NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Sukma yang Terbelah

TENG...!!!

Dentang pertama jam dinding di kamar belakang rumah Sekar berbunyi. Suaranya tidak lagi terdengar seperti mesin mekanis fana, melainkan gema lonceng kematian yang dipalu langsung dari tungku neraka. Gelombang suaranya merambat gila, menggetarkan partikel udara yang pekat, dan meledak secara bersamaan di dimensi atas maupun dimensi bawah.

Di dalam kegelapan jurang Wates Ghaib, kepompong cahaya merah dari darah pengorbanan Mbah Sariti yang membungkus sukma Bintang mendadak retak. Energi hangat itu terpancar maksimal untuk terakhir kalinya, memberikan daya dorong masif yang melontarkan raga spiritual Bintang kembali ke atas, menembus kabut semen basah yang bergulung-gulung.

"Sekar!"

Suara Bintang menggelegar, murni didorong oleh sisa batin manusianya yang menolak kalah. Di sela-sela kepulan asap kelabu yang membusuk, dia melihat bayangan kebaya putih Sekar. Sukma gadis itu melayang kaku, terombang-ambing di batas pusaran dimensi tanpa arah karena media penarikannya—air kembang telon di dunia nyata—telah hancur berantakan.

Bintang menjulurkan tangan kanannya yang masih memegang erat Keris Tirto Menggolo. Bilah keris yang berlumur darah suci itu memancarkan daya pikat ghaib, menarik ujung jalinan benang perak milik Sekar yang sempat terputus dari rantai besi Kalingga.

Sreet!

Telapak tangan sukma Bintang berhasil mencengkeram pergelangan tangan spiritual Sekar. Dingin. Rasanya seumpama menyentuh balok es yang diselimuti lendir amis reptil. Saat kontak batin itu terjadi, Sekar tidak bergerak. Wajahnya yang separuh tertutup sisik emas kaku mendongak kaku. Mata kirinya yang memutih tanpa pupil menatap Bintang dengan kekosongan yang mutlak mengerikan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan fana di sana; yang tersisa hanyalah cangkang jiwa yang nyaris membeku menjadi bagian dari tanah kutukan.

Namun, Bintang tidak peduli. Dia mengunci cengkeramannya, menahan beban spiritual Sekar dengan seluruh sisa kekuatan hidupnya. Tangan kirinya mengayunkan Pisau Sungsang Buwana yang kembali menyala keemasan setelah menyerap sisa batin Mbah Sariti, bersiap melakukan lompatan spiritual terakhir untuk menembus gerbang raga.

Tepat pada detik dentang kedua tengah malam akan berbunyi, seluruh dimensi abu-abu itu mendadak berhenti bergerak. Kabut kelabu membeku. Suara lengkingan balatentara siluman di bawah jurang senyap seketika. Kesunyian yang tercipta jauh lebih mengerikan daripada raungan ribuan lelembut, karena kesunyian ini menandakan kehadiran sang pemilik mutlak tanah kutukan.

BUMMMM...!!!

Dasar jurang kegelapan itu meledak. Bukan uap belerang yang keluar, melainkan gelombang uap hitam sepekat tinta yang membubung tinggi hingga merobek batas dimensi abu-abu. Dari dalam pusaran tinta hitam itu, muncul sepasang mata raksasa berukuran sebesar roda pedati, berwarna merah darah dengan pupil vertikal setajam silet.

Kalingga telah turun tangan sepenuhnya.

Wujud manusianya yang pucat telah lebur total. Yang merayap naik dari dasar jurang adalah seekor ular kobra raksasa berkulit hitam legam dengan diameter tubuh yang sanggup melumatkan satu bangunan rumah utuh. Sisik-sisiknya mengilat kaku seperti lempengan baja kuno berkarat yang mengeluarkan lendir amis berbau bunga kenanga membusuk. Di atas kepalanya yang melebar beringas, sebentuk mahkota emas kuno yang dipenuhi rajah kutukan Sabtu Kliwon tertanam kuat ke dalam dagingnya, memancarkan pendaran ungu yang berdenyut seirama dengan detak jantung bumi lereng Raung.

"Manusia lancang... kau pikir kau bisa melangkah keluar dari tanahku dengan membawa apa yang sudah menjadi milikku?!"

