NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28

Seorang gadis tengah duduk dengan camilan di tangannya. Matanya masih mencuri-curi pandang ke arah kamar yang letaknya cukup jauh dari tempatnya duduk. Kini dirinya berada di ruang tengah dengan televisi yang menyala.

Kepalanya sesekali menoleh ke arah ujung ruangan, tempat kedua pria tadi membawa Marchel masuk ke dalam kamarnya. Mereka pergi setelah dirinya selesai makan malam bersama Marchel. Bahkan, tidak ada sepatah kata pun yang dia dengar mengenai pemeriksaan pria itu.

Rasa penasaran membuatnya bertahan duduk di ruang tengah selama hampir satu setengah jam. Dia ingin tahu penyakit apa lagi yang diderita pria lumpuh itu. Rasanya pria tersebut dipenuhi begitu banyak rasa sakit.

Saat matanya hampir terpejam, terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Gadis itu segera mengangkat kepalanya dan melihat kedua pria yang berjalan ke arahnya. Dokter tadi hanya melemparkan senyum tipis kepadanya sebelum akhirnya pergi tanpa menyapa.

Setelah melihat kepergian sang dokter, kini tatapannya beralih kepada Arga yang berdiri tak jauh darinya. Keduanya saling melempar pandang sebelum Arga menghampiri dan duduk di sofa panjang di sebelah Tirta.

“Apa ada hal buruk yang terjadi pada pria itu?” tanya Tirta saat Arga hanya mengembuskan napas panjang.

“Tidak ada yang buruk. Hanya saja, dia pasti akan demam tinggi setelah ini. Setiap bulan dia menjalani pemeriksaan oleh dokter kepercayaan kami. Setelah diberi obat, tubuhnya akan bereaksi dengan demam, bahkan terkadang dia harus berbaring di tempat tidur hingga dua minggu ke depan.” jelasnya dengan wajah sendu.

Tirta menatap pria itu dengan ekspresi iba.

“Kakak bisa tinggal di sini untuk menjaganya.” sahutnya memberi saran. Menurutnya, jika Arga memang mengkhawatirkan sepupunya, itu adalah pilihan terbaik.

“Masalahnya aku harus meninggalkannya sendirian. Aku dan keluargaku akan pergi ke luar negeri untuk menghadiri pernikahan saudara Papa. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, tapi aku juga tidak mungkin mengajaknya.” ucap Arga menyampaikan keresahannya. Dalam hati, dia mengakui bahwa ini adalah kebohongan terbesar yang pernah dia lakukan.

Memang benar, setiap Marchel menjalani pemeriksaan bulanan, dia akan demam dan drop selama beberapa hari. Namun, alasan itu juga bisa menjadi cara agar Tirta bersedia menginap di kamar pria itu sesuai permintaan Marchel. Bahkan, Arga sengaja memajukan jadwal pemeriksaan pria tersebut demi menuruti keinginan sepupunya agar bisa lebih dekat dengan Tirta.

“Bagaimana denganmu? Mau membantuku?” tanya Arga tiba-tiba. Tatapannya penuh harap kepada gadis yang tengah duduk bersila sambil memegang sebungkus camilan berwarna hijau.

Tirta langsung menoleh dengan wajah waspada.

“Maksud Kakak... aku yang menjaganya? Kalau sekadar hal-hal yang wajar, masih bisa kubantu.” ucapnya sambil memberi batasan sejak awal.

“Bisa temani dia sampai aku pulang? Urus dia seperti aku mengurusnya. Temani dia tidur, mandikan dia, lalu suapi dia makan. Gampang, kan?”

Mendengar itu, Tirta langsung bangkit dari duduknya dan berdiri di depan Arga yang masih menatapnya penuh harap.

Apa dia bilang?

Mandi?

Tidur?

Ini jelas tidak mungkin!

Bagaimana bisa pria itu meminta hal yang di luar nalar seperti itu?

“Enggak! Aku enggak mau, Kak!” sahutnya lantang sambil menggeleng keras dengan wajah masam.

“Tirta, sini dulu. Duduk dan dengarkan aku.”

Arga menarik pelan tangan gadis itu hingga kembali duduk berhadapan dengannya. Kini yang dia mainkan adalah psikologi agar Tirta mau menyetujui permintaannya.

“Dengar, aku cuma pergi sebentar. Aku benar-benar minta tolong. Bahkan kalau kamu mau, aku akan memberikan kompensasi dan membayarmu selama menjaga Marchel.” ucapnya selembut mungkin agar tidak menyinggung gadis di hadapannya.

