Apa rasanya ditanya kapan nikah hampir di setiap hari?
Mengesalkan!
Ya, itulah yang dirasakan oleh Ghaliza.
Tapi Ghaliza tak pernah menyangka jika ia harus menjadi ISTRI Rahasia dari seorang pria yang tak ia kenal.
Bingung ya?
Penasaran, ikuti kisahnya yuukk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Kepulangan Raja
Usai pesta meriah di rumahnya, Isda harus merelakan anak perempuannya diboyong ke rumah menantunya. Tangis haru pun mewarnai kepergian Risma.
" Udah dong Bu, Risma kan pergi sama Suaminya bukan orang lain...,” kata Dono suami Isda.
" Iya, aku tau. Tapi aku ga tega ngebiarin Risma ngerjain pekerjaan rumah sendiri nanti...,” sahut Isda.
" Lho itu kan resikonya menikah. Setiap wanita yang menikah akan ikut aturan Suaminya. Kalo Suaminya kere, ya terpaksa harus mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Tapi kalo Suaminya kaya seperti Suaminya Risma, Bapak yakin Risma ga akan kesulitan nanti. Yang ada Risma bakal jadi bos yang tinggal tunjuk aja...,” kata Dono bangga.
lsda tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Setelah berpelukan sambil mengatakan banyak 'pesan' pada Risma dan Taufik, Isda pun melepas kepergian anak dan menantunya itu.
Seminggu kemudian saat ibu-ibu tengah berbincang santai di halaman rumah Isda, sebuah Taxi memasuki halaman. Dari dalam Taxi keluar lah Risma dengan wajah yang sembab. Semua orang yang melihat penampilan kusut Risma pun heran.
" Lho, kok Risma keliatan kusut gitu Bu Isda. Sendirian, nangis juga. Jangan-jangan dia dipukulin sama Suaminya
itu...,” kata Sri teman dekat Isda.
" Eh, jangan asal ngomong Bu. Belum tentu Anak Saya dipukulin. Wong si Taufik itu cinta banget kok sama Risma. Paling si Risma cuma kangen aja sama Saya. Maklum lah, kan selamat ini semuanya Saya yang ngurusin. Risma
tinggal bilang apa yang dia mau, semua langsung tersedia...,” kata Isda sambil mendekati Risma.
Sri dan beberapa ibu lainnya pun hanya mengangguk. Karena tak mau mengganggu, mereka pun membubarkan diri dan meninggalkan rumah Isda satu persatu. Isda langsung membawa Risma masuk ke dalam rumah.
Dono yang melihat kedatangan anaknya tanpa menantunya pun tampak mengerutkan keningnya.
" Kamu sendiri Ris.Mana Suamimu...?” tanya Dono sambil menoleh keluar rumah.
" Aku sendiri Pak. Mas Taufik ngusir Aku dari rumah...,” sahut Risma sambil menunduk.
" Apa...?!” kata Dono dan Isda bersamaan.
Risma menundukkan wajahnya. Ia tahu apa yang bakal diterimanya. Tapi Risma tak punya pilihan selain menerima apa yang akan dilakukan oleh kedua orangtuanya.
" Diusir, kok bisa. Emangnya kamu salah apa sampe Taufik ngusir Kamu...?” tanya Dono marah.
" Mas Taufik nyuruh Aku beresin rumah, tapi aku ga mau Pak...,” sahut Risma.
" Kamu gimana sih. Masa Cuma beresin rumah aja ga mau...,” kata Dono kesal.
Risma mendongakkan wajahnya lalu menatap wajah kedua orangtuanya.
" Mas Taufik ga adil Pak. Masa dia nyuruh Aku beresin rumah yang luasnya kaya lapangan bola itu sendiri. Nyuruh masak juga. Sedangkan Bu Mita malah ongkang-ongkang kaki di kamar...,” kata Risma hampir menangis.
" Bu Mita, siapa dia…?” tanya Isda.
" Dia Istri pertama Mas Taufik Bu…,” jawab Risma.
lsda dan Dono terkejut mendengar jawaban Risma. Mereka tak menyangka jika Taufik memiliki istri lain saat
menikahi anaknya.
" Mana mungkin, katanya dia ga punya Istri, makanya Bapak nerima lamarannya...,” kata Dono kesal.
