NovelToon NovelToon
Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Berbagi Cinta : Ternyata Aku Seorang Pelakor

Status: tamat
Genre:Poligami / POV Pelakor / Cinta Terlarang / Romansa / Tamat
Popularitas:659.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Shan_Neen

Berawal dari pertemuan kembali di acara reuni SMA, Sarah Amalia berjumpa dengan cinta pertamanya, setelah sekian lama mereka berpisah.

Kedekatan mereka pun kembali terjalin, dan kabar gembira pun datang, setelah beberapa bulan mereka menjalin hubungan.

"Maukah kau menjadi istriku?" tanya Miko, cinta pertama Sarah.

Dengan mata berkaca-kaca, perempuan itu pun mengiyakan ajakan kekasihnya.

Pernikahan pun terjadi. Setelah beberapa bulan, tiba-tiba datang seorang wanita ke hadapannya.

"Perkenalkan, saya istri pertama suamimu."

Bagai disambar petir, Sarah harus menerima kenyataan pahit itu, dikala dirinya tengah mengandung buah cintanya dengan Miko.

Bagaimana kelanjutan kisah ini? Akankah Sarah tetap bersama Miko? Atau justru menemukan cinta yang lain? Mari kita simak selengkapnya😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shan_Neen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Lidia

Sarah dan dokter Fadil terlihat masih betah berbincang di taman rumah sakit, dengan candaan yang selalu dilontarkan oleh Dokter Fadil yang selalu sukses membuat Sarah tertawa tiada hentinya.

"Mas, kamu tuh ternyata bakat jadi pelawak juga yah. Kenapa malah jadinya dokter sih?" tanya Sarah.

"Ehm … gimana yah. Kalau pelawak, ramenya musiman. Kalau dokterkan ramenya terusan. Aku nggak muna lho ya," ucap Dokter Fadil.

"Ehm … tapi, maaf ya Mas. Emang nggak papa kalau kita akrab begini? Saling manggil nama kaya sekarang. Aku cuma nggak enak aja, siapa tau ada yang marah gitu. Mas udah nikah kan pastinya. Nggak mungkin seorang dokter yang udah sukses gini, masih nggak punya istri," ucap Sarah.

Dokter Fadil yang sedari tadi tersenyum lebar dan cenderung tertawa, kini hanya tersenyum tipis dengan tatapan yang terlihat sendu.

"Tiga tahun," ucapnya sambil memandang ke depan, memalingkan matanya dari tatapan Mira.

"Oh … jadi Mas udah nikah selama tiga tahun?" terka Sarah.

"Tiga tahun lalu dia meninggal saat melahirkan anak kami," ucap Dokter Fadil.

Sarah begitu terkejut dan merasa tidak enak hati karena mengingatkan kembali masa lalu yang menyedihkan bagi sang dokter.

"Innalillahi … maaf, Mas. Aku malah ngingetin lagi hal sedih itu," sesal Sarah.

"Nggak papa. Lagi pula, aku sudah ikhlas kok," aku Fadil.

"Lalu, di mana anak itu sekarang?" tanya Sarah.

"Dia ikut mertuaku di Surabaya. Aku juga berencana akan pindah ke sana agar bisa dekat dengan putriku," ucap Fadil.

"Jadi, dia seorang anak perempaun. Pasti cantik seperti ibunya," tebak Sarah.

"Yah … dia memang seperti ibunya," sahut Fadil.

"Apa kamu tidak berencana memberinya seorang ibu sambung, Mas? Rasanya pasti sedih tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu," ucap Sarah.

"Entah lah. Aku belum berpikir sejauh itu. Mungkin nanti kalau sudah ketemu orang yang tepat dan mau menyayangi dia dengan tulus," jawab Fadil.

Sarah nampak mengelus perutnya yang mulai sedikit membuncit.

"Kamu sendiri. Apa yang selalu membuatmu murung?" tanya Fadil.

"Hah …," helaan nafas berat kembali terdengar dari mulut wanita hamil itu.

"Apa seberat itu?" tanya Fadil lagi.

"Ukuran berat untuk setiap orang pastu beda-beda. Tapi menurutku ini sangat, sangat berat sekali," jawab Sarah sambil menutup matanya, mencoba menghalau air mata agar tak kembali mengalir dari matanya.

Dada Sarah seakan kembali terasa sesak dengan semua masalah yang ia alami saat ini, seakan menghimpit setiap rongga di dadanya hingga ia susah untuk bernafas.

"Aku … aku dinikahi pria beristri, tanpa ku tau kalau dia sudah punya istri," tutur Sarah.

Wanita itu pun akhirnya bercerita kepada Fadil tentang masalah rumah tangganya dengan sang suami.

Fadil mendengarnya dengan seksama setiap kata yang diucapkan, oleh pasien yang mulai mau terbuka padanya.

