Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Kok Ini Keliatan Kayak...
Waktu kerja selesai. Moiro sudah berganti pakaian dan sedang dalam perjalanan pulang setelah berbagai hal sebelumnya. Ia juga sudah memberitahu bosnya kalau besok ia akan mengambil libur, dan bosnya memberikan izin.
Sesampainya di rumah, Moiro langsung tengkurap di atas kasurnya dan tertidur.
Kasian, kecapean sampe gak mandi.
...***...
Pagi hari, Moiro beraktivitas seperti biasa. Meregangkan tubuhnya, mandi, berpakaian, menyiapkan sarapan.
Ia melihat tanggal, dan saat itu adalah hari libur. Itu berarti, ia akan menemani Mika ke suatu tempat pad hari itu sebagai permintaan maaf karena menghilangkan sapu tangannya sebelumnya.
Lagian didiemin di luar sampe malem, ya ilang lah.
Moiro mengambil ponsel di dekatnya, lalu segera mengirim pesan pada Mika.
...——————————...
Mika Sano: aktif
...---...
^^^Sano.^^^
^^^Kapan dan di mana kita bertemu?^^^
Oh! Asahi, ya?
Kita ketemuan di bundaran air mancur taman dekat stasiun jam 9 nanti.
^^^Baiklah.^^^
Aku akan berdandan cantik! Tunggu saja, ya!
Kuharap kamu menyukainya!
Aku tidak sabar!
^^^Baik.^^^
[Stiker makanan imut tersenyum gembira dengan beberapa hati kecil di sekitarnya]
...——————————...
Moiro menatap datar layar ponselnya, mendapati sebuah kesamaan saat dirinya berbalas pesan dengan Ketua kelas.
"Apa perempuan memang suka mengirim stiker, ya...?" pikirnya datar, menatap layar ponselnya.
Serius kau lebih mikirin itu?
Matanya melirik ke sebuah pesan dari Mika.
"Tapi..."
Dirinya terdiam.
Moiro menatap pesan Mika yang bertuliskan “berdandan”. Cukup lama untuk memikirkannya.
"Apa aku juga harus terlihat rapi, ya?" tanyanya pelan pada diri sendiri.
Ya iyalah! Yakali keluar lama gak bersiap supaya rapi?
Moiro masih terdiam, memikirkan hal itu dengan serius sampai alisnya mengerut.
Matanya kemudian terpejam ringan, dan kedua bahunya diangkat singkat.
"Biarlah. Mending sarapan dulu," ucapnya pelan seolah tak peduli.
Ia pun pergi ke meja makan, menatap nasi yang berwarna kekuningan karena dicampur telur yang sudah dimasak olehnya, dimasak sebentar bersamaan dengan tambahan sedikit potongan sayur.
Makanan itu sudah siap untuk sarapannya pagi itu. Mirip nasi goreng, hanya saja tanpa kecap.
Moiro duduk kemudian memakan sarapannya. Terasa nikmat meski suasananya sedikit hampa.
Setelahnya, Moiro akhirnya memutuskan untuk bersiap juga agar terlihat lebih rapi dan bagus secara tampilan.
Nah, gitu dong.
Ia mencari pakaian yang cocok untuk lapisan dan jaket untuk menghangatkan tubuh, sebab udara mulai dingin karena memang musimnya.
Setelah menemukan yang bagus, Moiro langsung memakainya. Sebuah pakaian putih yang cukup tebal dan sarung tangan hitam, juga jaket berwarna cokelat muda yang entah kenapa malah membuatnya terlihat seperti orang tua.
Ia menatap dirinya sekilas di cermin, dn memang terkesan demikian. Tatapannya mendatar, namun tak ada pilihan selain pakaian itu, jika tidak maka dia akan kedinginan.
Kini, ia sudah siap, dan saatnya untuk berangkat.
Meskipun jam masih menunjukkan pukul delapan lewat dua puluh satu, tapi Moiro tetap berangkat.
Beberapa waktu berselang. Moiro hampir sampai di tempat yang dijanjikan.
Sekarang masih pukul delapan lewat tiga puluh lima, dan masih banyak waktu sebelum mereka bertemu.
Udara dingin masih membungkus pagi, membuat Moiro cukup dibuat menggigil samar. Meskipun ia sudah menggunakan jaket paling tebal yang ia punya, tapi udara sat itu lebih dingin dari yang dikiranya dan akhirnya tetap menembus jaket yang dikenakannya.
Moiro terus berjalan menuju tempat yang dijanjikan—bundaran air mancur di taman dekat stasiun—sambil sesekali memeluk dirinya sendiri.
Moiro akhirnya sampai di taman. Sekarang, dirinya tinggal menuju bundaran yang berada di tengah-tengah taman.
Saat ia berjalan, menoleh ke sekitar, dia menemukan Mika yang ternyata sudah sampai lebih dulu.
Lah? Dah sampe lebih dulu dia.
Mika sedang duduk sopan di kursi yang mengelilingi bundaran air mancur. Dia memegang cermin kecil sambil merapikan rambutnya—memperbaiki penampilannya.
