"Gak!! Aku gak mau nikah sama dia."Nadia menatap ibu tirinya tidak suka.
"Perusahaan papa kamu terancam bangkrut. Apa kamu mau jatuh miskin?"Meli mencoba membujuk Nadia yang keras kepala.
Nadia adalah anak tunggal dari pasangan Aldi dan Dina. Dulu keluarga itu sangat harmonis, tapi semenjak mamanya meninggal dan papanya nikah lagi dengan Meli, Nadia seakan hilang jati diri. Dia menjadi gadis Nakal.
"Apa tidak ada jalan lain selain aku harus menikah dengan dia? Aku belum mengenal laki-laki itu, bagaimana mungkin aku bisa menikah dengannya? Oh tuhan...., Ayolah, aku ini masih mau bersenang-senang dengan masa muda ku. Pa, Plis..."Nadia meminta bantuan Aldi lewat tatapan matanya.
"Maaf sayang, kamu harus tetap menikah dengan dia. Papa yakin, kamu akan bahagia bersamanya."Aldi pergi begitu saja. Sedangkan Meli sedang tersenyum penuh kemenangan.
"Welcome air mata. Pernikahan gila yang tidak pernah aku inginkan. Jangankan menikah, untuk pacaran saja aku tidak sudi."Nadia mengepalkan tangannya erat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji Rahayu Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Tulusnya cinta.
Semilir angin malam menyambut kedatangan kedua insan manusia. Malam ini sangat indah, bintang dan bulan menghiasi malam dengan terang-terangan. Tidak ada kelabu atau bintang yang meninggalkan bulan sendiri. Mereka bersatu untuk menerangi kekelapan malam.
"Mau ngapain sih? Kapan mataku kamu buka?" Nadia kesal dengan Rehan. Sedari tadi tangan Rehan terus menggandengnya, dan matanya juga di tutup menggunakan kain penutup mata.
"Sebentar ya sayang..." Nadia di suruh duduk oleh Rehan dengan isyarat tangan Rehan yang menekan kedua pundaknya.
Suara musik mengalun indah, Nadia diam tidak berkutik. Perlahan penutup matanya di buka. Rehan duduk di depannya, banyak orang yang bermain musik di pinggir kolam renang.
*Dia indah peretas gundah
Dia yang selama ini ku nanti
Pembawa sejuk, pemanja rasa
Dia yang selalu ada untukku
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu
Di dekatnya aku lebih tenang
Bersamanya jalan lebih terang
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Bila di depan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya akan begitu
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku ku milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau jiwa yang selalu aku puja*
Tentu Nadia terbuai dengan suara merdu Rehan. Tatapan mata lelaki itu membuat Hatinya terketuk.
Yang Nadia tahu, sepertinya Rehan menghayati setiap lirik lagu yang dia bawakan. Bibir Nadia tersenyum, butiran air matanya menetes tanpa dia minta.
Nadia mengingat beberapa bait lagu yang membuat dirinya terenyuh. Lirik lagu itu adalah...
Bila di depan nanti
Banyak cobaan untuk kisah cinta kita
Jangan cepat menyerah
Kau punya aku, ku punya kamu, selamanya akan begitu.
Detak jantungnya menggila sekarang. Sepertinya ini sebuah taman dan juga kolam renang. Ada kebun bunga yang sedang bermekaran di sana. Di dalam kolam renang terdapat banyak sekali taburan kelopak bunga mawar yang berseberangan. Sedangkan di pinggir kolam renang terdapat lilin yang meremang. Kalian bisa membayangkan seperti apa suasana romantis dimalam itu?
"Ini lagu untuk mu, dan semua ini ku persiapkan sendiri sore tadi." Rehan meraih kedua tangan Nadia, dia Menggegamnya lembut.
"Aku tidak tahu definisi romantis yang kamu inginkan seperti apa, karena aku bukan bapak **. Habibi, aku tidak tahu bagaimana menjadi sosok lelaki romantis di depan mu, karena aku bukan artis Korea idola mu. Aku Rehan, suami mu yang berusaha untuk membuat hati mu seutuhnya untuk ku." Rehan membelai pipi Nadia. Dia mengusap lembut pipi istrinya.
"Aku tidak tahu berapa sulit kamu menyiapkan ini semua, terimakasih sudah berusaha membuat aku bahagia." Nadia berdiri, dia memeluk tubuh kekar Rehan dengan erat.
"Tuhan, hentikan waktu ini sebentar. Aku ingin menikmati waktu malam ini bersamanya." Rehan menangkup wajah Nadia.
"Kamu cantik malam ini." bisik Rehan, dia mencium kening Nadia, lama. Bibir Nadia tersenyum, kepalanya tertunduk malu.
"Mahkota mu nanti jatuh kalau kamu menunduk." Lagi-lagi Nadia di buat terbang oleh perkataan Rehan.
