Serangkaian konflik, cinta, sisi gelap, konfrontasi, ego dan di bumbui dengan beberapa misteri yang pelan tapi pasti terkelupas perlahan dengan balutan horor kejawen (jawa kuno) yang cukup kental. semua berpadu dalam satu mahakarya.
Sinopsis :
Di suatu desa..hiduplah seorang nenek tua yang cukup kaya raya. Ia mempunyai 6 orang anak. Anak yang di besarkan olehnya seorang diri sebagai seorang janda. Enam orang anak yang di besarkan olehnya dengan penuh kasih sayang. Enam anak itulah yang juga memulai konflik antara sesama saudaranya sendiri. Puncaknya adalah ketika sang nenek tiba-tiba meninggal dunia.
Disini semua tragedi itu berawal. Teror kasat mata dan yang tak kasat mata mulai menghantui semua yang sedang tinggal di rumah peninggalannya. Satu...persatu.... Mereka semua punya satu tujuan yang sama! 6 orang iblis bertopeng manusia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mufid Kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembang Amben
Di sebuah dipan bambu tua, ngatno yang sedari kemarin sudah terbaring pasrah perlahan membuka matanya. Entah bagaimana dan darimana, luka-lukanya kian hari kian membusuk. Bau amis dan anyir selalu menguar memenuhi ruangan kendati sudah di beri puluhan pewangi di setiap sudut rumah. Itu semua hanya malah semakin membuat baunya tidak karu-karuan. Tidak ada yang peduli padanya saat ini. Hanya sudi seoranglah yang mau merawatnya dengan tulus setiap pagi hari sebelum ia berangkat bekerja. Adik bungsunya yang selalu ia dzolimi, selalu ia kucilkan, selalu ia nistakan, nyatanya hanya dia yang mampu, sabar dan telaten merawat dirinya yang sudah seperti bangkai yang bernyawa bagaikan kembang amben. Ngatno bagaikan dilanda penyesalan yang bertubi-tubi.
Lelaki paruh baya itu hanya bisa menatap lampu kuning di atas kepalanya dengan nanar. Penyesalan hanya tinggal sebuah harapan kosong. Perih luka bolong-bolong di tubuhnya juga kian meluas. Terkadang rasa perih itu berpadu dengan rasa gatal dan panas akibat lalat-lalat yang tertarik pada luka yang menganga. Serangga itu seakan menitipkan penyiksaan yang tidak berujung. Apalagi jika telur yang sudah menjadi belatung-belatung itu mulai menggerogoti daging kaki dan tangannya sedikit demi sedikit. Walaupun setiap hari sudah di bersihkan namun, nampaknya serangga itu kian hari semakin kian mengganas.
Matanya sedikit menutup sayu. Terlintas kini kesalahan besar yang telah ia perbuat dahulu. Kesalahan terbesar yang menjadi rahasia antara ngatno dan iman. Kedua kakak beradik yang sangat keji. Mata yang sudah tua itu kemudian menangis tersedu-sedu.
Pyarrr...!!
(Suara lampu pecah)
Lampu kuning yang menggantung di atasnya tiba-tiba saja pecah berhamburan. Matanya lantas mendongak karena terkejut. Pecahan kaca kecil-kecil nampak berserakan di atas tubuhnya. Tiba-tiba, tubuhnya seperti ada yang menindih. Nafasnya mulai memburu tak karuan. Matanya mulai memerah seakan menahan beban yang begitu besar.
Mulutnya merintih memohon pertolongan. Namun percuma, tak ada satupun orang yang mendengar suara lirihnya. Hingga samar-samar terlihat sosok tubuh kurus hitam sedang duduk di atasnya. Sosok berkepala serigala bertubuh manusia namun dengan bulu-bulu hitam tajam yang menyelimuti seluruh raganya. Terdapat pula sayap yang terlipat rapi di punggungnya. Nampak juga tanduk melengkung seperti seekor kambing menancap tepat di atas bagai mahkota yang mengerikan. Sosok itu menoleh padanya dengan tatapan murka. Di tangannya terdapat sebuah rantai yang berwarna merah menyala seperti bara api yang kemudian mengikat lehernya.
