Satu rumah dengan orang yang paling kita cintai, memang impian semua orang, tapi bagiku itu seperti neraka.
Bagaimana jadinya jika pernikahan yang seharusnya tumbuh karena cinta dan malah terjadi karena ketidaksengajaan.
Dan di satu rumah kan bersama orang yang kita sayangi namun berakhir tragis.
bagaimana kelanjutan kisahnya, jangan lupa untuk menambahkan ke favorit biar dapat informasi updatenya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Resti Fauziah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketiduran
*pagi hari*
Pantulan cahaya matahari menyilaukan mata dan mau tidak mau aku harus bangun dari tidurku karena tandanya hari sudah mulai siang.
"Hoammm" Aku menguap dengan lebarnya tanpa memedulikan ada orang atau tidaknya disekeliling.
"Astaga apa yang terjadi semalam? " Aku bertanya pada diri sendiri sambil sedikit menjambak rambuku mencoba mengingat kejadian semalam.
Aku melihat sekeliling, ternyata danial tidak ada di kamar dan belanjaan yang kami beli kemarin juga masih tergeletak di meja.
"Astaga, kemarin aku gak mandi dan langsung tidur" Kataku sambil mencium bajuku yang sudah bau kembang 7 rupa.
Aku melihat tas belanjaan yang oma kasih kemarin ternyata masih berjejer si samping lemari danial, aku mengambil salah satu dress dan segera mandi, tidak lupa juga mengambil beberapa daleman yang kemarin aku beli bersama danial.
Selesai mandi, kini aku mengenakan dress setinggi lutut tidak lupa juga menambahkan sedikit makeup natural dan merapikan rambut.
Aku keluar kamar mencari keberadaan danial, ternyata dia masih tidur di sofa ruang keluarga.
Aku yang melihat itu langsung teringat kata bu yuri kalau oma sangat tidak suka melihat ada yang tidur tidak dikamarnya.
Aku segera menghampiri oma yang sedang duduk di kursi goyangnya.
"Oma, maafin aku danial tidur disini gara-gara aku" Kataku sambil berlutut.
"Ada apa ini? " Tanya oma heran melihatku tiba-tiba berlutut meminta maaf.
"Zia ada apa? " Bu yuri yang baru datang dari dapur segera meraihku untuk berdiri.
"Bu oma, maaf. Danial tidur disini gara-gara aku, semalam aku gak ingat apa-apa langsung tidur di kasur danial, mungkin danial kesal sama aku makanya tidur disini" Aku berusaha menjelaskan pada mereka.
" Astaga zia" Kata bu yuri.
"Maaf Bu" Kataku lagi.
"Kamu tuh ya, danial tidur disini baru beberapa menit yang lalu, dia semalam tidur di kamar sama kamu, tadi dia bangun pagi-pagi dan pergi olah raga ya mungkin kecapekan makanya ketiduran" Bu yuri menjelaskan kenapa danial bisa tidur disini.
"Makanya kalo tidur jangan kayak kebo, belum mandi aja bisa tidur pulas banget" Ledek danial yang tiba-tiba bangun dari tidurnya.
"Ihhh, ya kan aku juga gak sengaja. Namanya juga ketiduran" aku berusaha membela diri.
"Udah-udah kok malah jadi ribut sih, ya udah kita makan dulu, ibu udah siapin" Kata bu yuri melerai aku dan danial.
"Iya ayo kita sarapan dulu" Ajak oma juga.
Kami semua sarapan bersama cuma yang aku heran aku jarang bertemu dengan ayah danial dan om noku disini, bahkan baru satu kali bertemu ayahnya saat di pesta oma waktu itu.
Selesai sarapan kami berkumpul di ruang keluarga kembali membicaran persiapan lamaran, aku melihatnya seperti akan mengadakan pernikahan aja, padahal waktunya masih 5 hari lagi.
"Zia, kamu kok cantik sekali sih pakai dress ini, betul gak salah pilih danial" Kata oma terus memujiku.
"Kan oma yang beli nya, kok bisa danial yang pilih? " Tanyaku heran, karena kemarin aku dan danial bersama terus jadi gak mungkin danial yang pilih.
