NovelToon NovelToon
Kekasih Rahasia Supermodel

Kekasih Rahasia Supermodel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noeryanthi Kusnadii

- Cinta Yang Menyembuhkan Trauma-

Damarlangit hanya salah satu dari orang yang memiliki trauma dalam hidupnya. Bahkan trauma itu dirasakan sejak usia Damar 10 tahun hingga saat ini, dan sampai dia berhasil menjadi super model, trauma itu masih Damar rasakan.

Hingga pada suatu hari, seorang wanita penghibur datang untuk menyembuhkan lukanya, namanya, Arundaya. Dipertemukan dengan tidak sengaja, membuat mereka mengenal satu sama lain, hingga kedekatan mereka jauh dari hubungan hanya seorang teman. Hingga hubungan gelap mereka jalin karena Ibu Damar tidak menginginkan Damar dekat dengan wanita seperti Arundaya yang dia pikir akan merusak karir Damar.

Bagaimanakah kisah selanjutnya? Dapatkah mereka menjalin hubungan saat Ibu Damar melarangnya, dan apakah trauma Damar akan sembuh saat bertemu dengan Arundaya yang ingin membantu Damar untuk sembuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noeryanthi Kusnadii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15

Damar sampai di kediamannya pukul 7 pagi, dia membawa Arundaya masuk dan membiarkan istirahat di kamar tamu sebelum dia pergi.

"Berapa tanggal lahirmu?" tanya Damar sebelum dia pergi meninggalkan Arundaya. Dia segera menyebutkan tanggal lahirnya pada Damar.

"Memangnya untuk apa?" tanya Arundaya.

"Kau bisa membuka pintu dengan tanggal lahirmu itu. Jangan biarkan siapapun masuk saat aku tidak ada. Jangan membuka pintu untuk siapapun. Tunggu aku di rumah, aku akan segera pulang setelah urusanku selesai," jelas Damar. Dia mengganti password pintu rumahnya agar tidak ada yang bisa masuk. Apalagi jika nanti Sarita datang, akan beresiko jika tau Arundaya di rumah Damar.

"Lakukan apa yang aku katakan. Jika membutuhkan diriku, kau bisa menghubungi Rio," jelas Damar.

"Tunggu--" Arundaya mencegah Damar yang akan pergi.

"Terima kasih," ujar Arundaya. Damar berjasa besar untuknya. Dan sikap Damar membuatnya semakin nyaman. Pikiran akan pekerjaan kotornya seakan dipatahkan oleh Damar. Dan itu yang Arundaya suka, pria yang tidak menyudutkannya walau jelas apa yang dilakukan salah. Hanya Damar juga yang tidak memperlakukan dirinya sebagai wanita murahan.

Damar hanya tersenyum manis sebelum dia pergi, senyum yang sangat memikat itu membuat hati Arundaya goyah. Dia seakan luluh, atau bisa dibilang jatuh hati dengan pria tampan yang beberapa kali menyelamatkannya.

***

Setelah meninggalkan rumah, Damar segera menemui Rio. Dia juga ingin Rio memberikan ponsel karena ponsel miliknya diberikan pada Arundaya.

"Apa yang Ibu ingin kan?" tanya Damar pada Rio. Sejak kemarin. Rio terjebak dengan Sarita yang terus menunggu kepulangan Damar.

"Entahlah, saat aku tanya apa itu tentang uang. Dia bilang ini urusan yang penting," jawab Rio.

"Benarkah uang tidak lebih penting untuknya?" Damar sangat mengerti bagaimana Ibu. Tidak ada lagi yang Sarita minta selain uang.

"Dia ingin kau datang ke Cafe Bunga setengah jam lagi. Jika kau tidak menemuinya, dia akan terus mencarimu," ujar Rio.

"Apa Papa tau mengenai ini?" tanya Damar.

"Belum. Beliau sedang ada pekerjaan ke luar kota, jadi Ibumu tidak akan bisa menemuinya." Pantas saja, kalau saja Brata ada di Indonesia, pasti Sarita sudah menerornya.