" Apanya yang ga punya. Istrinya ada dua Pak. Dan dua-duanya tinggal di tempat yang sama. Aku ini Istri ketiga dan paling muda diantara Istri-istri Mas Taufik...,” sahut Risma sambil mengusap air mata di pipinya.
lsda dan Dono terkejut lagi mendengar jawaban Risma. Dengan emosi Dono menghubungi Taufik dan memintanya
datang ke rumah. Taufik setuju untuk datang tapi nanti setelah pulang dari bekerja. Mendengar jawaban Taufik, Dono kembali kesal. Namun ia berusaha menahan amarahnya karena tak ingin gegabah.
Malam harinya Taufik datang ke rumah Isda dengan mengendarai mobil. Semua tetangga menyaksikan mobil Taufik
memasuki halaman rumah Isda. Mereka mengira jika Taufik datang karena ingin menjemput Risma yang sedang ngambek.
" Dasar pengantin baru. Ada masalah dikit ngambek, terus kabur.Sebentar lagi pasti ikut pulang dan mesra lagi...,” gumam Sri sambil melihat ke arah rumah Isda.
Taufik terlihat mengetuk pintu. Saat pintu terbuka, Taufik langsung masuk ke dalam rumah. Kini Taufik duduk di
hadapan kedua mertuanya dengan santai.
" Ada apa Pak, mana Risma…?” tanya Taufik.
" Risma ada di kamar. Sekarang Bapak minta Kamu jelasin apa maksud semua ini Taufik...!” kata Dono.
" Apa yang harus dijelasin Pak. Risma Istri sah Saya, Saya Suaminya. Kami menikah sah di depan hukum agama dan negara. Saya juga sudah bayar mahar yang tinggi dan ngeluarin uang banyak untuk ngadain pesta pernikahan sesuai kemauan Ibu. Terus apalagi...?” tanya Taufik.
" Tapi Kamu Jadiin Anak Saya Istri ketiga...!” kata Isda marah.
" Lho masalahnya apa. Emang kenapa kalo Risma jadi Istri ketiga Saya. Saya mampu, Saya kaya. Saya juga bisa
menikah lagi untuk menggenapi jumlah istri supaya pas empat orang...,” sahut Taufik santai.
" Jangan keterlaluan Kamu Taufik. Kamu ga bilang kalo udah punya dua Istri. Dan sekarang Kamu malah jadiin Anak Saya kacung di rumahmu...!” bentak Dono marah.
" Saya ga keterlaluan Pak Dono. Bapak kan ga pernah tanya apa Saya punya Istri atau ga waktu melamar Risma. Jadi bukan salah Saya dong. Kalo tentang Risma, Saya hanya mendidik Istri Saya. Asal Bapak tau, Anak Bapak ini
manja, cengeng dan malas. Kalo mau dihitung untung rugi, Saya lah yang merasa rugi. Selain hanya cantik di luar, Risma itu ga punya kelebihan apa pun. Dia bodoh dan ga bisa apa-apa. Jangankan masak, beresin kamar dan setrika baju aja ga bisa...!” sahut Taufik tak mau kalah.
lsda dan Dono terdiam. Mereka sadar terlalu memanjakan Risma selama ini hingga Risma tumbuh menjadi gadis
yang manja dan tak memiliki kemampuan apa pun selain berdandan.
" Sekarang kalo Bapak dan Ibu ga suka Saya mendidik Risma dengan cara Saya, lebih baik Saya kembalikan Risma kepada Kalian...,” kata Taufik datar.
" Jangan…!" jawab Dono cepat.
" Jangan kembalikan Risma. Kalo Kamu kembalikan Risma, sama aja Kamu menceraikan dia. Padahal baru seminggu Kalian menikah. Masih banyak waktu buat Risma belajar jadi Istri yang baik nanti...,” kata Isda sambil menahan tangis.
" Iya, itu benar. Kasih kesempatan buat Risma memperbaiki diri...,” kata Dono dengan suara lemah.
" Baik, tapi Saya mau Bapak dan Ibu ga ikut campur dalam urusan rumah tangga Saya dan Risma...,” sahut Taufik.
Dono dan Isda saling memandang bingung.
" Kalian tenang aja. Saya akan kirim uang tiga puluh juta setiap bulan dan kehidupan Risma Saya yang menanggung. Gimana...?” tanya Taufik dengan tatapan mengintimidasi.
" Baik, Kami setuju…,” sahut Dono dan Isda secara bersamaan.
