Zayn adalah korban bully di sekolah dan di lingkungan rumahnya.
suatu hari Zayn yang sedang dikerjai oleh Clara dan teman-temannya di sebuah rumah kosong yang terlihat tua. Mendadak Zayn dapat melihat hantu setelah terjatuh dari kursi saat hendak mengambil sepatunya yang tersangkut di lampu hias yang tergantung di ruang tamu rumah kosong tersebut.
Zayn yang terjatuh itu pingsan dan setelah siuman, Zayn mendadak dapat melihat hantu cantik si pemilik rumah kosong itu.
Maudy. Ya, nama hantu cantik itu adalah Maudy.
Setelah pertemuan itu keduanya menjalin hubungan pertemanan.
Awalnya pertemanan itu tidak ada ketulusan karena saling ingin memanfaatkan.
tetapi apa jadinya kalau mereka berdua menjadi saling jatuh cinta karena terbiasa bersama?
"Kenapa lo jadi hantu?" tanya Zayn.
"Karena gue masih penasaran sebelum dendam gue terbalas."
"Lalu, setelah terbalas apa yang akan lo lakukan?"
"Gue hilang dari dunia ini, karena itulah perjanjian nya saat dulu gue nolak untuk dibawa ke alam selanjutnya," jawab Maudy.
"Deg," jantung Zayn seolah berhenti berdetak saat mendengar itu.
bagaimana kisah percintaan antara hantu dan manusia kali ini? yuk simak kaka semoga suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode lima belas (merawat bayi)
Di Hong Kong, Danesh sedang berada di pemandian air hangat, ia berendam dengan di kelilingi tiga wanita cantik.
Ia yang merasa haus memerintahkan salah satu dari mereka untuk mengambilkan jus jeruk yang berada di meja.
Salah satu dari mereka mengambilkan, di saat itu pula ia melihat ponsel Danesh terus bergetar.
"Boss, you got a call," ucapnya seraya menyerahkan ponsel Danesh.
"aaarrgh! nggak tau banget apa orang lagi senang-senang," gerutunya seraya menerima ponsel.
"Mira?" gumamnya.
"Halo, ada apa?" tanya Danesh.
"..........."
"Apa, kenapa bisa? Kamu becus nggak sih jagain anak," omel Danesh, lalu ia mematikan ponsel dan segera pergi meninggalkan para gadis, meraka hanya bisa menatap kepergian Danesh.
Setelah berpakaian, ia menuju ke hotel dimana Clara menginap.
Lalu, Danesh berpapasan dengan Clara di loby, ia masih bersama dengan pria lokal yang menyewa nya.
Danesh menyeret Clara, membawanya kembali ke kamar untuk bersiap meninggalkan Hong Kong.
"Hai, aku sudah bayar mahal untuk gadisku," teriak pria lokal itu, ia tak mau rugi.
Lalu ia mengikuti Danesh.
"Danesh, kau bisa membawanya nanti setelah kontrak selesai," teriaknya.
"Ini ada apa sih," tanya Clara seraya melepaskan tangan Danesh dari lengannya.
Lalu, Danesh menunjuk wajah pria yang terus mengikutinya.
"Nanti ku kembalikan separuh uangmu."
Mendengar itu membuat si pria akhirnya merelakan Clara.
"Ana, hilang," lirih Danesh seraya membantu Clara untuk membereskan barang-barangnya.
"Apa! hilang? Apa ini kerjaan Zayn?" gumamnya dalam hati.
"Bagus, Zayn. Kelemahan Danesh adalah keluarganya, terutama adiknya," Clara masih membatin.
______________
Sementara itu, di jakarta.
Amira sedang di mintai keterangan.
Lalu, ia teringat dengan pemuda yang sempat ia curigai.
Tapi, Amira tidak yakin pria itu pelakunya, karena Amira melihat sendiri kalau pria itu pergi.
"Apa Anda mengingat plat nomornya?"
"Tidak," jawab Amira yang kemudian menangis.
Ia takut kalau si penculik akan melukai anaknya.
____________________
Di rumah Maudy, di dalam kamar, ia sedang bermain dengan bayi yang ia culik.
Sedangkan Zayn membuatkan susu untuknya.
"Ini, kasih sama tuh bocah," kata Zayn seraya memberikan botol susu.
"Kamu pintar juga Zayn," puji Maudy.
"Bikin susu mah gampang," jawab Zayn seraya memakai jaket bersiap untuk pergi.
"Mau kemana, Zayn?" tanya Maudy seraya memberikan susu itu pada Ana.
"Pergi dulu, ada urusan."
"Jangan lama-lama, Zayn!" seru Maudy. Lalu, Maudy mendengar suara Ana yang seperti mengajak mengobrol.
"Apa, maaf ya, kami nggak akan celakai kamu kok," ucap Maudy dengan lembut, lalu Ana menanggapi dengan celoteh nya.
Maudy tersenyum melihat itu.
"Ternyata gini ya rasanya merawat bayi," gumam Maudy seraya menyangga dagunya menatap Ana yang sedang mengajaknya bermain.
Lalu datang Nanda, teman hantu Maudy.
"Anak siapa, Dy?" tanyanya.
"Anak orang lah, masa iya anak gue."
"Wah, Jangan-jangan ini anak mantan cowok lo ya?"
"Nggak lah, ngapain gue ngurusin anak dia, gue udah nggak perduli sama dia lagi," jawab Maudy seraya memainkan rambutnya di depan wajah Ana, membuat Ana merasa senang karenanya.
