Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 Balada Soto
"Niat mau liburan, sampe sini tetep aja kerja. Ini hari sabtu loh, Masak bos - bos besar itu gak tau hari." Gerutu Dipta.
Arjuna, Dipta dan Mifta sedang berkutat dengan MacBook mereka masing - masing pagi itu. Terlebih lagi, mereka harus mengikuti zoom meeting dengan beberapa kolega mereka dari luar negri.
"Maklum aja. Namanya juga Pengusaha. Mana waktu yang cocok, ya itulah yang di gunakan. Gak kenal jam dan gak kenal hari." Sahut Arjuna.
"Enakan jadi pegawai biasa, ya, ternyata. Tapi gajinya enak jadi petinggi. Kira - kira ada gak di Perusahaan kita, jabatan yang kerjanya kayak pegawai biasa, tapi dapet gaji dan tunjangan kayak petinggi?" Tanya Dipta yang langsung membuat Arjuna dan Mifta kompak melihat ke arahnya.
"Mimpi!' Sahut Mifta.
"Kalau ada, aku juga mau daftar." Kata Arjuna.
"Kalo bisa malah yang gak ada kerjaan tapi tiap bulan dapet gaji dan tunjangan kayak petinggi." Imbuh Arjuna kemudian yang membuat mereka bertiga tertawa.
"Mau kopi sama camilan, Mas?" Tawar Meshwa.
"Tolong siapin aja, Sayang. Kalau udah selesai, panggil Mas. Nanti biar Mas yang ambil ke belakang. Kamu jangan bawa yang berat - berat dulu." Kata Arjuna.
"Kan cuma tiga gelas, Mas. Bukan tiga galon." Jawab Meshwa yang membuat Mifta dan Dipta menyemburkan tawa. Tak hanya Mifta dan Dipta, tetapi Sashi dan Nala yang ada di ruang keluarga pun ikut tertawa.
"Ya Allah, Dek. manut wae to lah. (nurut aja sih)." Kata Arjuna.
"Maklum ya, Mbak. Mas Juna emang suka over protektif gitu." Kata Dipta.
"Turutin aja, Wa. Dari pada nanti dia tantrum." Timpal Sashi di sela tawanya.
"Itu bahasa cintanya Mas Juna loh, Mbak. Si paling full act of service dan si paling khawatiran." Kata Nala yang turut menimpali.
"Yaudah, nanti aku panggil kalo udah siap." Kata Meshwa pada akhirnya.
Setelah mengambil kopi dan camilan yang di siapkan oleh Meshwa, Arjuna dengan buru - buru masuk ke kamar lalu keluar dengan membawa tiga buah kemeja.
"Lah - lah, mau ngapain itu?" Cicit Nala sambil tertawa saat melihat Arjuna, Dipta dan Mifta buru - buru memakai kemeja. Padahal mereka hanya mengenakan celana kolor pendek.
"Pasti meetingnya resmi ini." Kekeh Meshwa.
"Lihat di grup keluarga deh, gak cuma mereka bertiga ternyata." Kata Sashi sambil tertawa.
Meshwa dan Nala pun turut tertawa setelah membuka pesan grup keluarga Abimanyu. Bermula dari Sashi yang mengirimkan foto Arjuna, Dipta dan Mifta yang mengenakan kemeja lengan panjang dan celana kolor pendek. Tak lama, Raina dan Saira pun mengirimkan foto yang berisi hal sama. Yaitu, Arsha dan Aksa yang juga mengenakan kemeja lengan panjang dan celana kolor pendek sedang menghadap MacBook.
Tawa mereka pun semakin menjadi ketika Runi mengirimkan foto yang sama dan di susul dengan caption, "Dulu Yang Kung juga selalu kayak gitu kalau ada meeting dadakan."
"Udah genetik berarti kalau kayak gini." Kata Sashi di sela tawanya.
"Terus, Mifta ketularan sama mereka berdua." Ujar Nala.
"Ngopo to sakjane kuwi, kok yo bungah men. Sing ngguyu ngasi ngik - ngik. (Kenapa to sebenernya itu, kok ya bahagia banget. Ketawanya sampe ngik - ngik.)" Tanya Arjuna dari ruang tamu.
"Buka grup, keluarga Mas." Jawab Meshwa.
Mendengar itu, Arjuna, Dipta dan Mifta pun dengan kompak membuka grup keluarga. Mereka pun akhirnya ikut tertawa setelah melihat foto dan isi percakapan dari para wanita yang ada di grup.
"Aduh, ya Allah. Amit - amit jabang bayik!" Kata Sashi sambil mengusap - usap perutnya.
"Miripo sama Paklikmu!" Seru Arjuna yang melanjutkan.