Wusssssshhhh...
Sosok itu terbang membawa sukma atau jiwa dari ngatno. Sekilas ia melihat raganya sedang terbaring dengan mata mendelik dan tubuhnya mulai kejang-kejang. Tak sempat ia menoleh pada sosok mengerikan itu, rantai yang mengikat lehernya tiba-tiba menjadi sangat panas hingga membuat lehernya terbakar. Sejurus kemudian, ia seakan di lemparkan ke sebuah hutan yang asing baginya. Aneh, ia disini bisa bergerak lagi seperti sedia kala. Hutan yang tak mempunyai dedaunan sama sekali. Suasananya kelam pekat dan rasanya seakan-akan ia sedang tenggelam namun tidak di dalam air.
"Manusia laknat!"
Suara yang asing mulai terdengar tertangkap oleh telinganya. Matanya mulai mengedar ke sekeliling, mencari arah suara parau yang membuat jiwanya tidak tenang.
Duaghhh!!!
Sosok bertubuh tinggi besar dengan cambuk di tangannya jatuh tepat di depan ngatno. Pria paruh baya itu ambruk ketakutan melihat betapa tingginya mahkluk itu yang mungkin tingginya lebih dari 3 meter. Wajah makhluk itu menyeringai lebar dengan dua gigi tajam mencuat dari mulut bagian bawahnya. Ngatno mencoba berlari sejauh mungkin dengan memasuki hutan yang hanya tinggal kayu mati yang berdiri tegak tanpa atap dedaunan.
Namun sia-sia, mahkluk itu ternyata bukan hanya ada satu, tapi puluhan! Mereka segera menyeret kasar kaki ngatno dan melemparkan jauh tubuh renta itu ke arah yang mereka suka. Ngatno merasakan sakit mendera sekujur tubuhnya. Saat ngatno mencoba bangun, tiba-tiba cambuk yang sudah terbakar api itu menyambar tubuhnya. Tubuh yang sudah sepuh itu terbelah seketika menjadi dua! Genangan darah kental dan isi perut ngatno terburai begitu saja dengan organ-organ tubuh yang berceceran.
Slapppwusshh...
Ajaib! Tubuh ngatno kembali lagi seperti sedia kala. Dan lagi, makhluk-makhluk berpostur besar itu menjadikan ngatno sebagai mainan untuk mereka. Dan sebuah cambukan kembali membelah tubuh renta itu dan lagi, dengan ajaib tubuh itu kembali seperti semula. Semua penyiksaan yang berlangsung terus menerus dan setiap kembali utuh itulah ngatno merasa seakan ia mengalami sekarat, mati, sekarat, mati, begitu terus. Semua terasa berputar-putar dalam siklus yang menyakitkan!
...****************...
Cklekkkk..
"Assalamualaikum kang, ini kang..aku bawakan roti sisir kesukaanmu. Sudah lama kan kita nggak makan roti kaya gini." Panggil sudi sesaat setelah masuk ke dalam rumah. Segera ia menuju ranjang ngatno di dalam kamar.
"Astaghfirullah!" Terkejut bukan kepalang sosok Sudi saat ini.
Di hadapannya kakak laki-lakinya sudah mendelik dengan tubuh kejang-kejang. Darah segar nampak mulai membasahi menggenangi kasur kapuk ngatno. Baunya pun semakin menyengat. Mulutnya terus menerus mengeluarkan lendir berwarna hijau gelap seperti riak namun baunya busuk seperti terasi yang apek.
