Sebagai anak sulung, aku sangat menyayangi ibuku. Wanita yang telah melahirkan, membesarkan serta mendidik ku.
“Kalo kamu udah nikah! Prioritaskan ibu dan adik mu, Ratih! Istri mu belakangan, dia itu wanita terakhir yang kamu kenal. Sayangi dia 20 persen aja, ingat itu pesan ibu, Nang!” ujar Sari penuh harap.
Aku hanya bisa tersenyum tulus, “Iya, bu! Danang akan selalu berbakti, mendengarkan semua perkataan ibu! Danang gak akan pernah membantah mau ibu!”
“Tenang aja Gi! Hati abang cuma buat Anggi. Mau kan Anggi kalo abang ajak serius? Bukan lagi pacaran, tapi …” beo ku kala itu.
Dan akhirnya ku nikahi Anggi, tanpa peduli dirinya yang mencintai pria lain. Yang penting aku pemenangnya, aku yang menikahinya.
Kejanggalan demi kejanggalan akhirnya mencuat, membuka tabir kehancuran dalam keluarga ku.
Mulai dari Anggi, gadis polos. Hitam manis dengan tubuh mungil, adik dari teman ku. Meninggal usai melahirkan putra kedua kami. Sementara si sulung baru menginjak usia 7 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
...🌼🌼🌼🌼...
‘Waktu yang pas buat gua lari dari Dayat! Gua gak boleh mati! Lu yang harus mati Dayat! Awas lu!’ jerit batin Sari.
Bugh.
“Ugghhh plastik sialan! Kenapa pake ke injak sih!” ringis Sari dengan wajah kesakitan, sembari menendang kantong plastik yang gak jauh dari kaki kanan nya.
Wanita paruh baya itu, jatuh tersungkur. Usai gagal memanfaat kan kesempatan, kaki kanan nya menginjak kantong plastik beka5 bungkusan tahu yang tergeletak di lantai berpelur pasir.
Kedua lutut Sari langsung memar menghantam peluran lantai warung cukup keras. Sedikit noda darah berc4mpur kotor, tampak terlihat di kedua lutut dan kaki nya Sari dan ke dua telapak tangan nya. Luka yang di tinggal kan dari tulang ikan ba5ah, kuku kuku dari ceker ayam yang menanc4p pada lutut nya.
Dayat menoleh, dengan seringai yang menyeram kan di mata Sari.
“Mau kabur lu ya? Jangan harap lu bisa lari dari gua, Sari! Ajal lu udah di tangan gua, ngerti gak lu!” ejek Dayat dengan suara tinggi, di selingi dengan tawa kepuasan. Melangkah menghampiri Sari.
“Astaga po Sari!” jerit Holidah ketakutan dengan tangan terkepel, mau nolong tapi takut.
"Ya alloh, tolongin itu!" gumam Naya dengan mata berembun, sama hal nya dengan Holidah. Seakan ada paku terpatri pada kaki nya, memberat kan langkah nya untuk menghampiri Sari.
Sari beringsut mundur, dengan nafas memburu antara takut dan kesal dengan keadaan yang ia hadapi saat ini.
“Jangan gila, Dayat! Siapa lu yang bisa mastiin ajal gua hah! Lu cuma anak gak guna! Sadar lu! Pantes juga kaga si Yati buat lu! Lu pemalas Dayat! Kalo bukan modal dari gua, lamaran lu gak bakal berjalan lancar!” cerocos Sari bak petasan banting.
"Lu yang diam, Sari!" bentak Dayat.
Liyah mengedar kan pandangan nya, pada warga sekitar yang tengah menonton bak pertunjukan yang tengah di main kan Sari dan Dayat.
“Tolongin woh! Lu jangan pada ngeliatin! Tolongin itu po Sari!” jerit Liyah, dengan tangan mengajak yang lain untuk membantu Sari.
Budi menggeleng dari tempat persembunyian nya yang jelas terlihat. Nemplok di pohon pisang, “Gak ah po, takut! Ora lihat itu si Dayat megang gol0k!”
