Menjadi sarjana diusia yang masih muda, tentu impian semua wanita, begitu pula dengan Alesya Faihanah, seorang wanita muslimah yang bersungguh-sungguh menghabiskan waktu mudanya untuk meraih impiannya.
Ketika Alesya sedang mempersiapkan baju toga entah mengapa ia harus memakai baju pengantin secara tiba-tiba. Apakah ini menjadi TAKDIR TERINDAH bagi Alesya?, yaitu menjadi seorang mahasiswi sekaligus seorang istri.
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
"Teruntuk kalian yang sedang membaca, jadilah pembaca yang aktif ya, aktif beri bintang dan beri komentar, Percayalah jempol kalian adalah suntikan semangat bagi saya sebagai penulis pemula yang masih belajar merangkai cerita"
{Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu yak🙏}
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ukhfira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dugaan Yang Salah
Jangan menilai seseorang dari sampulnya saja
Sebab belum tentu penilainmu itu benar
Dan yang sholeh tidak butuh untuk dinilai
Sebab ia menjalankannya semata-mata karena Allah
~Takdir Terindah~
Ukhfira
~Cerita ini hanyalah karangan penulis semata, dan berharap dapat diambil manfaat serta pelajaran yang tertuang dalam cerita ini untuk kehidupan kita agar lebih baik lagi~
Sebelum baca cerita ini jangan lupa sholat dan baca Al-Quran dulu ya
Selamat membaca
Semoga suka
🌻🌻🌻
Afnan baru saja menyelesaikan urusannya di kampus yaitu mengikuti mata kuliah yang sedang ditempuh ditambah lagi ia baru saja menyicil tugas-tugasnya yang menumpuk maklum namanya juga mahasiswa semester akhir jadi sekarang sudah bukan sibuk lagi melainkan super sibuk. disaat yang lain merasakan stres berkecamuk akibat tugas yang melanda, berbeda hal dengan Afnan yang memang selalu menyikapi segala persoalan hidupnya dengan tenang, ia hanya menjalankan semuanya dengan 3b yaitu berikhtiar, berdoa dan bertawakal kepada Allah.
Afnan juga percaya bahwa Allah yang maha penyayang terhadap hamba-Nya dan tidak akan menguji melebihi batas kemampuan setiap hamba-Nya, itulah firman Allah dalam kitab suci-Nya.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya(Al-Baqarah: 286).
"Sdah tenangkan saja Wan, nggak usah stres begitu, tugas itu dikerjakan bukan dipikirkan seperti ini, nanti juga selesai pada waktunya asal lo seriusan mengerjakannya."
Pria berparas tampan itu sedang memberikan semangat kepada sang sahabat yang kini sedang duduk di taman bersamanya tetapi pikiran dan pandangannya sedang berpaling darinya.
Kali ini Shuwan si kembaran Afnan dalam pengakuan Shuwan sendiri sedang kalut karena memikirkan tugas-tugasnya yang menumpuk, ia memang bersahabat dengan Afnan bahkan sudah sangat lama tetapi rupanya ia tidak bisa bersikap seperti Afnan dalam menghadapi persoalan tugas kuliahnya, seakan bagi Shuwan tugas-tugasnya telah merebut kebahagiaannya secara paksa.
"Enak banget sih jadi lo Bro, dalam menghadapi seperti ini saja lo masih bisa berdiri dengan keren, lah gue jangankan berdiri dengan keren berdiri saja kaki gue gemetaran, pokoknya gue nggak mau tahu lo harus bantu gue mengerjakan tugas-tugas yang menggunung ini."
"Sudah lo tenang saja, in syaa Allah kita kerjakan sama-sama, nanti kita atur sajalah waktunya kapan."
Memiliki sahabat seperti Afnan yang setenang air mengalir merupakan sebuah rezeki yang harus Shuwan syukuri, karena dalam masa-masa tersulitnya seperti ini sabahatnya dapat menenangkan pikiran dan hatinya, lagi pula bagi Shuwan rezeki itu bukan hanya tentang uang dan materi melainkan memiliki sahabat yang sangat baik itu juga sebuah rezeki, anugerah dari Allah.
"Afnan."
