Setelah kepergian suami tercinta menghadap yang maha kuasa, kondisi Diandra sangat terpuruk. Dia harus mengurus dua anak yang masih kecil, Faris (anak pertama berusia 9 tahun) dan Fanisha (anak kedua berusia 6 tahun). Belum lagi kondisi Diandra yang sedang hamil 7 bulan.
Diandra benar-benar merasa kehilangan sehingga dia menghabiskan hari-harinya hanya menyendiri di kamar dan menangis.
Hingga di hari kesepuluh kepergian suaminya, Diandra melihat Faris anak pertamanya sibuk mengurus adiknya Fanisha. Di situ membuat Diandra tersadar kalau selama ini dia telah menelantarkan anaknya. Diandra memeluk kedua anaknya dan meminta maaf.
Diandra berjuang dengan anak-anaknya, dari sisa harta suaminya yaitu sebuah mobil. Diandra menjual mobil dan memulai semuanya dari awal.
Bagaimana kelanjutan perjuangan Diandra menjadi seorang single parent?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Praditya Dita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Seperti biasanya, setelah pengiriman catering ke kantor Monika. Semua tim di kumpulkan, yang kali ini beda bukan tentang menu harian kantor Monika. Diandra berdiri di depan whiteboard dan memegang sebuah spidol. Diandra mulai mencatat apa aja yang sudah dia catat sebelumnya dikertas, yaitu pesanan catering untuk Bu Broto. Waktu yang tersisa lima hari lagi, semakin membangkitkan semangat Diandra untuk memulai meeting hari ini.
Satu persatu Diandra menjelaskan semua yang sudah di pesan Bu Broto. Semua karyawan Diandra tau kalau ada catering di hari weekend maka mereka akan mendapatkan bonus tambahan, itu di anggap sebagai kerja lembur. Jadi tidak ada alasan untuk mereka menolaknya.
Setelah semua paham dan tidak ada lagi pertanyaan, meeting mereka di bubarkan. Diandra langsung pulang karena meninggalkan anak-anak di rumah. Sebelum pulang, Diandra mampir ke sebuah rumah makan Padang untuk membeli lauk makan siang anak-anaknya. Tiga potong ayam bakar dan 1 ekor ikan tongkol balado, tidak lupa sayur singkong dan sambal ijo nya.
Setelah membayar Diandra langsung pulang dan di sambut oleh Fatih yang ternyata dari tadi menunggunya. Diandra menggendong Fatih yang sedang manja ke dirinya. Sedangkan Faris dan Fanisha sedang asik nonton film anak yang selalu di tinggal sendiri di rumah. Film itu setiap akhir tahun selalu di tayangi dan tidak ada yang bosan untuk menontonnya.
Diandra menaruh lauk yang tadi dibelinya di atas meja ruang keluarga.
"Adek nggak ikut nonton sama mas dan kakak?"
"Ndak ah... Undah bawa apa?" (Nggak ah... Bunda bawa apa?)
"Bawa lauk buat makan. Adek udah lapar?"
"Eyum, tadi matan oti di uwatin mas." (Belum, tadi makan roti di buatin mas)
Diandra yang gemas langsung memeluk dan menciumi Fatih yang memang dari tadi duduk di pangkuannya. Diandra pun menyaksikan Faris dan Fanisha yang penuh dengan ekspresi kadang tertawa terbahak dan kadang terlihat tegang saat nonton film itu.
Fatih turun dari pangkuannya Diandra lalu lari dan memeluk Faris sehingga mas itu kaget dan malah mengajak becanda adiknya yang suka iseng.
"Sshh... Diam dong lagi seru nih." kata Fanisha protes dengan Faris dan Fatih.
"Ya Allah dek itu kan pake bahasa Inggris berisik juga masih ada teks nya," ujar Faris sambil geleng-geleng kepala.
Diandra hanya tersenyum lalu membawa lauk yang tadi di beli ke dapur untuk di pindahkan ke piring. Suara ribut Fanisha masih terdengar, yang tetap protes tidak boleh berisik. Diandra masuk ke kamar untuk mengecek hp yang tadi dia charge saat pergi ke workshop catering.
Diandra mengecek email, lalu Diandra bersyukur dan kembali keluar kamar untuk menemui Faris.
"Mas, hari Minggu kita mulai tes masuk pesantren ya. Mas siap-siap ya."
Faris kaget mendengar pernyataan Diandra karena dia masih bercanda dengan Fatih. "Minggu ini bunda?"