Taufik tersenyum penuh kemenangan. Kini Dono dan Isda tak punya muka untuk berdebat dengannya. Lalu dengan santai Taufik berdiri dan bersiap pergi dari rumah itu tanpa mengajak Risma.
" Apa Kamu ga ngajak Risma untuk kembali ke rumahmu...?” tanya Isda.
" Aku ga mengusirnya, Risma pergi atas kemauannya sendiri. Jadi dia harus pulang atas kemauannya sendiri juga…,” sahut Taufik.
" Tapi ini kan udah malam.Apa ga sebaiknya Risma pulang sama kamu...?” tanya Isda sambil berusaha membujuk
Taufik.
" Ga bisa, mobilku penuh, banyak barang pesanan klien. Lagi pula aku masih ada urusan sama temanku. Jadi suruh Risma naik Taxi aja...,” sahut Taufik sambil masuk ke dalam mobilnya.
Tak lama kemudian mobil Taufik pun meninggalkan rumah Isda tanpa membawa Risma. Dono dan Isda tak bisa berbuat apa-apa menghadapi sikap arogan Taufik. Sedangkan Risma sedih melihat bagaimana kedua orangtuanya dipermalukan oleh suaminya tadi.
\=====
Ghaliza sedang menikmati sepiring batagor saat Suci masuk dengan tergopoh-gopoh. Melihat umminya berjalan
tergesa-gesa, Ghaliza pun menegurnya.
" Ada apaan sih Mi, keliatannya panik banget...?” tanya Ghaliza.
" Gapapa, cuma lagi senang aja…,” sahut Suci sambil mengulum senyum.
" Senang kenapa…?” kejar Ghaliza.
" Oh itu, Ummi baru dengar dari tetangga kalo si Risma sekarang ada di rumah Bu Isda. Udah dua minggu kalo ga
salah…,” sahut Suci.
" Terus…?” tanya Ghaliza tak mengerti.
" Kata tetangga, si Risma kabur dari rumah Suaminya. Pas pertama dijemput dia ga mau ikut. Eh keterusan sampe
sekarang dan gantian Suaminya yang ga mau jemput...,” sahut Suci.
" Kasian. Kok Ummi malah senang…?” tanya Ghaliza tak mengerti.
" Bukan seneng ngeliat dia kabur. Tapi seneng karena kesombongan Bu Isda kemarin terjawab dengan kejadian
sekarang…,” sahut Suci.
" Emang kenapa Risma kabur...?” tanya Ghalizah.
" Kata Bu Sri si Risma itu ngambek gara-gara ga mau ngerjain pekerjaan rumah. Terus baru ketauan juga kalo ternyata si Taufik itu udah punya dua Istri sebelum menikah dengan Risma...,” jawab Suci.
" Hah, jadi si Risma itu Istri ketiga dong Mi...,” kata Ghaliza sambil menggelengkan kepalanya.
" Ya gitu deh. Ga tau tuh Pak Dono sama Bu Isda, kok bisa-bisanya nerima lamaran dari pria beristri. Padahal kan si Risma masih muda, gadis pula...,” kata Suci sambil mencuci sayuran di wastafel.
" Mungkin mereka juga ketipu Mi…,” sahut Ghaliza.
" Bisa jadi. Tapi masa iya mereka ga tau kalo si Taufik yang keliatan berumur dan tajir itu udah punya Istri. Kalo Ummi sih langsung curiga sejak melihat pertama kali. Yah, walau pun kaya tapi tetap harus perhatiin bibit, bebet dan bobotnya juga kan. Apalagi pernikahan itu kan sakral, kalo bisa sekali seumur hidup...,” kata Suci.
" Kaya Mas Raja ya Mi…, sahut Ghaliza sambil tersenyum.
" Betul. Biar pun dia orang kaya, tapi Ummi sama Abah tetap bertemu dulu sama keluarganya, terutama orangtuanya dan Eyangnya. Kami pastiin dulu kalo keluarga mereka keluarga baik-baik dan ga akan mempermainkan keluarga Kita. Mas Raja juga Kami tanyain dulu tentang maksud dan tujuan menikahi Kamu. Jadi
Kami tetap berhati-hati meski pun kata orang Anak Kami perawan tua, tapi dia masih gadis. Apalagi dia Anak perempuan Kami satu-satunya...,” kata Suci panjang lebar.
" Makasih ya Mi. Maaf udah sempet suudzon sama Ummi dan Abah dulu...,” kata Ghaliza sambil memeluk Suci erat.