"Kan oma sempat foto beberapa dress dan oma kirim ke ponsel danial, dan baju yang oma beli semuanya itu pilihan danial" Kata oma menjelaskan, Lagi-lagi danial tidak memberi tahu ku apa-apa.
"Pantes aja aku cari gak nemu celana, gak taunya pilihan danial" Kataku jutek menatap danial.
"Ya kan oma cuma tanya bagusan yang mana. Ya aku pilih yang bagus menurut aku" Kata danial membela dirinya.
"Iya terserah kamu" Kataku sambil duduk menghadap oma dan membelakangi danial.
"Oma, aku mau pulang kasian ibu dirumah sendirian, kan ayah dipindahin danial ke cabang lain dan pastinya pulangnya larut malam" Aku langsung mengutarakan niatku pada oma.
"Gak bisa zia, kan persiapannya belum semua beres" Kata oma menolak.
"Tapi kan" Ucapanku terpotong karena danial tiba-tiba memakaikanku jaket dari belakang.
"Kamu disini aja gak perlu pulang. Aku udah suruh pak prapto untuk cuti beberapa hari sampai kita lamaran, jadi ibu gak akan sendirian lagi dirumah" Kata danial dari arah belakangku karena aku masih duduk membelakangi danial.
"Kamu ngapain pakein jaket segala" Kataku heran sambil tetap membelakangi dia.
"Aku baru tau baju ini bagian belakangnya terbuka, dan aku gak rela kalo ini sampai dilihat orang lain, apalagi sekarang om aku ada dirumah, aku gak mau dia sampai rebut kamu" Kata danial berbisik sambil menyentuh punggungku.
"Kalian kalo mau pacaran gak usah disini, gak sopan banget sih" Bu yuri yang duduk disebelah oma marah melihat kami yang bisik-bisik.
"Enggak gitu bu, ini zia pake bajunya gak sopan makanya aku tutupi" Kata danial yang selalu bisa membela dirinya.
"Gak sopan gimana? Itukan kamu sendiri yang pilih nya" Kata oma menimpali, sepertinya oma juga gak tau kalo model bajunya seperti ini, aku aja yang pake juga baru tahu sekarang.
"Ya masa punggungnya kebuka gitu sih, gimana coba kalo orang lain liat? " kata danial sambil duduk merapat mendekatiku.
"Ya kalo itu sih oma gak tau, kan kamu yang pilih. Oma gak liat-liat lagi, langsung bayar aja" Kata oma membela dirinya karena tidak mau disalahkan danial.
"Zia kita kekamar dulu, ganti baju kamu" Ajak danial sambil sedikit menarik tanganku.
"Ehh, ngapain kamu ikut, kan aku bisa ganti baju sendiri" Kataku protes karena danial main ikut-ikut aja.
"Ya aku mau pastiin kamu pake bajunya gak yang modelan kayak gini lagi" Katanya menatapku sedikit sinis.
"Kalian tuh ya kok lucu sih, ya udah sana cepet ganti baju" Suruh oma, yang terus tertawa bersama bu yuri karena melihat tingkah danial yang aneh.
Aku berjalan ke kamar diikuti danial dibelakang, entahlah kenapa sekarang dia menjadi overprotective begini.
Dikamar aku memilih beberapa baju dan ternyata beberapa baju modelnya sama agak terbuka dan danial tidak mengizinkan memakai itu.
"Dan terus aku pakai apa? " Tanyaku pada danial yang terus memilih baju.
"Ini aja nih" Kata danial sambil menyodorkan dress warna merah dan lumayan tidak terlalu terbuka.
Aku ganti baju dikamar mandi karena gak mungkinkan ganti baju di depan danial.
Saat akan menaikan resleting belakang aku kesusahan karena tanganku tidak sampai.
Aku mencoba meminta bantuan pada danial walaupun sedikit canggung, aku membuka pintu kamar mandi dan mencari danial ternyata dia sudah tidak ada di kamar.
Saat sedang mencari danial tiba-tiba pintu kamar diketuk dan aku segera menghampirinya karena itu pasti danial.