"Iya. Itu tes masuknya full seharian dari umum dan agama. Mas pelajari aja apa sudah di ajarkan." Diandra kembali duduk di sofa ruang keluarga.
"Iya Bun, kok mas jadi deg-degan ya?"
"Bismillah. Mas pasti bisa."
"Iya, mas pasti bica." kata Fatih mengikuti Diandra.
Faris kembali memberikan serangan ciuman dan kelitikan ke Fatih yang sangat menggemaskan. Fanisha semakin tidak konsentrasi maka diapun ikutan menyerang Fatih dan Faris.
Setelah mendapat undangan untuk keikutsertaan dan ujian tes masuk pesantren. Setiap hari Faris sibuk mempelajari semua yang sudah di ajarkannya. Faris juga belajar tajwid dan makhraj dalam bacaan Al-Qur'an.
Tok... Tok...
"Ya masuk aja." kata Faris yang masih sibuk belajar di kamarnya.
Pintu kamar terbuka, melongo kepala Fanisha di antara cela pintu. Fanisha melihat Faris yang sibuk belajar, maka di urungkan niatnya untuk masuk. Saat ingin menutup pintu, Faris yang dari tadi sadar akan kehadiran adiknya langsung memanggilnya. "Sini dek masuk!"
Fanisha diam sesaat lalu masuk kamar Faris dengan berjinjit biar tidak mengganggu. Fanisha melihat begitu banyak buku di atas meja belajar. Di hitungnya buku itu yang ternyata ada 6 buah. Fanisha berjalan ke arah tempat tidur lalu merebahkan badannya disana.
"Mas!" panggil Fanisha melihat ke langit-langit kamar Faris.
"Hmmm... Ada apa?"
"Mas yakin mau masuk pesantren?"
"Yakin dong, kenapa?"
Fanisha diam tidak langsung menjawabnya. Fanisha membalikkan badan ke arah Faris yang belum merubah posisi badan dan matanya, masih fokus dengan buku yang sedang di bacanya.
"Mas bismillah aja dek, minta tolong sama Allah biar dimudahkan dan dilancarkan. Maksud bunda kan baik, supaya mas bisa mendalami ilmu agama dan mas bisa mandiri. Kamu doain mas ya." kata Faris yang sudah menghadap adiknya yang paling cantik.
Fanisha kini duduk di tempat tidur dengan badan masih menghadap Faris. "Pasti mas. Tapi pasti rumah ini akan sepi kalau nggak ada mas."
Faris pindah duduk di samping Fanisha, lalu merangkul adiknya dengan sayang. "Tenang dek, masih ada bunda dan Fatih yang akan menemani kamu. Kamu juga bisa main sama Sophia kan rumah kita dekat."
Fanisha hanya mengangguk. Walaupun masih ada enam bulan lagi untuk Faris berada di pesantren. Tapi perasaannya tidak bisa di bohongi, dia sangat sayang sama Faris. Sosok kakak yang hebat dan selalu memberinya semangat kalau sedang ada masalah. Apalagi kalau Fanisha kesulitan dengan tugas sekolah, sebelum Diandra yang menolongnya, maka Faris duluan yang turun tangan.
Fanisha menyandarkan kepalanya di bahu Faris. Tiba-tiba pintu kamar di buka, telihat Diandra membawakan sesuatu.
Kini mereka berada di ruang keluarga, dengan sekotak martabak telor dan sekotak martabak coklat keju. Diandra pun menyiapkan tiga gelas coklat panas. Faris dan Fanisha menikmati martabak yang berbeda rasa itu.
Sebelumnya Diandra melihat Fanisha masuk kamar Faris, dia yakin kalau Fanisha pasti ingin membicarakan sesuatu dengan mas nya. Diandra langsung pesan makanan dengan sistem order pada ojek online. Lalu Diandra membuat coklat panas favoritnya Fanisha.
Fatih sudah tertidur jadi ini bisa dia gunakan untuk deep talk dengan kedua anaknya. Sudah lama mereka tidak bicara dari hati ke hati.
"Coklat panasnya emang terbaik Bun," kata Fanisha yang sangat menikmatinya.
"Iya sayang... Spesial untuk anak-anak bunda."
"Terima kasih bunda." kata Faris dan Fanisha bersamaan.
"Sama-sama sayang. " ucap Diandra sambil mengambil martabak telor dan acar nya. "Gimana mas belajar nya?"