" Sama-sama. Kami maklum kok sama sikapmu. Siapa pun pasti berpikir seperti Kamu jika ada di posisimu...,” sahut Suci sambil tersenyum.
Ghaliza dan Suci pun saling mengurai pelukan mereka. Dalam hati Ghaliza bersyukur, meski pun telat menikah, tapi ia mendapatkan suami yang baik dan nyaris sempurna.
\=====
Raja telah bersiap pulang ke Indonesia. Kepalanya terasa mau pecah karena menahan marah. Raja marah saat
mengetahui orang yang bekerja di perusahaan ternyata berani meremehkan istrinya. Selain itu mereka juga berani membully Ghaliza.
" Kita langsung ke perusahaan aja Fin...,” kata Raja kepada Arifin yang datang menjemput di bandara.
" Baik Pak...," sahut arifin sambil meraih tas dari tangan Raja.
Raja melangkah cepat menuju mobil. Lalu ia membuka simpul dasi di lehernya untuk sekedar memberi udara pada kerongkongannya yang terasa sesak akibat menahan marah.
Tak ada pembicaraan di perjalanan dari bandara menuju PT.Reksa Utama. Raja memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya. Ia membayangkan pertemuan dengan Ghaliza yang pasti sangat terkejut melihat kehadirannya nanti.
" Kita sampai Pak...,” kata Arifin lalu membukakan pintu untuk Raja.
Raja memperbaiki penampilannya. Setelahnya Raja keluar dari mobil. Ia berdiri sambil menatap gedung di depannya sambil mengulum senyum. Lalu Raja melangkahkan kakinya memasuki gedung.
" Suruh semua staf berkumpul di ruang meeting...,” kata Raja yang diangguki Arifin.
Lalu Raja masuk ke dalam lift dan langsung menuju ke ruang kerjanya. Raja melepaskan penat dengan merebahkan diri sejenak di atas sofa. Tak butuh waktu lama Arifin kembali menemui Raja dan memberitahu jika para staf sudah menunggu di ruang rapat.
" Ayo Kita liat apa yang bisa mereka lakukan...,” kata Raja sambil tersenyum tipis.
Sementara itu di Divisi Keuanga terlihat sibuk. Semua karyawan diminta bekerja lebih keras. Rheina panik karena pimpinan meminta semua staf termasuk dirinya untuk datang ke ruang meeting.
" Ada apaan sih An, kok kayanya tegang banget...?” tanya Ghaliza.
" Bu Rheina marah-marah karena dipanggil rapat sama pemilik perusahaan...,” sahut Anna.
" Terus kenapa bingung. Bukannya hal wajar kalo pemilik perusahaan ngadain meeting...? ”tanya Ghaliza.
" Iya sih. Tapi bikin panik kalo bahan yang mau dilaporin belum selesai dikerjain...,” sahut Anna cepat.
" Maksud Lo, Bu Rheina yang panik...?” tanya Ghaliza lagi.
" Iya. Gimana ga panik. Laporan Kita dari minggu kemarin cuma ditumpuk aja di mejanya. Ga dicek supaya ketauan
mana yang harus direvisi. Dia yang panik terus nyalahin Kita...,” sahut Anna sambil tersenyum kecut.
Lalu Ghaliza kembali ke mejanya. Sesaat kemudian Ghaliza meraba dadanya untuk menetralisir detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih cepat.
" Ya Allah ada apa ini…,” batin Ghaliza.
Ghaliza tak menyadari jika debaran jantungnya berkaitan dengan Raja. Suami yang dinikahinya tujuh bulan yang lalu. Ghaliza mencoba tenang dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tiba-tiba kasak kusuk terdengar dari beberapa karyawan. Rupanya ada inspeksi mendadak dari sang pimpinan terhadap kinerja semua karyawan di semua divisi.
Semua karyawan di Divisi Keuangan berdiri menyambut kedatangan sang Direktur Utama. Ghaliza pun ikut berdiri di samping mejanya seperti yang lain. Saat itu Ghaliza belum menyadari jika Direktur Utama yang mengadakan sidak adalah suaminya.
Aura dingin melingkupi ruangan saat suara sepatu berdetak memasuki ruangan. Hening tak ada suara. Hingga sepasang sepatu itu berhenti tepat di depan Ghaliza yang berdiri sambil menundukkan wajahnya.
bersambung