NovelToon NovelToon
Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Suami Miskin Yang Ternyata Seorang Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: M Goeston

Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pintu Keluar Neraka dan Benturan di Lautan Bebas

Ujung terowongan karang semakin mendekat di depan mata.

Cahaya putih bulan di lautan bebas tampak berkilauan memantul di atas permukaan air.

Namun, harapan untuk segera melarikan diri tiba-tiba diadang oleh pemandangan yang membuat darah mendidih.

Speedboat utama yang dikemudikan oleh Jarjit dan anak buahnya sudah bersiap siaga tepat di depan mulut terowongan.

Kapal cepat bermesin ganda itu menghadang seluruh jalur keluar dari labirin karang sempit tersebut.

Jarjit berdiri tegak di geladak depan sambil memegang senjata laras pendek dengan seringai mengerikan di wajahnya.

"Mau lari ke mana lagi kalian, tikus-tikus selokan?!" teriak Jarjit mengejek di tengah deru angin.

Suaranya menggema keras, memantul di dinding-dinding batu karang yang menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan.

Andra menarik napas dalam-dalam, menatap tajam ke arah speedboat musuh yang menutup jalan.

Ia tahu tidak ada jalan untuk berputar balik karena jalur di belakang mereka sudah dipenuhi oleh pasukan pengintai.

Satu-satunya jalan keluar hanyalah menembus blokade mematikan yang dipimpin langsung oleh algojo kejam tersebut.

"Pegangan yang sangat erat, Kir! Jangan lepaskan apapun yang terjadi!" perintah Andra dengan suara penuh tekanan.

Kirana mengangguk cepat, air matanya tumpah membasahi pipi karena rasa takut yang sudah mencapai puncaknya.

Ia memeluk pinggang suaminya dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki di dalam balutan selimut tebal.

"Aku bersama Mas... apapun yang terjadi," bisik Kirana lirih di punggung suaminya.

Andra menaikkan tuas gas mesin tempel sampan hingga mencapai batas maksimal tenaganya.

Sampan kayu itu melompat liar, menderu bagai banteng terluka yang siap menerjang apa saja di hadapannya.

Alih-alih berbelok, Andra justru mengarahkan haluan sampan kecilnya langsung menubruk sisi samping speedboat musuh.

Jarjit terkejut melihat kenekatan target buruannya yang berani melakukan serangan balik secara frontal.

"Bantai mereka! Tembak lambung sampannya!" geram Jarjit panik sambil mengangkat senjatanya.

Dor! Dor! Dor!

Rentetan tembakan peluru tajam kembali meledak bertubi-tubi memecah keheningan malam samudra.

Peluru-peluru tajam berhamburan, menghantam air dan memercikan buih putih tepat di sisi sampan yang dikemudikan Andra.

Namun, kecepatan sampan kayu yang didorong tenaga maksimal membuat para penembak musuh kesulitan mengunci sasaran dengan akurat.

Jarjit, yang berdiri di geladak speedboat, mendadak panik saat melihat haluan sampan kecil itu semakin mendekat dengan kecepatan penuh tanpa tanda-tanda mengerem.

"Dia mau menabrak kita?! Cepat hindar!" teriak Jarjit kepada pengemudi kapal cepatnya dengan nada emosi.

Namun, sudah terlambat bagi speedboat besar itu untuk menghindar di ruang perairan yang cukup sempit di mulut terowongan.

BARRRR... KKKHH... DUAR...!

Suara hantaman keras antara kayu sampan dan lambung fiberglass kapal cepat menggema nyaring memecah langit malam.

Tabrakan frontal itu membuat speedboat musuh tersentak hebat ke samping akibat hantaman momentum yang tidak terduga.

Jarjit terpental keras, jatuh tersungkur hingga membentur pagar pembatas geladak kapal dan mengerang kesakitan.

Beberapa anak buahnya ikut kehilangan keseimbangan dan berjatuhan ke lantai kapal akibat guncangan luar biasa tersebut.

Memanfaatkan kekacauan total di pihak musuh, Andra tidak menyia-nyiakan waktu sepersekian detik pun.

Ia langsung membanting kemudi sampan, meluncur lolos dari celah sempit pertahanan musuh menuju lautan bebas yang terbuka luas.

"Pegangan yang kuat, Kir! Kita sudah keluar dari blokade mereka!" seru Andra dengan napas memburu.

Kirana membuka matanya perlahan, menatap ke arah lautan lepas di depan mereka yang kini membentang luas di bawah cahaya bulan.

Meskipun jantungnya masih berdegup kencang, ada kelegaan luar biasa yang menyelimuti sekujur tubuhnya setelah berhasil menembus teror maut tersebut.

Di belakang mereka, speedboat Jarjit masih berputar-putar tak terkendali di mulut gua akibat kerusakan parah pada bagian kemudi dan lambung.

