Catarina hamil.
Kenyataan itu adalah mimpi terburuk dari banyaknya mimpi buruk yang terjadi dalam hidupnya, Dan mimpi paling buruk dari yang terburuk adalah.. Ia mengandung benih majikannya sendiri! Sosok Leonard.
Leonard adalah sosok iblis yang bersembunyi dibalik kedok seorang 'pengusaha sukses' Bagaimana tidak? dibalik topeng menawannya, ia menyimpan sisi gelap yang mengerikan. Sementara Catarina terlalu polos dan naif untuk mengartikan siapa Leonard yang sesungguhnya.
Hingga satu kejadian terjadi, kejadian fatal dimana Leonard membuat Catarina menyerah dan memilih pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AIPARIDAH JAISAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
L-15 ANCAMAN LUCIFER
"Halo, ace?"
"Catarina! Kenapa tidak masuk? hari ini mata kuliah pak Brandon, kau sudah berhari-hari tak masuk, untuk saja mereka memaklumi kamu yang tertimpa musibah. Apakah kamu baik-baik aja?"
Terselip nada khawatir dari seseorang disebrang sana, Catarina tersenyum kecil meski tak dilihat oleh Ace.
"Maaf ace, aku demam." Alasannya kemudian membuat suara batuk-batuk.
uhuk! Uhuk!
"Catarina, kau sakit? kenapa tidak bilang padaku, sudah minum obat?" Ace terdengar sangat khawatir, bahkan terdengar suara grasak-grusuk disana.
Tak tahu saja orang yang dikhawatirkannya pura-pura sakit, sebenarnya tidak pura-pura sakit sih. Catarina benar-benar kesakitan disetiap jengkal tubuhnya, semuanya.
"Tenang saja, ace. Aku baik dan sudah membeli obat, aku hanya minta izin saka ya?sekarang kamu lanjut belajarnya, jangan khawatir padaku, semangat." Ucap Catarina menyemangati dengan nada pura-pura lemas.
Disebrang sana Ace dengan perasaan berbunga-bunga tersenyum cerah, mengangguk, "Aku akan semangat, Catarina juga harus sembuh ya? aku tutup telponnya, kelas akan dimulai."
"Iya, ace. Dadah!" Ucap terakhir Catarina sebelum mematikan panggilan telepon hingga terdengar suara 'Tutt'
Catarina menghela nafas, ia bangkit susah payah dari ranjangnya dengan berbekalkan selimut.
"Sakit banget," ucapnya mengeluh pada dirinya sendiri kala sampai didepan cermin, ia memperhatikan badannya sendiri.
Kali ini bahkan warnanya bukan merah lagi, tapi keunguan. Pantas saja lumayan lebih sakit dari biasanya, Catarina sungguh tak bisa menyepelekan cubitan Leonard.
Beberapa menit yang lalu, Catarina terbangun tanpa lelaki itu disampingnya. Sudah jangan ditanya kemana, Catarina-pun tak tahu.
Sebenarnya Catarina sedikit sakit hati, Leonard dengan tak berdosanya meninggalkannya sendirian setelah apa yang dilakukan pria itu semalam.
Selalu saja begitu, Leonard akan meninggalkannya tanpa repot-repot melihat keadaannya yang seperti apa.
Catarina pandangi wajahnya yang menyedihkan didepan cermin besar itu, matanya mulai sendu.
Ia ingin pulang, kemana-pun itu. Namun ia sadar ia tak punya rumah untuk dijadikan tempat berpulang.
Ia melarikan pandangannya pada jam dinding yang menunjukan pukul sebelas, "Udah siang banget." Ucapnya mengercut.
"Gak papalah, tinggal mandi!" Ceria Catarina tak ingin berlama-lama dengan kesedihan dan keluh kesah.
Mengeluh memang boleh, tapi jangan berlebihan. Keong saja tak pernah mengeluh karena berat membawa rumah, kalo menurut Catarina-mah mending bawa motor.
Dengan seceria mungkin melupakan nasib dirinya yang harus seperti ini, ia melangkah semangat menuju kamar mandi sebelum akhirnya tersentak kala merasakan nyeri pada pusat tubuhnya.
"Auuuu!" ucapnya meringis, sepertinya catarina terlalu bersemangat.
Akhirnya dengan langkah yang aneh, ia mulai menuju kamar mandi dan mengisi bath up dengan air.
Catarina mulai bersyukur, setidaknya kini ia dapat merasakan bagaimana rasanya mandi menggunakan bath up dan shower. Dahulu kala mah, ia paling mandi menggunakan air yang tersedia di bak dengan gayung lope pink.