Sudi segera berlari ke samping rumah dan memuntahkan semua isi perutnya. Tak di pungkiri ini merupakan pemandangan yang paling menjijikkan yang pernah ia lihat seumur hidupnya. Ia berjalan dengan di kuat-kuatkan sambil berteriak-teriak meminta bantuan warga yang ia harap mendengar ucapannya.
"Ada apa kang?" Tanya salah seorang warga.
"Itu kang ngatno...kang ngatno kejang-kejang. Bantu aku cari mobil paklik." Ucap Sudi sedikit panik.
Nampak beberapa warga terbagi, ada yang berlari ke rumah ngatno dan ada yang berusaha mencari transportasi untuk membawa pria yang sedang sekarat itu ke rumah sakit yang jaraknya lebih dari 30 km jauhnya.
"Gimana? Ada mobilnya?" Tanya sudi yang terdengar terengah-engah.
"Nggak ada kang! Punya juragan heri di pakai semua mobilnya. Cuma ada satu tapi,.. bekas buat ngirim kambing tadi pagi." Ucap salah seorang pria yang nampak juga kecapekan.
"Hishhh..jangan bercanda to! Siapa lagi ya yang punya mobil." Ujar salah seorang pria yang seperti tengah berpikir keras.
Entah ada angin apa, di pikiran sudi tiba-tiba terlintas mobil baru iman yang kemarin pagi hari baru saja tiba. Dengan langkah cepat ia segera berlari menuju rumah pak iman yang tak begitu jauh dengan rumah pak ngatno.
"Ayo temani aku, akan aku coba pinjam mobilnya kang iman!" Ujar sudi sudah tidak punya pilihan lain. Meskipun mereka semua skeptis atas keputusan ini.
Sesampainya di depan rumah iman, nampak ia sedang duduk selonjoran memandangi mobil putih yang masih di selimuti plastik itu. Beberapa orang di belakang Sudi nampak mengagumi mobil yang memang jarang mereka lihat.
"Assalamualaikum kang." Salam sudi saat sudah di depan kakaknya.
"Hmmm...ada apa kamu kemari? Mau pinjam uang? Hahaha.." ketus iman. Orang-orang yang mendengarnya sendiri pun merasa berang. Hilang sudah rasa respek mereka pada orang kaya baru itu.
"Aku mau pinjam mobilmu kang. Kang ngatno harus segera di bawa ke rumah sakit sekarang juga. Dia sekarat kang man." Ujar sudi sembari menunduk.
"Apa?! Hahahaha.. aku tidak mau meminjamkan mobil baruku untuk membawa pria yang sudah busuk itu. Nanti korengnya nular lagi..hiiii.. cuihhh... amit-amit! Sekarang pergilah! Kalian menghalangi pemandanganku!" Ketus iman sembari mengisyaratkan mereka untuk menyingkir dengan tangannya.
Dengan hati yang benar-benar sakit mereka pun kembali dengan tangan kosong. Jika si biarkan terus seperti itu, bisa-bisa nyawa ngatno menjadi taruhannya. Dengan saling berpandangan mereka berlima pun akhirnya sepakat dengan berat hati menggunakan mobil bekas kambing itu untuk mengantar ngatno ke rumah sakit.
Jadilah, ngatno di angkat oleh empat orang yang saling menahan bau yang amis busuk yang keluar dari tubuh ngatno. Meletakkannya di atas mobil bak terbuka yang sudah di alasi kasur lantai. Berangkatlah mereka dengan mobil bak terbuka itu bersama ngatno yang di ikat ke kasur lantainya agar tidak menggelinding saat jalanan naik turun mereka lalui. Sebenarnya dosa apa yang sudah kamu perbuat? Hingga sungguh miris betul nasibmu kang! ,Batin sudi menangis dalam diam.
.
.
.
Bersambung..
gmana penampakan rumah nenek nyaa, huhuhu.
lnjut dong thorrrr
lnjut thor .. bnyak yg nggu nih
ttp semangattt💪💪💪