Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Dia Maksa Pengen Ikut Aku! Gimana Ini?!
Sore hari sepulang sekolah.
Moiro dan Mika sedang berada di rak menyimpan sepatu dekat pintu keluar.
Mereka sempat berbincang-bincang santai sampai akhirnya seseorang datang.
Orang itu berdiri di belakang mereka dan langsung menyapa mereka dengan suara lantang, "Kalian berdua."
Moiro dan Mika menoleh, bingung, dan menemukan ketua kelas sedang menatap tajam sambil berkacak pinggang.
"Bisa bicara sebentar?" lanjutnya pelan. Matanya lebih tertuju pada Moiro.
Hayolo, Moiro. Ketua kelas nandain kau.
Moiro hanya diam saat ketua kelas menatapnya, lalu berpikir sejenak, "Ketua kelas? Namanya kalo gak salah..."
Yuka Suzuki. Dia adalah ketua kelas di kelas 1–4, kelasnya Moiro. Wajahnya yang terlihat berani dengan tatapan tajam ditambah kacamata bulat membuatnya terlihat tegas tapi juga manis. Rambutnya yang pendek sebahu semakin menambah kesan tersebut. Dia sangat terlihat cocok menjadi seorang ketua kelas atau bahkan pemimpin.
^^^>Ilustrasi dari AI.^^^
Waduh, ternyata dia boleh juga.
"Yuka Suzuki. Kenapa dia nyamperin kami?" lanjut Moiro berpikir. Wajahnya masih terlihat datar.
Moiro pun langsung bertanya karena tatapan Yuka terus mengarah padanya, "Ada apa, Ketua kelas?"
Tatapan Yuka masih menajam. Sorot matanya sedikit terangkat karena menatap Moiro yang lebih tinggi darinya.
Yuka kemudian berucap tegas, "Moiro Asahi. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Ke-Ketua kelas?" bisik Mika tiba-tiba karena kaget mengetahui Yuka ingin berbicara dengan Moiro, padahal itu hal yang normal.
Pasti pikirannya ke hal romantis lagi. Nanti cemburu, woe.
Sementara Moiro, ia hanya menatap Yuka datar, lalu membalas pelan, "Mau bicara apa?"
"Ikuti aku," balas Yuka cepat. Dia segera berpaling dan mengajak Moiro pergi ke suatu tempat.
Mika yang merasa gugup ikut berkata, "Anu... Ketua kelas...?"
Yuka menoleh ke arahnya. Langkahnya ikut terhenti.
"Sepertinya Asahi sudah capek hari ini, jadi mungkin dia ingin pulang cepat," lanjut Mika sambil memaksakan senyuman. Dia ingin melindungi Moiro dan tidak ingin jika lelaki itu terkena masalah atau kelelahan.
Perhatian juga. Bolehlah.
"Aku tak bicara denganmu," balas Yuka cepat, dengan ekspresi lebih santai.
Mika membatu seketika setelah mendengarnya.
Ngeri kali si Ketua kelas ini.
"Aku juga tak menyarankan kamu ikut," lanjut Yuka sambil memperbaiki rambutnya—menyapunya ke belakang telinga menggunakan jari.
Mika mengerucutkan bibirnya, lalu membalas dengan tekad kuat—tatapannya mulai serius, "A-Aku ingin ikut. Aku... harus tau apa yang kamu bicarakan."
Mendengar itu darinya hanya membuat Yuka bergeming. Gadis itu menoleh pada Moiro, lalu mengangkat wajahnya singkat dan samar.
Paham dengan apa yang dimaksud Yuka—meminta persetujuan darinya—Moiro pun mengangguk lalu menjawab, "Boleh."
"Ya sudah," balas Yuka mengangguk singkat, lalu berpaling sambil mengajak mereka, "Ayo."
Mika menoleh pada keduanya bergantian dengan cepat, "E-Emangnya... kalian mau ngomongin apa? Itu bukan hal yang aneh-aneh kan...?"
Yuka kembali terhenti, lalu menoleh dan menjawab pelan, "Tenang aja. Aku tak berniat mengambil dia darimu."
Mika terkejut dan malu seketika. Wajahnya memanas, sedikit menunduk. Pipinya dipegang pelan dengan kedua tangannya.
.........
Mereka bertiga pun pergi ke suatu tempat yang cukup sepi.
Tempat itu merupakan area dekat parkiran sepeda yang sudah terlihat kosong.
Moiro dan Mika menatap sekeliling, menebak-nebak tujuan Yuka mengajak ke sana.
Yuka akhirnya berhenti, dan diikuti oleh keduanya di belakang.