Pandangan Afnan yang tadinya sedang berfokus kepada sahabatnya kini mulai menoleh kearah dimana terlihat seorang perempuan cantik dengan balutan baju atasan berwarna putih dan celana panjang bermotif garis-garis hitam+putih plus pashmina silver yang dililitkan ke kepala ala hijabers yang merangkap sebagai selebgram.
"Kalista?"
Shuwan yang lebih dulu menatap seorang perempuan dihadapan mereka terkejut bukan main dan Shuwan seperti tidak percaya bahwa perempuan tersebut adalah Kalista yang sebelumnya sudah tampil dengan pakaian yang syari tetapi kini ia tampil dengan pakaian seperti dahulu, ala hijabers yang modis.
"Ini kamu, Kalista?"
Masih dengan ketidakpercayaannya Shuwan mencoba berdiri sembari mengamati perempuan dihadapannya yang menatapnya dengan risih ditambah lagi Shuwan melontarkan sebuah pertanyaan.
"Afnan aku ingin bicara sama kamu."
Sepertinya pertanyaan Shuwan bukan hal penting yang harus Kalista jawab bahkan Kalista kembali beralih menatap Afnan yang ikut beranjak dari tempat duduknya.
"Ada apa Kalista?"
"Afnan aku nggak percaya kalau kamu sudah menikah, kamu berbohong kan sama aku dan yang lainnya."
Afnan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal lantaran merasa bingung akan ucapan Kalista yang tiba-tiba saja meragukan tentang statusnya yang sudah menikah.
Ada apa dengan perempuan dihadapannya kini?, Afnan sangat bingung, yang pertama dia telah merombak kembali cara berpakaian nya seperti semula seakan kemarin hanya sedang beradegan syuting menggunakan pakaian syari, seakan berpakaian syari hanya dijadikan permainan saja, dan yang kedua dia datang dengan wajah tidak bersahabat sekaligus tidak percaya akan status baru dari diri Afnan.
"Maksud kamu apa berbicara seperti itu?." Tanya Afnan bernada pelan seakan ia mengerti bagaimana sikapnya dalam berbicara dengan perempuan yang hatinya mudah tersentuh.
"Ya karena kamu nggak memberi bukti kalau kamu sudah menikah, bahkan aku dan yang lainnya nggak tahu siapa perempuan yang menjadi istri kamu, atau sebenarnya ini hanya akal-akalan kamu saja kan supaya kamu bisa menghindar dari kejaran perempuan-perempuan yang suka sama kamu."
Sebuah senyuman terulas diwajah tenang Afnan, lalu ia segera menoleh kearah Shuwan yang mana sedang membalas senyumannya, Kalista yang melihat mereka dibuat bertanya dan kebingungan.
"Kalista, kamu pasti sudah sangat mengenal siapa Afnan kan?, masa kamu nggak percaya sama Afnan, mana mungkin Afnan berbohong dalam hal ini."
Kali ini Shuwan angkat bicara karena ia tahu betul saat ini Afnan sangat membatasi jaraknya kepada wanita selain mahromnya, apalagi kini Afnan sudah menikah sudah pasti Afnan tidak akan meladeni yang namanya wanita lain selain adiknya, maminya dan terkhusus istrinya.
"Hei diam lo ya, gue nggak sedang ngomong sama lo, jadi nggak usah ikut campur!"
Sepertinya Kalista sudah lepas kendali dalam menghadapi situasi seperti ini apalagi ini masalah hati dan perasaannya yang benar-benar sedang merasa terguncang.
Shuwan terkejut tidak percaya ketika telunjuk dan omelan Kalista tertuju kepadanya, bagaimana tidak selama ia mengenal Kalista baru kali ini wanita itu menampakkan watak aslinya, ternyata Shuwan telah salah mengagumi seorang wanita, dan dia benar-benar menyesal pernah membuang-buang waktunya untuk memuji wanita yang berwajah lebih dari satu tersebut.
Bukan hanya Shuwan yang terkejut akan keaslian watak yang dimiliki Kalista, tetapi Afnan juga sedikit terkejut dan tidak habis pikir karena memang selama ini Kalista selalu bersikap manis saat dihadapannya.