Raungan Kalingga tidak lagi berupa suara batin biasa. Itu adalah getaran purba yang langsung menghancurkan sisa-sisa struktur Wates Ghaib.

Krrraakkk... Blam!

Satu hantaman dari moncong raksasa Kalingga menghancurkan sisa titian tanah kuburan yang berada di sekitar Bintang dan Sekar. Daya hancurnya menciptakan tekanan udara ghaib yang luar biasa masif, meremukkan pelindung cahaya keemasan milik Bintang hingga hancur menjadi serpihan debu tak bersisa.

Akkkhhh! Bintang tersedak darah spiritual. Bahu manusianya di dunia fana terasa seperti patah dihantam godam besi. Tubuh sukmanya dan sukma Sekar terombang-ambing di udara, terperangkap di dalam pusaran angin hitam yang diciptakan oleh kibasan ekor raksasa sang Raja Ular.

Kalingga membuka rahangnya yang mengerikan. Di dalam rongga mulutnya yang berwarna merah gelap, terlihat ribuan taring hitam yang meneteskan cairan kental berwarna hijau pekat—racun batin tingkat tertinggi yang sanggup melelehkan ingatan dan kesadaran manusia dalam sekali sentuh. Makhluk purba itu mematuk ke depan, mengincar titik tengah di mana tangan Bintang dan Sekar saling mengunci.

Bintang tahu dia tidak akan bisa menahan hantaman fisik langsung dari sang Penguasa Purba dalam kondisi energinya yang sekarat. Namun, melihat wajah Sekar yang kian tertutup sisik emas, batinnya menolak untuk melepaskan. Dengan kepasrahan total dan kemarahan yang membakar dada, Bintang membalikkan posisi Keris Tirto Menggolo dan Pisau Sungsang Buwana secara bersilangan di depan dada Sekar, mencoba menjadi perisai hidup raga spiritual gadis itu.

"Hancur kau bersama tanah ini, cacing fana!" Raung Kalingga.

BLAAAAMMMM!!!

Benturan mutlak terjadi tepat ketika dentang ketiga tengah malam berbunyi di dunia nyata. Moncong raksasa Kalingga menghantam silangan dua pusaka di tangan Bintang dengan kekuatan gila-gilaan. Ledakan energi spiritual yang dihasilkan luar biasa dahsyat, menciptakan kilatan cahaya ungu bercampur merah darah yang merobek seluruh sisa dimensi abu-abu tersebut.

Kekuatan hantaman Kalingga begitu masif hingga menciptakan daya tarik dua arah yang berlawanan pada sukma Sekar. Tangan kanan Bintang ditarik paksa oleh sisa mantra keselamatan Mbah Sariti menuju gerbang dunia atas, membawa serta separuh esensi spiritual Sekar yang berhasil dia cengkeram sejak awal. Namun di sisi lain, kibasan angin ekor Kalingga dan sisa jalinan rajah di belikat Sekar menarik kuat separuh esensi spiritual gadis itu kembali ke dasar Istana Sisik Hitam.

Sreeeeet... KRAAAKKK!

Sebuah horor batin yang paling mengerikan terjadi di depan mata Bintang. Di dalam pusaran cahaya ungu itu, tubuh spiritual Sekar terlihat bergetar hebat sebelum akhirnya... terbelah secara metafisik.

Esensi jiwa manusianya robek menjadi dua bagian. Separuh bagian atas—kesadaran batin, memori fana, dan nurani manusianya—berhasil ditarik oleh Bintang yang terlempar meluncur ke atas menuju dimensi nyata. Sementara separuh bagian bawah—inti energi kehidupan, hawa syahwat ghaib, dan sisa rajah kutukan Sabtu Kliwon—mutlak tertahan di dalam cengkeraman rahang hitam Kalingga, tersedot kembali ke dasar bumi lereng Raung.

"Kau hanya membawa pulang cangkang kosong yang rusak, manusia cacing! Raganya adalah istanaku!" Lolongan ejekan terakhir Kalingga bergema, mengiringi tubuh sukma Bintang yang terlempar keluar sepenuhnya dari Wates Ghaib.

Kesadaran Bintang gelap gulita. Jiwanya dihantam rasa sakit yang tak terperi, seolah-olah seluruh eksistensinya sebagai manusia telah dicabut dari akarnya saat raga spiritualnya dipaksa masuk kembali ke dalam wadah fananya di dunia nyata.

