Adelia adalah gadis yang pekerja keras, ia merantau di kota besar agar bisa memenuhi kebutuhan ayah dan kakanya yang berada di rumah. Semua ia berikan agar bisa membahagiakan kedua orang yang sangat ia sayangi namun penghianatan kakak Adelia dan Riki membuat dirinya dibunuh dan meninggal.
Tuhan masih berbaik hati memberikannya kesempatan kedua untuk hidup, namun masalahnya ia berada di tubuh orang lain. ia bertekad untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belaian
Vanessa sangat terkejut hingga bola matanya membulat sempurna melihat lelaki itu memang benar pak Arya yang merupakan mantan bosnya dulu. Memang sebelum berangkat kedua orang tuanya bilang jika lelaki yang akan di jodohkan dengannya bernama Arya.
Namun ia tak merasa aneh sama sekali lantaran banyak orang yang bernama Arya juga di dunia ini tapi kenapa harus Arya mantan bosnya. Dan sekarang ia malah di jodohkan dengan Arya yang telah ia kenal bahkan sangat kenal sekali.
"Iya aku Arya, apa kau Vanessa ?". Tanyanya dan dengan segera Vanessa bersikap biasa walau ia masih syok.
" I iya benar aku Vanessa ". Jawabnya dan Pak Arya menyuruhnya untuk duduk.
Cukup lama Vanessa dan pak Arya saling diam karena bingung harus memulai percakapan dari mana. Pak Arya yang memang tidak banyak bicara dan Vanessa yang takut dengan mantan bosnya itu membuat suasana menjadi tidak nyaman.
" Jangan panggil aku pak, aku tau kau dan aku memiliki perbedaan usia yang tak sedikit tapi aku akan tersinggung jika kau memanggilku dengan sebutan pak". Vanessa mengangguk mengiyakan permintaan pak Arya.
"Kalau begitu aku memanggil dengan sebutan apa ?". Tanyanya dan pak Arya nampak berfikir.
" Kau bisa memanggilku mas". Vanessa hanya mengangguk lagi dan semakin lama ia merasa tak nyaman duduk berhadapan lama-lama.
Mereka berdua memesan makanan dan menyantapnya, hanya sedikit obrolan diantara keduanya untuk sekedar mengisi keheningan yang terasa. Setelah makan juga mereka kembali diam karena tak tau apa yang harus di bicarakan lagi seolah bahan obrolan mereka sudah habis.
"Pak mangsudku mas sepertinya kita tidak ada kecocokan jadi mungkin mas Arya bisa meyakinkan keluarga mas Arya untuk....". Vanessa takut untuk melanjutkan kata-katanya karena takut akan membuat pak Arya tersinggung.
" Mangsudmu untuk membatalkan perjodohan ini ?". Tanyanya menelisik hingga membuat Vanessa menunduk takut.
Bahkan pak Arya tak juga mengucapkan kata-katanya lagi. Ia jadi semakin takut menyinggung perasaan pak Arya dan lebih takut lagi jika pak Arya mengira ia menolaknya. Atau malah sebenarnya pak Arya menyukainya namun ia menolaknya hingga membuat pak Arya sakit hati.
"Aku tidak mengira kau tipe wanita yang bicara langsung ke intinya mengingatkanku pada seorang wanita yang sangat ku kenal". Vanessa menelan ludahnya dengan sukar karena merasa pak Arya sedang membicarakannya.
" Asal kau tau sebenarnya aku juga tak setuju dengan perjodohan ini bahkan aku menentangnya dengan keras tapi ibuku sedang sakit jadi aku tak bisa mengecewakannya". Vanessa mencelos baru saja merasa lega tapi kini sepertinya pak Arya tidak bisa berbuat apapun selain menerima.
"Tapi kau tenang saja aku akan berusaha membatalkan perjodohan ini hanya saja selama itu kita akan jalan bersama beberapa kali karena mamaku menyuruh orang untuk mengikuti kita jadi mamaku akan merasa jika kita memang tidak ada kecocokan walaupun sudah saling mengenal".