Sarah kembali menangis saat menceritakan semua unek-unek di dalam hatinya kepada dokter itu.

Fadil merasa iba, akan tetapi dia tak bisa berbuat banyak selain mendengarkan saja. Dia sadar batasan antara pria dan wanita, terlebih Sarah berstatus istri orang. Tak mungkin baginya untuk memeluk wanita itu walau hanya sekedar bertujuan untuk menenangkan.

"Aku nggak tau harus bagaimana sekarang. Rasanya ingin sekali pergi jauh, ke tempat di mana tak ada satu orang pun yang akan mengenaliku. Aku sangat lelah dengan semua hinaan, cacian dan makian yang terus terlontar padaku," tutur Sarah dalam isaknya.

Kini Fadil tahu semuanya. Rasa ibanya sungguh membuat dirinya ingin selalu mengawasinya, memastika bahwa Sarah akan baik-baik saja. Setidaknya hingga ia berhasil melahirkan anaknya nanti.

...🥀🥀🥀🥀🥀...

Sebulan sudah sejak perbincangan santainya dengan sang dokter, Sarah kini semakin jarang pergi ke rumah sakit untuk menangani masalah kram perutnya.

Ditambah lagi, dia sudah bertukar nomor ponsel dengan Fadil, dan membuat dokternya bisa dengan mudah memantau dan mengingatkan Sarah agar tetap mencoba bahagia.

Saat itu, Sarah baru saja selesai mandi. Hari ini dia akan pergi ke sebuah mall di kota semarang, untuk bertemu dengan teman-temannya.

Sudah sejak dua bulan lalu, tepatnya saat kabar kurang enak tentangnya beredar, Sarah lebih memilih untuk selalu mengurung diri di rumah.

Namun, kini dia memilih untuk mau membuka diri kembali, dan mencoba keluar untuk mencari suasana baru.

Sarah sudah meminta ijin kepada Miko saat malam harinya lewat sambungan telepon, karena saat ini pria itu sedang bersama dengan istri pertamanya.

Miko sangat senang mendengar Sarah sudah mau pergi keluar dan bersenang-senang, dan dia pun seketika itu mengijinkannya pergi.

Dia memakai dress terusan panjang bermotif floral dengan lengan panjang yang ditekuk hingga siku.

Perurnya yang semakin membuncit mengingat usia kehamilannya yang sudah memasuki bulan ke lima, membuat gaun itu nampak nyaman dipakai oleh Sarah.

Sarah selalu memakai jasa taksi online untuk mengantarkannya ke mana pun ia pergi.

[Mas, aku berangkat dulu,] pesan Sarah kepada sang suami.

[Hati-hati yah,] balas Miko.

Sarah pun pergi ke tempat yang dijanjikan.

Sesampainya di sana, Sarah berjalan masuk dari lobi, dan naik menggunakan eskalator menuju ke area food court.

Namun, di tengah jalan, Sarah melihat sebuah toko yang menjual keperluan bayi. Matanya terljihat berbinar, dan dia pun masuk untuk melihat-lihat.

"Wah … lucu sekali," gumam Sarah saat melihat sebuah sepatu bayi berwarna biru dengan karakter kucing di atasnya.

Dia mengambil sepasang sepatu dan juga sebuah pakaian bayi lucu, lengkap dengan penutup kepalanya.

"Totalnya dua ratus tiga puluh satu ribu rupiah," ucap kasir kepada Sarah saat akan membayarnya.

Wanita itu lalu mengeluarkan kartu debitnya dan menyerahkan kepada petugas kasir tadi.

"Terimakasih. Silakan datang lagi," ucap kasir itu setelah selesai memperoses pembayaran.

"Sama-sama," sahut Sarah dengan senyumnya yang selalu ramah.

Dia pun keluar sambil menenteng satu tas belanjaan berisi benda-benda mungil yang ia beli untuk calon anak yang masih ada di dalam kandungannya.

Ketika dia sedang berjalan menuju ke tempat janjian dengan ketiga temannya, tanpa sengaja Sarah melihat Lidia yang sedang berjalan tak jauh dari tempatnya saat itu.

Entah kenapa, melihat Lidia, Sarah ingin sekali menyapanya dan berbicara dengan wanita yang tak lain adalah istri pertama suaminya, yang sudah pasti sangat membenci dirinya.

"Mbak Lidia! Mbak!" panggil Sarah.

Mendengar namanya diteriakkan, Lidia pun menoleh dan mencari arah sumber suara. Raut wajah yang sedari tadi terlihat ceria bercanda bersama dengan teman-temannya, seketika berubah gelap.

Dadanya naik turun menahan marah karena melihat keberadaan madunya di sana. Bahkan dengan santainya memanggil namanya dengan tersenyum lebar.

"Mau apa sih dia?" gumam Lidia jengah melihat kehadiran Sarah.