"Kemana aja sih, aku cari-cari" Ucapku sambil membukakan pintu.
Ternyata itu om noku bukan danial, aku yang malu karena sudah salah bicara segera berbalik tanpa memikirkan bagian belakangku yang masih belum di resleting.
Tiba-tiba om noku meraih pinggangku dan menutup resletingnya, sambil berbisik di telingaku.
"Kamu gak boleh membiarkan tubuh kamu terekspos apalagi di depan danial" Kata om noku yang sama seperti danial tidak mau melihatku berpakaian terbuka.
"Maaf, tadi aku ganti baju terus tangannya gak nyampe, makanya sempet cari danial buat minta bantuan" kataku menjelaskan kejadian tadi.
"Oh begitu, tapi sebaiknya jangan libatin danial dalam masalah begini kalo belum resmi menikah, kalo bisa minta tolong kak yuri atau oma" Kata om noku sambil pergi keluar kamar
aku yang mendengar itu hanya bisa menganga tidak percaya seorang Brian yang terlihat seperti anak cupu berani berkata seperti itu padaku.
*
setelah Brian pergi aku melihat penampilanku di cermin, membetulkan sedikit riasan dan rambut yang sedikit acak-acakan.
aku keluar kamar dan mencari danial dan yang lainnya, ternyata mereka sedang membungkus beberapa hantaran untuk lamaran.
"kalian sedang apa? " tanyaku basa-basi.
"ini sedang bungkusin buat hantarannya, kemarin oma beli banyak dress buat kamu kan, dan ini oma beli beberapa dress hasil rancangan oma sendiri loh" kata oma dengan bangganya.
"tapi apa gak ngerepotin kalian, sampe segitunya buat persiapannya? " tanyaku basa-basi dan tidak enak juga melihat yang lainnya kelelahan.
"oma, tapi nanti malam aku gak mau sekamar sama danial ya, soalnya aku risih sekamar sama pria" pintaku dengan memelas pada oma, ini entah keberapa kalinya aku bilang pada oma, karena sudah sering bahkan oma jarang mendengarkannya.
"kan gak ada kamar lain lagi" kata oma berusaha menjelaskan padaku.
"ya udah suruh aja danial tidur di kamar aku, lagian malam ini aku gak ada di rumah kok" kata om noku sambil mengambil buah di meja makan dan menghampiri kami yang duduk di ruang keluarga.
"gak bisa lah, itu kan kamar aku. aku gak mau pergi" kata danial protes.
"ya udah, suruh aja zia yang tidur di kamar aku" kata om noku sambil terus memakan buahnya dan duduk dekat oma.
"iya betul kata om kamu, kalo kamu gak mau pindah ya zia yang pindah" kata oma menyetujui pendapat om noku.
"iya udah aku yang ngalah, zia tetep tidur di kamar aku, biar aku aja yang pindah ke kamar om, kalo zia yang pindah takutnya nanti om tiba-tiba pulang terus gangguin zia" kata danial sambil menatap tajam ke arah om nya.
"kamu ini bisa aja ngeles nya" kata oma pada danial.
*
setelah selesai melakukan beberapa persiapan lainnya, kami semua beraktifitas seperti biasa, aku yang tidak tahu harus apa, sibuk mengikuti bu yuri.
"zia dari pada kamu ngikutin ibu terus kan capek, mending kamu ganti beberapa bunga yang udah mulai layu di beberapa meja dan sudut rumah" kata bu yuri sambil menyodorkan pisau dan gunting besar.
"ini buat apa bu? " tanyaku penasaran.
"oh iya, itu bunganya ada di depan kamu petik aja sesuka kamu" kata bu yuri sambil terus melakukan kegiatannya.
aku yang mendapat tugas segera pergi kearah halaman depan dengan beberapa perkakas lainnya.
selesai memetik beberapa bunga, aku kembali masuk dan mengambil vas bunga yang sudah kosong, karena tadi bu yuri sudah membuang bunga yang layunya.
semangat terus up nya,, ceritanya bagus 😍💪
-cinta jangan datang terlambat
-ternyata itu cinta