"Duduklah." Pinta Rehan kepada Nadia.
Dua ingsan itu duduk berhadapan, saling tatap dan mengagumi satu sama lain. Lilin berbentuk love memutar mengelilingi meja mereka. Di rumput taman samping kolam, terdapat nama Rehan dan Nadia.
Plok..., Plok...
Nadia membuka mulutnya lebar, Rehan hanya menepuk tangannya sekali, tapi beberapa pelayan menghampiri meja mereka dengan berbagai hidangan makanan.
Telapak tangan Rehan melambai keatas, seakan mengisyaratkan semua pelayan itu untuk pergi.
"Ini semua serius kamu yang nyiapin?" Nadia tidak menyangka Rehan bisa berbuat begitu manis kepadanya.
"Tentu, apasih yang tidak untuk istriku?" Rehan mengerlingkan satu matanya di depan Nadia. Jelas hal itu membuat Nadia tersipu malu.
"Coba buka tutup saji makanan itu." Tunjuk Rehan menggunakan dagunya. Nadia mengerutkan keningnya, tapi dia tetap membuka tutup hidangan makanan yang berada tepat di depannya.
Tangan Nadia membuka pelan tutup saji itu, dan...
"Wow, kamu membelikan aku kalung liontin ini?" Nadia mengambil sebuah kalung berbando huruf RN dengan mata berbinar.
"Iya, itu untuk mu. kalung berbando RN, Rehan dan Nadia." Jawab Rehan, lembut.
"Aku sangat menyukainya. thanks my husband." Nadia menatap kalungnya dengan tatapan bahagia.
"Boleh aku pakaikan?" Tanya Rehan dengan bibir tersenyum.
"Tentu." Jawab Nadia senang. Rehan beranjak dari duduknya, dia menyibakkan rambut panjang Nadia kedepan. Kalung liontin berbando huruf RN itu terpakai indah di leher jenjang Nadia.
"Kalung ini sangat cocok untuk mu." Rehan kembali duduk di tempatnya.
"Bisakah kita makan sekarang? Aku lapar." Rengek Nadia sambil memegang perut ratanya.
"Makanlah, bukankah semua ini memang ku persiapkan untuk mu?" Nadia melahap semua makanan yang ada di depannya. Rehan tersenyum kearah istrinya, ini lah yang dia sukai dari sosok Nadia. Perempuan itu apa adanya, tidak jaim dan sok manis di depannya.
"Kamu tidak akan kenyang hanya karena melihat aku makan seperti ini." Tegur Nadia, dia sadar jika Rehan sedari tadi hanya melihatnya, tidak makan makanannya.
"Aku kenyang melihat kamu makan seperti itu, karena melihat mu bahagia adalah asupan gizi ku." Nadia hampir tersedak makanan ketika mendengar gombalan recehan Rehan.
"Huff..., kamu ini terus ngegombal. Btw ini rumah siapa? Keren banget." Nadia suka dengan gaya rumah ini. Bagus menurutnya.
"Kamu fikir ini rumah siapa? Ini rumah kita, kita akan pindah besok." Nadia kembali di buat menganga oleh Rehan.
"Kamu serius?" Tanya Nadia tidak percaya.
"Apa aku terlihat bercanda?" Nadia kembali tersenyum ketika dia mendapatkan rumah sesuai keinginannya.
"Emang kamu tuh idaman." Nadia beranjak dari duduknya. Dia duduk lesehan di pinggir kolam renang.
"Kamu lihat pantulan wajah kita yang lagi tersenyum di dalam kolam itu?" Tunjuk Nadia, dia menunjuk air kolam yang memperlihatkan wajahnya dengan wajah Rehan yang sedang tersenyum.
"Aku melihatnya, kenapa?" Kali ini Rehan yang dibuat bingung dengan ucapan Nadia.
"Bahkan Bulan dan bintang ikut merasakan kebahagiaan kita malam ini. Buktinya mereka mengirimkan pantulan cahaya untuk memperlihatkan wajah kita yang berseri-seri di dalam kolam." Nadia duduk dan berdasar di dada bidang Rehan.
Rehan tersenyum mendengar perkataan Nadia. Dia menikmati harumnya sampo yang Nadia kenakalan. Rehan terus mencium rambut Nadia. Dia menyukai wangi sampo istrinya.
"Tetaplah seperti ini, jangan pergi." Nadia mengeratkan pelukannya di leher Rehan. Dia ******* bibir Rehan dengan irama pelan. Keduanya menikmati ciuman yang tercipta tanpa sengaja.
"Aku tidak mungkin pergi, kecuali kamu yang memulainya. Karena kamu milik ku, sampai kapanpun akan tetap begitu." Rehan membelai setiap inci wajah istrinya. Hatinya bergetar, rasanya sangat bahagia bisa berdekatan dengan istrinya seperti ini. Dirinya benar-benar mencintai Nadia, bukan hanya nafsu belaka.