"Hih! Jangan sampe. Gantengnya aja yang kayak Paklik, gak apa - apa. Tapi kelakuannya jangan." Kata Sashi yang membuat mereka tertawa.
...****************...
"Jauh - jauh ke sini, cuma di suruh masak coba, Jo." Kata Mifta yang sedang berada di dapur untuk menyiapkan makan malam bersama Nala.
"Gak apa - apa. Jusru itu malah gak gangguin kita berduaan." Kekeh Nala.
"Emang bener kata Meshwa, kita ngedatenya cukup di dapur aja." Sahut Mifta.
"Ngedate di dapur kayak gimana? Kayak gini, maksudnya?" Tanya Nala yang tiba - tiba memeluk Mifta dari belakang.
"Ganteng banget, Bojoku." Goda Nala.
"Mulai... Mulai... Senengnya gangguin kayak gini." Kata Mifta yang membuat Nala tertawa.
"Nanti gak selesai - selesai loh ini masaknya, Sayang." Imbuh Mifta kemudian.
"Biarin, biar mereka yang nunggu pada kelaperan." Jawab Nala yang membuat mereka berdua terkikik.
Keduanya pun kembali melanjutkan kegiatan memasak mereka sambil sesekali saling menggoda. Saat Nala sedang sibuk mengaduk kuah soto, Mifta tiba - tiba datang dan merangkul pinggang ramping Nala dari belakang. Ia kemudian memegang tangan Nala dan kemudian ikut mengaduk kuah soto di dalam panci itu.
"Nikmat banget bisa berduaan tanpa gangguan." Kata Mifta.
"Ya Allah! Astaghfirullah. Pantes aja lama matengnya. Orang ngaduk kuah se gayung aja, ndadak berdua, pake rangkul - rangkulan lagi" Komen Arjuna yang tiba - tiba ada di dapur.
"Kebiasaan banget sih, Mas Juna. Kerjaannya kok mergokin orang lagi mesra - mesraan." Kata Nala sambil tertawa.
"Masalahnya udah pada laper itu. Bisa - bisa asam lambung naik kalo kalian masaknya kayak gini." Omel Arjuna yang membuat Nala dan Mifta justru tertawa.
"Salah sendiri, orang lagi asyik - asyik pacaran kok malah di suruh masak soto. Ya sabar, lah. Ini kan lagi di masak." Kata Mifta yang meledek.
"Wes, gak bener ini. Kalo nyuruh kalian berdua masak, emang harus di dampingin sih. Kalo enggak, bisa - bisa kita mati kelaperan padaan." Kata Arjuna yang kemudian berjongkok di depan pintu dapur.
"Dari pada cuma jongkok gitu, Mas. Mending bantuin ngiris kol sama seledri ini biar cepet." Kata Nala.
Arjuna pun akhirnya ikut membantu mengiris - iris kol dan seledri seperti apa yang di perintahkan Nala. Sementara Nala dan Mifta sibuk dengan pekerjaan masing - masing yang sudah mereka bagi.
"Sayang udah mateng nih, coba cicip ada yang kurang gak?" Kata Mifta sambil memberikan sendok berisi kuah dan menyuapkannya pada Nala.
"Sip! Mantap, Jo. Tambahin micin sedikit lagi." Kata Nala sambil mengacungkan jempolnya.
"Aku gak di suruh cicip juga?" Celetuk Arjuna.
"Gak usah, kalo kamu tuh jawabannya pasti enak. Lidahmu kan cuma bisa bedain keasinan atau kurang asin." Sahut Mifta yang membuat Nala tertawa.
"Mas Juna udah belum kol sama seledrinya?" Tanya Nala yang sudah menyiapkan mie, kecambah juga suwiran ayam goreng di mangkuk - mangkuk.
"Udah ini. Ck! Kerjaan sepele gini." Jawab Arjuna dengan santainya.
"Ya Allah Gusti Pangeran!" Seru Nala ketika melihat pekerjaan Arjuna.
"Mas! Ini di irisnya tipis - tipis, yang halus, lembut gitu. Kenapa kok setebel harapan gini sih." Omel Nala. Sementara Arjuna hanya bisa bengong sambil melihat Nala yang mengomel.
"Ya kamu kan gak bilang, La." Kata Arjuna dengan wajah polosnya.
"Ya Allah, Mas Junaaaaaa! Arrrgghh! Masak gitu aja gak ngerti! Soto mana yang kolnya segede - gede ini?" Gemas Nala yang hanya di jawab cengiran kuda oleh Arjuna. Sementara Mifta hanya bisa terkikik saat melihat Arjuna yang tak berkutik saat di omeli Nala.
selamat iyha Mbk Meshwa Mas Juna akhirnya 😍😍😍