Vanessa mengangguk setuju dengan ide yang di berikan kepada mantan bosnya itu walau ia harus bertemu beberapa kali kali dan membuatnya enggan namun itu akan lebih baik jika di banding hidup bersama selamanya dengan pak Arya.
" Baik aku setuju". Mereka saling berjabat tangan dan mengakhiri pertemuan itu karena dirasa sudah cukup untuk hari ini.
********
Vanessa menaruh tasnya ke sembarang tempat seusai sudah sampai di kamarnya dan ia merebahkan tubuhnya yang terasa lelah padahal hanya bicara dengan mantan bosnya namun terasa menguras tenaga.
"Kenapa Tuhan malah mempertemukanku kembali dengan pak Arya". Vanessa memejamkan mata dan sekelebat bayangan tentang masa lalunya terlihat dimana tubuhnya di jamah oleh pak Arya hingga membuatnya langsung membuka mata.
" Tidak aku tidak mau menikah dengannya, pak Arya memang terlihat tenang tapi sebenarnya ia brengs*k kalau tidak ia pasti akan meminjamkanku uang tanpa menikmati tubuhku". Ucapnya dan kemudian suara ketukan pintu membuatnya bangun.
"Vanessa mama boleh masuk ?". Tanya sang mama yang berada di depan pintu.
" Iya ma masuk aja nggak aku kunci". Jawabnya dan kini sang mama masuk dan ikut duduk di kasur Vanessa.
"Tadi gimana orangnya ? Kamu suka dia nggak ?". Tanya sang mama dan Vanessa memperlihatkan senyuman tipis.
"Ya kalau secara fisik sih ganteng ma tapi aku nggak yakin sama sifanya kayaknya orangnya kurang baik". Jawabnya dengan takut dan sang mama nampak kecewa.
" Kamu coba pendekatan lebih aja ya, soalnya mama sama papa belum bisa meyakinkan pihak sana untuk membatalkan perjodohan ini ". Vanessa mengangguk mengerti.
Tadi pak Arya juga mengatakan seperti itu, sepertinya memang ia harus beberapa kali lagi bertemu walau rasanya ia tak mau lagi dan tak sanggup lagi melihat lelaki yang tengah merenggut mahkotanya kala hidup sebagai Adelia.
" iya ma tapi aku harap mama nggak maksa aku kalau memang aku dan dia nggak cocok". Sang mama mengangguk dan memeluk putrinya, belaian halus sang mama berikan untuk Vanessa.
"Dulu aku tidak merasakan kehangatan seperti ini, aku harap Vanessa yang asli tak keberatan aku merasakan kasih sayang kedua orangtuanya". Gumamnya dalam hati.
" Aku suka saat mama belai rambutku rasanya nyaman". Sang mama tersenyum melihat Vanessa yang merasa senang.
"Maaf ya sayang mama janji bakal sering ada di rumah dan belai rambut kamu". Vanessa merasakan belaian sang mama hingga membuatnya merasa mengantuk dan menguap.
" Kamu ngantuk ya ?". Tanya sang mama dan Vanessa mengangguk.
"Yaudah tidur aja di paha mama biar mama belai rambut kamu sampai tidur". Vanessa merasa senang dan menaruh kepalanya di paha sang mama untuk merasakan belaian di rambutnya.
Rasa kasih sayang yang tidak ia dapatkan saat menjadi Adelia kini ia dapatkan kala menjadi Vanessa, apalagi kasih sayang seorang ibu yang benar kata orang begitu nyaman dan menyejukkan, rasanya ia ingin jadi Vanessa terus-menerus.
Lama-lama mata Vanessa mengantuk dan beberapa kali menguap sampai matanya terasa berat dan benar-benar terpejam. Sang mama mengangkat kepala putrinya untuk ia taruh bantal dan memberikan kecupan di dahi sang putri sebelum keluar dari kamar Vanessa.
" Selamat tidur putri mama yang cantik".
aldikn gak tau
transmigrasi ke tubuh anak orang kaya men punya orang tua baik walaupun sibuk sama kerjaan jadi nggak perlu susah cari duit lagi