"Afnan tolong perlihatkan bukti sama aku kalau pernikahan kamu itu memang ada, tolong."
Setelah tadi sempat berbicara dengan nada keras ntah sebegitu cepatnya Kalista merubah volume suaranya dengan lirih dan lembut saat berucap kepada Afnan.
"Kamu mau bukti?, aku maksudnya gu punya bukti kalau Afnan itu memang benar-benar sudah menikah."
Dengan wajah yang sudah berubah sinis ntah mengapa kali ini Shuwan yang bersikap jutek kepada Kalista yang hanya menautkan kedua alisnya seraya menatap kearah Shuwan yang sedang mengotak-atik handponenya seperti sedang mencari sesuatu.
Hanya 5 detik Shuwan fokus dengan handponenya kemudian dia langsung menunjukkan layar handponenya kearah Kalista lebih tepatnya di depan kedua mata Kalista yang membulat dengan sempurna.
Sebuah gambar Afnan yang sedang mencium kening seorang perempuan dengan memakai baju pengantin, wajah tampan Afnan dapat terlihat begitu jelas tetapi wajah perempuannya tidak dapat terlihat dengan jelas karena sengaja dibuat ngeblur.
"Ini buktinya, gue juga hadir dalam pernikahan itu sekaligus gue langsung yang memotretnya."
Setelah melihat foto dalam layar handpone tersebut yang sudah diambil alih oleh Afnan, Kalista tidak dapat berbuat apa-apa, dan dia semakin kesal sebab wanita difoto tersebut beraninya merebut apa yang seharusnya dia miliki.
Afnan yang baru saja melihat foto yang dipertunjukkan kepada Kalista tadi langsung bernapas lega lantaran yang dipertunjukkan foto tersebut wajah Alesya ngeblur, Shuwan pun yang sempat menoleh kearahnya menggangguk kecil seakan mengisyaratkan bahwa ia tidak akan memperlihatkan foto Alesya yang secara jelas.
Tanpa disadari Alesya baru saja masuk ke area taman dan tanpa sengaja ia menoleh sebelah kanannya yang mana terlihat Afnan dan Shuwan sedang berhadapan dengan Kalista.
"Itu Afnan kan?, dia ngapain sama perempuan itu, kok sepertinya serius sekali ngobrolnya."
Merasa penasaran, Alesya mencoba lebih dekat dari posisi mereka agar bisa mengetahui apa yang sebenarnya diobrolkan oleh suaminya tersebut, tetapi tetap Alesya berhati-hati agar tidak diketahui.
"Afnan kenapa kamu menikah dengan perempuan itu?, harusnya aku yang menikah sama kamu, bukan perempuan itu."
Ucapan Kalista yang terdengar cukup keras membuat Afnan terkejut sekali, begitu juga dengan Alesya yang tidak kalah terkejutnya mendengar pernyataan tersebut ditambah lagi Alesya baru mengetahui bahwa ternyata ada perempuan yang menginginkan berada diposisinya, yaitu menjadi istrinya Afnan.
"Apa maksud kamu Kalista?." Tanya Afnan yang benar-benar dibuat tak mengerti.
"Aku cinta sama kamu Afnan, aku cinta banget sama kamu, bahkan aku rela melakukan apa saja demi kamu, tapi kenapa, kenapa kamu malah menikah dengan perempuan lain, kenapa Afnan?"
Air mata menetes dari kedua pelupuk mata Kalista yang memerah akibat menahan rasa sakit yang menjalar dihatinya yang hancur karena laki-laki yang dicintainya telah menikah dengan orang lain, bukan dengan dirinya.
"Astaghfirullahal adzim"
Kalimat istighfar langsung keluar dari mulut Afnan, ia benar-benar tidak percaya bahwa perempuan dihadapannya itu ternyata mencintainya bahkan menginginkan untuk menikah dengannya, ini adalah musibah yang menimpa dirinya, dicintai oleh perempuan lain disaat sudah menikah bukan sebuah prestasi bagin Afnan melaikan sebuah masalah besar yang harus diselesaikan agar syeitan tidak ada kesempatan untuk melancarkan tugasnya yaitu menghancurkan hubungan yang sudah terikat dengan halal.
