Vivian yang kembali mengulang waktu begitu bahagia, serasa mendapatkan durian runtuh.
"Aku akan menjauh, bahkan takkan menampakkan diriku lagi dihadapanmu Alexander Smith" Ucap vivian penuh tekad
Tapi bagaimana jika takdir malah mendekatkannya dengan pria yang ingin dijauhinya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin permata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Alex sialan, ckck rusakkan sudah handphoneku" Ucap Vivian kesal, menggerutu.
"Eh, kalau Alex ke luar negeri, artinya aku tidak harus antar makanan kan, dua minggu aku bebas, asyik, yes, yes, yes"
"Jadi pingin jalan-jalan, tapi kemana ya?"
"Aku kok jadi kangen nasi kuning iwak haruan punya Acil Aluh ya, apa aku jalan-jalan ke banjar kali ya?" Ucap Vivian bersemangat "Aku juga mau makan pisang maulin yang ada di pasar terapung"
Vivian bergegas menyudahi berendamnya, keluar dari kamar mandi, menengok jam yang tergantung di dinding kamarnya "Masih jam setengah tujuh, Ayah dan Kak Kevin pasti sedang sarapan sekarang, aku harus segera minta ijin pergi berlibur".
Ketika Vivian telah sampai di lantai bawah, melihat Papah Rudolf dan kak Kevin yang sedang sarapan, Vivianpun segera mendekat.
"Pah, kak Kevin , Vivian mau minta ijin , mau berlibur ke Banjar, Kalimantan Selatan" Ucap Vivian yang ikut duduk di kursi makan.
"Nak, bagaimana antaran makanan ke Gedung Maxim"
"Oh, tadi Tuan Alexander mengabari , kalau antaran makan siangnya libur, karena beliau harus keluar negeri"
"Tapi, tempat itu sangat jauh adikku, dengan siapa kau akan pergi?"
"Aku akan melakukan perjalanan backpacker seorang diri kak, aku akan langsung mencari tempat kost setiba di sana, ayolah kak"
"Baiklah kakak akan memperbolehkan, tapi tidak tahu dengan Papah" Ucap Kak Kevin mengijinkan.
"Baiklah, tapi kamu harus hati-hati dan jaga diri dengan baik " Ucap Papah yang ikut mengijinkan.
"Terimakasih Kakakku sayang, Papahku tercinta" Memeluk mereka satu persatu dengan hati senang.
Urusan cafe sudah Vivian serahkan kepada manager dan Nabil, setelah itu Vivian berpamitan akan pergi berlibur selama dua minggu, Vivian belum memberikan nomor handphone terbarunya kepada siapapun, karena tidak ingin ada kontak dengan Alex selama liburan.
Setelah dua hari dua malam menaiki kapal, dan sejam lebih perjalanan darat Vivian tiba di kota banjar, setelah menemukan tempat kost, Vivianpun segera beristirahat, agar besok bisa puas berjalan jalan.
Pagi-pagi sekali Vivian sudah pergi membeli sarapan yang terletak di sebelah kostnya, liburan yang dilakukan vivian kali ini membuatnya terkenang dengan kehidupan masa lalunya, yang walaupun dalam pengejaran Alex, namun Vivian juga sempat merasakan bahagianya hidup di kota ini, dan Vivian ingin merasakannya kembali.
"Cil nasi kuningnya satu ya?"
"Boleh setumat ya, nasi kuning satu , iwaknya mau apa?
"Haruan adakah cil, tambah telur bumbu bali satu cil ya, untuk-untuk nya berapaan sebiji?"
"Boleh, untuk-untuknya seribuan sebijinya, yang isinya inti ada tanda cubitannya"
Sembari menunggu nasi kuning, Vivian mulai mengunyah untuk-untuknya.
"Kalau hamparan tatak berapa?
"sepotongnya dua ribu"
"Boleh deh lima potong buat bekal"
"Memang habis sarapan, pian mau kemana?"
"Mau jalan-jalan ke pasar terapung"
"Bisakah anak ulun si Lina ikut di ajak, pusing acil liat dia behinip di rumah terus"
"Boleh ,sekalian jadi aku punya teman buat jalan-jalan, sebentar lagi taxi yang aku pesan datang, bilangin anak acil, buat siap-siap "
Akhirnya Vivian berjalan ke pasar terapung bersama dengan Lina, di sana Vivian menelpon kak Kevin dengan menggunakan handphone baru yang salah satunya telah dia berikan kepada Kakaknya, sebelum Vivian berangkat berlibur.
Di kehidupan yang lalu, Vivian hampir tertangkap oleh Alex setelah menelepon kakaknya, jadi dia tidak mau liburannya kali ini, juga diganggu dengan telepon dari Alex.
"Kak, tebak aku dimana?" Ucapnya gembira sambil memperlihatkan orang-orang yang menjual hasil bumi di atas perahu-perahu
"Kenapa banyak perahu di situ?" Tanya papah rudolf yang ikut bervideo call
"Iya, pah, Vivian berada di Pasar terapung, pisangnya manis sekali loh" Menunjukkan pisang berukuran mini, dan memakannya "Wah, ada mangga kasturi, cilll beli lima kilo"
"Hey, memang kau sanggup memakannya?" Protes Kak Kevin melihatnya banyak membeli mangga yang ukurannya lebih kecil dari kedondong.