Uhuk... Hueeeakkk!

Bintang tersentak hebat, tubuhnya meloncat dari posisi bersila sebelum akhirnya tumbang terjerembap di atas lantai tanah yang dingin. Mulutnya memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak, melumuri permukaan lantai yang kini dipenuhi pecahan mangkuk tanah liat dan larutan garam yang menghitam. Dada Bintang kembang kempis secara gila-gilaan, jantungnya berdegup dengan frekuensi yang sangat cepat dan tidak beraturan seolah-olah baru saja dipaksa hidup kembali setelah mati suri.

Kamar belakang rumah Sekar mutlak gelap gulita. Lampu telah padam total akibat hempasan angin hitam ghaib tadi. Bau di dalam ruangan itu terasa sangat mengerikan; perpaduan antara aroma anyir darah manusia, bau belerang yang pekat, dan aroma busuk bunga kenanga yang membusuk.

"Mbah... Sariti..." bisik Bintang dengan suara yang teramat serak dan lemah. Penglihatannya kabur, dilapisi selaput merah darah yang terus merembes dari sela-sela matanya.

Dengan sisa tenaganya, Bintang merangkak di atas lantai tegel yang basah. Tangannya menyentuh seonggok tubuh tua yang terkulai diam di dekat tiang dipan. Itu Mbah Sariti. Tubuh dukun sepuh itu terasa sangat dingin, nyaris tanpa bobot. Detak jantungnya sangat tipis, berjalan lambat satu-satu di ujung ajal akibat efek mantra pengorbanan Genteni Nyowo. Keris Tirto Menggolo tergeletak di sampingnya, bilahnya telah retak menjadi tiga bagian, kehilangan seluruh karomah sucinya.

Di sudut lain, Rahayu masih terbaring pingsan dengan posisi meringkuk, kedua kakinya membiru kaku akibat lilitan anak ular ghaib yang untungnya telah musnah terbakar oleh bom spiritual Mbah Sariti tadi.

Namun, perhatian Bintang langsung teralihkan sepenuhnya ketika mendengar sebuah suara dari atas dipan bambu.

Sreeet... Sreeet...

Itu adalah suara gesekan kain kebaya yang bergerak lambat. Diikuti oleh suara desisan parau yang sangat panjang dan tipis, keluar dari celah bibir seseorang yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.

Hhhssss... Hhhssss...

Bintang memaksakan dirinya untuk menegakkan punggung, berlutut di samping dipan. Di dalam kegelapan murni malam Sabtu Kliwon, raga Sekar perlahan-lahan bergerak bangun. Gadis itu tidak lagi berbaring tegak. Dia mendudukkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat kaku, sendi-sendi tulang leher dan punggungnya berbunyi berderit beruntun seperti boneka kayu yang dipaksa bergerak secara tidak alami.

Krrraakkk... Krrraakkk...

"Sekar...? Kowe... kau sudah sadar, Sekar?" tanya Bintang dengan dada yang bergetar penuh kecemasan. Batinnya langsung merasakan ada ketidakberesan yang teramat besar pada atmosfer di sekitar dipan tersebut. Baunya bukan lagi hawa manusia yang diselamatkan, melainkan hawa dingin yang asing dan mengancam.

Sekar tidak menjawab. Dia memutar kepalanya sembilan puluh derajat ke arah Bintang. Tepat pada detik itu, sisa pendaran bulan di luar rumah menembus celah dinding tripleks yang jebol, menerangi separuh wajah Sekar.

Bintang membeku. Darah di dalam sekujur tubuhnya seolah berhenti mengalir. Horor mutlak mencengkeram kewarasannya sebagai manusia.

Wajah Sekar memang tidak lagi dipenuhi oleh lapisan sisik emas tua; sisik-sisik itu telah memudar pasca putusnya rantai utama Kalingga. Namun, kulit wajahnya berubah menjadi sangat pucat pasi seputih kapur dinding kuburan, mengilat kaku tanpa ada pori-pori manusia yang tersisa. Guratan urat-urat halus berwarna keunguan merayap di sepanjang rahang hingga ke pelipis matanya, berdenyut kencang seirama dengan napasnya yang memburu pendek.

