Bebas promosi!
Bukan, Pengantin yang tak Dirindukan.
Dicintai, atau mencintai. Mana yang akan kamu pilih? Jika Winda memilih untuk mencintai, berharap sosok yang dicintai balik mencintai. Namun, sayang. Harapan tidak sesuai kenyataan.
Kepahitan harus diterima. Kala orang yg terlihat benar berjuang. Nyatanya, hanya tipu muslihat semata.
Lantas, apa yang akan terjadi? Penasaran, yuk kita simak kisah selengkapnya!
Happy reading!
IG: @fakhiral2013
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fakrullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Bergegas.
Ya, setelah menutup telepon nya. Winda kini mengambil handuknya, yang ia sangkutkan di samping pintu kamar nya. Tak menunggu lama, ia pun lantas pergi menuju kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya. Winda pun kini kembali ke kamar nya, mengenakan pakaian casualnya.
Fery, sebenarnya apa sih maumu!
Kesah Winda.
Hanya memakai bedak tabur, sedikit lipbalm. Winda pun kini beranjak pergi dari kamar nya. Tas samping milik nya tak lupa ia sandangkan di bahunya, kuci motor yang ia letakkan di atas meja belajar nya juga tak luput dari genggaman nya. Semua, hal ia perlukan kini sudah ada pada dirinya.
Setelah menutup pintu kamar nya. Winda pun kini bergegas pergi kearah pintu keluar. Saat melewati ruang depan, ada Ayah disana yang tengah membaca koran. Melihat Winda yang berjalan dengan sangat tergesa-gesa membuat rasa penasaran Ayah berada di tingkat tinggi sekarang.
“Winda.” Panggil Ayah saat Winda mulai menapaki langkah nya kearah pintu keluar.
Mendengar suara sang Ayah, membuat Winda menghentikan langkah nya. Lalu kini menoleh kearah Ayah.
“Ayah,” tersenyum sumringah.
“Mau kemana buru-buru?” tanya Ayah kini.
“Ada urusan penting Ayah.” Menjawab tanpa merusak senyum nya.
“Urusan penting apa? Bukankah hari ini kamu tidak kuliah?” tanya Ayah yang di rundung rasa penasaran.
Winda kembali menyunggingkan senyumnya dan berjalan mendekat kearah Ayah.
“Hari ini Winda memang libur kuliah. Namun, tadi barusan Aminah nelpon, ada sesuatu hal yang harus Winda urus sekarang.” Jelas Winda, seraya melirik kearah kopi yang masih tersisa setangah cangkir.
“Urusan penting apa?” tanya Ayah lagi.
“Ada, urusan anak muda.” Winda mengulurkan tangan nya meraih gagang cangkir kopi yang terletak diatas meja, lalu menyeruput nya. “Sluurrp!” habis, Winda pun meletakkan cangkir itu begitu saja.
“Winda, kopi Ayah itu, jangan di habisin!” Ayah meraba dengan cepat cangkir kopi yang baru saja di letakkan Winda, melihat isinya. “Yah, habis.” Dengan mata sayu, Ayah meletakkan cangkir nya kembali.
“Hehehe, suruh Kakak buatin yang baru ya.” bangkit dari duduk nya seraya mengedipkan mata kearah Ayah. “Winda pergi dulu Ayah, mmuuaach! Pamitin juga sama Ibu.” Mengecup sebelah pipi Ayah nya lalu melenggang pergi dari sana. “Assalamu’alaikum!” serunya lagi dari luar.
“Wa’alaikum salam.” Sahut Ayah dari dalam. “Hmm, Winda-winda, dari dulu sikap nya selalu begitu. Nggak pernah berubah,” menggeleng pelan di sambut seulas senyuman setelah nya.
***
Winda mengemudikan sepeda motor nya dengan kecepatan tingggi. Namun, setibanya di jalan kota, Winda memelankan kembali laju kendaraan nya. Aktivitas yang padat, di karenakan hari ini adalah hari minggu, membuat jalanan kota macet parah.
Winda mengerutkan dahinya, menahan panas berada di tengah-tengah jalan. Matahari yang sudah menanjak keatas, cuaca yang begitu panas, di tambah asap-asap knalpot kendaraan yang bertebaran dimana-mana membuat
Winda di rutuk kesal.
Seharusnya jam segini aku masih bermanja ria dengan guling ku di kasur. Jika saja si playboy itu tidak berulah, maka sekarang aku tidak akan berada disini.
Gerutu Winda.
Winda menengadah keatas, melihat kearah detik waktu yang bersanding dengan rambu-rambu lalu lintas. Tiga detik lagi, maka kemacetan akan terurai. Keringat terlihat becucuran dari kening nya, yang di seka nya menggunakan sapu tangan yang khusus di bawa nya.
