Berawal dari petaka sebuah konser band terkenal, seorang gadis harus membuatnya menerima reward besar karena baru putus cinta. Gadis itu tidak tau bahwa dirinya sedang di kerjai teman kuliahnya hingga membuat seorang Letnan terkena imbasnya.
Disisi lain, akibat petaka tak sengaja, sang Letnan terpaksa harus menanggung akibatnya. Bukan hal mudah menaklukan hati pria yang ternyata adalah Abang dari gadis tersebut, namun pada kenyataannya, lebih sulit menaklukan gadis yang tiba-tiba masuk dalam hidupnya tanpa permisi, apalagi jejak kehidupannya kini di mulai pada wilayah dengan resiko yang cukup tinggi, wilayah yang bisa di katakan rawan, KARANG HITAM.
KONFLIK.. Harap SKIP bagi yang tidak bisa ber KONFLIK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Sehalus mungkin membujukmu.
Bang Riegan melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah. Tapi, bukannya segera menutup tubuhnya, Phia malah membuka pakaian seragam Bang Riegan dan membuangnya asal, lalu dengan beraninya membuka kancing streach crop top nya hingga semakin memperlihatkan siluet tubuhnya yang menawan.
"Aku tau.. Kalau kau macam-macam, Abangku akan menghukummu." Kata Phia tanpa rasa takut, ia tau meskipun kini Abangnya masih marah padanya, Abangnya itu tidak akan membiarkan dirinya mengalami kesulitan di tanah rantau.
Seringai senyum Bang Riegan nampak menakutkan. Ia memarkir mobil dinas lalu keluar dari mobil dan berputar arah, membuka pintu untuk Phia.
"Keluar..!!!"
"Nggak..!! Phia mau keluar, mau jalan-jalan." Tolak Phia.
"Nanti sore sama saya, jangan sampai kamu keluar dari asrama ini tanpa saya." Ucap tegas Bang Riegan.
Phia keluar dari mobil, sikapnya setengah mengejek Bang Riegan lalu melangkah masuk ke dalam rumah. "Phia mau cari hiburan, mau cari cowok di luar. Kamu nggak jalan cari perempuan??"
"Bang*e...." Dalam beberapa langkah saja Bang Riegan sudah bisa menyusul langkah Phia. "Ulangi kata-katamu..!!! Biar saya tampar sekalian mulutmu yang suka ngawur itu."
Dengan beraninya Phia menatap wajah Bang Riegan. Ia memonyongkan bibirnya di depan suaminya. "Ayo tampar.. Lebih cepat lebih bagus, kita cerai."
Phia tidak menyangka dengan reaksi Bang Riegan. Suaminya itu mendorongnya hingga punggungnya menghantam pintu. Pelan bagi Bang Riegan, tapi cukup terasa bagi Phia meskipun tangannya melindungi pinggang Phia dari goncangan keras.
"Kamu ini memang sengaja menguji mental saya atau iman saya????" Tegur keras Bang Riegan. "Sebelumnya, semua baik-baik saja. Sebenarnya apa yang kamu mau????"
"Hidup tenang."
"Kalau kamu ingin hidup tenang, belajar menerima semuanya..!!!! Tingginya gunung di depan tidak akan bisa kamu capai kalau kakimu tidak mau maju ke depan. Lelah, hanya berlaku bagi pejuang yang menyerah. Sakit, hanya bisa hilang kalau kamu berusaha melawannya." Kata Bang Riegan.
Suara Bang Riegan merendah, tidak lagi menggelegar seperti tadi, tapi sarat akan beban dan kekecewaan yang selama ini ia pendam. Tangannya yang melingkar di pinggang Phia tidak sedikit pun merenggang, ia malah lebih mengeratkan genggamannya seolah takut gadis itu akan melarikan diri lagi dari kenyataan.
Tatap mata menantang itu perlahan meredup.
"Katakan, apa yang menjadi bebanmu. Saya akan dengarkan..!!"
"Phia lelah." bisiknya lirih. "Phia tidak mengerti aturanmu, tidak mengerti cara pikirmu. Kenapa kamu segila ini padahal kamu tau tidak saling cinta."
Bang Riegan menghela napas panjang, tangan itu lalu menghapus air mata Phia dengan lembut, sangat jauh berbeda dari sikapnya yang keras beberapa menit lalu.
"Kamu pikir saya tidak lelah?" jawab Bang Riegan pelan. "Pertama.. Saya harus menjaga nama baik keluarga. Kedua.. Saya menjaga dan memastikan keamanan kita berdua di tempat yang asing ini, tapi yang paling berat… saya harus menahan diri agar tidak melukaimu saat kamu sengaja menekan batas kesabaran saya. Saya melarangmu keluar bukan untuk mengekang, tapi karena di sini banyak hal yang tidak kamu ketahui dan bisa membahayakan keselamatan mu."
Lengan itu kembali menarik tubuh Phia lebih mendekat hingga dada keduanya bersentuhan, ia membiarkan gadis itu merasakan detak jantungnya yang berpacu sama kencang dengan dirinya. Jemarinya dari tangan yang lain menyelipkan anak rambut itu ke belakang telinga Phia.
"Kamu kira saya senang harus bersikap sekeras ini? Kalau bisa, saya ingin selalu bersikap lembut, membiarkanmu bebas bergerak sesuka hati. Tapi tempat ini bukan tempat biasa, semua seratus delapan puluh derajat berbeda dengan lingkungan yang kamu kenal. Saya mati-matian menjagamu, jangan buat saya terus jantungan karena kamu tidak mau dengarkan apa kata saya." Perlahan, Bang Riegan mendekatkan bibirnya pada kening Phia. Ada sedikit keraguan, tapi kali ini kecupan itu lebih menggunakan hati daripada saat usai akad nikah di ikrarkan. "Masuk, ganti pakaianmu..!!"
...
Phia termenung sendiri sambil menatap halaman depan rumahnya, ia mengingat jika biasanya Bang Reigar yang selalu memanjakan dirinya. Kini, dirinya harus mendapatkan sikap dingin pria yang mendadak menjadi suaminya.
"Phia kangen. Phia kesepian, Abaaang." Gumamnya sambil mengusap air mata.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Phia menoleh. Bang Riegan datang sambil membawa susu hangat untuk sang istri.
Seperti biasa, suaminya itu minim kata. Pria itu hanya meletakan gelas tersebut di atas nakas lalu menyambar sisir dari meja rias.
"Kenapa melamun?" Tanya Bang Riegan.
"Nggak apa-apa." Jawab Phia.
Dengan lembut Bang Riegan menyisir rambut halus Phia lalu menguncirnya model ekor kuda.
"Kenapa kamu suka menyisir rambut Phia?? Phia bukan anak kecil lagi yang harus selalu di urus."
"Mengurus istri bukan karena dia anak kecil. Tapi karena saya bertanggung jawab penuh atas diri kamu." Kata Bang Riegan.
"Tapi Phia nggak pernah minta kamu melakukan semua ini. Phia bisa sendiri, setidaknya kalau Phia tidak di sini, Phia akan hidup lebih layak."
Bang Riegan tersenyum tipis melihatnya. "Ganti pakaian..!! Yang sopan, sebentar lagi ikut saya."
"Kemana??"
"Nanti kamu pasti tau." Jawab Bang Riegan.
.
.
.
.
Bang Jan...udah beri bang Hernad pencerahan tp knp jadinya kyk gini😄😄🤭
kocak ini ...lanjut mba Nara👍
lanjut mba nara🤭
semangat jg buat mba Nara👍