"Istighfar Kalista, sekarang kamu sudah tahu kan kalau aku sudah menikah jadi tolong kubur cinta kamu dalam-dalam, jangan mencintai laki-laki yang sudah menikah karena itu akan membuat syeitan tertawa bahagia."
"Nggak Afnan, aku nggak bisa mengubur cinta ini begitu saja, aku benar-benar cinta sama kamu, aku ingin menjadi istri kamu."
Rasanya Afnan ingin sekali keluar dari masalah ini dimana syeitan berhasil membuat Kalista dibutakan oleh cinta dan berani mengatakan perkataan yang tidak baik tersebut.
Posisi Afnan kini berpindah, sedikit manjauh dari Kalista yang terus menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan bicara seperti itu Kalista, kita itu tidak berjodoh, kamu harus menerima semua ini, dan jangan mencintai suami orang, seharusnya jaga cinta kamu untuk suami kamu nantinya, karena dia yang berhak mendapatkan cinta kamu."
Kalista menghapus jaraknya dengan Afnan dan kini ia dapat melihat wajah laki-laki yang dicintainya itu penuh dengan keseriusan.
"Baik, kalau aku nggak bisa jadi istri kamu, aku bersedia menjadi simpanan kamu, asal aku bisa mendapatkan kamu Afnan."
Bola mata Afnan membulat seketika setelah mendengar pengakuan Kaslita yang benar-benar membuat dirinya kaget sekaget-kagetnya, bagaimana mungkin perempuan cantik dan nyaris sempurna seperti Kalista begitu menginginkan dirinya dan rela menjadi seorang simpanan.
Begitupun Alesya, ia tidak kalah kagetnya mendengar perkataan Kalista, perempuan yang sangat berani menyatakan ingin menjadi simpanan suaminya tersebut.
"Astaghfirullahal adzim, sebegitu cintakah dia sama Afnan, sampai mau menjadi perempuan simpanannya, sedangkan aku adalah istri yang tidak mencintainya."
"Cukup Kalista." Ujar Afnan dengan sedikit meninggikan suara, merasa tidak suka atas ucapan Kalista.
"Jangan pernah kamu berbicara seperti itu lagi, itu tidak akan pernah terjadi, karena aku hanya mencintai istriku saja, aku nggak akan pernah menyakiti hati istriku, dan aku sudah berjanji bukan hanya kepada kedua orang tua istriku saja tetapi aku juga sudah berjanji kepada Allah dan Rasulullah bahwa aku akan membahagiakan istriku dan tidak akan pernah menduakannya."
Hati Alesya bergetar hebat ketika mendengar dengan jelas bahwa laki-laki yang dia benci selama ini ternyata begitu tulus mencintainya bahkan dia sampai membawa-bawa nama Allah dan Rasulullah, hati perempuan mana yang tidak luluh saat mengetahui ada laki-laki selain ayahnya yang begitu tulus mencintainya.
"Ternyata selama ini aku sudah salah menilai orang, Afnan bukan suka tebar pesona kepada semua perempuan tetapi dia hanya bersikap ramah, dan ternyata dia begitu tulus mencintaiku, dia juga berjanji untuk membahagiakan aku sebagai istrinya."
Tanpa tersadar bibir Alesya melengkung membentuk sebuah senyuman yang secara spontan, bagaimana tidak ucapan Afnan yang masih melekat diingatannya itu membuat dirinya menjadi perempuan yang beruntung karena dicintai dengan tulus oleh seorang laki-laki yang telah menjadi penyempurna separuh agamanya.
∆∆∆∆∆
Motor matic yang dikendarai oleh Alesya sampai didepan pintu gerbang perumahan elit yang sudah beberapa minggu ini ia tempati, bukannya masuk kedalam motor matic yang dikendarai Alesya justru menepi tepat didepan seorang satpam yang baru saja menyapanya dengan senyuman.
"Mohon maaf Mbak Alesya, apa ada yang bisa saya bantu?, apa motornya Mbak Alesya mogok?, atau bensinnya habis?"
Rentetan pertanyaan dari Pak satpam yang bernama Rashid itu membuat Alesya yang sudah turun dari motornya dan kini sudah berdiri didepan pak satpam tersebut hanya menggeleng kecil sambil mengulas senyum ramah.
