NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16 - NONA KETUJUH KELUARGA ARDANI

Dari celah tirai yang sengaja ia buka secuil, Wulan mengamati kota yang perlahan berguling di luar — kedai teh yang mulai mengepul, para pedagang memasang tenda, dan gerbang-gerbang rumah pejabat yang dulu hafal ia lewati satu per satu. Semua tampak sama seperti ingatannya, tetapi mata yang pernah menyaksikan akhir dari segalanya tidak akan pernah bisa melihat dunia dengan cara yang lama.

Puri Senja memang sengaja berdiri jauh dari keramaian. Nalendra tidak menyukai hiruk-pikuk; ia memilih menepi dari pusat Kota Pelantar, jauh dari para pejabat pencari muka. Kereta harus melintasi Jalan Kencana — jalan tersibuk di ibu kota — lalu masih menempuh perjalanan lebih dari setengah jam sebelum akhirnya berhenti di depan gerbang kediaman itu. Ketika tirai ditarik sepenuhnya, udara dingin pagi langsung menyentuh wajah Wulan.

Waskita melirik adik perempuannya sekilas, lalu berjalan di depannya dengan langkah mantap, seolah ingin melindungi di saat yang sama ia juga sedikit gugup. Ia tidak ingin adiknya kehilangan muka di hadapan para pengawal.

"Siapa yang datang?" Dua penjaga berbaju hitam di gerbang segera melangkah maju, mengangkat pedang, dan bertanya dengan dingin. Nada suara mereka kaku seperti orang yang sudah terbiasa menolak tamu.

Sebelum Waskita sempat berkata apa-apa, Wulan melompat keluar dari kereta, menatap keduanya, dan berkata, "Wulan, Nona Ketujuh keluarga Ardani." Ia berdiri tegak, dagu sedikit terangkat, dengan kepercayaan diri yang membuat suasana di gerbang itu tiba-tiba berubah. Kepalanya tinggi, dan untuk sesaat ia terlihat bukan sebagai gadis yang nyaris tenggelam di kehidupan lampau, melainkan putri bangsawan yang tahu persis apa yang ia inginkan.

Ketika ia mengangkat kepalanya, barulah ia menyadari bahwa dua penjaga berpakaian hitam di depannya adalah orang-orang yang ia kenal — Sandya dan Sena, pengawal pribadi Nalendra, sepertinya sedang bertugas hari ini. Keduanya berdiri membatu, seolah tidak pernah membayangkan wajah ini akan muncul di gerbang Puri Senja. Keduanya tampak seperti orang yang tidak percaya bahwa nama itu benar-benar terucap di depan mereka.

"... Nona Ketujuh?" Sena terkejut, dan tanpa sadar mundur selangkah, hampir tersandung anak tangga di belakangnya.

Waskita mengeluh dalam hati. Sepertinya adik perempuannya ini benar-benar telah meninggalkan bayangan yang sangat dalam di pikiran para pengawal bayangan itu — sampai-sampai mereka mundur ketakutan hanya karena mendengar namanya.

"Apakah Nalendra ada di rumah?" Wulan berpura-pura tidak melihat gerakan bawah sadar mereka, hanya menjulurkan kepalanya untuk mengintip ke dalam halaman yang rindang itu. Di benaknya, ia sudah menyiapkan seribu alasan kalau-kalau Nalendra menolak menemuinya.

"Uh... Tuan Muda ada di dalam." Sandya tidak tahu alasan kunjungan mendadak ini, tetapi ia tetap memberi hormat dan menjawab dengan jujur. Ia tidak berani menahan tamu yang sudah dikenal Tuan Muda, meskipun ia belum tahu alasan kunjungan ini.

"Kalau begitu aku masuk. Kakak Waskita, kau bisa kembali dulu." Wulan melambai kepada Waskita dengan tenang, lalu mengangkat kakinya dan melangkah masuk ke Puri Senja tanpa ragu sedikit pun. Langkahnya ringan namun tegas, seolah halaman itu sudah ia kenal sepanjang hidupnya, seolah tidak ada satu pun dinding yang bisa menahannya.

Sandya dan Sena saling berpandangan dengan bingung, mulut mereka terbuka setengah.