Dia terlihat cantik dengan dandanan yang terlihat simpel, tipis, dan terasa ringan.
Sedikit rona di pipi menambah kesan imut di wajahnya. Bulu matanya yang dirapikan menambah estetika kecantikan serta memberikan kesan tatapan yang lebih tajam. Bibirnya dilapisi warna merah muda agar warnanya terlihat samar tapi juga jelas jika diperhatikan. Rambutnya yang diikat simpul ke bawah dengan pita putih pengikat membuatnya terlihat menawan.
Pakaiannya juga tak kalah indahnya.
Dia mengenakan pakaian berwarna merah muda seperti jambu, dilapisi jaket putih yang resletingnya sengaja dibuka karena sedang duduk. Celana panjang yang digunakannya berwarna biru gelap, sengaja dibuat kontras dengan pakaian bagian atasnya yang terang agar terlihat mencolok dan cantik.
Dia juga menggunakan aksesoris berupa jepit rambut berbentuk bunga mekar berwarna putih yang indah. Selendang (syal) berwarna merah muda cerah seperti buah persik yang memutari lehernya. Sarung tangan tebal berwarna abu-abu terang. Dan juga tas kecil berjenis duffle bag berwarna hitam sedikit mengilap yang diletakkan di atas pahanya.
^^^>Ilustrasi dari AI.^^^
Cantiknyooo...! Punyaku!
Moiro terkesima menatap Mika yang begitu memesona.
Ia membandingkan dandanannya dengan dirinya sendiri, dan malah mengurangi rasa percaya dirinya. Tatapannya mendatar saat ia menatap dirinya sendiri.
Dirinya hanya mengenakan pakaian rapi tanpa mementingkan estetika, dan rambut yang disisir halus untuk merapikannya saja.
Moiro hanya memikirkan kerapian saat bersiap. Itu sebabnya dirinya hanya terlihat rapi, tak ada kesan lain.
Moiro menghela napas, dan berjalan menghampiri Mika.
Moiro mengangkat tangannya, menyapanya, "Yo, Sano. Pagi."
Mika menoleh, kemudian memasukkan cermin ke dalam tas dan berdiri perlahan. Tasnya dia pegang rendah di depan dengan kedua tangannya.
Dia tersenyum manis, lalu membalas sapaan Moiro, "Asahi. Selamat pagi."
Mika berjalan mendekat, sampai dirinya berhadapan dengan Moiro.
Kepalanya sedikit mendongak, menatap tepat ke mata Moiro, lalu bertanya pelan sambil tersenyum, "Bagaimana penampilanku?"
Moiro sedikit menyipitkan pandangannya sambil memegang tengkuk. Pipinya sedikit memerah, lalu berucap pelan, "Kau... terlihat manis."
Mika membelalak, matanya berkilau, terkejut dengan jawaban Moiro yang terdengar jujur.
Pipinya memerah, senyum manis terlihat di wajahnya, "Syukurlah!"
Mika berjinjit, membuat wajahnya mendekat sambil terus tersenyum, "Tapi kamu juga terlihat keren, Asahi. Kamu sangat rapi!"
Mika kemudian berbalik, dan kembali menoleh pada Moiro yang kini di belakangnya. Senyumannya masih terpasang di bibirnya, "Ayo kita jalan-jalan!"
Moiro menatap Mika, tersenyum tipis, kemudian mengangguk pelan.
Mika sangat senang. Itu pertama kalinya baginya melihat senyuman tulus dari Moiro, langsung di hadapannya.
Mika kembali memberikan senyumannya, lalu segera berjalan dan diikuti Moiro di belakangnya sampai mereka berdua sejajar.
Keduanya pun berjalan berdampingan.
Moiro terus tersenyum tipis menatap Mika yang terlihat senang dari caranya berjalan.
Mika juga tak kalah. Matanya ikut tersenyum saat terpejam halus.
Sebelum mereka pergi dari taman, tatapan orang-orang selalu tertuju pada mereka.
Moiro bingung dan malah memikirkan itu. Tapi kemudian ia tak memedulikannya. Saat itu, tujuannya hanyalah menemani Mika, bukan memikirkan tatapan orang lain.
Tiba-tiba, pikiran itu terlintas di otaknya.
"Bentar..." pikir Moiro sambil melirik Mika di sampingnya, "Kok ini keliatan kayak..."
Tatapan Moiro tertuju pada dirinya, berganti pada Mika, lalu ke dirinya lagi—menyadari suatu hal.
Mika tak sadar karena tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dari bahu Moiro.
Mata Moiro membelalak menatap ke depan, bibirnya rapat, dan suaranya bergetar di pikirannya, "... kayak lagi kencan, ya...?"
Sambil diisi pikiran itu, Moiro tetap melanjutkan langkahnya.
Sementara itu, di belakang mereka, dari arah yang cukup tersembunyi, ada orang berjaket yang menggunakan kacamata hitam dan masker ditambah topi yang jelas sangat mencurigakan.