Mau ataupun tidak Damar ingin menemui ibunya. Namun, bukan di tempat yang Sarita katakan. Damar mengajak bertemu di rumah Ibunya. Dengan langkah kaki berat, Damar melangkah masuk. Walau bangunan rumah yang ditempati Sarita sekarang adalah baru, tapi Damar sangat ingat bagaimana Sarita membuatnya menderita selama ini.

"Kau sudah datang. Duduklah, biar Ibu buatkan minum untukmu." Ucapan Sarita begitu manis pada Damar saat putranya itu baru datang.

"Katakan apa yang Ibu mau?" Damar langsung pada tujuannya datang menemui Ibunya. Dia tidak ingin berlama-lama lagi berada di tempat yang memberinya luka.

"Ibu tidak butuh uang, hanya Ibu membutuhkan bantuanmu," tuturnya. Sarita duduk lebih dekat dan memegang tangan Damar yang tau jika Sarita memiliki rencana menyuruhnya datang.

"Katakan." Sebelum mengatakannya Damar menarik nafas panjang. Dia seperti sudah siap dengan apa yang akan Ibunya mau.

"Seorang sutradara menawari Ibu kontrak film untukmu. Jika ini berhasil, kau akan menghasilkan banyak uang." Dia bilang bukan tentang uang, tapi tetap saja ini berurusan dengan uang.

"Ibu tau aku tidak ingin mengeluti dunia akting. Aku memilih karir yang aku mau, dan aku--"

"Hanya sekali ini saja. Ibu yakin kau akan berhasil dan membuat film ini sukses." Sarita menyela ucapan Damar. Dia hanya ingin Damar mengabulkan apa yang menjadi keinginannya. Padahal Sarita tau jika Damarlangit tidak mau menjadi seorang aktor, dia selalu menolak tawaran menjadi pemain film karena akan sangat berat untuknya jika harus kedua pekerjaan dilakukan. Apalagi dengan kondisinya yang lemah, trauma yang tidak bisa hilang, dan beban yang dipikul menjadi mesin penghasil uang.

"Apalagi yang sebenarnya Ibu rencanakan kali ini." Damar memejamkan mata sambil menghela nafas kasar. Dia enggan untuk melakukan apa yang Sarita inginkan.

"Jika film ini berhasil dipasaran, kau akan lebih terkenal lagi. Keluarlah dari jalur amanmu. Cobalah yang lebih menantang dan memilih penghasilan yang lebih besar. Kau akan sukses jika menjadi seorang aktor papan atas. Jika iya, baca kontrak ini dan tanda tangani. Ibu akan sayang bangga padamu jika kau melakukannya." Dengan menyodorkan berkas pada Damar, sang ibu berharap jika Damar segera menyetujui kemauannya. Ini sangat menjanjikan untuknya yang pasti. Karena Damar hanya penghasil uang saja, dan Sarita yang menikmati hasilnya.

"Apalagi pasanganmu nanti akan sangat cocok denganmu. Kau harus mencobanya," imbuh Sarita.

"Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak ada jadwal kosong untuk beberapa bulan ke depan. Aku menolaknya," jawab Damar. Dia menyodorkan kembali berkas itu pada sang Ibu.

Melihat Damar menolak tanpa memikirkannya lebih dulu membuat Sarita menatap Damar tajam. Expresi yang tadi Sarita tunjukan berubah menjadi tatapan marah. Dan Damar tau akhir dari tatapan sang Ibu.

Srakkk!!!

Sarita melemparkan berkas itu tepat pada wajah Damar, membuat Damar langsung memejamkan mata karena tamparan itu.

"Kau ingin membantah Ibu sekarang?" Nada bicara Sarita penuh penekanan dengan tatapan tajamnya.

