Adeline Zinnia Graham, memilih kuliah di Munich demi mengikuti kekasihnya. Namun, suatu peristiwa membuat Adeline memutuskan berpisah.
Hari hari Adeline kembali diisi dengan kehadiran seorang Reyn Elden Frederick yang merupakan dosen sekaligus anak sahabat ayahnya.
Perlahan tapi pasti, benih cinta itu muncul dan pernikahan keduanya pun terjadi. Kehidupan keduanya sangat bahagia hingga dikaruniai seorang anak. Namun, kehancuran dalam kehidupan Adeline dimulai dari sana, ketika ia harus kehilangan orang yang ia sayangi dan juga kehilangan kepercayaan dirinya.
Mampukah Reyn dan Adeline mempertahankan rumah tangga mereka? atau perpisahan adalah jalan yang terbaik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PimCherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DERBY
Aiden mendengarkan cerita dari Dad Anthony mengenai apa yang terjadi pada Reyn dan Adeline berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian.
"Preman?" tanya Aiden.
"Ya, ia mengendarai mobil tersebut dengan ugal ugalan dan dari mulutnya tercium bau alkohol," jawab Dad Anthony.
"Aku akan menyelidikinya lagi, Dad. Aku tak mau diam saja kali ini dan membiarkan polisi lama lama melupakan kejadian ini begitu saja dan membebaskan preman itu. Keponakanku menjadi korban dan keadaan Adeline masih koma, sementara ia hanya ditahan sebentar," ujar Aiden.
Anthony hanya diam karena ia tak bisa menahan Aiden. Putranya itu pasti masih mengingat bagaimana musibah yang terjadi pada keluarga mereka beberapa tahun lalu dan pihak kepolisian seakan menghentikan penyelidikan.
*****
Malam hari, terlihat pergerakan dari Adeline. Reyn yang berada di dalam ruangan tersebut karena ingin selalu menemani Adeline pun menekan tombol untuk memanggil dokter.
Dad Anthony dan Mom Kimberly yang baru datang kembali setelah membersihkan diri dan berganti pakaian pun kini bersama dengan Reyn di luar ruang perawatan untuk menyediakan ruang bagi dokter memeriksa Adeline.
Setelah pemeriksaan selesai, dokter keluar dan berbicara dengan keluarga Adeline.
"Bagaimana?"
"Ia sudah sadar, akan tetapi ia belum tahu apa yang terjadi. Jika kalian belum siap mengatakannya, biar aku saja yang mengatakannya karena jika menyimpan terlalu lama, maka rasa sakitnya akan semakin besar," jelas sang dokter.
"Aku yang akan mengatakannya," ucap Reyn, "tapi aku ingin dokter dan perawat selalu siap karena aku tahu ini tak akan mudah bagi Adeline."
"Aku mengerti," ucap sang dokter menganggukkan kepala.
Reyn masuk ke dalam ruang ICU dengan pakaian khusus, sementara Dad Anthony, Mom Kimberly, dan Aiden, berada di luar. Dokter membantu mendorong kursi roda yang digunakan oleh Reyn dan menghentikannya tepat di samping.
"Sayang," Reyn menggenggam tangan Adeline yang terlihat masih lemah dengan sebelah tangannya.
"Hmm ... Sayang," ucap Adeline dengan sedikit terbata.
"Terima kasih sudah bertahan. Aku merindukanmu," ucap Reyn yang kemudian mencium punggung tangan Adeline.
"Sayang, di mana Raline?" tanya Adeline. Ia bisa mengingat kecelakaan tersebut dan yang ada dalam pikirannya hanya Raline. Pasalnya, selama ia koma, ia terus memimpikan putri kecilnya itu.
Reyn menggenggam erat tangan Adeline, "Ia sudah bahagia, sayang. Maafkan aku yang tak bisa melindungi kalian."
Adeline tak berteriak, yang terdengar kini hanya isakan tangis. Ia sangat mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Reyn. Kecelakaan yang mereka alami begitu hebat dan sejak ia membuka mata, pikiran negatif sudah terkumpul di dalam kepalanya.
Dokter masuk ke dalam dan menyuntikkan penenang kepada Adeline. Meskipun Adeline tak mengeluarkan emosinya dengan berteriak, tapi dokter tahu bahwa hal itu tak baik bagi kondisi kejiwaan Adeline.
"Kembalilah ke kamarmu dulu, Tuan. Anda juga memerlukan istirahat agar bisa segera pulih. Kami akan segera memindahkan Nyonya Adeline ke ruang perawatan," ucap sang dokter.
"Aku ingin satu ruangan dengannya. Tolonglah," ujar Reyn. Berada dekat dengan Adeline, akan membuat perasaan Reyn lebih tenang.
