Season 1 kisah hubungan antara Sita, Agung dan juga Arum.
Season 2 berkisah konflik rumah tangga Aida dan Rama
"Eh, buset bang, panggilan spesial, emang lu pikir gue mau ma elu?" _Sita.
"Itu panggilan spesial buat dinda"_ Agung.
"Emak kawinin kamu Ta! Biar solehah." _emak Sari.
Perjodohan keduanya dilakukan saat Agung masih memiliki rupa yang menurut kebanyakan gadis tidak enak di lihat, meski dahulunya dia tampan.
Sita berusaha merubah lelaki itu kembali agar mau merubah penampilamnya.
Di tengah kebahagiaan mereka, Arum–sang mantan kekasih, kembali mengharapkan dirinya, bahkan dengan terang-terangan rela di jadikan istri kedua.
Apa, Sita dan Agung bisa menyelesaikan permasalahan rumah tangga mereka, akibat mantan yang selalu mengganggu?
Season 2
Aida yang merupakan adik kandung Agung, memiliki suami yang selalu menyusahkan keluarganya.
Konflik keduanya selalu melibatkan keluarga Sita dan Agung.
Sampai ... sebuah kejadian membuat lelaki pilihan Aida itu menyesal.
Apa mereka akan tetap bisa bersama, atau Aida memilih melepaskan sang suami pada akhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngga Jaim-Jaiman
Sita menyalami Aminah dan Agung yang berada di hadapannya, barulah dia mencium punggung tangan sang ibu yang menyodorkan sendiri tangannya ke depan wajahnya.
"Orang mah, Emaknya dulu di salamin, ini malah ibu mertuanya," seloroh Sari membuat ibunda Devi dan Ameliya tersenyum melihat kelakuan keduanya.
Kemarin Sita memang memberitahu sang ibu jika sahabatnya sedang di rawat di rumah sakit, namun dia tak habis pikir kenapa juga sang ibu mengajak serta merta Aminah dan Agung menjenguk Devi.
Sita menatap sebal sang ibu, lantas melirik Aminah yang berada di sebelahnya, paham dengan maksud sang putri yang minta penjelasan.
"Tadi calon mertua kamu mampir kerumah pas Emak mau ke mari, eh malah di anter segala, ya udah lah, apa mau di kata," Sari mendramatisir dengan berpura-pura menghela napas.
"Hilih Mak, biasa aja, muka seneng mah ngga bisa di tutup-tutupin," cibir Sita.
Sari lantas menepuk bahu sang putri, lantas obrolan mereka sekarang terfokus pada Devi, dengan menanyakan kondisinya.
Hingga pengeras suara yang terletak di atap kamar rawat inap mereka berbunyi, suara seorang perawat menegur keadaan kamar inap Devi yang sangat berisik, dan juga memberi tahu waktu besuk sudah selesai, pintu utama ruangan mereka akan di tutup.
Akhirnya Sita dan yang lainnya pamit undur diri, meninggalkan ibunda Devi yang masih harus menjaga sang putri.
Saat menyibak hordeng pemisah, Sita dan yang lainnya menahan tawa sebab para pembesuk di ranjang sebelah Devi, sedang menggelar tikar dan makan bersama.
Saat mereka sudah keluar dari ruangan itu Sita lantas tertawa di susul oleh Ameliya, "Ya Allah, nengokin orang sakit sambil piknik, aturan kita juga gitu tadi Mel," kelakarnya.
"Jangan gitu, ya kali mereka orang jauh, lagian ngomongin orang aja, kena tulah baru tau rasa!" balas Sari.
Dan seperti kata pepatah jika ucapan ibu adalah do'a, saat mengantar sang ibu, Agung dan Aminah ke parkiran, Sita tersandung dan Agung dengan sigap menangkapnya, sebelum lutut Sita mencium aspal.
"Khemmm ... hemm ... dah kaya sinetron aja!" celetuk Sari, yang di balas tatapan tajam Sita, sedang Ameliya menahan tawanya di lengan ibunda Sita itu.
"Nak Sita, sama nak Amel, kita makan siang dulu yuk, gimana?" ajak Aminah memecah rasa canggung keduanya.
"Ngga usahlah Aminah, ngga enak," Sita mencebikan bibirnya mendengar tolakan sang ibu yang berpura-pura.
Sekarang giliran Sari yang memelototinya, sebenarnya Aminah tau jika teman sekaligus calon besannya itu, mau di ajak makan siang bersama, hingga akhirnya dia pun pura-pura memaksa.
Mereka berdiskusi restaurant mana yang akan mereka kunjungi, Sita dan Ameliya hanya diam mendengarkan saja.
Setelah menemukan restorant yang di inginkan, Sari bersama Agung dan Aminah menaiki mobil bak terbuka milik Agung, sedang Sita dan Ameliya akan menyusul mereka menggunakan kendaraan umum.
Setelah ketiganya pergi, Sita mengomel sendiri, dia mengajak Ameliya untuk kabur saja, namun di tolak mentah-mentah oleh Ameliya, dia mengatakan jika itu hanya akan memperburuk citra Sita di mata Aminah.
"Bukannya bagus, jadi bu Aminah kan ilfil ma gue, batal kawin!"
"Ya ngga gitu juga caranya, kalo gitu elu bikin malu Emak, ngga kasian lu mau taro di mana muka Emak, kalo lu kaya gitu, udah sih ntar kita pikirin lagi," lantas menarik tangan Sita masuk ke angkot yang berhenti di depan mereka.
.
.
.
