Kara,gadis cantik dan baik hati, tapi suatu kejadian mengerikan mengubah hidupnya menjadi gadis liar dan sulit di kendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy reana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 15
Confused 15
"Mang Udin kesini ada yang lihat?"
"Nggak,Bu. Kebetulan Bi Iyah sama Susan lagi di kamar. Jadi saya kesini gak ada yang tau."
"Baguslah kalau begitu. Bagaimana keadaan rumah hari ini? Bagaimana keadaan Kara, selama saya tidak ada."
"Non Kara, baik. Cuman tadi siang Ibu sama Bapak berantem. Non Kara mencoba melerai, tapi justru didorong Ibu hingga dia jatuh terus menginjak pecahan guci." Jelas mang Udin.
"Dia belum berubah sama sekali ya,Mang. Masih egois seperti dulu."
"Iya,Bu."
"Baiklah kalau begitu, Mang Udin boleh pulang. Kabari saya kalau ada perkembangan lain. Jangan lupa tolong perhatikan keadaan Kara."
"Baik,Bu."
"Oh iya, bagaimana tentang Faro. Apa Dahlia sudah menyadari atau belum?"
"Sepertinya belum ,Bu."
"Baguslah, biar jadi kejutan."
"Kalau begitu saya pamit, Bu Rosaline."
Mang Udin keluar dari sebuah Apartemen di daerah Sudirman. Setelah bertemu dengan Rosaline, mantan guru bimbingan Kara, mang Udin langsung kembali menuju kediaman Kara, untuk melanjutkan tugasnya. Tidak ada yang tahu jika selama ini Mang Udin menjadi tangan kanan Rosaline untuk mengawasi Kara.
Sementara di Apartemen, Rosaline tengah menghubungi seseorang lewat ponsel seluler miliknya.
"Bagaimana keadaannya? Sudah lebih baik?"
"Hari ini sesuai perintah Bu Rosaline, saya membawanya therapy." Jawab seorang perempuan di seberang sana.
"Baiklah, lakukan sesuai perintah saya. Secepatnya saya akan kembali kesana setelah bisa membawa Kara pulang."
"Baik,Bu."
Panggilan terputus. Kini tinggal Rosaline dan seorang laki-laki berwajah dingin, berada di ruang tamu.
"Apa yang ingin kamu laporkan hari ini?"
"Sesuai perintah, saya masih mengawasi tempat tinggal Faro."
"Jangan sampai mereka curiga, lakukan sehalus mungkin."
"Baik, Bu."
Tak berselang lama terdengar bunyi pintu terbuka.
"Sayang, sudah pulang." Rosaline berdiri dari duduknya, menghampiri seorang lelaki yang masih lengkap mengenakan setelan kantor.
"Iya. Sepertinya ada tamu." Lelaki berbadan tinggi itu mengecup singkat dahi Rosalin, berjalan beriringan menuju ruang tamu.
"Ada Thomas rupanya."
"Selamat malam, pak Gunawan." Sapa Thomas, begitu tuan rumah datang.
"Kalau begitu saya permisi. Urusan saya sudah selesai." Thomas mengundurkan diri, setelah memberi laporan rutin nya pada Rosaline.
Kini tinggal Rosaline dan suaminya Gunawan, tengah berada di meja makan.
"Bagaimana keadaan kakak kamu,sayang?" Tanya Gunawan begitu istrinya kembali dari dapur, membawa piring berisi spaghetti kesukaannya.
"Belum ada perubahan, masih sama seperti dulu. Dia sulit diajak berkomunikasi dan masih harus therapy." Jawan Rosaline
"Aku turut prihatin." Menyadari wajah sendu istrinya,Gunawan langsung menggenggam tangan istrinya itu,mencoba memberinya kekuatan agar Rosaline tetap sabar menghadapi masalahnya. Gunawan tahu apa yang menjadi masalah Rosaline selama ini, dia amat mencintai istrinya sehingga dia tak tega begitu melihat wajah sang istri murung.
"Lalu bagaimana langkah selanjutnya?" Tanya Gunawan.
"Mungkin aku akan lebih cepat mempertemukan Kara dan juga kakak. Bagaimanapun juga, kehadiran Kara bisa mempermudahnya dalam pengobatan."
"Lalu, Dahlia?"
"Selama ini dia sudah banyak mengingkari janjinya, bahkan dia banyak membuat Kara Ku menderita."
"Mmmm, baiklah. Aku akan membantu sebisaku."
"Terimakasih, sayang. Tanpa bantuanmu, mungkin aku akan kesulitan mencari Kara waktu itu."
"Sama-sama." Mereka saling tersenyum sambil berpegangan erat.
"Fathur tidak pernah berbicara apapun padamu?" Tanya Rosaline.
"Tidak, hanya saja akhir-akhir ini dia terlihat lebih kacau dari biasanya. Aku sempat dengar dari sekretarisnya, Fathur menyuruh salah satu anak buahnya untuk melacak keberadaan Salma."
"Lambat laun dia memang pasti akan mencari keberadaan Salma. Bagaimanapun juga Fathur sangat mencintai Salma. Dan jika dia tahu, bahwa dia memiliki seorang anak lelaki,bisa saja Dahlia langsung diceraikan."