"Baiklah, Tuan. Kami akan segera menyiapkannya."
"Terima kasih."
Reyn yang masih menggenggam tangan Adeline pun kembali mengecup punggung tangan istrinya itu, "Kita pasti bisa melewati ini bersama sama. I love you."
*****
Setelah mendapat perawatan selama hampir dua minggu, akhirnya Adeline diperbolehkan untuk pulang. Reyn yang sudah diizinkan pulang seminggu sebelumnya, justru menetap di rumah sakit untuk menemani istrinya itu.
"Kita akan pulang, sayang," ucap Reyn. Meskipun kaki Reyn belum sembuh benar, ia tetap berusaha menjadi suami yang baik. Dad Anthony dan Mom Kimberly membawa Adeline pulang ke rumah mereka.
Sementara itu, Ethan dan Queen harus segera kembali ke Munich karena tak mungkin meninggalkan perusahaan, Xin, serta Rafael terlalu lama. Xin saat ini sudah berusia 24 tahun, sementara Rafael sudah berusia 19 tahun.
"Percayakan mereka pada kami. Kami akan menjaga mereka dan akan selalu mengabari kalian," ucap Dad Anthony.
"Terima kasih banyak. Maaf tak bisa terlalu lama di sini," ujar Ethan.
Queen memeluk Adeline erat dan mengusap punggungnya, "Mommy akan selalu menyayangimu."
Setelah itu, Queen juga memeluk Reyn, "Jaga Adeline baik baik, sayang."
"Pasti, Mom."
Queen juga memeluk Kimberly seraya pamit karena ia dan Ethan akan kembali ke Munich. Sebenarnya ia masih ingin di sana dan menemani Reyn dan Adeline, namun ia juga tak bisa mengesampingkan putra putrinya yang lain, meskipun masih ada Dad Alvin dan Mom Diva yang membantunya.
Anthony meminta tolong pada Aiden untuk mengantarkan Ethan dan Queen ke bandara. Aiden pun menyetujuinya karena ia juga akan pergi menemui seseorang yang informasinya telah didapatkan oleh Ivander, asisten pribadi Aiden.
*****
Bughhh
Aiden melesatkan tinjunya pada seorang preman yang ia ketahui merupakan pelaku penabrakan. Seperti kasus sebelumnya, polisi juga sepertinya lepas tangan. Aiden sangat yakin bahwa ada seseorang di belakang preman tersebut.
"Cepat katakan padaku atau aku akan menghabisimu!" ujar Aiden.
Jika polisi tak dapat menyelesaikannya, maka Aiden sendiri lah yang akan turun tangan.
"Mau berapa kali pun kamu memukulku, aku tak akan mengatakannya," ujar preman itu. Ia sudah berjanji dan mendapat uang tutup mulut yang sangat besar. Sangat cukup untuk menghidupi keluarganya meskipun nantinya ia dipenjara.
"Kamu yakin tak akan mengatakannya?!"
Bughhh
Sebuag pukulan kembali dilayangkan oleh Aiden dan membuat preman itu terjatuh sekali lagi.
"Kamu yang membuatku melakukan ini, jadi jangan pernah salahkan aku."
Aiden mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Bunuh semua keluarganya, Bricks!" perintah Aiden.
Degghhh
Tubuh pria itu langsung merosot ke lantai dan berlutut di hadapan Aiden. Jika Aiden membunuh keluarganya, maka apa arti dari uang yang ia dapatkan dari melaksanakan rencana kecelakaan itu?
"Tuan, tolong jangan bunuh keluargaku. Aku mohon," pinta preman tersebut saat Aiden masih tersambung dengan Bricks.
"Lepaskan tanganmu dari kakiku! Aku tak akan pernah melepaskan siapa pun yang telah mengganggu ketenangan keluargaku," ujar Aiden.
"Tuan, aku mohon .... Lepaskan keluargaku. Aku akan mengatakan semuanya, tapi tolong jangan bunuh keluargaku," ucap sang preman tadi dan kembali berlutut di kaki Aiden.
Sebenarnya, Aiden juga tak akan membunuh keluarga preman tersebut. Ia hanya akan menggunakannya untuk mengancam. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan anggota keluarga, membuatnya selalu bekerja dengan lebih hati hati jika menyangkut sebuah keluarga.
"Tangguhkan dulu, Bricks!" Aiden memutus sambungan ponselnya kemudian setengah berlutut. Ia memegang dagu preman tersebut dan menatapnya tajam.
"Sekarang katakan padaku, siapa yang telah merencanakan kecelakaan itu?!"
"Tuan Derby."
🧡 🧡 🧡