Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJODOHAN
Pelangi berontak, menggerakkan tubuhnya dengan kuat agar terlepas dari cengkeraman orang misterius yang menariknya ke dalam gudang tersembunyi.
"Shuut, diamlah. Aku suruhan Tuan Farhan Andreas." Orang asing itu berbisik di telinga Pelangi.
Mendengar ucapan orang asing itu, seketika membuat Pelangi diam bagai patung. Kebingungan menyergap pikirannya, untuk apa Tuan Farhan mengirim orang untuk membuntuti dan menangkapnya?
"Apa mereka rentenir?" tanya orang asing itu lagi.
Pelangi mengangguk. "Bagaimana kamu tahu kalau mereka itu rentenir?"
"Biar Tuan Farhan yang jelaskan nanti kepadamu, aku sama sekali tidak berhak untuk mengungkapkan apa pun padamu," ujar pria itu dengan tegas, lalu membalik tubuh Pelangi agar mereka dapat saling bertatapan.
Pelangi menahan napas saat melihat sosok asing itu. Pria itu ternyata sangat tampan, walau tidak setampan Gilang, tetapi wajahnya dapat bersaing dengan wajah Toni yang manis dan tidak membosankan. Sementara tubuhnya sangat tinggi, setinggi Gilang dan Toni, rambutnya cokelat, senada dengan warna bola matanya, kulitnya kuning langsat, dengan garis-garis urat kebiruan yang menonjol--sepertinya pria itu rajin berolahraga.
"Dengarkan aku. Aku Andrew, salah satu asisten pribadi Tuan Farhan. Aku diminta untuk membawamu menghadap Tuan Farhan saat ini juga. Jadi, jangan banyak bertanya, jangan membantah dan turuti saja apa yang kukatakan." Andrew mengguncang tubuh Pelangi, karena gadis itu sejak tadi hanya menatapnya dengan bengong.
"Aah, iya, iya, aku akan pergi denganmu tanpa banyak bicara," desis Pelangi, sambil memperagakan gerakan tutup mulut.
Andrew mengangguk, lalu segera mengintip di celah yang terdapat pada dinding gudang tersembunyi itu. "Ayo, para rentenir itu sudah tidak ada." Andrew menarik pergelangan tangan Pelangi dan menuntun gadis itu melewati gang-gang sempit menuju mobilnya terparkir.
Setibanya di depan mobil mewah milik Farhan Andreas, Andrew membukakan pintu mobil tersebut untuk Pelangi dan meminta Pelangi untuk masuk, sementara ia sendiri segera duduk di belakang kemudi.
Perjalanan menuju kediaman Farhan memakan waktu lebih kurang satu jam. Pelangi sangat antusias saat mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah. Sesuatu yang sangat kebetulan, di saat Pelangi memang berniat untuk menemui Farhan dan menceritakan kebusukan Gisel, pria itu malah mengutus seseorang untuk membawanya bertemu dengan sang CEO.
Sekarang tidak ada keraguan lagi bagi Pelangi untuk membatalkan rencana pernikahannya Gilang dan Gisel. Walaupun ia sedikit merasa tidak tega, karena harus memisahkan Gilang dari wanita yang dicintainya, tetapi hal itu lebih baik daripada harus melihat Gilang dikhianati terus-terusan. Kehadiran Andrew yang merupakan asisten Farhan bagai pertanda bagi Pelangi, bahwa apa yang akan dilakukannya adalah tindakan yang benar.
"Ayo turun," ujar Andrew, membuyarkan lamunan Pelangi.
Pelangi mengangguk, kemudian mengikuti langkah Andrew memasuki bangunan mewah bergaya Eropa klasik di hadapannya. Begitu menginjakkan kaki di kediaman mewah tersebut, Pelangi tidak dapat menutupi kekagumannya.
"Waaah, ini rumah?" tanya Pelangi, entah pada siapa, sambil terus memandangi setiap jengkal bangunan luar biasa tersebut.
Sebuah perapian menarik perhatiannya, membuatnya bertanya-tanya apakah penting memiliki perapian jika tinggal di Indonesia, yang memiliki cuaca panas hampir sepanjang tahun. Saat musim penghujan pun, hawa panas masih saja terasa, apa gunanya perapian.
"Selamat datang." Sebuah suara mengejutkan Pelangi, yang sejak tadi memandangi perapian, sehingga tanpa sengaja tubuhnya menabrak Andrew yang berdiri di hadapannya dengan tubuh setengah membungkuk.
"Jaga sikapmu dan cepat beri hormat," desis Andrew.
Pelangi kemudian sadar bahwa Farhan Andreas, sang tuan rumah sedang berdiri di tengah ruangan. Pelangi segera membungkuk hormat, mengikuti perintah Andrew.
Suara tawa pria tua itu membahana memenuhi ruangan, dipantulkan oleh dinding-dinding berlapis kertas dinding bermotif kayu yang sangat elegan. Kemudian, terdengar suara pria itu, "Tidak usah sungkan. Kemarilah, Nak, ada yang ingin kubicarakan padamu."
Pelangi mengerjap bingung, apakah kata "Nak" yang keluar dari bibir sang CEO itu memang untuknya, atau untuk Andrew.
"Ssst, cepatlah! Tuan memanggilmu," desis Andrew, saat dilihatnya Pelangi tidak bergerak sama sekali.