Akhirnya, Moiro dan Ketua kelas mulai berbicara, ditemani oleh Mika yang menatap ragu keduanya secara bergantian.
"Langsung ke intinya aja," Yuka berbalik menghadap Moiro, lalu menunjuknya, "Aku..."
Tatapannya menyipit tajam, "akan ikut denganmu sore ini."
"Tidak bisa. Aku sibuk," tolak Moiro cepat dengan wajah datar. Telapaknya diangkat, sedikit lebih rendah dari wajah.
"Mana mungkin aku ngebolehin ikut. Bisa-bisa dia ikut ke tempatku kerja," gumam Moiro dalam hatinya. Ekspresi datar masih terpasang erat di wajahnya, "Mau gimanapun juga, bakal tetap kutolak."
Teguh amat.
Yuka menurunkan tangannya lalu berkacak pinggang, kemudian membalas,—tetap memaksa ikut, "Tidak masalah. Aku akan tetap ikut, bahkan jika disuruh membantu."
Moiro mulai cemas mendengarnya. Ia terus berusaha menolaknya.
Mika juga berusaha membantu Moiro dengan membujuk ketua kelas, tapi Yuka tetap memaksa untuk ikut.
Semua tolakan dihalau, tak dipedulikan oleh Yuka. Dia masih bersikukuh dan tetap memaksa ikut.
"Gimana ini...? Dia keras kepala banget pengen ikut...!" batin Moiro yang semakin panik.
Aku punya solusi menghadapi orang kayak gitu. Tinggal cekek, langsung banti—
Moiro menjadi ragu sejenak. Ia sempat berniat mengungkapkan apa yang sebenarnya dilakukannya sore ini, tapi tak bisa ia ucapkan. Mau bagaimana lagi? Itu adalah rahasia yang tak boleh seorangpun tau.
Kenapa komentarku tadi dipotong, Author?!
Yuka melihat ekspresi Moiro yang mulai ragu dan panik. Dia langsung berkata sambil tersenyum samar—merasa kemenangan sudah dekat, "Aku takkan membongkar apa yang kamu sembunyikan. Aku hanya ingin memastikan suatu hal."
Bahkan setelah mendengar itu tak membuat Moiro langsung percaya, dirinya masih tetap ragu.
Ia mencoba menanyakan kembali, untuk memastikan apakah Yuka benar-benar akan tetap merahasiakan sesuatu yang ia sembunyikan.
Yuka hanya tersenyum tipis sambil mengangguk mantap, lalu juga mengatakan kalau dirinya lebih suka tidak mencampuri urusan atau kehidupan orang lain, kecuali bisa membantu atau dalam keadaan genting.
Mengetahui itu, Moiro perlahan mulai yakin. Meski begitu, keraguan belum hilang sepenuhnya.
Sementara itu, Mika hanya menatap keduanya dengan heran, hanya bisa diam sambil tersenyum tipis. Dia tampak bingung dengan arah pembicaraan itu. Apa yang disembunyikan oleh Moiro Asahi? Apa alasan sebenarnya Yuka Suzuki ingin ikut dengannya? Dan masih banyak lagi.
Di saat Moiro masih dikelilingi campuran rasa ragu dan percaya yang samar-samar, Yuka tiba-tiba menyodorkan ponselnya dan berkata, "Mau bertukar kontak? Mungkin ada yang ingin kamu tanyakan tanpa orang lain tahu, dan kamu bisa menentukan di mana kita akan bertemu nanti."
Moiro menatap layar ponsel Yuka tapi masih terdiam, memikirkan apakah itu pilihan yang tepat. Jika ia menerimanya, itu sama saja dengan menerima Yuka ikut dengannya. Belum lagi pesan di ponsel itu masih bisa ketahuan seperti kasus Mika dan Ryuji.
"Tenang saja," lanjut Yuka kemudian, seolah bisa membaca apa yang dikhawatirkan atau dipikiran oleh Moiro, "Yamaguchi takkan berani mengecek pesan kita. Ditambah lagi, aku sudah mengamankan ponselku dengan angka pin yang rumit."
Oh, setan itu lagi, wkwkwk.
Meski masih ragu, Moiro mengambil ponselnya perlahan, lalu bertukar kontak dengan Yuka.
Mika di samping mereka hanya menatap pertukaran kontak itu dengan tatapan kosong, tapi pikirannya penuh.
"Ka-Kalian... tidak ingin k-k-kencan, kan...?" ucap Mika pelan tanpa sengaja mengeluarkan salah satu isi pikirannya. Suaranya terdengar gemetar karena cemas dan takut dengan hal itu.
Apa gak ada selain hal romantis di pikiran kau itu?
