Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Perpustakaan Angin (Bagian II)
...Bisikan yang Tidak Memiliki Suara...
..."Tidak semua pesan lahir dari kata-kata. Ada yang lahir dari kesunyian yang terlalu lama dipelihara."...
^^^—Hikmat Raja Angin^^^
Para Panurirang kembali melayang ke pusaran angin. Makhluk-makhluk kecil itu membawa gulungan-gulungan bening berisi doa, harapan dan janji yang terus berdatangan dari seluruh Banua Ginjang.
Sebagian gulungan bercahaya keemasan. Sebagian lagi berwarna biru lembut. Ada pula yang berkilau merah seperti fajar.
Setiap warna memiliki makna. Keemasan adalah syukur. Biru adalah kerinduan atau kesedihan. Merah adalah keberanian. Tidak satu pun gulungan-gulungan itu yang memiliki warna gelap.
Deak memperhatikan dengan saksama dan bertanya, "Apakah tidak ada doa yang sedih Guru?"
Raja Angin tersenyum tipis, "Ada."
"Lalu mengapa tidak ada yang berwarna gelap?" tanya Deak lagi.
"Karena kesedihan yang lahir dari hati yang jujur tetap akan memancarkan cahaya."
Jawaban itu membuat Deak terdiam.
...****************...
Di salah satu sudut Perpustakaan Angin, berdiri sebuah lengkungan yang terbentuk dari pusaran udara. Tidak terlihat megah ataupun menyeramkan. Namun seluruh Panurirang tampak menghindarinya.
Tidak ada seekor pun Simangaronsang yang berenang mendekatinya.
Bahkan Parsinuan yang biasanya bebas mengepakkan sayap pun memilih berputar di kejauhan, menghindari sudut itu.
"Apa yang ada di sana?" tanya Deak penasaran.
Raja Angin memandang lengkungan itu cukup lama dan akhirnya menjawab perlahan: "Itu... Ruang Sunyi."
"Apakah di sana tidak ada angin?" tanya Deak lagi.
"Justru sebaliknya. Di sana terdapat angin yang paling tua." jawab sang Guru.
Mereka melangkah mendekat bersama-sama. Semakin mendekat, Deak semakin merasakan sesuatu yang aneh. Ia tidak bisa mendengar suara apa pun. Tidak ada desir. Tidak ada bisikan. Tidak ada nyanyian. Padahal di sekelilingnya angin masih berputar.
"Bagaimana mungkin... angin seakan tidak bersuara?" tanya Deak lagi.
Raja Angin mengangkat telapak tangannya, "Karena suara lahir ketika angin menyentuh sesuatu. Dan di tempat ini... angin tidak menyentuh apa pun."
Di tengah sudut Ruang Sunyi itu, terlihat sebuah bola bening sebesar buah labu sedang melayang. Bola itu bukan terbuat dari kaca, bukan juga dari air. Melainkan ruang kosong yang memantulkan seluruh langit.
Deak mendekatinya. Di dalam bola itu, ia tidak melihat ada bayangan. Tidak ada warna. Hanya kehampaan yang anehnya terlihat damai.
"Itu apa?" tanya Deak akhirnya memecah kesunyian yang sempat tercipta.
Raja Angin menjawab lirih, "Itulah tempat kami menyimpan... kata-kata yang tidak pernah diucapkan."
Deak memiringkan kepala, jelas sekali terlihat bingung, "Bagaimana mungkin ada kata-kata yang tidak pernah diucapkan?"
Raja Angin menatap jauh ke cakrawala, lalu menjawab perlahan: "Karena tidak semua hati mampu mengatakannya. Ada permintaan maaf yang hanya tersimpan di dalam dada. Ada rasa sayang yang tak pernah sempat diungkapkan. Ada tangisan yang terpaksa ditelan agar orang lain tetap bisa tersenyum. Namun semesta tetap bisa mendengarnya."
Mata Deak mulai berkaca-kaca. Ia tiba-tiba teringat pada perempuan yang ia lihat di dalam Telaga Sipaet. Ia teringat pada mata hijau besar di dasar samudra. Ia tetap tidak tahu mengapa, namun semua kenangan itu terasa saling terhubung.
"Kalau begitu... Apakah kesunyian juga bisa berkata-kata?" tanya Deak dengan nada sedih.