"Siapa sih, Lid?" tanya salah satu teman Lidia, Wina.

"Nggak penting. Udah lah cuekin aja, yuk!" ajak Lidia yang kembali berbalik dan hendak pergi dari sana.

Namun, Sarah kembali memanggilnya dan membuat teman-teman Lidia pun semakin penasaran.

"Kayaknya nggak asing deh. Kayak pernah lihat," ucap teman Lidia yang lain, Desti.

"Hah … dia istri mudanya Miko," jawab Lidia dengan malas.

"Oh … jadi dia si pelakor itu. Ngapain dia manggil-manggil kamu? Pake senyum-senyum kayak gitu. Dasar nggak tau malu," maki Jeni, teman Lidia yang juga berada di sana.

"Udahlah. Yuk nggak usah direwes," ajak Lidia yang sudah muak melihat wajah Sarah.

Namun, Sarah nampak berjalan menyusul ke arah Lidia, dan hal itu membuat Jeni yang berjalan di belakang, seketika berhenti dan menahan Sarah untuk tidak semakin mendekat kepada Lidia.

.

.

.

.

Jangan lupa like dan komen di bawah ya guys😊mohon dukungannya🙏

1
Jmath
Tidak bisa seratus persen menyalahkan Miko, jika Sarah tidak mulai meladeni Miko juga semua ini tidak akan terjadi
Jmath
kurang nya perhatian istri membuat Miko akhirnya mencari perhatian itu dari wanita lain
Jmath
laki-laki yang tidak bersyukur
Jmath
miko adalah laki-laki yang wajib dihindari
Surati
ceritanya bagus 👍🙏🏻semangat thor 💪
Bundanya Pandu Pharamadina
otw di mari mbak Author
Windarti08
yg punya lobang bukannya ngusir tikusnya, tapi malah keenakan Thor... 🙈🙈🙈
🐌KANG MAGERAN🐌: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Windarti08
aku tuh lugu dan polos Thor... jadi gak tau "Dia yg udah bangun" itu siapa?
kasih penjelasan dong Thor... jangan digantung kek jemuran di musim hujan gitu🤭😆
🐌KANG MAGERAN🐌: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Windarti08
woles Mas Tino... jangan nge_gas gitu ah, wong adikmu maunya cuma sama Pak duda yg kamu panggil berengsek dan badjingan itu, gimana dong😅😅
Windarti08
hukuman untuk Lidya dibayar kontan... dulu dia menolak untuk hamil dan menjadi Ibu demi karir yang sedang melejit, sekarang... dia divonis kena kanker ovarium stadium lanjut dan terancam diangkat rahimnya. hmmmm.....miris sekali
Windarti08
mamam tuh hasil dari keegoisanmu Lidya... jangan nyalahin Miko doang, kau pun punya andil yg besar dalam kehancuran rumah tanggamu.
bukannya dulu kau yg nantangin Miko buat nikah lagi saat Miko minta kau untuk hamil, knapa jadi kau salahkan Miko jahat karena dia nikah sm Sarah? mengapa batas sekarang kau mau berubah untuk menjerat Miko kembali padamu lagi? udah telat Lidya!
sekarang saatnya kau instropeksi diri
Windarti08
jadi, sebenarnya Miko sadar kalo bayi perempuan itu bukan anak kandungnya...
Windarti08
Jefry Budiawan siapa ya Thor... maaf, apa ada yg aku lewatkan?🤔
Windarti08
mungkin emang lebih baik si jabang bayi gak selamat, Allah lebih sayang dia, jadi diambil lagi oleh pemilik yg sesungguhnya, daripada ia hidup menjadi rebutan dan orang tuanya gak utuh lagi
Windarti08
hadeh... apa sih maunya Sarah ini... kalo bisa menghindari pertemuan dengan Lidya, knapa ini malah ngejar Lidya? ntar ujung-ujungnya sakit hati karena lidah tajam Lidya beserta teman-temannya, kram lagi tuh perut😏😏
Windarti08
perasaan dokter Fadil luang banget waktunya... selalu bisa ketemu saat Sarah menenangkan diri di taman RS
Windarti08
ntar kalo udah lahiran Miko masih gak tegas dengan pernikahan poligaminya pisah aja Sar, gugat cerai Miko.
ngapain masih bertahan dengan laki-laki gak punya pendirian seperti Miko.
dia yg salah, Sarah yg dihujat ibu-ibu bermulut pedas
Windarti08
mungkin yang dimaksud author IGD kali ya...😅✌
🐌KANG MAGERAN🐌: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 3 replies
ℒ⃝esℽαͦ°᭄🐾
dih othor ngeprenkk nih
🐌KANG MAGERAN🐌: maaf kan othor yang iseng ini 😅
total 1 replies
ℒ⃝esℽαͦ°᭄🐾
puber kedua si miko, salah lidya jg sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!