"Aku akan membunuhnya.."
"Vito dia bukan pria sembarangan," ucap Emma.
"Aku tidak peduli, dia membuat wanita cantik ku tersiksa."
Vito pria tampan dan kaya yang tertarik dengan istri orang lain, awalnya dirinya tidak tau jika wanita yang ia sukai sudah menikah. Tetapi setelah tau Vito semakin tertarik untuk mengambil wanita itu dari suami sah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita_Bahagia12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sakit
Setelah selesai bersih bersih mereka berdua duduk bersama di ruang makan, keduanya makan sambil mengobrol hal hal yang akan mereka lakukan kedepannya.
"Emma setelah kamu bercerai kamu akan menikah lagi tidak?"
"Kamu bagaimana sih, ya itu pasti. Walaupun aku trauma tentang pernikahan aku sadar aku hanya mendapatkan pria yang salah, aku berharap beberapa tahun kedepan aku mendapatkan pria yang tepat."
"Bagus.. Aku suka gaya kamu, kamu harus move on dari pria itu. Cari pria yang seumuran ya, jangan yang tua, memang dia lebih berpengalaman, tapi dia cepat mati," ucap Vito.
"Kamu ada ada saja.. Aku ingin mendapatkan pria seperti kamu, kamu begitu bertanggung jawab, kamu pekerja keras, kamu sangat pintar dan kamu begitu baik. Aku memang belum banyak mengenal kamu, tetapi beberapa waktu hidup berdampingan dengan kamu, aku sudah dapat mengambil kesimpulan itu."
Jantung Vito berdetak begitu keras, hatinya terasa berbunga-bunga, ia tidak pernah merasakan sebahagia ini selama dengan Emma, calon janda satu ini memang paling bisa membuat nya seperti ini.
"Vito.."
"Hahaha iya.. Kamu jangan begitu, aku tidak sebaik yang kamu katakan," ucap Vito.
"Lagi pula aku sudah janda, bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan pria seperti kamu," kata Emma.
"Bisa dong, jujur saja bukanya promosi. Aku tidak pernah memandang status wanita, mau janda atau masih segel. Kalau aku sudah cocok aku akan mengejar nya, mau istri orang pun dia, aku harus mendapatkan nya."
"Vito kamu jangan begitu, jadi Pebinor dong kamu kalau mengambil istri orang," ucap Emma.
"Kalau aku mengambil kamu bagaimana?"
"Kamu untuk apa mengambil aku, aku tidak selevel dengan kamu," ucap Emma.
"Kamu jangan begitu kata siapa kamu tidak selevel dengan aku, emang aku siapa," ujar Vito.
"Kamu pria yang sangat hebat," ucap Emma.
"Berhenti memujiku seperti itu." Vito semakin malu kalau Emma terus memujinya.
"Emma misalnya ada pria yang suka kamu dalam waktu dekat ini, apa kamu akan menerima nya?"
"Hmmm tidak.. Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan perasaan ku," ucap Emma.
"Kalau orang nya aku bagaimana?"
"Kalau itu kamu aku akan berpikir dua kali, aku sudah tau kamu bagaimana, tetapi perasaan ku masih hancur, aku tidak tau bagaimana aku mengambil keputusan nanti nya. Tapi iki kan hanya misalnya, jadi aku tidak harus memikirkan nya," ucap Emma.
"Bagaimana ya, aku mulai suka dia, tapi dia seperti masih menutup hati. Aku ingin setelah dia bercerai beberapa bulan aku langsung ingin menikahi nya," batin Vito.
"Kamu kenapa tanya begitu, kamu suka dengan aku ya," tanya Emma.
"Ha…"
"Hahaha kenapa terkejut begitu?"
"Emma menurut kamu apa ada seorang pria membantu wanita yang bahkan sebelum nya tidak begitu dikenal tanpa adanya sesuatu," ucap Vito.
"Jadi kamu benar suka dengan ku," tanya Emma.
"Untuk itu aku tidak tahu, aku belum merasakan rasa itu. Hati ku selalu senang bersama denganmu, perasaan ku bahagia saat dekat dengan mu, dan hati ku berkata terus bantu wanita itu, dia wanita yang hebat," jawab Vito.
"Vito…."
"Jangan takut Emma, kalau pun aku benar benar suka dengan kamu, aku tidak akan memaksa kamu untuk suka juga pada diriku, hal pertama yang harus aku lakukan adalah menyembuhkan rasa luka di hati mu, mana tau dengan begitu aku bisa masuk ke dalam sana," ucap Vito.
"Kamu mengatakan nya dengan serius." Emma menatap mata Vito, ia benar-benar dapat merasakan keseriusan di mata pria tampan ini.
"Iya dong, sejak kapan aku tidak serius," ucap Vito.
Emma menganggukkan kepala nya, ia sendiri tidak tau bagaimana nanti nya jika Vito benar-benar suka dengan dirinya.
***
Pagi hari nya, hari ini seperti biasa Vito masuk kuliah, Vito bangun dengan wajah yang berantakan, ia ingin segera mandi agar lebih segar, karena ia tidur di apartemen sebelum masuk ke dalam kamar untuk mandi, Vito harus izin dulu pada Emma, ia tidak bisa asal sembarang masuk ke dalam kamar.
"Emma.." Vito mengetuk pintu kamar itu.
Tak lama Emma membuka pintu kamar itu, mata Vito langsung tertuju pada wajah Emma yang terlihat pucat..
"Kamu sakit," tanya Vito.
"Sedikit tidak enak badan," jawab Emma.
"Masuk.." Emmm mempersilahkan Vito untuk masuk ke dalam. Saat Emma ingin kembali berjalan tubuh nya tidak seimbang, kepala nya terasa begitu pusing yang membuat nya oleng.
"Emma.." Segera Vito menangkap nya.
"Aku tidak papa," ucap Emma.
"Tidak papa apanya, kamu sakit Emma." Segera Vito membantu Emma ke atas tempat tidur.
"Apa yang kamu pikirkan, kamu kemarin baik baik saja, kamu pasti strees kan," ucap Vito.
"Sedikit.."
"Tidak ada kata sedikit." Vito menggengam tangan Emma.
"Kamu takut kan. Kamu takut dia akan membuat masalah, dia akan melakukan hal hal yang membuat semuanya kacau. Asal kamu tau dia sudah melakukan nya, dia sudah menyerang ken pekerjaan ku sebagai model, tetapi aku masih bisa berdiri dengan baik, power mamah kandung ku besar di dunia model. Dia bukan hanya model di negara kita, dia sudah kemana mana banyak orang yang kenal dengan dia, itu sebabnya aku tidak goyang sedikit pun. Kalau misalkan dia berhasil membuat aku kehilangan pekerjaan ku, aku tida masakan, model bukan pekerjaan utama ku, aku seorang pewaris perusahaan besar, kamu tenang saja Emma, kamu maupun aku sama sama aman," ucap Vito.
Emma menganggukan kepala nya, walaupun Vito sudah mengatakan begitu ia tetap khawatir dengan semuanya.
Vito memeluk Emma sambil mengusap punggungnya, hal itu membuat Emma merasa jauh lebih tenang, ia memang sangat memerlukan pelukan seperti ini.
"Makasih telah ada di dalam hidup ku," ucap Emma.
"Kalau boleh aku ingin masuk lebih dalam lagi."
"Maksudnya," tanya Emma.
"Setelah kamu bercerai, aku ingin serius mendekatimu, terserah kamu mau menolak ku atau tidak."
Emma mempererat pelukannya, ia benar-benar merasa nyaman berada di pelukan Vito.