Mendengar ucapan Andrew, Palangi segera berjalan menghampiri Farhan. "Ya, Tuan," ucap Pelangi, begitu tiba di hadapan Farhan.
Farhan kembali tertawa. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Panggil saja aku seperti Gilang memanggilku."
Sekali lagi Pelangi mengerjap bingung, tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Farhan Andreas. Lagi pula ia tidak tahu bagaimana cara Gilang memanggil ayahnya.
"Kamu suka rumah ini?" tanya Farhan, sambil berjalan menuju sofa terdekat. Pelangi membuntuti dengan ragu. "Kamu bisa memiliki rumah ini jika kamu mau," lanjut Farhan.
Pelangi terbatuk karena terkejut.
"Bagaimana menurutmu jika aku memberikan rumah ini padamu?" Farhan kembali bertanya, saat ia telah duduk di atas sofa.
Pelangi mencoba memahami perkataan Farhan. Kemudian gadis itu menarik kesimpulan bahwa Farhan bermaksud untuk memintanya menjadi asisten rumah tangga di rumah besar itu, mengurus rumah itu dengan baik, karena ia adalah seorang petugas kebersihan di kantor milik Farhan.
Pelangi menegakkan tubuh dan menjawab dengan lantang. "Saya akan membersihkan rumah ini dan menjaganya sebaik mungkin. Tidak akan saya biarkan secuil pun debu menempel di setiap perabotan yang ada. Saya akan rajin mengepel dan--"
"Cukup." Farhan memotong ucapan Pelangi, kemudian tertawa terbahak-bahak. "Semua hal itu akan dilakukan oleh pelayan rumah ini. Aku sendiri tidak memiliki gagasan untuk merekrutmu sebagai pelayan, Nak."
Nah, kali ini Pelangi benar-benar kebingungan. "Lalu, Anda ingin saya melakukan apa?"
"Jadilah menantu di rumah ini."
Tubuh Pelangi limbung, hampir saja ia terjatuh, seandainya saja tidak ada Andrew yang berdiri di sampingnya dan dengan sigap memegangi lengannya.
"Maksudnya?" tanya Pelangi.
"Apa belum jelas maksudku, Nak? Aku ingin kamu menikah dengan Gilang."
***
Gisel menanti kedatangan Gilang di lobi apartemen. Sejam yang lalu, Gilang meneleponnya dan memintanya untuk bertemu. Gisel yang saat itu sedang berada di Hotel Blossom, segera kembali ke Apartemen untuk menanti kedatangan Gilang.
Tidak berapa lama kemudian Gilang tiba. Pria yang selalu terlihat memesona itu berjalan menghampiri Gisel dan memberikan pelukan hangat untuk wanita itu.
"Sudah menungguku sejak tadi?" tanya Gilang.
"Tidak juga. Mau ke mana kita?" tanya Gisel.
"Ke butik. Kita harus menyiapkan semua ini." Gilang menyerahkan secarik kertas yang dipenuhi tulisan tangannya kepada Gisel.
Gisel menerima selembar kertas itu dan memperhatikan isinya. "List," ucap Gisel.
"Ya, itu adalah semua barang yang kita perlukan menjelang pernikahan. Gaun, cincin dan lainnya. Aku menyiapkannya sendiri, Sayang."
Gisel tidak percaya jika ternyata Gilang begitu amat mencintainya, sehingga pria itu menyiapkan segalanya dengan matang.
"Apakah ayahmu setuju? Sejak kita membicarakan pernikahan, belum sekalipun kita membicarakan restu ayahmu. Kamu tahu 'kan, kalau ayahmu tidak begitu menyukaiku."
Gilang mengecup punggung tangan Gisel dan berkata, "Dia pasti setuju. Hidupku adalah milikku. Aku yang menjalani, maka aku pula yang berhak menentukan."
Gisel mengangguk, kemudian memeluk Gilang, agar pria itu yakin akan cintanya. Saat itulah Gilang tanpa sengaja menyentuh perban yang terpasang di siku Gisel.
"Sayang, apa yang terjadi? Kamu terluka?" tanya Gilang, terlihat sangat khawatir.
"Ah, ini, tadi ada pekerja Hotel Blossom yang tiba-tiba mendorongku tanpa alasan."
"Hotel Blossom? Apa yang kamu lakukan di sana?" Gilang kebingungan.
Gisel yang keceplosan segera mencari alasan. "Seorang teman mengajakku makan siang bersama di sana. Saat itulah aku bertemu gadis sialan itu, yang tiba-tiba saja mendorong tubuhku tanpa alasan."
"Gadis sialan, berani sekali dia melakukan hal itu padamu." Gilang tidak lagi tertarik tentang teman yang dikatakan Gisel, sehingga ia tidak bertanya lebih lanjut. Fokusnya lebih tertuju pada luka di siku sang kekasih.
"Aku sudah meminta manajer hotel itu untuk memecatnya dan meminta pekerja itu untuk menemuiku dan meminta maaf langsung padaku."
"Oh, ya."
Gisel mengangguk. "Iya."
"Aku akan ikut jika gadis itu akan menemuimu. Biar aku yang beri dia pelajaran."
Bersambung ....
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..
btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
rasa nya kok sedih yaa..
Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
gemes sama Toni ..
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️