“Kak, ini bukan soal uang atau apa pun. Kalau cuma membuatkan makanan, aku masih bisa bantu. Tapi tidur dengannya setiap malam dan memandikannya? Apa Kakak enggak salah? Cari dokter atau suster pria saja untuk melakukannya.”

Tirta menyibakkan rambut panjangnya ke belakang dengan frustrasi. Sulit sekali menjelaskan keraguannya.

“Kamu berpikir Marchel akan berbuat macam-macam padamu?”

Pertanyaan itu langsung dijawab dengan anggukan.

Memang dirinya pernah menemani pria itu tidur sekali, tetapi saat itu hanya karena Marchel sedang bermimpi buruk dan tidak mau melepaskan tangannya.

Namun situasi sekarang berbeda.

Dia diminta menemani pria lumpuh itu selama beberapa hari. Tidur dan bangun dari tempat tidur yang sama.

Apa dirinya masih bisa waras?

“Tenang saja... dia impoten.”

Arga menundukkan kepala sambil memejamkan mata.

Bukan karena sedih.

Melainkan karena dia sadar, mulutnya yang terlalu enteng baru saja membocorkan hal yang seharusnya tidak pernah diketahui Tirta.

Dengan wajah terkejut, Tirta menutup mulutnya.

Matanya terus menatap Arga yang masih menunduk.

Pasti sangat berat menjadi Marchel yang memiliki begitu banyak penyakit. Bahkan Arga sampai tidak sanggup mengangkat wajahnya karena merasa kasihan.

Begitulah pikir Tirta.

Dia sama sekali tidak tahu kalau pria di hadapannya sedang menyusun berbagai alasan agar semua kebohongan itu terdengar masuk akal.

“Apa karena dulu dia pernah jatuh dan tulang belakangnya terbentur?” tanya Tirta memastikan. Bahkan kini dia sedikit mendekat agar bisa mendengar jawaban Arga dengan lebih jelas.

Arga tersenyum tipis.

Apa gadis ini diam-diam mencari tahu tentang penyakit Marchel?

Apa ini?

Chemistry macam apa yang sedang tumbuh di antara mereka?

“Kamu sampai mencari tahu? Jarang ada orang yang paham penyebab kelumpuhan seperti itu kalau bukan keluarga atau orang terdekat pasien.” godanya sambil memicingkan mata.

“Hmm... itu... aku cuma sedikit penasaran. Sudah, lupakan saja. Aku tetap enggak mau.”

Tirta memalingkan wajah dengan kesal karena merasa ketahuan. Padahal selama ini diam-diam dia memang mencari berbagai informasi di internet tentang penyebab kelumpuhan.

Dia membaca banyak artikel kesehatan yang menjelaskan bahwa kelumpuhan akibat cedera tulang belakang sering kali tidak bisa sembuh. Bahkan, kondisi itu juga dapat menyebabkan impotensi permanen ataupun tidak, tergantung seberapa parah benturannya.

“Hah... kasihan sekali sepupuku. Dia harus hidup di dunia yang rasanya tidak pernah memihaknya. Kecelakaan itu sudah merenggut begitu banyak hal dari hidupnya. Sekarang aku juga harus meninggalkannya sendirian dalam keadaan seperti itu.”

Arga mulai memainkan kemampuan aktingnya. Dengan gaya seorang aktor profesional, dia bahkan menyeka sudut matanya yang sama sekali tidak mengeluarkan air mata.

Tirta mendengarkan setiap ucapan pria itu hingga hatinya mulai tidak enak. Gadis itu terdiam cukup lama sambil berpikir.

“Malang sekali hidupnya...” lanjut Arga lagi, terus memprovokasi sambil sesekali melirik dari sudut matanya.

Melihat Arga yang tampak begitu sedih, Tirta semakin merasa iba. Jika dirinya berada di posisi Arga, mungkin dia juga akan merasakan kesedihan yang sama melihat saudara sendiri kehilangan begitu banyak hal dalam hidupnya.

“Baiklah... aku setuju.”

Kalimat itu membuat Arga ingin berteriak kegirangan.

Sayangnya, dia masih harus mempertahankan wajah sedihnya agar sandiwara ini tidak terbongkar.

Arga segera menggenggam kedua tangan Tirta dengan erat. Wajahnya dipenuhi rasa syukur atas keputusan gadis itu.

Meski setelah ini dirinya mungkin akan dikirim jauh oleh Marchel karena terlalu banyak membocorkan rahasia, setidaknya dia berhasil membuat "obat tidur berjalan" milik sepupunya itu bersedia tinggal dan tidur di ruangan yang sama.

“Kamu baik sekali, Tirta. Aku benar-benar berutang banyak padamu. Tenang saja, nanti semua kerugian mental yang kamu alami akan kubayar.”

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!