Luciana hanya mampu terbelenggu mengikuti aturan tak kasat mata dari kedua orang tuanya. Terlalu banyaknya aturan yang tercipta membuat luciana merasa dunianya seketika menjadi mati. Hingga luciana bertemu dengan pria yang memilih kehidupan bebas tanpa memikirkan apa itu aturan yang membuat hidup seperti dipenjarah. Setidaknya Luciana sedikit bernapas lega bisa bertemu dengan pria yang berkehidupan bebas. Apakah mampu Luciana menghancurkan pagar tak kasat mata yang membuat hidupnya selalu terkekang, atau mungkin mungkin Luciana akan terbendam dalam ikatan yang akan membuatnya terbunuh secara perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echa Wathy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
♥️♥️♥️
"Sudah siap ?" tanya Vano pada Luciana yang kini sudah berada diatas motor.
"Sapi Go" teriak Luciana.
"Apa kau bilang ? sapi ?" kini nada kesal mulai dikeluarkan Vano.
"Aku hanya bercanda" Luciana menutup kaca helm yang Vano kenakan.
Vano pun memutar pedal gasnya dan melajukan motornya memecah jalanan kota.
"Sudah sampai nona" goda Vano pada Luciana yang kini memberikan senyuman manisnya padanya.
"Terima kasih untuk hari ini" ucap Luciana malu malu.
"Sama sama sudah cepatlah masuk pasti orang tuamu sudah menunggumu untuk makan malam" seketika wajah Luciana kembali murung.
" Ada apa lagi ? bukannya kau sudah berjanji padaku tak akan memperlihatkan wajah jelekmu itu di hadapanku lagi"
" Tak apa" jawab Luciana singkat.
" Kau mulai lagi sudah cepat masuk" Vano pun meraih pipi Luciana dan mengelus elusnya.
" Baiklah" seketika Luciana merasa pipinya mulai memerah yang membuat ia menunduk tak berani memandang Vano.
"Cepat masuk" Luciana melangkahkan kakinya kedalam rumah.
Vano hanya menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah Luciana yang mampu membuatnya tak bisa berkata kasar dan bersikap lembut.
Padahal selama ini tak ada satu orang pun yang mampu menghilangkan sikap keras kepala Vano kecuali Elizabert hanya dia yang mampu membuat Vano tak bisa menolak apa yang dia katakana.
Baru saja Vano sampai di apertementnya, mengambil sebotol minuman untuk mengobati dahaga ia pun melangkahkan kakinya ke balkoni melihat suasana malam kota metropolitan ini gemerlap lampu kota mempu mengobati rasa lelah ini.
Tapi ponsel ini pun tak ingin ketinggalan memberi kabar baik yang bisa membuat bibir indah itu tersenyum lebar.
Bisa kalian tebakan siapa yang saat ini bisa membuat Vano seperti ini, ia itu pesan dari Luciana yang membuat hati Vano loncat loncat kegirangan.
"Terima kasih untuk hari ini" isi pesan yang dikirim Luciana.
"Sama sama sudah cepat pergi makan malam lalu istirahat" balas pesan Vano pada Luciana.
"Aku tak lapar apa aku mengganggumu" karna terlalu gemas dengan isi pesan Luciana Vano pun langsung menelpon Luciana.
"Kau sangat menganggu" ucap Vano tanpa pikir panjang dari sebrang telpon.
"Ohh maafkan aku baiklah selamat malam" ucap Luciana sedih.
"Ia kau sangat menggangu otakku karna kini hanya ada kau di pikiranku"
"..." seketika wajah Luciana menjadi merah mendengar ucapan Vano.
"Halo apa kau masih disana?"
"Ahh iya ada apa" seketika tawa Vano memecahkan sambungan telpon.
" Kenapa kau tertawa apa ada yang lucu"
"Tidak pasti saat ini wajah imut itu sudah berwarna seperti tomat" jawab Vano yang masih dengan tawanya.
"Dasar kau ini" Luciana pun memutuskan sambungan telponnya secara sepihak.
" Istirahatlah pasti kau lelah selamat malam peri kecilku" karna tahu Luciana kesal karna ia menertawakannya Vano pun hanya mengirimkan pesan singkat untuknya.
Vano pun merebahkan badanya di kasur king zise yang empuk sebentar sebelum ia harus kembali bekerja dan tanpa terasa mata itu terpejam karna terlalu lelah dan menunggu balasan pesan Luciana yang tak kunjung ada balasan.
Rasanya baru saja Vano memejamkan matanya, tapi alaram ini sudah berbunyi menunjukan pukul 11.30 malam.
Rasanya mata ini masih tak ingin terbuka dan masih ingin terpejam tapi apa daya keharusan memaksanya untuknya untuk tetap bekerja agar tak bergantung pada keluarga Packer.
Baru saja kakinya mau melangkah ke kamar mandi ponselnya kembali berbunyi memberikan tanda kalau ada pesan masuk.