"Banyak bubuhan tetangga di sini yang bisa membantu menghabiskannya, Wah ada kecapi juga" Mata vivian terlihat berbinar.
Papah Rudolf dan Kak Kevin tampak sangat senang sekali melihat Vivian yang terlihat begitu bahagia berlibur disana.
Sepulang dari jalan ke pasar terapung, Acil Aluh geleng-geleng melihat barang yang dibeli Vivian semua adalah buah-buahan, ada belimbing, kecapi, kates, ketimun, kedondong, mangga muda dan mangga kasturi.
"Kenapa banyak beli buah?" Tanyanya heran
"Panggil bubuhannya cil, kita pencokan" Ucap Vivian dengan riang, tak perlu waktu lama , para tetangga mulai berdatangan mendekat, mereka mulai bahu membahu membuat pencok buah buahan lokal yang nikmat.
Keesokan harinya, Vivian kembali membawa Lina berjalan-jalan, kali ini mereka pergi ke pasar intan, Vivian membeli beberapa permata, hari-hari di Martapura di lalui Vivian dengan berjalan-jalan ke berbagai tempat yang ada di kota itu.
Seperti hari ini, yang telah menginjak hari ke sepuluh, begitu mendengar Vivian mau jalan -jalan ke Air Terjun Panayar, banyak dari tetangga mereka yang mau ikut, sehingga Vivian menyewa sebuah mini bus dan meminta ibu-ibunya menyiapkan perbekalan untuk bakar-bakar ikan dan ayam di sana.
Kalau Vivian tampak bersenang-senang jalan-jalan di kota Banjar, Berbeda dengan Alex yang sibuk mengurus bisnisnya yang ada di Itali.
"Berani sekali para tikus itu mencuri dariku" Ucapnya terlihat kesal, saat mengetahui segelintir orang yang mengubah laporan keuangan , bahkan menggelapkannya dan memasukkaknya ke kantong-kantong mereka.
"Saya sudah menangkap mereka, dan memasukkannya ke ruang bawah tanah Tuan"
"Bagus, bawa mereka kemari" Ucap Alex dingin.
Tak lama beberapa pengawal menyeret beberapa orang dengan tangan terikat.
"Kalian tahu kesalahan kalian?" Tanya Alex , mengangkat dagu salah satu dari mereka , satu tangannya menggoreskan pisau lipat ke arah pria itu yang tampak mulai gemetaran.
"Jawab" Giginya gemeletuk menahan kesal "jlep" "Aaaargh" Alex menghujamkan pisau kearah tangan pria itu yang bertopang di lantai , seketika darah segar mengalir di sana, suara rintihan pilu terdengar membuat suasana makin mencekam. "Maafkan saya Tuan, saya akan segera mengembalikannya" Ucapnya memohon, menyadari nyawanya yang semakin terancam, senyum tipis tersungging di wajah Alex, meraih sebuah katana.
"Bagaimana kalian bisa mengembalikan puluhan milyar yang kalian curi" Ucapnya murka dan menebas leher pria itu, darah segar menyiprat ke penjuru ruang, melihat salah satu teman mereka sudah teronggok tak bernyawa,nyali mereka semakin ciut ketakutan, bahkan ada yang kencing di celana "Bawa mereka ke kandang si kembar Scorpio dan Leon, mereka pasti senang mendapat teman baru, bersihkan tempat ini" Perintah Alex meninggalkan tempat itu.
Setelah membersihkan badan, Alex kembali ke Mensionnya, duduk di Balkon menikmati capucinonya, Simone datang mendekat.
"Tuan saya sudah mengirim mata-mata, sampai detik ini Nona Vivian tak terlihat baik di rumah ataupun di Cafe, kami bahkan sudah meretas cctv di kedua tempat, dan hasilnya nihil, tapi semua orang mengkorfirmasi bahwa Nona Vivian pergi berlibur dan handphonenya tidak bisa dihubungi"
"Ah , seandainya handphone Vivian tidak rusak hari itu" Ucap Alex yang terlihat kesal, tidak bisa menghubungi Vivian, untuk sekedar melihat wajahnya, meski dari handphone.
Wajah Vivian kembali menari-nari di kepala Alex, wajahnya yang berteriak kesal, berganti dengan wajah yang merona malu, berganti wajah yang terlihat panik saat Alex memvideo call nya terakhir kali "Prank" Gelas capucino terlempar, hancur menghantam dinding.
"Apakah urusan kita telah selesai di sini?"
"Belum Tuan, kita masih harus mengurus masalah jual beli senjata"
Sepeninggal Simone, Alex merogoh sakunya, membuka galeri dengan foto-foto Vivian saat berada di taman Hiburan "Sebenarnya, kau sedang berada di mana kelinci kecilku, awas kalau aku bertemu lagi denganmu" Ucapnya menyeringai, menyentuh wajah Vivian yang ada di handphone.
authooor.. up lah😭 banyak yang masih menantikan kelanjutan ceritanya. tetap semangat, jangan digantung ceritanya. lebih dari setahun aku menanti update dari mu. hingga saat ini aku masih menanti. rela komen panjang dan sekaligus berdoa untuk mu . up ya aku masih menanti😊😊