Lingkar Naga untuk menumpas para penculik gadis.

"Tugas ini penting, Ibu," jelas Arya, "Ini adalah cara untuk menggunakan ilmu yang kudapat untuk kebaikan. Untuk melindungi orang-orang yang lemah, seperti pesan Panglima Hijau."

Taksiah Intan menatap putranya dengan bangga, "Pergilah, Nak. Ibu percaya padamu. Lakukan yang terbaik. Ibu akan selalu berdoa untukmu," ucapnya.

Meskipun berat hati harus meninggalkan ibunya lagi, Arya tahu ini adalah jalan yang harus ia tempuh. Ia telah kembali, meyakinkan ibunya, dan menyingkap kebohongan Bujang Larang di mata ibunya.

Sebelum pergi Arya menunjukkan sebuah rahasia pada ibunya, rahasia itu tidak boleh di ketahui orang lain bahkan Bujang Larang.

Rahasia harta yang di tinggalkan Ayahnya Bujang Baik. Arya mengambil satu kotak uang emas untuk di tinggalkan pada ibunya dan biaya perjalanannya.

Arya juga berpesan pada ibunya Bujang Larang tidak boleh tahu ia masih hidup.

Sekarang, saatnya ia melanjutkan perjalanannya sebagai penegak keadilan. Dengan restu ibunya dan bimbingan Panglima Hijau, Arya Wiguna siap melangkah ke Desa Lingkar Naga, untuk tugas pertamanya.

Bersambung...

1
Was pray
baru nyadar kalau kekuatan manusia ada batasnya Arya? selama ini kemana aja?
Was pray
dibalik kerendahan hatimu terselip percik meremehkan orang ang lain dan terlalu mengagungkan kekuatan diri, dan itu bisa menjadi akar kesombongan ,dan itu terkadang tidak kau sadari arya
Sugeng Toboali
keren
Was pray
terlalu lemot alur ceritanya...
Was pray
orang memberi nasehat bukan karena menganggap kita bodoh , tapi karena memiliki rasa peduli dan empati, menerima nasehat tidak membuat kita jadi bodoh Arya, walaupun nasehat datang dari orang yg dipandang lemah sekalipun, paling tidak diterima walau itu tidak selaras dengan hati, itu suatu penghormatan bagi orang lain
Was pray
kau terlalu bangga dengan jekuatanmy Arya. sehingga meremehkan lawan2mu, dan itulah yg jadi kelenahanmu sehingga kewaspadaan hilang. .seharusnya kamu pakai ilmu padi arya
Was pray
orang yg mengaku salah setelah kalah itu udah hal umum, terlalu mudah memaafkan pengkhianat maka akan mudah dimanfaatkan oleh orang lain dan itu suatu kelemahan fatal, orang yg lemah pendirian dan pengkhianat maka suatu saat kemungkinan mengulangi lagi dengan cara yg lebih terorganisir dan itu lebih berbahaya
Zamo: makasih bang
total 3 replies
Sugeng Toboali
💪
Rafly Rafly
lanjutkan Thor..
makin seru kisahnya
Idwan Syahdani: oke tunggu aja ya...
total 1 replies
Arsi Oke
cerita yang bagus 👍🌟
Pandeka Garang
jurus kitab pedang tanpa tanding, gajah purba dan harimau seribu jg tidak pernah muncul lg, agak aneh aja, malah yg lebih sering muncul penggetar langit yg sama sekali blm dipelajari
Idwan Syahdani: sabar gan, bakal muncul kok di pertarungan yang lain nanti sabar ya... 🤣🤣🤣
total 1 replies
Pandeka Garang
tiba2 sdh tau kalau yg datang dewi racun dan si bisu, dewi racun jg tidak kaget arya tau namanya, lucu jg alurnya
Yatin Sahmuri
hi
Slow ego
👍👌jos..,,
wan.trado
lho ada 2 ya pedang harimau putih nyaa, tapi ditancapkan di kuburan.. kapan diambilnya.. 🤣🤣
wan.trado
meninggalkan pedang pusaka harimau putih di kuburan..??? sungguh perbuatan aneh dan sia-sia juga kesombongan
wan.trado
tau darimana itu Arya wiguna? bertemu juga baru kali ini..
wan.trado
bujang larang, sebagai seorang yang menguasai ilmu tinggi, rasanya mustahil tidak mengetahui adanya penyusup yg mencari bukti disamping tempat tidurnya
wan.trado
seharusnya adalah sedikit perlawanan dari Arya mengingat lawannya adalah pendekar tua golongan putih,kalau seperti ini seperti melawan golongan pendekar rendahan🙏
wan.trado
seharusnya jangan dulu menggunakan kekebalan untuk menghadapi gerombolan ini, cukup dg menghindar saja dari serangan sehingga tidak terkesan membanggakan kekuatannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!