"Alhamdulillah Bun, kepala mas mau pecah. Hehehe..." kata Faris dengan nada bercandanya.
"Pelan-pelan aja mas, air doa yang bunda buat di minumkan?"
"Di minum Bun, cuma mas deg-degan takut mengecewakan bunda."
"Tenang mas, kita semua selalu doain mas kok. Nanti kakak minta semua orang buat doain mas biar ujiannya lancar dan di mudahkan." kata Fanisha.
"Aamiin." kata Diandra yang diikuti Faris.
"Jadi ceritanya sekarang kamu tim sukses mas nih?" tanya Faris.
"Pasti dong. Sampai kapanpun mas selalu di hati." jawab Fanisha sambil tangannya membuat hati dan menaruhnya di dada.
Canda tawa terus bersama mereka di malam itu. Untuk malam ini anak-anak bisa sedikit begadang walau akhirnya hanya bisa sampai pukul 22.00.
Faris dan Fanisha langsung sikat gigi lalu masuk kamar masing-masing. Diandra merapihkan meja ruang keluarga dan mencuci gelas yang bekas di pakai.
Kembali mengecek pintu dan jendela apa sudah tertutup rapat, lalu lanjut tidur.
*****
Keesokannya, Diandra sibuk dengan harus datang ke workshop catering lebih pagi. Faris di tugaskan untuk menjaga rumah dan adik-adik nya. Karena setelah sholat subuh Fanisha kembali tidur, dan Faris ke kamar Diandra untuk menemani Fatih yang masih terlelap.
Meninggal anak-anak dengan kondisi seperti ini sudah biasa Diandra lakukan. Pintu rumah dan gerbang pun sudah di kunci dan di gembok.
Di workshop catering sudah ada beberapa menu yang sudah siap di masak hanya nanti tinggal di panaskan saat sudah sampai di rumah Bu Broto.
Kelima karyawannya tidak ada yang bengong semuanya sibuk bahu membahu agar masakan mereka tepat waktu. Diandra pun turun tangan untuk membuat menu yang belum di selesaikan karyawannya.
Tepat pukul 9.00, semua makanan on time. Menu yang sudah di pesan, sudah siap di bawa ke rumah Bu Broto dengan mobil sedan milik Diandra.
Di rumah Bu Broto masih sepi belum ada tamu yang datang jadi dengan leluasa, Diandra dan Karyawannya bisa menyajikan makanan. Setelah semua tertata dengan rapih, karyawan Diandra bisa istirahat sambil menunggu acara lamaran berlangsung.
Diandra dan kelima karyawannya memakai seragam catering yang sengaja Diandra buat agar mereka terlihat kompak. Dengan celana hitam dan kaos polo yang berwarna coklat susu dengan tulisan "TriFa Catering" di dada kanan, maka orang-orang akan lebih mudah mengenali mereka.
Saat acara lamaran masih berlangsung, Kiki dan Theo menyalakan api pada masakan supaya nanti saat tamu makan terasa hangat.
Selesai acara inti lamaran selesai. Di lanjutkan dengan acara ramah tamah keluarga dan kerabat sambil menikmati sajian dari catering Diandra.
Terlihat tamu sangat menikmati makanan dari catering Diandra. Bahkan sampai ada yang ambil kartu nama "TriFa Catering".
Diandra membawa es kuwut dan membagikannya ke Krisna yang sedang duduk sendiri.
Krisna menerimanya dan menyuruh Diandra untuk duduk di sampingnya. "Es nya enak dan segar."
"Terima kasih." Diandra melihat ada yang beda dengan Krisna. "Mas nggak gabung dengan yang lain?"
"Malas. Pertanyaan nya selalu sama, kapan nyusul?"
"Mas tinggal jawab aja besok."
Krisna memandang Diandra dengan tidak suka. "Gimana mau besok kalau calonnya aja belum ada."
"Mas kalau di tanya kapan nikah? Kapan nyusul dan kapan blablabla... Mas tinggal jawab besok. Karena yang tau hanya Allah takdir hambanya. Lagian omongan itu kan doa, siapa tau emang besok mas Krisna ketemu dengan jodohnya. Aamiin." kata Diandra langsung bangkit dan meninggalkan Krisna.
Krisna mulai tersadar dengan perkataan Diandra. Sempat Krisna tidak mempercayai takdirnya. Tapi sekarang dia yakin kalau apapun yang dia jalani itu adalah takdir. "Thanks Dian."
Bersambung...
rumi heavy👍👍👍
lanjut their💪💪💪