Teriakan amarah dan sumpah serapah Jarjit terdengar sayup-sayup terbawa angin malam, tenggelam oleh deru mesin sampan Andra yang semakin menjauh.

Kini, mereka melaju bebas menuju pulau persembunyian berikutnya, meninggalkan kejaran maut Rian dan para algojonya di belakang garis horizon.

Sampan kayu itu melesat mulus di atas permukaan air laut yang luas.

Udara malam yang dingin berhembus kencang menerpa wajah mereka berdua.

Andra terus mengarahkan kemudi dengan penuh ketenangan.

Matanya tajam mengawasi arah haluan menuju pulau perlindungan di seberang.

Kirana duduk bersandar di samping suaminya.

Ia masih merapatkan selimut tebal yang melingkar di tubuhnya untuk mengusir sisa gigil.

Meskipun ancaman Jarjit sudah tertinggal jauh di belakang, kewaspadaan mereka tetap tinggi.

Perjalanan panjang ini akhirnya membawa mereka keluar dari cengkeraman maut Rian.

Keduanya tahu perjuangan mereka belum sepenuhnya berakhir malam ini.

Namun, keberhasilan melewati teror di labirin karang memberi secercah harapan baru.

Andra menggenggam tangan istrinya sejenak untuk memberikan ketenangan.

Mereka menyongsong fajar di tengah lautan bebas dengan keyakinan penuh.

Sampan kayu bermesin tempel itu terus melaju membelah ombak.

Perlahan-lahan, garis fajar mulai menyingsing di ufuk timur.

Cerah cahaya matahari pagi menembus kegelapan malam yang panjang.

Andra dan Kirana akhirnya mendekati garis pantai pulau kecil.

Pulau itu tersembunyi dan jauh dari jangkauan anak buah Rian.

Andra mematikan mesin sampan secara perlahan.

Suara dengungan mesin seketika senyap digantikan deburan ombak pantai.

Mereka mendaratkan sampan di atas pasir putih yang bersih.

Andra melompat turun terlebih dahulu ke dalam air dangkal.

Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Kirana turun dari perahu.

Kirana menyambut uluran tangan suaminya dengan erat.

Kakinya yang lemas menapak perlahan di atas pasir pantai.

"Kita sudah sampai, Kir," bisik Andra penuh kelembutan.

Kirana menatap sekeliling pulau yang tampak sepi dan rimbun.

Tidak ada tanda-tanda kehadiran manusia di tempat itu.

Tempat tersebut sangat aman untuk dijadikan tempat bersembunyi sementara.

Mereka berjalan beriringan menuju sebuah gubuk tua nelayan.

Gubuk itu berdiri kokoh di bawah naungan pohon kelapa tinggi.

Pintu gubuk tidak terkunci rapat dan bisa dibuka dengan mudah.

Andra membersihkan bagian dalam gubuk sekadarnya agar layak ditempati.

Kirana merebahkan tubuhnya sejenak di atas alas kayu.

Kelelahan fisik dan mental mendera tubuhnya setelah pelayaran maut.

Andra duduk di samping istrinya sambil mengelus rambutnya.

"Istirahatlah dulu, Kir. Aku akan berjaga di luar," kata Andra.

Kirana menggelengkan kepalanya pelan tanda menolak.

Ia masih merasa cemas meskipun mereka sudah berada di pulau lain.

"Kita harus tetap waspada, Mas," ujar Kirana lirih.

Andra mengangguk paham atas kekhawatiran yang dirasakan istrinya.

Ia tahu musuh seperti Rian tidak akan berhenti begitu saja.

Jaringan bisnis dan kekuasaan Rian sangat luas di berbagai wilayah.

Namun, untuk hari ini, mereka berhasil mencuri waktu dari maut.

Andra berjalan keluar menuju teras gubuk nelayan tersebut.

Ia mengamati situasi sekitar pantai dari balik pepohonan rindang.

Udara pagi terasa sangat sejuk menyapu kulit wajahnya.

Ia merencanakan langkah berikutnya untuk menjatuhkan imperium Rian.

Penyamaran yang ia bangun selama ini hampir mencapai puncaknya.

Segala bukti pengkhianatan dan manipulasi keuangan sudah di tangannya.

Yang ia butuhkan sekarang hanya waktu yang tepat untuk menyerang balik.

Sementara itu, di sisi lain pulau, Kirana mulai memejamkan mata.

Rasa lelah yang amat sangat membuat pertahanannya runtuh perlahan.

Ia jatuh tertidur pulas dalam balutan selimut hangat.

Andra menoleh ke dalam gubuk melihat istrinya yang tertidur.

Tekad di dalam dadanya semakin mengeras demi melindungi wanita itu.

Tidak ada lagi ruang untuk rasa takut atau keraguan.

Semua orang yang telah menghina dan menyakiti mereka akan membayar tuntas.

Perjalanan panjang dari suami miskin menuju singgasana segera dimulai.

1
Mga
💪
ciber ara
semangat!!!!!!
ciber ara
next 👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!