"Aku tak bisa tidur" Vano pun hanya geleng geleng kepala dan hanya membaca pesan itu tanpa membalasnya dan ia pun kembali melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk bersiap siap pergi bekerja.
Setelah siap dengan baju kaos hitam dan celana jensnya tak lupa ia mengenakan helem kesangannya.
Tapi kali ini ia tak melewati jalan seperti biasanya melainkan jalan menuju rumah Luciana .
Dan benar saja kini dia berhenti tepat di depan rumah Luciana., ia pun meraih ponselnya disaku jaketnya dan mencari nama Luciana dikotak ponselnya.
"Aku di depan cepat keluar" Luciana yang bingung melangkahkan kakinya kejendela dan melihat kebalik tirai dan benar saja kini Vano berada di depan rumahnya.
Merasa kegirangan Luciana pun bergegas menuju ke luar rumah, tapi baru selangkah kakinya melangkah ia menghentikan langkahnya dan melihat ke cermin.
"Ahh rambutku berantakan" guman Luciana, ia pun merapikan rambutnya dan mengganti bajunya setelah merasa rapi ia pun melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Apa kau harus menuruni seratus tangga untuk sampai disini selama ini" yang kini membuat wajah Luciana tak segembira tadi.
"Ada apa kau kemari semalam ini menggangu" ucap Luciana sinis.
"Jika aku mengganggu tak mungkin kau kini ada dihadapanku" Vano pun menahan tawanya melihat tingkah Luciana.
"Aku hanya kasihan padamu" jawab Luciana singkat.
"Ambil ini" Vano pun memberikan sebungkus makanan pada Luciana.
"Apa ini" Luciana membuka bungkusnya.
"Makanlah lalu tidur aku tau kau tak bisa tidur karna lapar"
"Sok tau sekali"
"Masuklah aku sudah terlambat untuk bekerja hanya untuk membawakanmu itu"
"Kerja apa semalam ini" tanya Luciana tapi taka da jawaban dari Vano malah Vano langsung memakai helemnya dan memutar pedal gasnya.
"Dasar pria aneh kerja apa semalam ini" guaman Luciana.
Luciana pun masuk kedalam rumah dan duduk dimeja makan untuk menikmati makanan yang diberikan Vano.
@@@@
Vano yang baru saja sampai ditempat kerja, kali ini sangat bersemagat untuk mejalani pekerjaannya.
Rasanya waktu pun berjalan begitu cepat, rasanya baru saja Vano sampai di sini dan menyajikan beberapa minuman untuk para pengunjung yang datang ke club malam ini.
Semakin malam suasana semakin ramai alunan music membuat Vano memutar botolnya (juggling) yang membuat beberapa orang mendekat dan menyaksikan aksi Vano.
Pagi mulai menjelang kini waktu menunjukan pukul 04.30 pagi.
Biasanya saat ini Vano sudah berada diapartementnya, tapi kali ini Vano masih setia berada diclub malam ini karna para pengunjung baru saja meninggalkan club ini.
Rasa lelah menyelimuti tubuh Vano, tapi saat mengigat senyum Luciana seketika rasa lelah itu hilang.
Vano pun bergegas membereskan semua botol minuman dan yang lainnya lalu mengikat platik sampah dan berjalan meninggalkan club itu menuju tempat pembuangan sampah lalu menuju ruang ganti.
Diselah selah perjalanan menuju ruang ganti Vano meraih ponsel di saku celana melihat ponselnya tapi sayangnya tak ada satu pesan pun dari Luciana.
Hingga akhirnya ia mencari nama Luciana dan mengirimkan pesan.
"Selamat pagi peri kecilku" Vano pun memasukan kembali ponselnya kesaku celananya karna ia tau tak mungkin Luciana membalas pesannya sepagi ini.
Sesampainya diruang ganti ia segera menganti pakaiannya dan munuju dimana motornya diparkir.
Dan tanpa rasa ragu Vano pun memutar pedal gasnya hingga motor itu melaju membelah kota ini agar segera sampai di apartementnya untuk mengistirahatkan kedua mata indahnya dan merebahkan badannya di kasur empuk yang sudah setia menunggunya.
Setelah membersihkan diri Vano pun segera menuju kasur empuknya dan memejamkan kedua mata indahnya.
ditunggu kunjungannya ke karyaku TERJEBAK DALAM DERITA
Mampir juga yuks thorr ke " Bersemi Kembali " Dan jangan lupa untuk menngggalkan jejak
Salam Hangat
Aku tunggu kedatangan kk di karya aku ya
"Kamu matahari dan aku bulan" dan
"Siren or Human"
Semangat🥰
jgn lupa mampir jg ke karya ku 👐
jangan lupa beri vote di lapakku saat mampir nanti yaa😉terima kasih
like mendarat untuk episodemu❤️
semangat selalu😊
dan mampir juga ya ke cerita aku
🌸Stole Audrey's Heart🌸
🌸Hate His Touch🌸
cemungut ya... 🤭🤭