Lampu merah berganti hijau. Menandakan jalur kendaraan yang ia tapaki sekarang sudah bisa lewat. Mobil-mobil dan juga sepeda motor yang ada di depan nya mulai beranjak satu persatu. Winda pun demikian, melihat jalan di
depan nya sudah lapang. Segera ia menarik gas nya, meninggalkan tempat itu.
Dua puluh menit telah berlalu.
Kini Winda hampir tiba di Toko Kue Annisa. Di lihat nya, di sepanjang jalan sana terlihat begitu banyak papan-papan bunga yang berjejer disana. Layak nya seperti orang penting yang tengah mengadakan pesta.
Namun yang membuat beda adalah, papan-papan bunga yang mendominasi warna bunga mawar putih dan merah itu mengukirkan nama nya (Winda, aku mencintaimu).
Cih! Benar-benar playboy sejati.
Umpat nya.
Dengan wajah kesal kini Winda memarkirkan kendaraan nya di parkiran yang ad di samping Toko nya. di lepaskan nya helm nya yang sedari tadi melingkar di kepalanya, lalu menaruh nya begitu saja di spion motornya.
Setelah merapikan hijabnya. Kini Winda pun dengan mantap melangkah masuk kedalam Toko Kue Annisa.
Dari luar Winda sudah mengerlingkan matanya melihat seluruh papan bunga yang terpajang dimana-mana. Hingga saat tiba di dalam Toko pun, Winda tak kalah terkejutnya melihat begitu banyak hiasan bunga mawar dengan warna merah, pink, dan putih.
Aminah dan juga Fatimah yang melihat kedatangan Winda pun kini mendekatinya.
“Mba!” seru Fatimah yang lebih dulu tiba disana.
Winda pun menoleh kearah sana.
“Ima, apa-apan ini?” tanya Winda mendelikkan matanya.
“Maafkan Ima Mba, tadi para pengantar itu bilang jika ini adalah pesanan Mba. Ima terima dan mereka pun menatanya di setiap sudut ruangan. Namun belakangan setelah kepergian mereka ada beberap mobil lagi yang datang, membawa begitu banyak papan bunga dan memajang di sepanjang Toko kita.” Ima dengan raut wajah cemas menjelaskan semuanya dengan rinci.
Bagaimana pun Fatimah adalah karyawan kepercayaan Kakak nya. Tidak mungkin dia berbohong, lagi pula dia baru kembali pagi ini, setelah di tugaskan Annisa untuk mengurusi beberapa cabang Toko yang lainnya. Jadi Fatimah sama sekali tak tau tentang apa yang terjadi kemarin, dimana detik-detik Fery menyatakan cinta padanya.
“Sudahlah Ima, tidak apa-apa.” Annisa mengelus pelan bahu Ima.
Sementara itu kini Aminah juga datang merapat.
“Mina, kamu belum ngasih tau Ima ya?” tanya Winda.
“Maaf Mba, tadi Mina datang sedikit terlambat karena ada urusan mendesak. Terus pas Mina sudah sampai disini, Mina lihat sudah banyak pajangan bunga di luar sana dan juga di dalam.” Aminah menundukkan kepalanya, merasa bersalah kepada Winda.
“Huffftt!” Winda menghembuskan nafas nya dengan kasar, lalu memegangi kening nya dengan sebelah tangan nya.
“Hmm, ya sudah. Ini pun sudah terjadi sekarang, tak ada yang perlu disalahkan atau merasa bersalah.” Ujar Winda.
Karena yang seharusnya merasa bersalah adalah playboy itu.
“Sekarang, kalian bereskan semua bunga-bunga itu dan bawa keluar. Jangan sisakan satupun di dalam Toko ini.” Titah Winda. “Oya, papan-papan bunga yang berjejer di luar sana juga, segera kembalikan ke toko nya. Jangan sisakan satu pun, mengerti.” Tambah nya lagi.
Winda pun kini melangkah pergi dari sana, ingin segera ke ruangan nya. Namun, baru beberapa langkah kakinya beranjak Aminah kembali memanggilnya.
“Mbak!”
Winda menoleh kebelakang. Disertai langkah kakinya yang juga ikut terhenti sekarang.
“Iya Mina, ada apa?” tanya Winda.
“Itu, Mbak, e…” Mina tak melanjutkan lagi kalimat nya.
TBC.
Hi guys. . mampir juga ke karya terbaru Ra ya, yang ada di bawah ini.
sudah sekian lamanya, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun.. akhirnya bisa lanjut lgi alur ceritanya.
aq suka banget ceritanya .
please thor.. episode berikutnya jangan kelamaan..🙏❤️❤️
ternyata Reno.mantan suami Maya, kalo gak salah.