"Ya, aku menolaknya. Damar tidak ingin bermain film. Jika pekerjaan itu tentang model, Damar akan melakukannya berapapun kontrkanya. Tapi Damar tidak mau jika harus berakting. Tolong Ibu mengertilah," bantah Damar. Kali ini dia berani sekali membantah sang Ibu. Biasanya Damar hanya akan diam mendengarkan bahkan menerima perlakuan dari Sarita.

"Apa Brata yang menyuruhmu? Kau itu putraku. Kau harus menuruti apa yang aku katakan. Lakukan atau kau ingin Ibu menghajarmu." Ancaman itu yang selalu keluar dari mulut Sarita. Namun, walau Damar sudah berusia 28 tahun, Sarita tetap memperlakukan Damar seperti dulu.

Damar hanya diam ketika Sarita coba mengambil sapu dan memukulkan ganggangnya pada punggung Damar yang hanya diam sambil melindungi kepalanya dari pukulan itu. Biarkan Sarita memukulinya, asal tidak di bagian wajahnya.

Tangan Damar memgepal erat ketika setiap pukulan Sarita layangkan pada tubuhnya. Matanya terpejam dengan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Sakit pada pukulannya tidak begitu sakit di hatinya. Luka hatinya begitu dalam hingga trauma itu tidak bisa pergi darinya. Bagaimana bisa hilang jika Sarita terus  menghajarnya, ketika Damar tidak melakukan permintaannya.

"Kau itu Ibu enakan. Kau harus membayar apa yang Ibumu lakukan. Apa kau pikir mengasuhmu itu gratisan. Kau harus membayarnya! Kau dengar itu!" Teriak Sarita. Dengan mulut yang terus bicara yang tidak-tidak, tangannya juga tidak berhenti memukulnya.

"Kenapa kau tidak membunuhku saja?" Damar membuka suara, membuat Sarita menghentikan pukulannya.

"Kau bilang apa!!!" Bentak Sarita.

"Bunuh saja aku. Bukankah aku tidak berguna untuk Ibu. Buat aku mati agar Ibu tidak terbebani dengan hadirnya diriku." Akan percuma untuk Damar jika dia meminta ampun karena dia memang tidak mau melakukan apa yang Sarita mau. Menjadi model sudah menjadi beban berat untuk Damarlangit. Tapi Sarita seakan tidak pernah puas dengan yang Damar lakukan.

"Bunuh aku, Bu." Damar memegang tangan Sarita dan memberikan pisau yang ada di dekatnya. Damar mengenggam tangan Sarita dan mengarahkan piasu itu pada lehernya sendiri.

"Apa kau sudah gila!" Sahut Sarita.

"Ibu yang membuatku seperti ini. Daripada Ibu terus membuat luka di hatiku. Sebaiknya akhiri dengan membunuhku. Lakukan sekarang!!!" Bentak Damar. Ini pertama kalinya dia membantah Sarita. Dia benar-benar menantang Sarita dengan pisau yang ada di tangan mereka.

"Apa salahku hingga Ibu begitu membenciku. Aku bukan robot Ibu, aku---"

"Akhh ...," Pisau itu berhasil menyayat leher Damar karena tarikan tangan Sarita.

1
habibulumam taqiuddin
kok G lnjut2
Nona Lemetd 💜: sudah di lanjut lagi kak 🫡
total 1 replies
habibulumam taqiuddin
selamatkan arundaya
habibulumam taqiuddin
lama sekali g update
ramochaaa
semangat thorrr
ramochaaa
semangatttt
habibulumam taqiuddin
salut sy dg kejujuran damar. menerima kekurangan pasangan masing-masing....
Ameera zie
ya allah bu, tobatt
Ameera zie
ngilu🥲
Nona Lemetd 💜
happy reading ya, jangan lupa tinggalkan komen kalian. terima kasih, follow akunnya juga yaaaa
adilia
keren
adilia
damar
adilia
seru untuk di baca
Yarasary
aku udah mampir tor, mampir juga yuk ke novel aku ~Aswarya genggam aku 😊.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!