NovelToon NovelToon
Cerita SMA

Cerita SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Ervina Dwiyanti

Tidak menyangka Aisyah mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada ketika dulu di SMP atau di SD yang tidak diperlakukan baik oleh teman teman barunya itu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ervina Dwiyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8.

Bayang Kegagalan dan Sekat Hati

Pagi itu suasana kelas terasa mendadak panas. Matahari yang biasanya menyinari ruangan dengan hangat, kali ini seolah hanya menambah gerah di dada setiap anggota kelompok tugas Bu Ratna. Hari ini adalah hari penyerahan sekaligus persiapan presentasi tugas besar Bahasa Indonesia—sebuah makalah dan naskah drama yang telah mereka kerjakan selama dua minggu terakhir.

"Dimana file naskah dan makalahnya? Bukannya kemarin lo bilang sudah lo simpan di flashdisk dan kamu bawa hari ini?" suara Rara terdengar bergetar menahan amarah, matanya menatap tajam ke arah Laras.

Laras berdiri mematung di samping meja guru, tangannya gemetar memegang flashdisk yang baru saja ia coba colokkan ke laptop proyektor. Layar di depan mereka menampilkan kotak peringatan bertuliskan 'Folder Kosong'. Wajahnya seketika pucat pasi, darah seolah berhenti mengalir di pembuluh nadinya.

"Aku... aku yakin sudah menyalinnya kemarin sore," jawab Laras pelan, matanya tak berani menatap siapa pun kecuali Dimas yang berdiri tak jauh darinya. "Sumpah, Dim, aku sudah taruh di sini. Aku nggak ngerti kenapa hilang..."

Dimas mengernyitkan dahi, mendekat untuk melihat layar lebih jelas. "Kamu yakin nggak salah colok flashdisk? Atau lupa menekan tombol simpan?" tanyanya lembut, berusaha tetap tenang meski keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.

"Enggak! Aku pakai flashdisk ini khusus buat tugas kita!" seru Laras sedikit meninggi, suaranya bergetar. "Aku janji sama kamu, aku nggak bermaksud menghilangkannya!"

Sementara itu, Rara menghela napas kasar, tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. "Lo nggak bermaksud tapi fakta bilang lain, Ras! Seminggu ini kita begadang, kita bagi tugas sampai lupa makan, dan sekarang lo bilang hilang begitu saja? Lo sadar nggak sih seberapa penting tugas ini? Bu Ratna bilang ini menyumbang 40 persen nilai akhir semester!"

Suara Rara terdengar keras dan penuh penekanan. Baginya, ini bukan sekadar nilai, tapi hasil kerja keras yang dihancurkan oleh kelalaian orang lain. Terlebih lagi, sejak awal ia memang tak pernah sepenuhnya percaya pada keseriusan Laras.

Aisyah yang sejak tadi diam akhirnya maju selangkah, berusaha meredakan ketegangan. "Rara, tenang dulu. Jangan langsung marah. Kita cari solusinya dulu, jangan saling menyalahkan. Laras juga pasti sedih dan panik seperti kita." Ia menoleh ke arah Laras, matanya teduh namun serius. "Laras, coba kamu ingat-ingat lagi. Setelah menyalin file itu, apa kamu membukanya lagi? Atau meminjamkan flashdisk ini ke orang lain?"

Laras menggeleng cepat, matanya berkaca-kaca. Ia menatap Aisyah sekilas, lalu buru-buru membuang muka. "Enggak. Nggak ada yang pinjam. Gue nggak tahu..." jawabnya pelan, masih dengan nada bicara yang canggung, seolah jarak antara dirinya dengan Aisyah dan Rara masih setinggi langit dan bumi.

"Kurang apa lagi sih?" potong Rara lagi, emosinya belum mereda. "Kemarin kita sudah ingatkan berkali-kali buat cek ulang. Lo malah sibuk nanya-nanya soal penampilan Dimas buat presentasi, nggak fokus sama tugas intinya! Sekarang apa yang mau kita kasih ke Bu Ratna? Mulai dari nol lagi dalam waktu kurang dari satu jam? Nggak mungkin!"

"Rara, jangan bicara begitu," tegur Dimas pelan, meski di dalam hatinya pun ia merasa kecewa berat.

"Terus gimana lagi, Dim?" Rara menoleh ke arah Dimas, matanya memerah. "Ini bukan kali pertama dia ceroboh. Selama mengerjakan tugas ini, dia yang paling banyak absen, paling lambat mengumpulkan bagiannya, dan sekarang malah bawa file kosong! Kalau begini caranya, mending kita ganti anggota saja. Daripada satu kelompok dapat nilai jelek gara-gara satu orang, lebih baik kita laporkan ke Bu Ratna kalau kita berempat nggak bisa satu kelompok lagi karena ada kendala serius!"

Ucapan itu bagaikan petir di siang bolong. Laras mundur selangkah, kakinya terasa lemas seketika. Ucapan 'mengganti anggota' atau 'mengeluarkan dia' adalah ketakutan terbesarnya. Ia diam terpaku, air mata mulai menumpuk di pelupuk mata namun ia berusaha menahannya agar tidak jatuh di depan umum. Ia tak berani menatap Rara maupun Aisyah, hanya sesekali melirik Dimas dengan tatapan memohon, seolah hanya Dimas satu-satunya tempat ia berpijak saat ini.

