Seorang duda beranak dua harus menikah demi kedua anaknya.
Arbaaz Raonar nama lelaki itu, pemilik perusahaan Arbaaz Studio. Perusahaan dengan lambang elang itu bergerak di bidang animasi.
Syazani Nur Albiru atau yang sering di panggil Biru karena memiliki mata yang kebiruan. Biru seorang pendongeng dengan teknik bayangan tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon faiz bellzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Keroyokan
"Eh apaan sih Tante peluk-peluk" Erin protes dan mendorong perempuan itu, yang ternyata anak temannya pak Rizal yang bernama Jeni.
Nah kalau yang ini pantas di sebut Tante karena dari wajahnya sudah menunjukan jika dia sudah berumur di atas 30 tahunan.
Jeni memang tergila-gila pada Raon sehingga selalu berakting baik pada anak-anak Raon untuk mengambil simpati seperti sekarang ini.
Jeni bersikap baik karena ternyata ada Raon yang berjalan ke arah kursi viv, tapi Raon yang sudah tahu sifat Jeni tidak pernah termakan kedok palsunya, apalagi Juri yang suka mengadukan perbuatan Jeni.
Melihat perempuan yang bersikap akrab pada Erina dan Raon yang berbaik arah berjalan ke arah mereka membuat Biru segera undur diri dengan membungkukan sedikit badannya.
"Mau kemana?" Pertanyaan singkat itu membuat Biru menghentikan langkahnya, Biru nyengir kuda sambil menunjuk ke arah jam yang menggantung di dinding "mau ke atas pak, jam makan siang sudah selesai".
"Hemm" Roan hanya membalas dengan gumaman saja kemudian kembali berjalan menghampiri Erina yang masih berusaha menghindar dari perempuan yang sukanya pakai topeng.
Biru kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti.
🌻
Hari ini hari Minggu, biasanya Biru akan pulang ke Bandung. Tapi kali ini ia tidak pulang kampung karena Biru merasa cape akibat kemarin malam lembur.
Kemarin saat pekerjaannya hampir selesai tiba-tiba mati listrik, file yang belum sempat di simpan pun hilang sehingga membuat mereka harus mengerjakan ulang pekerjaannya.
Biru sudah menelepon orangtuanya mengabari mereka jika hari ini ia tidak akan pulang dan menjelaskan alasannya.
Bunda dan ayah mengerti dan meminta Biru untuk menjaga kesehatan, jangan sampai kecapean dan jangan lupa makan makanan yang bergizi.
🌻
"Mama kenapa dadakan begini? Ar kan belum bilang sama orangnya" protes Raon karena mamanya pagi-pagi datang bersama papa dengan setelan batik mengajak ke Bandung untuk melamar Biru.
"Nanti keburu di ambil yang lain Ar, Mama dengar sudah banyak yang ngelamar tapi selalu di tolak" ujar Mama memanas-manasi, tapi Raon bukannya panas malah cuek aja.
"Ya cari yang lain aja Ma, kan perempuan bukan hanya dia. Lagian gak cantik-cantik amat kok nolak yang ngelamar" ujar Raon yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Biru.
"Perempuan memang banyak Ar, tapi mana? Kamu tahu sendiri kan mereka tidak setulus Biru" ujar Mama.
"Mama mu benar Ar, Biru perempuan yang tulus dia juga sudah dekat dengan anak-anak" sambung papa Rizal.
"Ya sudah" ujar Raon malas tapi tetap ganti baju juga, tidak lupa menggantikan pakaian untuk Juri karena Erina sudah besar tidak usah di gantikan, sudah bisa.
"Mau apa sih pa? Nyuruh kita pakai baju batik setelan" tanya Erina yang merasa heran dengan tingkah papanya.
"Nanti juga kamu tahu" jawab Raon singkat, ia masih sibuk menyisir rambut Juri.
"Papa janan kencang-kencang kepala Juli atit di talil-talik kecana kemali" protes Juri saat Raon mengikat rambutnya dengan cepat.
"Iya maaf sayang maaf, papanya buru-buru" ujar Raon memberi alasan.
"Memang kita mau kemana? Dadakan gini?" Erina kembali bertanya membuat Raon akhirnya berkata jujur.
"Kita akan ke Bandung, ke rumahnya teteh Biru" ujar Raon menerangkan, Erina kaget mendengar penuturan papanya. Juri juga langsung loncat-loncat membiarkan rambutnya yang baru di kucir sebelah.