Mereka memesan makanan khas laut di restaurant lesehan itu, makanan tersedia cukup banyak di meja makan, membuat Sita dan Ameliya meneguk saliva mereka.
Dan dengan tak tau malunya, cacing-cacing yang tadi masih bisa di ajak kompromi, tiba-tiba berdemo, dan mengajak berdendang dengan suara yang mengalun indah di telinga.
Kruyuk ... Kruyuk ...
Wajah Sita merah padam menahan malu, "ayo makan Nak Sita, mumpung masih anget," Aminah lantas menggeser nasi mendekat ke arahnya.
Tak pikir panjang, Sita dan Ameliya yang duduk berdampingan segera menyendok nasi dan mengambil lauk pauk di meja itu, obrolan ringan pun mereka lakukan, meski sindiran selalu di lakukan oleh dua orang wanita paruh baya di hadapan Sita terhadap perkembangan hubungan keduanya yang masih jalan di tempat.
Sita tak ambil pusing, lagi pula mereka yang menjodohkan, dia juga merasa Agung seperti tak ada minat dengan perjodohan mereka.
.
.
.
Beberapa hari setelah di rawat, Devi sudah di izinkan pulang, bertepatan dengan hari libur Sita dan Ameliya, jadi selepas dari rumah sakit mereka membawa Devi kembali ke rumahnya langsung.
Sita dan Ameliya duduk di bale-bale depan rumah Sita, sambil memakan rujak buatan Sari. Bersenda gurau seperti biasa.
"Ta gua ambil minum dulu ya, minum es ngga ilang-ilang pedesnya," Ameliya lantas berlalu masuk ke rumah Sita.
Dia membawa teko di tangan kanannya, sedang di tangan kirinya membawa majalah kosmetik dagangan Sari.
"Masih jualan Soriplame Mak?"
"Iya mayan lah, buat nambah-nambah Emak beli lipstick," jawab Sari sambil menguleg pesanan pelanggannya.
Tak lama Andi beserta tim sepak bolanya datang dengan sorak sorai yang mengabarkan jika pertandingan yang dia dan kawan-kawannya lakukan menang.
"Menang kayaknya?" ucap Sita saat Andi yang langsung meneguk air di dekatnya.
Andi hanya mengacungkan jempolnya aja, Sita lantas membuatkan minuman Es segar untuk teman-teman adiknya.
Saat masih mendengarkan euforia Andi dan kawan-kawannya dalam menceritakan kejadian di pertandingan tadi, tiba-tiba seorang ibu menarik lengan anaknya dan menghampiri kediaman Sari.
"Eh Ndi, kamu kalo maen bola gimana sih, liat nih, tangan Bara merah, kamu itu sengaja ya?!" ucap seorang wanita dengan nada membentak dan menunjuk-nunjuk Andi.
Sedang Andi hanya diam ketakutan, Sita yang melihat adiknya di marahi langsung menurunkan tangan si Wanita, dan berkacak pinggang di depannya.
"Eh Bu—" panggilan Sita ternyata membuat perempuan itu tak terima sebab dia merasa masih muda untuk di panggil dengan sebutan itu.
"Ba ... Bu ... enak aja kalo manggil, panggil Mbak!"
Sita melengos kesal, menurunkan sebelah tangannya dan mengibas di depan wajahnya seolah tak perduli.
"Serah, denger ya, namanya maen bola, ya udah pasti ketendang bola, tanyain yang bener di sengaja engga? kalo anaknya ngga mau lecet, kasih buble wrap aja!" sindir Sita.
"Nah sekalian lakban merah tuh yang ada tulisannya, barang mudah pecah," celetuk Ameliya menimpali.
Perempuan yang bernama Rima tak terima, sebab merasa jika Sita dan Ameliya mengejeknya, "emang anak saya barang?!" sungutnya.
"Lah itu ibu tau, namanya anak laki maen bola pasti ada aja lukanya entah lecet, keseleo, apa lebam kena bola kaya gitu ngga usah lebay, Ndi sebenernya kenapa, coba jelasin ama nih Ibu?!" geram Sita yang tetap memanggilnya Ibu.
Andi lantas menjelaskan, kejadian di lapangan, dimana saat menendang ternyata bola itu mantul terkena tiang gawang dan mengenai lengan satu timnya itu.
Rima tetap geram, Sita sampai pusing menghadapi omelannya yang tak masuk akal, hingga mengatakan jika bermain bola harus pelan-pelan.
"Ya udah gini aja Bu, anak ibu nih, maen boneka aja di rumah, jadi aman ngga usah maen bola di tim Andi lagi. Ndi keluarin dia cari yang lain aja buat gantiin," ucap Sita pongah.
"Siap," Andi lantas memberi hormat kepada sang kakak.
Rima tak terima, jika anak lelakinya di suruh bermain boneka dan di keluarkan dari tim Andi. Apalagi dia melihat jika sang putra menangis, dan mengatakan tak mau di keluarkan dari tim Andi.
Rima juga berkata apa hak Sita mengeluarkan anaknya, dengan tangan di lipat di dada, Sita yang tubuhnya lebih tinggi dari Rima, menengadahkan dagunya, dan tersenyum sinis, berkata jika dialah pemberi dana di Tim Andi.
Rima kesal bukan main, dia lantas menarik anaknya pulang, setelah mencaci Sita gadis sombong.
Sita tak perduli, sebab Rima dulu yang mengajaknya bertengkar dengan membentak-bentak adiknya.
Tanpa Sita sadari ada seseorang yang sedari tadi melihat perdebatan sengitnya, dan tersenyum miring.
.
.
.
tbc.
akhir dari aida gimana thor,, bonchap dong