Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14.
Arya memberhentikan motornya tepat di depan rumah Salindra. Ia tidak turun dan hanya Salindra yang turun sambil memberikan helm kepada Arya. "Terimakasih sudah mengantar sampai rumah,"
"Sama-sama, maaf karena sudah lancang kemarin tanpa membangunkanmu takut kamu marah. Daripada jatuh di jalan lebih baik menginap di rumah Tante ku saja_"
“Oh jadi kemarin tidak pulang karena menginap di rumah seorang pria, pantesan Kakak hubungi kamu tidak di balas," Jayanti mendekati mereka sambil bertolak pinggang nada bicaranya menandakan kalau dia sangat marah dan kecewa terhadap adiknya.
Salindra terkejut suara kakaknya membuatnya takut, jantungnya berdegup sangat cepat, seketika menunduk menyembunyikan wajahnya. Sedangkan Arya menyapa dengan senyum sungkan.
Arya tidak tahu kalau mereka hanya tinggal berdua saja tanpa ada kedua orang tua. Matanya menelisik ke dalam rumah, tapi tidak ada siapapun dan rasanya ada yang janggal. Ia tidak berani bertanya lebih jauh takut di sangka yang bukan-bukan.
Jayanti melihat wajah pria asing dan adiknya bergantian dengan perasaan curiga. "Apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Jayanti melipat tangan di dada.
Salindra dan Arya saling melirik dengan perasaan malu padahal tidak melakukan apapun. Melihat kemarahan kakaknya Salindra mencoba bicara apa adanya.
“Maaf, Kak. Kemarin aku lembur dan pulangnya kemalaman sementara di sana tidak ada angkutan umum atau taksi, jadi aku diantar sama Arya," jawab Salindra.
Jayanti menelisik wajah adiknya kemudian melihat Arya. "Benar tidak terjadi sesuatu?"
Salindra dan Arya mengangkat dua jari telunjuk dan jari tengah bersamaan sambil mengangguk jujur. "Benar, Kak,"
Jayanti semakin curiga tapi hatinya tertawa melihat tingkah keduanya menjawab bersamaan.
“ Maaf, sudah malam aku pamit pulang mari Kak, Salindra," Arya berpamitan sambil menyalakan mesin motornya dan meninggalkan area rumah Salindra.
“Iya, hati-hati," pesan Salindra melihat Arya sampai menghilang.
“Kak, aku mandi dulu," Salindra berjalan masuk ke kamar kemudian membersihkan tubuh.
Ponsel Salindra berbunyi, ia baru selesai mandi melihat ponselnya yang menyala mengangkatnya. Sebuah notifikasi chat masuk mata Salindra melebar sempurna. Sebuah video lamanya membuatnya marah dan mencoba menghubungi nomor pengirim.
Beberapa kali Salindra menghubungi tapi tidak aktif. Ia merasa ada orang yang tidak suka padanya. "Video ini bukan aku tapi orang lain kenapa bisa ada aku di dalamnya?"
Salindra tidak habis pikir cara orang memfitnahnya sangatlah murahan. Ia akan mencari siapa yang mengirim video tersebut. Tidak mau terlalu larut dalam masalah ia keluar dari kamar untuk makan malam bersama kakaknya.
"Kamu sudah kenal lama sama pria tadi?" tanya Jayanti.
“Namanya Arya, kami bertemu di stasiun beberapa waktu lalu, dan aku juga tidak tahu, entah kebetulan atau memang dia ada keperluan di daerah tersebut yang jelas setiap kali aku pulang dia selalu menawarkan bantuan mengantarku pulang," jawab Salindra sambil berpikir tentang Arya.
"Mungkin dia bekerja di sekitar perusahaan tempat kamu kerja kali," sahut Jayanti asal tebak.
“Mungkin begitu," Salindra mengambil hidangan lalu melahap dengan pelan dan sangat menikmatinya.
Menjelang dini hari Salindra terbangun melihat di luar masih gelap. Ia merasa haus kemudian turun dari tempat tidur berjalan keluar kamar mengambil air di dapur. Segelas air membuat tenggorokannya basah dan tak lagi kering. Di luar sekelabat bayangan melintas dengan sangat cepat.
Salindra berjalan mengikuti arah bayangan itu menghilang, ia berdiri di dekat jendela dan membuka tirai sedikit melihat keluar siapa orang yang baru saja melintas. Setelah menunggu beberapa menit bayangan itu tidak terlihat lagi. Tapi di ujung jalan melihat dua orang berdiri seperti sedang berbicara membuat mata Salindra menyipit.