Dan yang paling mengerikan adalah sepasang matanya.

Sekar membuka kelopak matanya lebar-lebar. Seluruh bola matanya—baik bagian kiri maupun kanan—telah memutih total. Tidak ada bagian hitam, tidak ada pupil, dan tidak ada selaput iris yang tersisa. Hanya ada hamparan warna putih susu yang dilapisi selaput lendir kekuningan yang tipis. Mata itu menatap kosong ke depan, memancarkan horor kekosongan yang teramat dingin, seolah-olah jiwa di dalam tubuh itu telah diperas habis dan digantikan oleh entitas lain yang sangat purba.

Siapa yang Bangun?

"Aaaaakhhh...!!! Perih...!!! Panas...!!!"

Tiba-tiba, Sekar menjerit histeris. Suara jeritannya melengking tinggi, memecah keheningan malam dengan frekuensi ganda yang sangat aneh—perpaduan antara suara tangisan histeris seorang gadis remaja dan gema desisan parau dari seekor reptil raksasa yang sedang terluka. Suara itu begitu nyaring hingga membuat telinga Bintang berdenging hebat dan mengeluarkan darah segar lebih banyak.

Sekar mencengkeram kepalanya sendiri dengan kedua tangan. Kuku-kuku jarinya yang telah menghitam panjang dan runcing mulai mencakar kulit wajah dan lehernya sendiri hingga robek, mengeluarkan cairan kental berwarna merah kehitaman yang baunya sangat amis. Tubuhnya meliuk-liuk di atas dipan bambu dengan gerakan yang menyerupai gerakan ular yang sedang sekarat di atas bara api.

"Sekar! Hentikan, Sekar!" Bintang mencoba melompat untuk menahan kedua tangan Sekar agar tidak menyakiti raganya sendiri.

Namun, tepat ketika telapak tangan Bintang menyentuh bahu Sekar, gadis itu mendadak menghentikan cakarannya. Kepala Sekar menoleh cepat, menatap tepat ke arah wajah Bintang dengan mata putih totalnya. Sebuah senyuman dingin, lebar, dan sangat tidak manusiawi perlahan terkembang di bibirnya yang pecah-pecah.

“Bintang... terima kasih... sudah membawaku pulang...” bisik Sekar.

Tetapi, nada bicara itu tidak memiliki emosi sama sekali. Datang, kering, dan kosong. Sisa energi Wisa Sengkolo yang tertinggal di dalam raganya kini mengalir bebas, mengontaminasi cangkang tubuh fisik Sekar yang kehilangan separuh jiwa manusianya di alam ghaib.

Jiwa Sekar yang tersisa di dalam tubuh ini hanyalah potongan kesadaran yang rusak dan gila, sementara kendali motorik raganya kini mulai disusupi secara perlahan oleh sisa kehendak Kalingga dari jarak jauh melintasi sisa rajah di belikatnya. Sekar telah terbangun di dunia nyata, namun dia bukan lagi "Sekar" yang seutuhnya. Dia telah berubah menjadi wadah setengah fana yang siap membawa kutukan baru bagi siapa pun yang berada di sekitarnya.

Di dalam kamar yang porak-poranda dan berselimut bau mayat itu, Bintang terduduk lemas dengan tubuh gemetar hebat. Dia menyadari satu kenyataan pahit yang mengerikan: ritual penarikan sukma mereka tidak sepenuhnya berhasil. Mereka tidak menyelamatkan Sekar; mereka justru membawa pulang sesosok monster berwujud manusia ke dunia nyata.

1
Tina Martince
anak kandung loh 🤭,penasaran ikutin cerita ini ya...😍
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
ibu nya sekar aneh ...
jgn2 sekar anak pungut
atau sengaja di tumbalkan
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
wajah tampan kalingga terlalu mempesona yaa sekarr😂
Tina Martince: 🤭 ya terlalu mempesona
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
perjanjian apa ,
ibu nya sekar terlalu banyak diam
hubungan sekar dan ibu nya
tak harmonis ,
ada kisah rahasia apa disini
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
lahir nya sekar tibo weton wingit
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
harusnya ibu nya sekar lebih jujur
dgn keadaan sekar
mungkin ada perjanjian dgn dunia ghoib ,
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!