Vincent Lawson rela meletakkan pistolnya demi menggenggam tangan wanita yang ia cintai. Ia percaya, cincin itu akan menjadi awal dari selamanya. Namun pada malam yang sama, wanita itu mengganti janjinya dengan sepasang borgol.
Di tengah raungan sirene dan hancurnya seluruh impian, Vincent tak lagi mempertanyakan mengapa ia ditangkap. Ia hanya ingin tahu...
“Di antara ribuan senyum yang kau berikan selama dua tahun... adakah satu saja yang lahir karena cinta, bukan karena tugas?” 💔
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Efa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
[ Mencari Kebenaran ]
Malam setelah sidang itu, Zhava tidak pulang. Ia duduk sendirian di ruang arsip kepolisian dengan tumpukan berkas setinggi hampir satu meter memenuhi mejanya. Lampu ruangan yang redup membuat bayangan dokumen-dokumen itu tampak semakin berat. Selama dua tahun penyamaran, ia percaya semua bukti yang diberikan tim penyelidik sudah lengkap. Namun setelah mendengar vonis hukuman mati untuk Vincent, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Benarkah seluruh kebenaran sudah terungkap?
Tangannya perlahan membuka berkas operasi pertama Black Raven yang terjadi delapan tahun lalu. Ia membaca setiap halaman dengan saksama, berharap menemukan sesuatu yang selama ini terlewat.
Hingga menjelang subuh...
Matanya berhenti pada satu nama.
Leon Ardian.
Nama itu hanya muncul sekali sebagai saksi yang menghilang setelah operasi berlangsung. Tidak ada pemeriksaan lanjutan. Tidak ada catatan keberadaannya.
Zhava mengernyit.
"Aneh..."
Ia membuka berkas lain.
Nama itu muncul lagi.
Dan lagi.
Selalu ada di sekitar setiap kasus besar Black Raven.
Namun tidak pernah menjadi tersangka.
Dadanya mulai berdebar.
"Siapa sebenarnya dia...?"
Keesokan paginya, Zhava mendatangi ruang Komandan sambil membawa beberapa map.
"Komandan, saya ingin membuka kembali penyelidikan."
Komandan yang sedang membaca laporan langsung mengangkat kepala.
"Penyelidikan apa?"
"Kasus Black Raven."
Tatapan Komandan berubah tajam.
"Kasus itu sudah selesai."
"Belum."
Zhava meletakkan seluruh berkas di atas meja.
"Saya menemukan banyak kejanggalan."
Komandan bahkan tidak melihat dokumen itu.
"Putusan pengadilan sudah dijatuhkan."
"Masih ada waktu sebelum eksekusi."
"Zhava."
Nada suaranya mulai meninggi.
"Jangan campurkan perasaanmu dengan pekerjaan."
Zhava mengepalkan tangannya.
"Ini bukan soal perasaan."
"Lalu apa?"
"Soal keadilan."
Ruangan mendadak sunyi.
Komandan berdiri dari kursinya.
"Apakah kau sedang membela seorang mafia?"
Zhava menggeleng cepat.
"Tidak."
"Aku sedang membela kebenaran."
Siang harinya, Zhava kembali mengunjungi rumah masa kecil Vincent yang kini telah dipasangi garis polisi.
Rumah itu masih sama.
Mawar putih di halaman mulai layu karena tidak ada lagi yang merawatnya.
Di ruang tamu, dekorasi pertunangan masih tersisa.
Balon-balon putih sudah kehilangan udaranya.
Foto keluarga Vincent masih berdiri di rak.
Zhava menatap rumah itu dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf..."
Ia mulai memeriksa setiap sudut ruangan.
Laci.
Lemari.
Ruang kerja Vincent.
Semuanya tampak biasa.
Hingga ia menemukan sebuah brankas kecil tersembunyi di balik lukisan.
Brankas itu tidak terkunci.
Di dalamnya hanya ada satu flashdisk dan sebuah buku catatan hitam.
Zhava membukanya perlahan.
Halaman pertama membuat napasnya tertahan.
"Daftar seluruh uang yang dikirim ke panti asuhan."
Halaman berikutnya.
"Biaya operasi anak-anak penderita kanker."
Halaman berikutnya lagi.
"Daftar keluarga korban perang antargeng yang kubiayai diam-diam."
Air mata Zhava mulai jatuh.
Ia terus membalik halaman.
Tak ada daftar kekayaan.
Tak ada catatan penyiksaan.
Yang ada justru nama-nama orang yang diam-diam dibantu Vincent selama bertahun-tahun.
Di halaman terakhir tertulis sebuah kalimat.
"Kalau suatu hari nanti aku mati, jangan biarkan anak-anak kehilangan masa depan hanya karena aku sudah tidak ada."
Zhava menutup buku itu perlahan.
Dadanya terasa sesak.
"Kenapa..."
"Kenapa kau tidak pernah menceritakan semua ini padaku?"
Sore harinya, Zhava menemui pengurus panti asuhan yang selama ini sering dikunjungi Vincent.
Seorang wanita paruh baya menyambutnya.
"Anda polisi yang dulu sering datang bersama Pak Vincent, ya?"
Zhava mengangguk.
"Saya ingin bertanya tentang Vincent."
Wanita itu tersenyum hangat.
"Beliau orang baik."
Zhava terdiam.
"Apakah Ibu tahu pekerjaan Vincent?"
Wanita itu menggeleng.
"Saya tidak pernah bertanya."
"Yang saya tahu..."
"...setiap bulan beliau datang membawa kebutuhan anak-anak."
"Beliau juga yang membayar sekolah mereka."
Zhava menelan ludah.
"Selama ini... beliau tidak pernah meminta apa pun sebagai balasan?"
"Tidak pernah."
Wanita itu tersenyum sambil menatap foto Vincent bersama anak-anak panti.
"Bahkan anak-anak memanggilnya Ayah Vincent."
Kalimat itu membuat air mata Zhava kembali jatuh.
Malamnya, Zhava duduk sendirian di dalam mobil.
Flashdisk dan buku hitam masih berada di pangkuannya.
Ia menatap langit yang gelap.
Semakin banyak ia mencari...
Semakin ia sadar bahwa Vincent memang bukan orang baik.
Ia tetap seorang mafia.
Ia tetap melakukan kejahatan yang harus dipertanggungjawabkan.
Namun...
Ada terlalu banyak kebenaran yang belum pernah terungkap di persidangan.
Dan jika semua itu diabaikan...
Maka hukuman yang dijatuhkan tidak lagi lahir dari keadilan.
Melainkan dari kebenaran yang belum lengkap.
Zhava menggenggam buku hitam itu erat.
Dengan air mata yang kembali mengalir, ia berjanji dalam hati.
"Vincent... aku tidak akan menghapus dosa-dosamu."
"Tapi aku juga tidak akan membiarkan dunia menghukummu dengan kebohongan yang bukan milikmu."
Di kejauhan, lonceng penjara berdentang pelan.
Waktu menuju hari eksekusi...
Semakin sedikit. 💔