"Bagaimana sudah dipastikan tidak ada orang yang melihat?" tanya Seorang perempuan kepada seorang pria.
“Beres saya tidak melihat ada orang di sekitar rumah itu," jawab pria tersebut dengan yakin.
"Bagus, ini uangnya besok kalau tugasmu berhasil aku akan tambahi lagi," kata perempuan itu lagi.
"Terimakasih banyak Nona, saya permisi," pamit pria tersebut meninggalkan perempuan sendirian.
Perempuan itu tersenyum smirk hatinya tertawa senang, karena rencananya berhasil. "Aku ingin lihat seberapa besar rasa percaya dirimu, Salindra," katanya sambil melihat ke arah rumah Salindra.
Di balik jendela Salindra melihat orang yang berdiri sedang melihatnya karena ada pantulan sinar lampu mengenai wajahnya. "Ternyata dia perempuan, tapi siapa dan kenapa malam-malam berdiri di sana dan pria tadi siapa?" gumam Salindra dengan perasaan tidak enak.
Setelah beberapa menit kemudian perempuan itu meninggalkan tempat berjalan ke arah seberang jalan masuk ke dalam mobil dan pergi. Salindra masuk ke dalam kamar memikirkan sosok bayangan yang melintas depan rumahnya merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Karena masih gelap, Salindra memutuskan memejamkan mata sebentar sambil menunggu pagi menyambut.
“Kok motornya aneh gini, perasaan kemarin baik-baik saja," ucap Jayanti menyalakan mesin tapi tidak nyala.
Jayanti mencoba beberapa kali menyalakan mesin tidak juga nyala membuatnya marah karena waktu sudah hampir masuk kerja. Ia takut terlambat, saat melihat motor Salindra mencoba menyalakannya dan berhasil.
Di dalam rumah Salindra merasa heran mendengar suara motornya menyala langsung bergegas keluar melihat motornya takutnya ada pencuri masuk dan mengambil motornya.
“Kakak, kenapa nyalain motorku, memangnya motor kakak kenapa?" tanya Salindra melihat motor kakaknya baik-baik saja.
"Motorku tidak bisa nyala dan remnya blong," jawab Jayanti dengan wajah marah.
"Kok bisa?" Salindra merasa heran sesaat kemudian ia teringat dini hari melihat bayangan orang melintas di depan rumah.
Salindra berpikir kalau orang itu akan menyelakai kakaknya. Jadi, semalam itu ini yang dilakukan orang itu batin Salindra.
"Kalau begitu kita jalan barengan pakai motorku saja," Salindra memberi ide.
"Tapi kan tempat kerja kita beda arah, mana bisa barengan!" sahut Jayanti menolak diajak berangkat bersama.
"Biar aku yang nyetir, aku antar kakak dulu sampai tempat kerja," Salindra menyalakan motor, Jayanti naik dan duduk di jok belakang.
Akhirnya mereka berangkat bersama, Salindra memberhentikan motornya di depan pabrik tempat kakaknya bekerja. Jayanti turun kemudian berjalan masuk dengan langkah cepat. Melihat kakaknya terburu-buru hati Salindra merasa bersalah.
Apakah benar semalam orang akan mencelakai kakaknya, setahu dia kakaknya tidak punya musuh. Salindra ingin menyelidiki hal ini nanti sekarang waktunya bekerja. Salindra melajukan motornya menuju tempatnya bekerja.
Pemandangan di depan mata Salindra membuatnya muak, lagi-lagi ia harus melihat sepasang suami istri di dalam mobil dengan tersenyum bahagia seolah dunia milik mereka saja. Ia sudah tidak peduli dengan mereka yang menelantarkan anak kandungnya sendiri demi orang lain.
Yuda melihat Salindra di sampingnya tidak menunjukkan rasa terkejut juga tanpa bersalah. Justru ia sengaja memamerkan kebahagiaan di depan Salindra dan mengajak istri barunya berbicara sesekali mencium pipi istrinya. Menandakan kalau dia sangat bahagia.
Sampai di kantor Salindra langsung berjalan dengan cepat menuju ruangannya tanpa melihat kanan kiri. Semua orang melihatnya dengan tatapan heran.
"Kenapa tuh orang, tumben banget tidak menyapa kita?" tanya Dila pandangannya tertuju pada Salindra melewatinya begitu saja.
"Mana kita tahu, kita tidak satu rumah sama dia," sahut yang lain.
"Kalian mau gosip apa mau bekerja?" bentak Asisten Rayan berdiri di ambang pintu mendengar karyawan divisi sedang membicarakan Salindra. Mereka akhirnya membubarkan diri dan duduk di tempat masing-masing,