"Melihat kondisi perusahaan milik Fathur yang mulai berkembang pesat satu tahun terakhir ini, aku rasa dia sudah tidak memerlukan bantuan dari perusahaan Dahlia. Dan mungkin saja Fathur akan segera menceraikan Dahlia dan kembali mencari Salma."
"Kita lihat saja nanti. Yang terpenting kita bisa membawa Kara pulang." Tukas Rosaline.
"""""""
Esok harinya, Rosaline sengaja mendatangi sekolah dimana tempat Kara menuntut ilmu. Tidak ada yang menyadari kehadirannya, karena dia hanya mengawasi Kara dari jauh.
Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya mobil mercy putih muncul. Rosaline sudah sangat hafal,itu pasti mobil milik Kara. Tak lama seorang gadis memakai rok kotak-kotak selutut itu turun. Namun jalannya tampak tertatih, wajahnya meringis setiap kali melangkah. Ingin sekali Rosaline mendekat dan menghampiri Kara, membantu memapahnya hingga sampai ke kelas. Namun dia mengurungkan niatnya, Kara pasti akan sangat terkejut melihat kedatangannya, karena selama ini yang Kara tahu dia berada di kampung halamannya.
Rosaline masih memperhatikan Kara, hingga dia melihat seorang laki-laki tinggi menghamili Kara. Rosaline tidak mengenal siapa anak lelaki itu, hanya saja dari pakaian yang dikenakannya sama seperti Kara, Rosaline pikir mungkin itu teman atau pacar Kara.
"Kak, jika kamu lihat putrimu tumbuh jadi gadis cantik dan baik, kamu pasti bangga. Lihat saja, banyak yang mendekatinya, bahkan dia didekati lelaki tampan." Ucap Rosaline, entah pada siapa dia berbicara. Bibirnya tersenyum melihat interaksi antara Kara dan lelaki jangkung itu.
Kara sudah tak nampak lagi, dia sudah masuk ke dalam kelas dibantu teman perempuannya, bukan lelaki jangkung yang tadi. Entah apa yang mereka bicarakan, Rosaline hanya bisa melihat dari jauh ketika anak muda itu berbicara. Sampai akhirnya Kara dibantu teman perempuan berambut coklat, sedikit gemuk.
Kara menghampiri supir pribadi Kara di parkiran dekat sekolah.
"Pak Parman?" Teriak Rosaline pada lelaki gemuk, yang tengah mengelap mobil mercy putih.
"Eh, Bu Rosaline."
"Apa kabar Pak?"
"Baik." Balas Pak Parman dan mereka berjabat tangan.
"Kara bapak yang jemput?" Tanya Rosaline setelah mengajak Pak Parman ke kantin di belakang sekolah.
"Iya. Biasanya kalau pagi Pak Fathur yang antar, tapi pagi tadi Bapak nggak dirumah. Kata Bi Iyah, bapak ga pulang dari kemarin." Cerita Pak Parman.
"Oh, begitu. Kara baik-baik saja kan pak?"
"Baik, cuma kaki nya sakit. Katanya kekilir." Rosaline tau Kara pasti berbohong. Kara memang selalu menutupi kesedihannya di depan orang lain. Dia selalu berpura-pura tegar meski sebenarnya dia sangat rapuh.
Rosaline cukup mengenal dengan baik sosok Kara, setelah sekian lama Rosaline mencari keberadaan Kara, akhirnya dia bisa menemukan Kara. Bahkan dengan segala usaha Rosaline mencoba mendekati Kara, meski harus berkedok sebagai guru pembimbing. Sampai hari ini Kara tidak pernah menyadari jika dirinya dan Kara adalah saudara.
Ingin sekali Rosaline bercerita yang sebenarnya, tapi sampai hari ini Rosaline masih sulit untuk menceritakan semuanya, ia takut justru Kara akan kecewa dengan kenyataan dan memilih tidak ingin mengenalnya lagi. Bertahun-tahun, Rosaline menahan diri untuk tidak menceritakan kisah sebenarnya, namun kali ini mengingat kondisi kakak nya yang semakin memprihatinkan, dan juga perlakuan Dahlia yang semakin keterlaluan pada Kara, akhirnya Rosaline memantapkan diri untuk merebut Kara nya kembali.
Rosaline akan membawa Kara ke tempat seharusnya Kara berada. Mungkin dulu Rosaline ragu untuk membawa Kara, karena dia belum memiliki apapun, namun kini dia bisa menjamin kehidupannya dan juga Kara dengan baik. Maka dari itu dia akan merebut Kara dan membawanya pulang.
"Baiklah Pak,saya pamit kalau begitu. Jangan beritahu Kara kalau bapak bertemu saya di sini ya?"
"Baik,Bu."
"Ini untuk,Bapak." Rosaline memberi beberapa lembar uang kertas berwarna merah untuk Pak Parman, meski dia sudah berkata agar tidak memberi tahu kan pertemuannya dengan Pak Parman, tapi hati orang siapa yang tahu. Hanya sebatas jaga-jaga, dan uang kertas merah bisa mengatasi semuanya.