Setelah air terisi penuh, Catarina mengucurkan sabun cair pada bath up tersebut.
Tenang saja, ini bukan sabun Leopard kok. Ini sabun pemberian dari Dante bersama dengan peralatan bajunya, tak tanggung-tanggung. Dante memberikan satu set perlengkapan alat mandi yang banyak pada Catarina.
Masih ingat dengan leopard si singa Leonard?
Catarina mulai mandi di bath up dengan tenang, ia memejamkan mata. Air hangat yang mengenai tubuhnya refleks membuatnya tenang hingga rasa sakitnya seakan hilang.
Selesai mandi dan merilekskan tubuh, Catarina dengan kimono kelinci mulai mengeringkan rambut tepat dihadapan cermin.
Tubuhnya yang terasa ringan dan kesegaran yang menyapa tubuhnya mampu membuat mood perempuan itu tampak lebih baik, bahkan Catarina mulai tersenyum-senyum sendiri didepan cermin.
"Aku liat-liat, kok aku tambah cantik ya?" tanyanya sedikit narsis.
Ia mulai melengok-lengokan tubuh didepan cermin bak model yang tengah melakukan fashion show, sebenarnya Catarina ingin dance, tapi karena situasi yang tak memungkinkan jadilah ia hanya bernyanyi riang.
Aaaaa a aa a, i always knee you're the best
The coolest girl i know oww
So prettier than the rest, the star of my show!
Lirik lagu Favorite girl dari justin beiber mulai terdengar nyaring, Catarina dengan semangat menjadikan hairdryer sebagai microfon palsunya.
Oh, youre who im thinking of, and
No matter what you're always number one!
My prize possession one and only
Adore ya girl i want ya, the one i cant live without
That you, that you!
Suara Catarina memang tak terlalu merdu, namun lumayan enak didengar karena tak pales-pales banget kok.
Catarina seketika melupakan masalahnya, dengan asyik ia bernyanyi sembari berjoget dihadapan cermin, membayangkan dirinya merupakan seorang super idol yang tengah bernyanyi dihadapan para penggemarnya.
Tanpa diketahui, seseorang dengan mata tajamnya memperhatikan Catarina sembari tersenyum kecil, merasa terhibur melihat pemandangan pada ponselnya.
Leonard mengusap wajah Catarina lewat ponsel, ia terkekeh kecil.
Memang sudah sejak dari mula Catarina memasuki apartemennya, Leonard sudah diam-diam memperhatikan wanita itu dengan memasang puluhan kamera kecil pada sudut apartemennya, yang tentunya tak diketahui Catarina.
Entahlah, Leonard juga tak tahu kenapa ia melakukan itu. Hanya saja, kala rasa kesal dan lelahnya pada pekerjaan, ia merasa menemukan refreshing tersendiri kala memperhatikan Catarina lewat cctv yang ia pasang.
"Sepertinya kau masih energik, haruskah aku buat kau sampai tak berdaya?" lirih Leonard menatap kearah ponselnya, tanpa memperdulikan ucapannya yang terdengar tak sopan dan terkesan kurang ajar.
Tak apa, ia tak pernah semesum ini pada perempuan selain Catarina.
Catarina-nya, tak akan Leonard lepas sebelum rahim gadis itu penuh dengan benihnya.
Leonard tersenyum miring, namun senyum miring itu terhenti kala suara seseorang terdengar menegur.
"Berhenti tersenyum bodoh saat bekerja, meeting akan dilaksanakan lima menit lagi." Tajam Lucifer yang tengah berada dimeja utama, meja kebesarannya.
Sementara Leonard yang merupakan penerus duduk diseberang kanan lelaki itu, sementara kursi diseberang kiri diisi oleh sepupunya yang akan menjadi wakil Don atau wakil pemimpin organisasi gila ini.
Sebenarnya bukan keinginan Leonard berada disini, jika bisa membantah, ia hanya ingin berdiam diri di apartemennya kemudian memeluk tubuh manis Catarina yang masih terasa lengket akibat percintaan mereka semalaman.
Lalu ia kembali membuat gadis itu menjerit tak berdaya saat bangun tidur daripada harus mendatangi meeting yang isinya hanya orang gila semua, disini.
Perkumpulan organisasi gelap yang berisi orang-orang gila didalamnya, bagaimana tak gila? rata-rata, disini para pembunuh berantai, pengedar obat-obatan terlarang, serta pelaku pelecehan dibiarkan begitu saja bahkan diberikan akses informasi dan pekerjaan yang begitu menguntungkan.