"Jangan... tolong jangan keluarkan gue..." bisiknya lirih, hanya terdengar oleh Dimas. "Gue janji gue akan perbaiki. Gue akan cari cara. Gue nggak mau menyusahkan kalian..."

Dimas menghela napas panjang, lalu menatap ketiga temannya satu per satu. "Dengar ya, semua," ucapnya tegas namun tenang. "Marah itu wajar, aku juga kecewa. Tapi mengeluarkan Laras bukan solusi. Itu justru terlihat seperti kita membuang teman saat dia sedang kesulitan. Dan kalau kita mulai dari nol sekarang, kita pasti terlambat dan nilainya tetap jelek. Kita harus cari jalan lain."

"Tapi jalan lain apa, Dim?" tanya Rara ketus. "File-nya nggak ada! Habis gimana lagi?"

"Kita punya cadangan," suara Aisyah tiba-tiba terdengar, membuat semua mata tertuju padanya. Ia tersenyum tipis. "Kemarin sore setelah Laras menyalin file, aku merasa was-was. Jadi aku minta izin ke Laras untuk mengirimkan file lengkap itu ke email kelompok. Aku takut ada hal tak terduga seperti ini. Jadi file-nya masih ada di kotak masuk email kita."

Sejenak suasana hening. Rara terbelalak, lalu perlahan menurunkan bahunya yang tegang. Ia menatap Aisyah tak percaya. "Kamu serius?"

"Serius. Coba saja buka email kelompok di browser laptop itu," tunjuk Aisyah ke arah laptop di meja guru.

Dimas segera melakukannya. Tak butuh waktu lama, wajahnya yang tadi cemas kini berubah cerah. "Ada! Semuanya lengkap! Makalah, naskah drama, dan materi presentasinya ada di sini!"

Rasa lega seketika menyelimuti dada mereka berempat. Namun bagi Laras, rasa lega itu bercampur dengan rasa malu yang luar biasa. Ia sadar betul bahwa tanpa kewaspadaan Aisyah, mimpi buruk itu pasti terjadi. Ia menunduk dalam, rasa bersalah memenuhi setiap sudut hatinya.

Rara menatap Laras lekat-lekat. Melihat wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca itu, kemarahannya perlahan luntur, berganti dengan rasa iba yang bercampur kesal. Ia mendekat perlahan.

"Untung ada cadangan..." ucap Rara pelan, nada bicaranya sudah tidak setajam tadi, meski masih menggunakan sapaan yang biasa ia gunakan. "Lo harusnya lebih teliti, Ras. Ini bukan cuma buat kamu, tapi buat kita semua. Kepercayaan itu susah dibangun kalau sering dikecewakan begini."

Laras mengangguk pelan, tak berani menyahut banyak. Ia hanya menatap Dimas sekilas, lalu berbisik pelan, "Maaf ya, Dim. Aku janji nggak akan ceroboh lagi. Aku akan berusaha lebih baik lagi."

Dimas tersenyum tipis, menepuk bahunya pelan. "Aku tahu kamu bisa kok. Yang penting lain kali lebih hati-hati, dan percaya juga sama teman yang lain. Kita ini satu tim, kan?"

Aisyah pun ikut mendekat, menatap Laras dengan lembut. "Aku yakin kamu tidak sengaja, Laras. Semua orang pasti pernah salah. Yang penting kamu mau belajar dari kesalahan ini. Kita selesaikan tugas ini dengan baik ya, sama-sama."

Laras menatap Aisyah, bibirnya bergerak ingin mengucapkan terima kasih, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Ia terbiasa menjaga jarak, terbiasa merasa harus bersaing, sehingga sulit baginya untuk bersikap hangat pada Rara dan Aisyah seperti pada Dimas. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik membantu Dimas menyiapkan materi di layar.

Saat Bu Ratna masuk ke kelas beberapa menit kemudian, mereka sudah siap. Meskipun ketegangan belum sepenuhnya hilang, dan sekat di antara Laras dengan dua temannya perempuan itu masih terlihat jelas, setidaknya mereka melewati badai pertama bersama-sama.

Di sela-sela persiapan itu, Rara melirik Laras yang sibuk mengatur posisi berdiri. Ia menghela napas pelan. Mungkin Laras memang punya banyak kekurangan, mungkin sikapnya masih menyebalkan dan penuh rahasia. Tapi hari ini Rara belajar satu hal, membuang orang lain saat susah bukanlah hal yang benar, sekalipun orang itu pernah menyakiti hati kita. Dan mungkin, perlahan, sekat yang memisahkan mereka itu bisa terkikis pelan-pelan—bukan dengan paksaan, melainkan dengan waktu dan kejujuran.

Sementara itu di sudut lain hati Laras, benih kesadaran mulai tumbuh. Bahwa menjadi bagian dari kelompok bukan berarti sekadar mendapatkan nilai atau dekat dengan orang yang disukai. Ada tanggung jawab, ada rasa saling menjaga, dan ada kepercayaan yang harus dijaga dengan sepenuh hati. Dan untuk hal itu, ia masih punya banyak hal untuk dipelajari dari teman-temannya.

1
sakura
...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!