Yuka menoleh pada Mika lalu menjawab, "Tidak, kok. Kamu tak perlu mencurigaiku."
Mika sontak terlihat berkaca-kaca, mulutnya ditutup pelan dengan kedua tangannya. Dia langsung tersentuh dengan jawaban itu, karena merasa Ketua kelas memang berkata jujur.
Kalo kubilang lebay gapapa nih?
Yuka menatap Mika dengan ekspresi bingung, lalu kembali melihat ke arah layar ponselnya.
Dia tersenyum samar, lalu berucap pelan pada Moiro, "Kita sudah bertukar kontak. Nanti kamu bisa kirim pesan padaku."
Moiro di depannya hanya mengangguk pelan tanpa membalas lebih.
Moiro menatap layar ponselnya, menatap kontak bernama “Yuka Suzuki (Ketua Kelas)” yang merupakan kontak pertamanya selain penagih hutang.
Sedih amat.
Mika tercengang menatap keduanya. Dia juga ingin bertukar nomor kontak dengan Moiro, tapi malah kecolong start oleh Yuka.
Yuka menatap Mika sekilas, dan menyadari kalau gadis itu menginginkan hal yang sama sepertinya.
Yuka langsung bertanya, "Sano, kamu ingin bertukar kontak dengan kami?"
Mika tersentak. Dia terdiam mendengarnya.
Dia tak menyangka kalau Yuka sangatlah pengertian. Kegembiraan seketika terpancar dari wajahnya.
Tanpa ragu, Mika langsung berkata sambil mengangguk mantap, matanya berbinar, "Aku mau!"
Kedua tangannya yang mengepal ringan di depan dada memperlihatkan keinginannya yang tinggi.
Mika tak ingin terlalu menahan diri, sebab dia masih merasa kalau Ketua kelas menginginkan Moiro seperti dirinya—padahal itu hanya asumsinya—jadi, dia tak boleh kalah sama sekali!
Akhirnya, ketiganya bertukar kontak. Dan dengan kontak itu, Moiro bisa menanyakan sesuatu yang lebih rahasia atau personal pada orang tertentu.
Sementara itu, Mika menatap layar ponselnya dengan mata berbinar dan senyuman tipis yang manis. Dia begitu senang karena telah mendapatkan kontaknya Moiro.
Melihat Mika seperti itu, Yuka ikut tersenyum tipis, merasakan kesenangan yang dipancarkan olehnya.
Merasa kalau yang dia inginkan sudah terpenuhi, Yuka langsung berucap pelan. Satu tangannya bertumpu di pinggang, "Baiklah, kalau begitu, aku akan pulang dulu."
"Aku sudah meluangkan waktu ekstrakurikulerku untuk hari ini," lanjutnya, lalu menatap tajam pada Moiro sambil tersenyum tipis, "Jadi, jangan sampai kamu melupakannya."
Moiro diam sejenak, lalu menelan ludah. Entak kenapa rasanya seperti diancam. Ia menatap lebih serius pada Yuka lalu membalas, "Baiklah."
"A-Aku... Aku juga mau ikut kalian sore ini!" seru Mika tiba-tiba. Dia tak ingin membiarkan Moiro dan Yuka hanya berduaan.
Mendengar itu, Moiro kembali dilanda rasa panik. Satu masalah belum benar-benar selesai, kini malah muncul masalah baru.
Tapi tidak dengan Yuka, dia sudah berjanji untuk merahasiakan hal yang disembunyikan oleh Moiro—meski itu masih dianggapnya sebagai rumor.
Yuka pun membalas ucapan Mika. Dia menghadap ke arahnya lalu memberikan saran sekaligus menolong Moiro, "Bukannya kamu ada ekskul musik hari ini? Kamu tidak boleh bolos loh, ya."
Mendengar itu, Mika seketika membatu, bahkan retak. Dia merasa kecewa karena tak sempat meminta izin untuk tidak ikut ekskul hari itu, jadinya dia tak bisa menghalau Moiro dan Yuka untuk berduaan.
Mika langsung menjongkok dan memeluk lututnya, penuh rasa penyesalan. Aura suram seketika menyelimutinya.
Melihat itu, Moiro merasa sedikit lebih lega, meski ada rasa kasihan.
Ia pun menatap Yuka kemudian berpikir, setelah mendengar sendiri apa yang dia ucapkan, "Apa barusan dia membantuku?"
Yuka menoleh pada Moiro sedikit bingung, lalu mengangkat jempolnya rendah sambil tersenyum tipis, kemudian mengedipkan sebelah matanya.
Melihat itu, Moiro tanpa sadar ikut tersenyum. Ia akhirnya benar-benar dapat memercayainya.