"Kirain. ngomong- ngomong mana pacar lo? Tumben nggak bareng, biasanya udah kaya perangko nempel terus."
"Entah," jawab Maudy.
Sementara itu, Zayn yang sedang memasak nasi goreng spesial untuk pelanggannya itu berfikir, bagaimana caranya ia mendapatkan jantung untuk dikirim ke rumah Danesh.
Zayn, menuang nasi goreng ke piring lalu meminta Hadi untuk mengantarkan ke meja nomor 7.
Setelah memasak, Zayn pergi keruangan nya, ia berdiri di tepi jendela, matanya melihat pada seekor anjing yang sedang buang air kecil di bawah pohon seberang jalan.
"Gue punya ide," gumamnya, lalu Zayn berlari dan saat di pintu masuk ia menabrak seorang wanita.
"Auuu," pekik wanita itu.
"Maaf, saya buru-buru," jawabnya kemudian pergi meninggalkan wanita itu.
Lalu terdengar suara wanita yang memanggil namanya, "Zayn."
Zayn pun melihat ke arah sumber suara.
"Nilam," sahut Zayn.
Lalu Zayn kembali teringat pada anjing yang akan ia tangkap, ternyata anjing itu sudah pergi entah kemana.
"Zayn, lo cari apa?" tanya Nilam yang mengikutinya.
"Nggak mungkin gue cerita sama lo," gumam Zayn dalam hati.
"Bukan apa-apa," jawab Zayn.
Lalu Zayn dan Nilam kembali ke kafe.
"Lo mau pesan apa?" tanya Zayn seraya mengantar Nilam untuk duduk.
"Lo kerja di sini, Zayn?" tanya Nilam.
"I-iya," jawab Zayn berbohong.
"Gue dengar di sini ada makanan favorit nya, apa itu?" tanya Nilam menatap Zayn.
"Semua favorit dan istimewa, tapi mereka banyak yang mengidolakan nasi goreng gue," ucap Zayn.
"Mau nasi goreng?" tanya Zayn.
"Boleh, kebetulan aku laper," jawab Nilam seraya tersenyum menunjukkan gigi putih rapihnya.
Zayn segera membuatkan nasi goreng spesial, setelah matang ia meminta pada Baron untuk mengantarkan pesanan Nilam.
"Loh, Mas yang tadi mana?" tanya Nilam mencari keberadaan Zayn.
Ternyata, Zayn sudah bersiap untuk pergi.
Nilam dapat melihat Zayn dari tempatnya duduk, ia sedang memarkirkan motornya di parkiran.
"Clara harus tau kalau Zayn bekerja di sini," gumamnya seraya menyantap nasi goreng tersebut.
"Emmm." Nilam membulatkan matanya saat mengunyah nasi goreng Zayn.
"Nggak nyangka gue, anak itu pinter masak."
Nilam melanjutkan makannya.
______________
Di rumah Maudy, ia sudah berdandan cantik, menunggu Zayn.
"Semoga Zayn nggak lupa sama hari ini," gumam Maudy yang sedang menatap dirinya di pantulan cermin.
Lalu terdengar suara tangisan dari bayi, Maudy tersadar, lalu ia menggendong Ana. Namun, Ana masih menangis membuat Maudy merasa bingung.
"Aduh, ini anak kenapa lagi, apa laper ya. Tapi baru aja gue kasih susu," gumamnya.
"Duh, mana Zayn lama banget lagi. Kemana sih dia," gerutu Maudy.
Lalu, Maudy merasakan kalau ada sesuatu yang menarik ujung dress nya.
"Ini tuyul, udah gue kasih susu kenapa masih di sini aja sih," kata Maudy.
"Kan tadi udah gue kasih susu, mau apa lagi. Lagian kenapa lo masih di sini?" tanya Maudy menatap kesal pada tuyul yang dianggap mengganggunya.
"Mungkin dedenya popol," kata tuyul mencoba memberi tahu.
Lalu, Maudy membuka popok Ana.
"Aduh, mana berak lagi nih bocah." Maudy merasa kebingungan, bagaimana cara mengganti popok bayi.
"Aduh, repot banget sih ngerawat bayi," gerutunya. Maudy bersedekap dada, merasa jijik, tidak ingin mengganti popok itu.
Tidak lama kemudian datang Zayn yang membawa kotak.
"Zayn, dari mana aja sih."
"Cari ini," jawab Zayn seraya menunjukkan kotak.
"Apa itu," tanya Maudy seraya membuka kotak.
"Hah! lo dapat ini dari mana Zayn?"
Zayn menjawab dengan berbisik di telinga Maudy.
"Astaga, gue kira lo ngebunuh orang Zayn," jawab Maudy seraya mengusap dadanya.
"Terus, mau sampai kapan kita nyimpan bayi ini Zayn?" tanya Maudy seraya menatap Ana.
"Ntar, tunggu waktunya. Kalau sekarang kita taruh panti, nanti bisa ketemu sama polisi, gue yakin polisi sama keluarga Danesh lagi sibuk cari dia," jawab Zayn.
Lalu terdengar suara rengekan dari Maudy, "Zayn."
"Hmm," jawab Zayn seraya melepaskan popok yang sudah kotor.
Zayn mengganti popok itu menggunakan kain selendang yang berada di rumah Maudy.
"Zayn, itu kan punya gue, gue belinya jauh sampe ke luar negri Zayn," lirih Maudy menatap tak rela kalau selendang itu di gunakan Ana.
"Sekarang masih pakai nggak?"
Bersambung