Raja Angin mengangguk perlahan, "Kesunyian... adalah bahasa yang digunakan semesta untuk berkomunikasi ketika kata-kata tidak lagi cukup."
Tepat pada saat itu, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak Perpustakaan Angin diciptakan terjadi.
Bola bening di tengah Ruang Sunyi bergetar. Sangat pelan. Mula-mula hanya sebesar embusan napas. Kemudian semakin kuat.
Para Panurirang berhenti bekerja. Sayap-sayap mereka terlipat rapat.
Parhudon mengangkat kepala.
Di kejauhan, Pardalan Bintang menghentikan pekerjaannya, demikian juga para Pargondang Langit yang terdiam seakan membeku.
Bahkan Burung Erung yang sedang melayang di atas awan mendadak berputar arah.
Raja Angin berdiri tegak. Wajahnya berubah serius.
"Mustahil..." bisiknya.
Retakan tipis muncul di permukaan bola bening. Namun bukan retakan yang memecahkan. Melainkan retakan yang membuka.
Dari celah kecil itu, tidak keluar cahaya. Tidak keluar suara. Yang keluar adalah sebuah perasaan. Kesepian. Terlihat begitu tua. Begitu mendalam. Begitu panjang, sehingga Deak tanpa sadar menggenggam erat ulos di bahunya.
Air matanya menetes tanpa dia sendiri sadari. Bukan karena sedih. Melainkan karena ia dapat merasakan kesunyian itu seolah berasal dari dirinya sendiri.
"Apa ini..." bisiknya.
Raja Angin menutup mata, lalu menjawab perlahan: "Ini bukan doa. Bukan juga harapan. Namun bukan pula penyesalan."
"Lalu?" tanya Deak masih dengan mata yang bergelimpangan air mata.
Sang Guru membuka mata perlahan, "Ini... adalah suara hati seseorang yang telah terlalu lama hidup sendirian."
Tidak ada kata yang terucap kemudian. Namun seluruh Ruang Sunyi dipenuhi satu bisikan yang tidak terdengar oleh telinga.
Deak mendengarnya langsung di dalam hatinya.
"...Apakah... masih ada kehidupan... di atas sana?" Kalimat itu begitu lembut.
Tidak memohon. Tidak mengancam. Hanya bertanya. Pertanyaan yang lahir dari penantian yang tak terhitung lamanya.
Deak menutup mulutnya, "Itu... Itu bukan suaraku."
"Bukan." jawab Raja Angin dan menambahkan : "Juga bukan suara siapa pun di Banua Ginjang."
"Kalau begitu..." ujar Deak meragu.
Beliau tidak langsung menjawab. Tatapannya mengarah ke bawah. Jauh menembus akar Hariara. Menembus Banua Tonga. Hingga ke sebuah samudra purba.
"Suara itu datang... dari Banua Toru." ujarnya pada akhirnya.
...****************...
Pada saat yang sama, di dasar samudra yang gelap, Naga Padoha tampak membuka matanya.
Ia tidak menggeram. Tidak pula menggerakan tubuhnya. Ia hanya menatap ke atas. Ke arah tempat yang tak pernah dapat ia jangkau.
Untuk pertama kalinya sejak awal penciptaan, perasaannya berhasil melampaui air, batu dan kegelapan.
Bukan sebagai bagian dari amarah, melainkan sebagai rasa kesunyian. Dan semesta, akhirnya mendengarnya.
...****************...
Raja Angin memandang Deak dengan sorot mata yang belum pernah diperlihatkannya dan berkata lirih: "Putri, mulai hari ini... Engkau harus lebih berhati-hati lagi."
"Mengapa?" tanya Deak polos.
"Karena hatimu... mampu mendengar bahkan apa yang gagal didengar oleh semesta."
Deak memandang bola bening yang perlahan kembali utuh. Di dalam hatinya tumbuh sebuah pertanyaan. Jika makhluk di Banua Toru itu mampu merasa kesepian, apakah ia benar-benar diciptakan untuk menjadi musuh? Pertanyaan itu tidak diucapkannya. Namun angin tetap menyimpannya.
Dan jauh di masa depan, pertanyaan itulah yang akan membuat Deak Parujar mengambil sebuah keputusan terbesar dalam sejarah tiga banua.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 7 – Bagian III: "Doa yang Terbang Bersama Burung Erung."
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/