“Bang Risan!!! Bini lu tolongin ini!” timpal Naya, menyerukan nama suami Sari dengan suara menggelegar.
"Telepon Danang! Kasih tau ibu nya dalam bahaya!" titah Liyah.
"Kelamaan telepon bang Danang mah! Lapor pak rt sono!" celetuk salah satu warga.
Dayat melirik mata golok di tangan nya, lalu mengerdik kan dagu pada Sari, “Mau kemana bu? Sini! Gak bakal sakit! Ini udah aya asah gol0k nya!”
Dengan pasti, Sari berjalan dengan tertatih tatih, menatap waspada Dayat yang beberapa langkah di hadapan nya.
“Jangan macam macam lu Dayat! Gua ini ibu lu! Jangan jadi anak durhaka lu sama orang tua!” jerit Sari di tengah isak tangis nya.
“Aahhhh lu yang durhaka ama gua, ibu 4njing!” kilah Dayat penuh emosi. Tanpa pikir panjang. Golok mengayun membentang, melukai lengan Sari.
Sreeek.
Brugh.
“Akkkhhhhhh!” Sari menjerit kesakitan, menatap gak percaya lengan nya. Ia yang gak bisa melihat dar4h langsung tumbang. Sementara dar4h segar terus ke luar dari goresan tangan nya yang memanjang.
Gak jauh dari balik punggung Dayat, Risan berseru lantang, “DAYAAAAT!”
Dayat berbalik badan, menatap nyalang sang ayah.
"Kenapa? Bapak mau juga? Nyobain ini tajam nya gol0k?" tanya Dayat tanpa perasaan bersalah, mengangkat tinggi tinggi gol0k di tangan kanan nya. Darah segar menetes membasahi lengan dan tangan kanan Dayat.
...🍂🍂...
Sementara di tempat lain, angin berhembus membawa polusi yang bertebaran di antara kendaraan di tengah padat nya pinggiran kota.
Danang menghenti kan laju motor nya di tepi jalan.
"Bujuk dah, masih pagi. Sarapan ya udah. Tapi ngapa tumben amat ya ini. Hati aya ora enak ini! Detak jantung ngapa kenceng bener ini!" gerutu Danang, mengelu5 dada dengan tampang kusut.
Danang melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya, "Ibu pasti masih kesel lantaran aya telat bangun. Tapi ... Aya balik pulang bae dah abis anter Anggi ke tempat kerja nya."
Motor yang Danang kendarai kembali melaju, bukan rumah nasabah biasa yang menjadi tujuan nya. Tapi rumah Ropih, teman sekaligus kaka dari perempuan yang tengah ia dekati.
Tin tin.
Tanpa berniat turun dari motor yang mesin nya masih menyala. Danang membunyi kan klakson di depan halaman rumah Ropih. Sementara helm masih membungkus kepala nya, dengan kaca helm yang ia biarkan terbuka. Memperlihat kan wajah nya yang gak seberapa ganteng nya.
Kreeek.
Pintu rumah di buka dari dalam, bukan Anggi atau pun Ropih. Tapi pria muda yang gak pernah Danang lihat sebelum nya. Berdiri di depan pintu dengan tangan di pinggang.
"Cari siapa lu, bang?" tanya si pemuda dengan tatapan menantang. Di balik tubuh nya yang pendek, nyata nya ia berhasil membuat Danang terintimidasi.
Danang menelan saliva nya sulit, netra nya mengamati Surya dari ujung kuku sampai kepala, 'Anjiiir, siapa ini orang! Pendek tapi nyeremin amat ya! Lokan abang nya Anggi yang satu lagi? Kalo maling ya gak mungkin bisa sesopan itu buka pintu rumah. Mending gua turun bae dah!'
Danang memati kan mesin motor, melepa5 helm dan menyampirkan nya di kaca spion kanan. Dengan gugup dan kedua kaki gemetar. Ia melangkah menghampiri Surya.
"A- anu bang, sa- saya cari Anggi. A- Anggi nya ada bang?"
Bersambung …