Ini kisah season 2 dari nikah kontrak dengan om ceo tampan.
Mia Allura Atmaja putra pertama dari Alex Atmaja dan Rara Artnia, ia terpaksa kabur dari rumah orangtuanya untuk menghindari perjodohan dengan rival sang papa hingga akhirnya ia terjebak cinta segitiga dengan pengusaha muda bernama William.
Akankah ia menyerah atau memperjuangkan cintanya?
Nb : Untuk melihat visual mereka bisa cek di ig ; Duwi Sukema
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon duwi sukema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikmat mana yang kau dustakan
Setelah kepergian William, Lura segera beranjak pergi keluar dengan pura-pura memegangi perutnya. Ia tak mau kebohongannya diketahui siapapun. Ia juga bukan wanita bodoh yang suka bertindak ceroboh, ia tahu jika di mana tempatnya berada saat ini banyak yang mengawasinya. Ya cctv lah yang mengawasi gerak-geriknya.
Di dalam taxi ia bisa bernafas lega karena ia tidak perlu berpura-pura lagi. Ia membuka media sosialnya untuk melihat story Daffin, adik yang paling ngeselin tapi juga yang baik hati karena telah mengirimi uang yang cukup banyak versi Lura.
Sebaiknya aku beli obat di apotik agar William semakin percaya jika aku benar-benar sakit. Dengan adanya berbagai obat aku ingin tahu kelanjutan cerita William yang tertunda gara-gara Henry pikir Lura sambil nyengir ngak jelas.
Sopir taxi melirik sekilas Lura dari kaca depan mobilnya, "Neng lagi kasmaran ya? Kok senyum-senyum sendiri."
"Ah, bapak kepo amat. Pak kalau di depan ada apotik kita berhenti beli dulu, aku mau beli obat," jawab Lura.
"Ya jelas dong neng kalau berhenti di apotik beli obat, bapak juga tahu itu. Kalau neng berhenti di tukang bakso pasti itu beli bakso," canda sopir taxi.
"Bapak ini ternyata suka lawak juga ya, kita sama dong. Bedanya bapak tukang sopir taxi kalau aku," ucap Lura tidak di lanjut. Kalau aku wanita cantik sexi yang jelas kita beda aku perempuan dia laki-laki batin Lura menahan tawa karena sudah lama ia tidak menggila biasanya ia main ledek-ledakan jika bersama Daffin.
"Kalau aku apa neng?" tanya sopir taxi. "Kalau neng pegawai kantoran," ucap sopir taxi penasaran.
"Lupakan saja, pak! Kita bercanda seperti ini jadi teringat dengan adikku, kita selalu bercanda sesekali berdebat yang akhirnya tertawa. Pak di depan situ ada apotik berhenti dulu, nanti bapaknya lupa asyik bercanda denganku," ketus Lura.
Lura turun membeli berbagai jenis obat untuk pencegahan diare walaupun nanti akhirnya mubazir ia masukkan ke dalam kloset kamar mandinya. Tapi, ini semua dengan rencana yang telah ia jalankan tadi.
"Sudah neng, emang neng beli obat apa? Sepertinya neng sehat-sehat saja."
Ini sopir taxi sok akrab banget kenal juga ngak, kepo lagi batin Lura.
"Beli persediaan obat, pak. Kebetulan di rumah stock obat habis, takutnya malam-malam orang rumah ada yang sakit makanya aku selalu sedia payung sebelum hujan," ketus Lura.
Tidak terasa ia telah sampai di depan rumah William, kini ia mulai bersiap-siap turun dengan memasang wajah pucat ia juga tahu pasti ada cctv di rumah William.
"Ini pak ongkosnya, sisanya buat bapak," ucap Lura dengan tergesa-gesa turun.
Di dalam kamar ia segera menyobek beberapa resep yang ia beli di apotik lalu membuangnya ke kloset. Ribet juga main drama seperti ini batin Lura dengan menghapus make up yang menempel di wajahnya.
Ia memilih rebahan sambil tidur siang, sudah sekian lama ia tidak merasakan tidur siang sejak kabur dari rumah Atmaja.
"Nikmat mana yang kau dustakan, akhirnya aku bisa tidur siang lama," lirih Lura menarik selimut sampai menutupi seluruh bagian tubuhnya.