"Alhamdulillah motor saya nggak apa-apa kok Pak."
"Lalu Mbak Alesya kenapa turun di sini?." Tanya Rashid penasaran.
"Saya ingin bertanya sesuatu hal sama Bapak, apa Bapak nggak keberatan?." Tutur Alesya yang sangat hati-hati dalam ucapannya karena saat ini ia sedang berbicara dengan yang lebih tua darinya.
"Waduh saya sudah keberatan nih Mbak Alesya, keberatan berat badan maksudnya."
Alesya langsung terkekeh mendengar jawaban Rashid yang bisa juga bergurau dan mencairkan perasaan kaku didiri Alesya karena mereka baru saja kenal dan belum akrab, tidak seperti Afnan yang bahkan sangat akrab dengan Rashid, satpam di perumahannya tersebut.
"Memangnya Mbak Alesya mau bertanya apa?, tentang Mas Afnan ya?"
Sepertinya Rashid cukup pandai dalam membaca pikiran Alesya karena tebakannya tepat sasaran, Alesya memang ingin menanyakan sesuatu hal tentang Afnan, suminya.
"Maa syaa Allah Pak Rashid hebat ya, bisa tahu kalau saya mau tanya tentang suami saya."
"Ya tahulah Mbak Alesya, masa iya Mbak Alesya mau tanya tentang Pak Hamdan?, ya mana mungkin kan?"
Lagi-lagi Alesya dibuat terkekeh mendengarnya, sepertinya dia akan cepat akrab dengan pak Rashid yang ramah dan suka bercanda, intinya dapat mencairkan suasana agar tidak kaku dan tegang.
"Memangnya Mbak Alesya mau tanya apa tentang Mas Afnan?"
Hampir saja Alesya melupakan tujuan utamanya untuk bertemu dengan Rashid gara-gara lawan bicaranya tersebut ternyata suka membumbui ucapannya dengan gurauan sehingga menghasilkan kesan lucu.
"Oh ya saya mau tanya nih sama Pak Rashid, tapi Pak Rashid harus jawab jujur ya, menurut Pak Rashid, Afnan suami saya itu seperti apa sih?, yang selama ini Pak Rashid kenal."
Rupanya Alesya menanyakan tentang kepribadian Afnan dimata pak Rashid yang mana pak Rashid adalah salah satu orang yang mengenal Afnan cukup lama, dan bahkan sangat akrab jadi sudah dipastikan pak Rashid akan lebih mengetahui Afnan lebih jauh.
"Oh Mbak Alesya mau tanya itu toh, baik akan saya jawab dengan jujur ya Mbak Alesya, menurut saya selama saya kenal nih sama Mas Afnan, Mas Afnan itu baik eh bukan, salah, maksudnya, sangat baik, Mas Afnan itu sering banget memberi makanan ke saya dan Pak Hamdan seperti yang waktu itu Mbak Alesya lihat, bukan cuma baik ke saya dan Pak Hamdan saja tapi Mas Afnan juga baik dan ramah sama orang-orang disini, pokoknya menurut saya Mas Afnan itu kalau diumpamakan martabak, Mas Afnan itu martabak spesial, sudah ganteng, kaya raya baik hati dan tidak sombong lagi, maa syaa Allah paket komplit pokoknya."
Penjelasan panjang lebar dari Rashid itu membuat hati Alesya terketuk dan dia langsung mempercayai kejujuran Rashid tentang kepribadian suaminya yang dikenal baik bukan hanya baik tapi sangat baik bahkan tidak tanggung-tanggung Rashid melengkapkannya dengan ganteng, kaya raya dan tidak sombong.
"Oh iya ada satu lagi, sifat yang bahkan saya dan Pak Hamdan kagumi dari sosok mas Afnan."
Rupanya kebaikan Afnan masih ada satu lagi yang bahkan Rashid sendiri mengungkapkan kekagumannya, ini semakin membuat Alesya penasaran dan tidak sabar menunggu Rashid untuk melanjutkan ucapannya.
"Apa itu Pak Rashid?" Tanya Alesya begitu penasaran.
