*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. Balada Toilet Umum
Mobil mitsubishi hitam milik kantor itu melesat membelah jalanan malam Jakarta dengan kecepatan yang sangat tidak disarankan oleh Korlantas Polri. Arsenio mencengkeram setir dengan kekuatan penuh, rahangnya mengatup rapat, dan pandangan matanya lurus ke depan dengan tatapan kosong yang penuh penderitaan.
Di dalam perut sang CEO yang terhormat, ulekan cabai rawit Sambal Setan milik Cak Ji rupanya sedang mengadakan konser musik *heavy metal* dengan volume paling maksimal. Perut bawahnya melilit brutal, mengirimkan sinyal darurat berkekuatan magnitudo tinggi yang siap meruntuhkan seluruh pertahanan harga dirinya kapan saja.
"P-Pak Bos... pelan-pelan, Pak! Ini bukan sirkuit Formula E! Nyawa saya belum diasuransikan penuh oleh perusahaan!" teriak Kiera panik, tangannya berpegangan erat pada sabuk pengaman saat mobil menikung tajam tanpa ampun.
"Diam, Kiera! Jika kamu tidak mau jas ratusan juta saya ini menjadi saksi tragedi kemanusiaan terbesar abad ini, lebih baik kamu cari pom bensin terdekat sekarang juga!" raung Arsenio dengan suara yang bergetar menahan gejolak hebat di perutnya. Keringat dingin sebesar biji jagung sudah membasahi seluruh kening dan leher jenjangnya.
Kiera dengan sigap langsung membuka aplikasi peta di ponselnya. "Oke, oke! Dua ratus meter di depan ada pom bensin, Pak! Belok kiri! Buruan!"
---
*CIIIIEEDTTT!*
Mobil mewah itu berhenti mendadak di area parkir sebuah pom bensin pinggir jalan. Belum sempat mesin mobil mati sempurna, Arsenio sudah langsung membuka pintu mobil dan melesat keluar dengan gerakan setengah berlari yang sangat tidak estetis. Langkah tegap dan berwibawa seorang Yudhistira kini berubah total menjadi langkah pendek-pendek yang super rapat demi menahan "ranjau" agar tidak meledak di jalan.
Kiera buru-buru turun dan menyusul di belakang, mengabaikan gaun hijau zamrudnya yang berkibar ditiup angin malam pom bensin.
Begitu sampai di depan lorong toilet, langkah Arsenio mendadak terhenti bak menabrak dinding gaib. Wajah tampannya yang sudah pucat pasi kini bertambah syok menatap papan petunjuk di depan pintu toilet umum tersebut.
> **TOILET UMUM: BAYAR Rp2.000**
> *Harap siapkan uang pas.*
Arsenio mematung. Matanya melotot menatap tulisan tersebut, lalu beralih menatap seorang bapak-bapak paruh baya penjaga toilet yang sedang duduk santai di balik meja kayu kecil sambil memegang kaleng wafer berisi uang receh.
"Mas... mau masuk? Dua ribu rupiah ya, uang pas lebih baik," ucap si bapak penjual jasa toilet dengan santai.
Arsenio meraba saku jasnya dengan panik. Kosong. Jangankan uang dua ribu rupiah, dompet kulit premiumnya saja tertinggal di dalam mobil bersama seluruh kartu kredit *Black Card*-nya. Ego NPD Arsenio langsung meronta gila. Bagaimana bisa seorang penguasa Yudhistira Tower yang asetnya triliunan rupiah harus tertahan di depan pintu toilet umum hanya karena selembar uang kertas bergambar pahlawan nasional senilai dua ribu perak?!
"Saya... saya tidak punya uang kecil. Saya transfer sekarang atau saya beli toilet ini sekalian beserta pom bensinnya esok hari!" ucap Arsenio ketus dengan tingkat kesombongan yang sudah mencapai tingkat kosmis, meskipun tubuhnya sudah mulai gemetar menahan mulas yang semakin tidak ramah.
Bapak penjaga toilet itu langsung mengernyitkan dahi, menatap Arsenio dari atas ke bawah seolah-olah pria berjas mahal di depannya ini adalah pasien rumah sakit jiwa yang kabur. "Halah, Mas. Gak usah sok mau beli pom bensin. Di sini gak ada mesin EDC, gak menerima QRIS, apalagi transferan gaib. Pokoknya ada dua ribu, masuk. Gak ada, ya silakan cari pohon pisang di belakang."
*“Pohon pisang?! Kulit saya yang mulia ini harus bersentuhan dengan alam liar begitu?!”* jerit batin Arsenio histeris, air matanya hampir saja tumpah menahan rasa mulas yang sudah berada di stadium akhir.
"Bapak! Ini uangnya! Dua puluh ribu, kembaliannya ambil aja buat beli wafer!"
Secercah cahaya ilahi mendadak muncul ketika Kiera tiba-tiba menyelinap dari belakang dan mengempaskan selembar uang sepuluh ribuan ke atas meja penjaga toilet. Kiera menatap bosnya dengan pandangan gemas sekaligus kasihan. "Udah, Pak Bos! Gak usah pakai pidato akuisisi aset di depan toilet umum! Cepat masuk sana sebelum Bapak berubah jadi sejarah!"
Tanpa memikirkan urusan higienis, kuman, atau sapu tangan sutra lagi, Arsenio langsung menyambar pintu toilet umum nomor satu, masuk ke dalam, dan mengunci pintunya dengan bunyi *KLIK* yang sangat kencang.
---
Dua puluh menit berlalu dengan sangat damai bagi Kiera, namun tidak bagi lingkungan sekitar toilet pom bensin. Kiera berdiri di dekat pembatas jalan sambil bersedekap dada, mendengarkan simfoni penderitaan yang sesekali terdengar dari dalam toilet nomor satu, diselingi suara keluhan batin sang CEO yang meratapi nasibnya.
Ketika pintu toilet akhirnya terbuka, sosok Arsenio Yudhistira melangkah keluar dengan tubuh yang tampak luar biasa lemas. Wibawa tiran agungnya yang setinggi langit runtuh total, menyisakan seorang pria tampan berjas mewah yang jalannya sedikit gontai seperti zombi kekurangan asupan cairan.
Ia berjalan mendekati Kiera dengan tatapan mata yang sayu, namun sisa-sisa gengsi NPD-nya mendadak mencoba bangkit kembali dari kubur ketika melihat Kiera sedang menahan senyum lebar.
"Jangan. Mengeluarkan. Satu. Kata. Pun, Kiera," desis Arsenio dengan suara yang sangat lemah, menunjuk wajah Kiera dengan satu jarinya yang masih gemetar. "Kejadian malam ini... dilarang keras masuk ke dalam catatan evaluasi atau bocor ke telinga Mommy saya. Jika ada satu orang saja di kantor yang tahu kalau saya terdampar di toilet umum dua ribu perak... saya pastikan utang jas kamu akan saya lipat gandakan menjadi tiga kali lipat!"
Kiera tidak bisa menahannya lagi. Ia meledak dalam tawa kencang yang sangat natural hingga memegangi tiang lampu pom bensin. "Bwahahaha! Iya, iya, Pak Bos! Aman! Rahasia tiran boker di pom bensin dijamin aman di tangan saya! Tapi omong-omong... tangan Bapak udah dicuci pakai sabun dua ribu perak di dalam tadi, kan? Gak higienis lho kalau belum!"
Arsenio mendelik tajam dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya, lalu berjalan cepat menuju mobil sambil menggerutu panjang pendek tentang bagaimana cabai rawit Cak Ji adalah senjata pemusnah massal yang harus dilarang beredar oleh undang-undang negara.