Yang paling bagus apa? mereka difasilitasi hingga rata-rata dari mereka merupakan seorang investor hingga pembisnis yang terkenal dengan nama baik diluaran sana.
"Bagaimana tugas yang aku kirim pagi tadi pada surelmu?" intimidasi Lucifer pada anaknya yang tengah acuh pada ponsel.
"Sudah aku buka, aku akan melakukannya setelah persiapan yang dibuat Jeffrey sempurna." Jawab Leonard tanpa repot-repot mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Lucifer tampak mengeraskan rahang, "Tatap lawan bicaramu saat tengah berbicara."
"Tidak perlu, kau saja selalu tak repot-repot menatapnya kan?"
Lucifer menghela nafas, ia tak bisa berdebat dengan Leonard disini.
Leonard memang anaknya, sikap mereka bahkan sama persis. Tanpa test DNA pun, ia tahu Leonard adalah anaknya.
Orang lain saja bahkan mengakui hal itu, mereka merasa Leonard adalah cerminan Lucifer kala masih muda. Dari ketampanan hingga sikap saja, mereka sama persis.
Leonard tersenyum kecil, nyaris tak terlihat kala melihat Ponselnya yang menampilkan catarina yang tengah mengusap peluh akibat kelelahan bernyanyi. Ah, melihat ini entah kenapa membuat Leonard ingin cepat-cepat pulang kemudian memeluk dan mencium gadis itu.
Tunggu Leonard, waktunya belum tiba.
...---...
Nyatanya ekspetasi Leonard salah.
Setelah meeting yang berakhir dengan banyaknya perdebatan dari kalangan kufu, Leonard harus kembali ke gedung perusahaan utama untuk membicarakan soal bisnis terbaru mereka dengan Lucifer.
Hidup ini sangat melelahkan, Leonard sangat lelah. Dan ia ingin cepat pulang, pulang menuju apartemennya.
"Akhir-akhir ini kau banyak mengeluh," intruksi Lucifer yang merasakan hawa-hawa malas dari Leonard.
Pria yang menyandang status sebagai anak itu hanya mendengus, "Aku memang selalu malas."
"Tidak, tidak biasanya kau malas mendatangi kantor. Kau adalah orang pertama yang selalu datang kekantor dulu, bukan begitu?"
"Tidak juga." Bantah Leonard.
Lucifer mulai mendingin, "Aku tahu perubahanmu karena gadis itu, siapa gadis itu son?"
Leonard sedikit kaku beberapa detik, namun ia sudah menduga ayahnya pasti tahu.
"Daddy tidak usah ikut campur, dia urusanku." Ucap Leonard tak ingin dicampuri.
"Aku ayahmu, aku berhak ikut campur." Lucifer memandangnya kian tajam, atmosfer disekitar mereka terasa dingin.
"Tapi dia urusanku, bukan urusanmu. Urus saja mommy." Jawab Leonard menentang.
"Kau juga urusanku! aku ayahmu dan aku tahu yang terbaik untukmu!" Tegas Lucifer.
"Jika kau ayahku, kemana saja kau selama ini? kau bahkan lebih kejam untuk menjadi seorang ayah, tak ada ayah yang membiarkan anaknya ikut pelatihan barak militer ketika usianya sembilan tahun, bahkan tanpa diketahui ibunya." Sarkas Leonard panjang lebar, kian membuat Lucifer nampak membatu sebentar.
"Tidak usah banyak bicara, Seharusnya kau bersyukur aku tak membunuhmu sewaktu dalam kandungan. Jawab saja pertanyaanku tadi, siapa wanita itu?" Kekeh Lucifer menolak sadar diri.
"Jalangku! kenapa memang?" serobot Leonard sedikit menampilkan kemarahan.
"Jauhi dia," perintah Lucifer.
Leonard terkekeh, "Tak usah memerintahku, aku akan membuangnya ketika waktunya tiba."
Lucifer tampak menggeleng, membantah, "Jauhi dia aku bilang, dia menggangu rencana besar kita."
"Tidak! dia milikku, aku yang akan mengurusnya. Jika daddy mengganggu aku dengan dirinya atau memisahkan kami, aku akan keluar dari Hunter." Ancam Leonard sebelum berlalu setelah menendang meja.
Terdengar suara bantingan pintu dengan nyaring, menyisakan keheningan yang meliputi ruangan kerja pria yang tak lagi muda itu.
Lucifer mengusap wajahnya frustasi, ia seperti melihat dirinya sendiri didiri Leonard.
Bayangan dirinya dimasa lalu yang memukuli ayahnya sendiri karena mencelakai mollara yang merupakan istrinya.