"Mas Afnan adalah pria yang sholeh, eh salah lagi, maksudnya sangat sholeh, pasti Mbak Alesya sudah tahu sendiri kebiasaan Mas Afnan yang sangat menonjol itu."
Rupanya kepribadian yang membuat Rashid dan juga Hamdan adalah kesholehan yang dimiliki oleh Afnan, tetapi Rashid malah membuat Alesya kebingungan lantaran ia mengakatakan bahwa ia mengetahui kebiasaan menonjol dari suaminya itu yang membuatnya dicap sebagai pria yang sholeh bahkan sangat sholeh.
"Kebiasaan apa ya Pak?" Tanya Alesya yang benar-benar tidak mengetahui tentang kebiasaan menonjol yang ada didiri suaminya.
"Kebiasaan Mas Afnan yang rajin sekali sholat berjamaah di masjid, bahkan Mas Afnan sering mengimami sholat berjamaah lho Mbak Alesya, apa lagi bacaan Al-Qurannya yang sangat bagus dan merdu, bikin sejuk di hati dengarnya."
Setelah tahu kebiasaan yang sangat menonjol dari suaminya, yaitu rajin sholat berjamaah bahkan sering mengimami sholat berjamaah di masjid yang letaknya tidak begitu jauh dari rumahnya membuat Alesya semakin kagum sangat kagum karena selama ini ia selalu melihat Afnan dari sisi kelemahannya saja tanpa mencari tahu sisi kelebihan yang ada didiri suaminya.
Benci, perasaan yang meleket di hatinya selama ini kini langsung memudar seiring berjalannya waktu dan Alesya mengetahui lebih jauh tentang laki-laki yang sah menyandang status sebagai suaminya tersebut.
"Maa syaa Allah, selama ini dugaanku salah, Afnan rajin ibadah bukan karena pencitraan tetapi karena dia benar-benar taat beribadah kepada Allah."
"Mbak Alesya sebaiknya pulang saja, sebentar lagi kayaknya mau hujan ini, Mas Afnan juga sudah pulang tadi satu jam yang lalu."
Lamunan Alesya akan kesholehan Afnan langsung terhenti sebab pak Rashid menyuruhnya untuk segera pulang ke rumah lantaran langit akan segera menangis menjatuhkan air matanya ke bumi.
Refleks Alesya mengangkat kepalanya keatas memandangi langit yang ternyata memang mendung sebenarnya tidak terlalu terlihat mendung karena langit memang mulai menggelap akibat hari yang sudah sangat sore lebih tepatnya beberapa menit akan memasuki waktu menjelang maghrib.
"Oh iya mau hujan ya Pak, kalau begitu saya pamit masuk ke dalam, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih karena Pak Rashid sudah mau mengobrol dengan saya."
"Iya Mbak Alesya sama-sama."
Usai mengucap salam dan mendengar jawaban salam dari pak Rashid, Alesya bergegas menaiki motornya lalu memasuki area perumahan untuk menuju rumahnya yang lumayan jauh dari pintu gerbang.
Gemercik air mulai turun dari atas langit yang sudah menggelap hitam pekat, airnya pun semakin deras mengguyur bumi yang dengan pasrahnya menerima beribu buliran air yang turun.
Qodarullah hujan turun tidak sampai membasahi tubuh Alesya karena saat hujan turun dia sudah berdiri di teras rumahnya. Sebelum itu dengan kecepatan ekstra Alesya sempat memarkirkan motornya di garasi.
"Allahumma shoyyiban naafi'an."
Bagi Alesya air hujan yang turun bukan sekedar fenomena alam melainkan merupakan nikmat dari Allah untuk hamba-hamba-Nya, maka dari itu Alesya mengucapkan doa ketika hujan turun yang mana artinya adalah "Ya Allah turunkan kepada kami hujan yang bermanfaat".
Karena cuaca terasa dingin sebab hujan yang turun dengan derasnya membuat Alesya tidak ingin berlama-lama di luar rumah, ia pun segera memegang kenop pintu untuk membukanya, tetapi belum juga ia membuka pintu tersebut, rupanya pintunya terbuka dari dalam dan menampilkan Afnan yang sudah rapi dengan pakaian sholatnya bahkan ditangan kirinya sedang memegang payung.
"Assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam, alhamdulillah Sya akhirnya kamu sudah pulang, oh ya kamu kehujanan Sya?, baju kamu basah ya?"
Melihat Alesya yang baru saja tiba di rumah terlebih cuaca sedang hujan, Afnan langsung panik takutnya Alesya terkena guyuran hujan yang sangat deras.
"Alhamdulillah aku nggak kena hujan kok, qodarullah tadi hujan turun aku sudah sampai di sini, jadi nggak kehujanan."
Kali ini nada suara Alesya terdengar lirih nan lembut, ntah mengapa semenjak dia mengetahui tentang sisi baik dari Afnan, dia mencoba merubah sikapnya yang tadinya jika berbicara dengan Afnan cuek jutek bahkan judes sekali kali ini dia ingin menjadi Alesya yang lemah lembut dihadapan Afnan lebih tepat menjadi istri yang lemah lembut ketika bersama suaminya.
Afnan yang merasa akan perubahan sikap Alesya yang menjadi lemah lembut dibuat kebingungan pasalnya tidak seperti biasanya tetapi dia senang melihat sang istri kini sudah menjadi lebih baik dari kemarin, itu harus sangat disyukuri oleh Afnan karena dia tau bahwa perempuan dihadapanya itu membenci dirinya apa rasa benci itu sudah menghilang?, ntahlah hanya Alesya sendiri yang tahu.
"Alhamdulillah kalau begitu, aku lega dengernya Sya."
"Kamu mau ke mana?." Tanya Alesya sembari menoleh kearah payung yang dipegang oleh Afnan.
"Aku mau ke masjid Sya, sudah mau adzan maghrib nih."
"Tapi ini lagi hujan lho, deras lagi, kali ini sholat maghribnya di rumah saja ya."
Entah mengapa melihat hujan yang masih begitu deras, Alesya mengkhawatirkan Afnan jika harus ke masjid, walaupun sudah membawa payung tetapi pasti tidak akan lolos terkena cipratan air hujan ditambah lagi hari sudah malam, pasti rasa dinginnya terasa dua kali lipat.
"Kan ada payung Sya, ini aku ke masjid juga mau pakai payung kok." Ucap Afnan yang bersikukuh pergi ke masjid untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah.
"Ya tapi hujannya deras banget lho, walaupun pake payung pasti juga kena hujan."
Afnan benar-benar tidak habis pikir bahwa Alesya mengkhawatirkan dirinya yang takut terkena hujan, apa yang sebenarnya terjadi kepada Alesya sehingga membuatnya berubah 180°, hal tersebut membuat Afnan senang dan bahagia sekali, tetapi kali ini dia tidak bisa berpihak kepada Alesya karena ini urusan ibadah, jadi harus mengutamakan Allah diatas segalanya.
"Sya, hujan bukan berarti alasan untuk aku tidak pergi ke masjid, kalau begitu aku pergi ke masjid dulu ya, assalaamu 'alaikum."
"Wa 'alaikumus salaam."
Ternyata kesholehan Afnan bukan hanya omongan bahkan cerita belaka melainkan bukti nyata yang kini sedang Alesya lihat dengan kepala matanya sendiri.
Laki-laki dengan pakaian sholatnya yang meliputi baju koko, sarung dan peci tengah melangkahkan kakinya menuju rumah Allah dengan menerobos hujan yang sedang mengguyur begitu derasnya dengan berteduh dibawah payung yang dia pegang sehingga tidak begitu terkena air hujan tersebut.
"Maa syaa Allah, dia benar-benar laki-laki yang sholeh, hujan yang deras seperti ini bukan penghalang untuk menuju rumah Allah, semoga Allah melipatkan pahala ibadahmu Afnan, aamiin Allahumma aamiin."
Baru kali ini Filzah tersenyum karena Afnan, lebih tepatnya ia berdecak kagum dengan kesholehan Afnan, imam hidupnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Jangan lupa Vote dan komentarnya
Yah Readers!🙏
See you in next chapter
❤❤❤
Semoga ada season 2 dari karya ini
lanjut ah baca yang ke dua