****
William sampai rumah mendapati rumahnya gelap gulita segera berlari masuk ke dalam rumah untuk memastikan Lura berada di dalam rumah dengan keadaan baik-baik saja.
"Apa terjadi sesuatu dengan Lura? Lalu dimana ia berada?" lirih William dengan menyalakan lampu ruang tamu.
William berjalan menuju kamar Lura untuk memastikan keadaan wanita yang beberapa hari ini selalu menganggu pikirannya. Bahkan tidur pun yang ada di mimpinya adalah Lura. Ia juga tidak tahu apa arti ini semua padahal ia sudah memiliki tunangan yang akan menikah tahun depan sesuai janji mereka.
Cklek
William membuka pintu perlahan berharap untuk tidak membuat terkejut wanita yang ia cemaskan. Melihat lampu gelap, ia mencari saklar untuk menyalakan lampunya.
"Apa terjadi sesuatu hingga ia tidak bisa pulang? Lalu jika ia tidak pulang kemana ia pergi," lirih Willam.
Saat lampu menyala, ia mengedarkan seluruh pandangan matanya keseluruh sudut kamar. Mendengar suara dengkuran lirih ia melihat di atas ranjang yang tidak terlihat ada sosok seseorang hanya gundukan selimut ia membukanya untuk memastikan.
"Ternyata kamu tidur," ucap William melihat di meja samping ranjang ada resep obat yang telah terbuka dua ia merasa lega jika Lura mampu merawat dirinya sendiri ketika sakit.
William duduk di tepi ranjang menatap wajah polos Lura yang tertidur pulas tanpa terganggu dengan sentuhan yang ia berikan.
Aku tidak tahu dengan diriku sendiri. Melihatmu sakit, dadaku rasanya sesak tidak ingin melihat kamu menderita. Indah wajahmu menghiasi hariku. Senyum manismu meluluhkan hatiku. Hari demi hari terasa sepi bila tawamu tak mengiringiku. Tetaplah menjadi penenang hati karena bagiku kau begitu berarti. Mempesonanya kamu, menyungging senyummu, menghiasi raut wajahmu mendiamkan detak jantungku. Mataku jadi pencuri senyummu yang dapat menghantam jantungku. Bingung tak menentu apa arti ini, kutakut kehilanganmu. Sepanjang hari selalu bayangmu terlintas dalam pikiranku. Entah mengapa kamu seakan menjelma seperti hantu. Rasa itu menyapaku, entah sejak kapan itu muncul yang terpikat akan senyum manismu yang terus membekas dalam pikiranku. Hati ini mulai gelisah risau tak tentu arah
saat tak kudapati kau tersenyum untukku.
William mengacak-acak rambutnya frustasi kini ia dilema cinta segitiga.
Lura yang mendengar suara eranggan dengan cepat membuka matanya. Melihat William menatapnya sayu, ia segera duduk dengan menyadarkan punggungnya di kepala ranjang dengan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.
"Wil, kamu kok ada disini?" cecar Lura.
"Aku ingin memastikan kamu saja, gimana masih sakit? Kita periksa ke rumah sakit gimana?" tawar William.
"Aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja gimana? Tadi siang kamu pucat menahan rasa sakit perut kamu masih bisa bilang baik-baik saja. Aku tidak mau kamu bertambah parah karena diaremu itu," tegas William.
Astaga, Lura kenapa kamu bisa bodoh kelupaan kalau kamu ini lagi bermain-main dengan William untuk berakting batin Lura.
"Maksudnya aku sudah mendingan, itu sudah habis obat dua resep. Sekarang perutku juga tidak merasakan apa-apa. Oya, Wil gimana tadi kamu bisa kerjasama dengan grup Atmaja ngak?"
"Bisa dong, jangan sebut namaku William jika tidak bisa bekerjasama dengan perusahaan besar," bangga William.
"Sombong banget."
"Harus dong, ini juga perusahaan yang aku bangun dari hasil keringatku sendiri bukan dari orangtua. Jika aku mau pasti aku sudah jadi ceo di perusahaan papaku tapi aku orang yang tidak suka memanfaatkan kekayaan mereka."
"Wil, aku boleh tanya ngak?" ucap Lura. Aku harus memastikan dia itu perhatian denganku karena apa batin Lura ragu-ragu.
😍😍