Melihat Nona Ketujuh sudah berjalan masuk, Sena buru-buru mengedipkan mata kepada Sandya dan memberi isyarat agar menghentikannya. Sandya hanya menyipitkan matanya, berpura-pura matanya kram. Sena tidak berani menghentikan Nona Ketujuh — apakah ia berani? Ia tidak akan melakukan perbuatan tidak tahu diri seperti itu. Mereka tahu betul, menahan Nona Ketujuh sama artinya dengan mengundang bencana ke dalam Puri.

Setelah dua tahun, ia menginjakkan kaki di Puri Senja lagi. Melihat pemandangan yang akrab namun asing, Wulan tiba-tiba merasa seperti sudah berabad-abad lamanya. Setelah Sultan Kanaka merestui perjodohan mereka, ia pernah datang bersama ayahnya, Adipati Pramana, untuk beberapa kali kunjungan. Tetapi di kehidupan lampau, ia menetap di sini selama lima tahun penuh, dan setiap sudutnya ia kenal baik — setiap tanaman, setiap pohon, setiap batu di taman. Aroma bunga flamboyan yang samar menyambutnya, dan untuk sesaat ia merasa seperti sedang pulang — ke rumah yang dulu ia tinggalkan dengan penyesalan.

Setelah Nalendra gugur di kehidupan lampau, Puri Senja menjadi sunyi tanpa penghuni. Angin dan hujan membiarkan tanaman merambat naik ke dinding, dan kesejukan yang dulu selalu ia rindukan perlahan berubah menjadi keheningan yang menyesakkan. Ia terpaksa kembali ke Puri Ardani, tetapi tidak lama kemudian bencana datang bertubi-tubi — anggota keluarganya gugur satu demi satu, diasingkan satu demi satu, hingga akhirnya ia tidak punya tempat tinggal dan harus hidup di jalanan. Kenangan pahit itu masih terasa segar, tetapi Wulan menepisnya dengan tenang — kali ini semuanya akan berbeda.

Setelah terdiam beberapa saat, Wulan menarik napas, menenangkan diri, lalu terus berjalan masuk.

Nalendra selalu menyukai kedamaian dan ketenangan. Selain para pengawal bayangan pribadinya dan beberapa pelayan, tidak ada orang lain di Puri itu. Saat berjalan menyusuri koridor sembilan lengkung yang memanjang di antara taman, Wulan tidak bertemu satu orang pun — hanya gemerisik daun tertiup angin pagi. Keheningan itu terasa asing, padahal dulu ia hafal setiap suara di halaman ini.

Berdasarkan pemahamannya tentang Nalendra, saat ini ia mungkin sedang berada di ruang kerja, dan Wulan berbelok di sudut dengan mudah. Benar saja, ia melihat pohon flamboyan yang tinggi di kejauhan. Pepohonan itu semuanya merah menyala seperti lautan api yang berkobar, memekarkan mahkota bunga di tengah langit biru. Daun-daunnya yang merah terjulur seperti tangan-tangan yang menyambut atau mengusir, tergantung siapa yang melihatnya — dan hari ini, pohon itu seolah menyambut kepulangannya.

Di kehidupan lampau, ia sangat menyukai pohon ini. Ketika tidak ada pekerjaan, ia akan memindahkan kursi anyaman ke bawah pohon itu — di musim panas ia duduk menikmati angin sepoi-sepoi dan kesejukan daun, di musim dingin ia mengenakan jubah besar dan berjemur dengan malas. Untuk alasan ini, Nalendra juga membuatkan sebuah ayunan kecil khusus untuknya. Ia masih ingat bagaimana Nalendra memancang ayunan itu dengan tangannya sendiri, tanpa pernah mengeluh sedikit pun.

Peristiwa di kehidupan lampau itu seperti bertepatan dengan pemandangan di hadapannya. Segala sesuatu di depannya seolah tidak pernah berubah. Satu-satunya perbedaan adalah ayunan kecil itu kini hilang dari bawah pohon flamboyan. Wulan menatapnya dengan perasaan campur aduk, lalu menutup matanya dan membuang muka, memiringkan kepala. Di kejauhan, ruang kerja Nalendra terlihat samar di balik dedaunan. Beberapa kelopak merah jatuh dan melayang di udara, ikut terbang bersama angin sore, seolah menuntun langkahnya ke arah yang ia tuju. Hatinya tenang, dan itu cukup.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!