"Yyeyeee....kita mau ke tetceh Bilu" ujar Juri masih loncat-loncat, sedangkan Erina langsung menghampiri Raon.
"Ada acara apa papa ke rumah teteh Biru? Apa mau ngelamar?" Tanya Erina dengan memegang tangan Raon. Raon mengangguk mengiyakan dan itu sukses membuat Erina ikut-ikutan loncat-loncat.
"Yeyeyee Ade kita bakal punya Mama baru" ujar Erina sambil memegang tangan Juri.
"Benalkah? Capa Mama balu Juli?" Tanya Juri antusias.
"Teteh Biru, dia akan jadi Mama kita" terang Erina pada adik nya.
"Uuuuwwwaaaww tceteh Bilu jadi Mama Juli, Juli seneng Juli seneng" ujar Juri yang tidak kalah antusias.
Raon yang melihat tingkah anak-anaknya pun ikut tersenyum, kebahagiaan anak-anaknya kebahagiaan dia juga. Raon tidak memerlukan cinta dari perempuan lain karena cintanya anak-anak jauh lebih dari segalanya.
Setelah semuanya siap, akhirnya mereka berangkat bersama dengan satu mobil, di perjalanan Mama tidak lupa mampir dulu ke toko oleh-oleh untuk buah tangan.
Mama juga sudah menelepon Arisha, dan tentu saja Arisha mendukung, ia juga tidak mau ketinggalan ikut ke rumah Biru.
Jadi Arisha bilang jika sudah sampai Bandung mereka akan ketemuan di tempat strategis agar ke rumah Biru nya bareng-bareng.
🌻
Setelah menempuh waktu sekitar 3 jam mereka sampai juga di depan rumah Biru, mobil Arisha di titipkan di halaman tetangga sedangkan satu mobilnya di simpan di halaman rumah Biru. Itu juga harus ayah geser-geser dulu tabulampot milik Bunda.
Para tetangga pada kepo ingin tahu siapa yang bertamu ke rumah tetangganya dengan membawa mobil, mereka bisa tahu siapa yang bertamu saat Mama Sofi dan anak-anak keluar juga saat Arisha dan Deril karena para tetangga sudah hafal jika dengan mereka karena memang sering berkunjung ke rumah ayah dan bunda.
Mereka di buat bertanya-tanya saat melihat Raon keluar dari mobil karena hanya dia satu-satunya orang yang tidak mereka tahu.
"Assalamualaikum" salam keluarga Raon saat masuk ke rumah ayah.
"Waalaikum salam" jawab salam ayah bunda dan kedua Kaka Biru.
Mereka saling bersalaman terlebih dahulu, lalu bunda menyuruh para tamu nya untuk duduk.
"Cepat belikan bolu sama kue basah di toko yang ada di depan" bisik bunda pada Adib, Adib mengangguk tidak hanya protes.
"Cepat siapkan minuman" kini Addar yang kena bisikan bunda, Addar pun sama tidak banyak protes dan langsung melakukan tugas nya.
Bunda tersenyum canggung pada tamunya. Ia bingung karena tamu nya datang keroyokan begini, dadakan lagi.
Tidak ada yang mulai pembicaraan sampai Addar menyuguhkan teh manis dan Adib menyuguhkan kue basah.
"Mari silahkan di nikmati" ujar adik Kaka itu bersamaan. Lalu mereka ikut duduk di kursi yang masih kosong, Untung saja ruang tamu bunda memiliki kursi yang banyak jadi muat.
"Iya terimakasih" ujar Papa Rizal mengambil minum. Sebelum mengutarakan maksudnya harus mengumpulkan tenaga dulu.
"Maaf ya cuma ala kadarnya" ujar ayah yang di angguki bunda.
Biasanya bunda paling cerewet, tapi ini kenapa diam saja. Apa terpesona melihat Raon yang tampan dengan baju batiknya.
"Baiklah saya mulai saja ya, mungkin kalian sudah tahu siapa saya juga wanita yang di sisi saya. Kalian juga sudah mengenal anak dan menantu saya juga cucu-cucu saya. Dan saya ingin memperkenalkan dulu anak sulung saya yang memang belum pernah kesini, dia Arbaaz Raonar atau yang sering di panggil Raon tapi saya lebih suka memanggil nya Arbaaz, dia juga papa dari Erina dan Juri" ujar papa Rizal panjang lebar.
keren thor
sukses
semangat
mksh