Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Di Balik Dinding Es
Setelah drama tersedak kopi di meja makan yang sangat merusak reputasi cool miliknya, Renard segera menyambar tas kerja dan jasnya, lalu melarikan diri ke kantor bahkan sebelum jarum jam menyentuh angka tujuh pagi.
Kepergian sang miliarder yang tergesa-gesa itu menyisakan tawa renyah dari Mama Sofia dan senyuman geli di wajah Arumi.
Siang harinya, mansion megah itu terasa jauh lebih hidup. Mama Sofia mengajak Arumi duduk di paviliun samping yang menghadap langsung ke taman belakang.
Di atas meja rotan, tersaji teh melati hangat dan beberapa camilan pasar tradisional yang sengaja dipesan oleh Bi Sumi atas permintaan Arumi. Si Oyen tampak asyik berguling-guling di atas rumput, mengejar daun kering yang gugur ditiup angin.
"Arumi," panggil Mama Sofia lembut, meletakkan cangkir tehnya perlahan. Tatapan matanya yang teduh menyapu wajah Arumi, memancarkan ketulusan seorang ibu. "Mama mau berterima kasih sama kamu."
Arumi menghentikan gerakannya yang sedang menuangkan teh. "Terima kasih untuk apa, Mama?"
Mama Sofia tersenyum tipis, matanya beralih menatap si Oyen di taman.
"Untuk membuat Renard kembali menjadi manusia," jawab Mama Sofia pelan, ada nada haru yang bergetar di suaranya. "Kamu mungkin melihatnya sebagai pria yang keras, ketus, dan gila kerja. Tapi asal kamu tahu, Nak... Renard tidak lahir sebagai robot berdarah dingin. Dia terpaksa memakai topeng itu."
Arumi tertegun. Ia meletakkan teko teh dan memusatkan seluruh perhatiannya pada sang ibu mertua. Rasa penasarannya tentang sisi misterius Renard mendadak membuncah.
"Dulu, setelah ayahnya meninggal mendadak dan Mama jatuh sakit hingga harus dirawat intensif di luar negeri, keluarga besar Wijaya—terutama Amara dan sekutu-sekutunya—berusaha keras merebut takhta perusahaan," cerita Mama Sofia, menghela napas panjang mengenang masa lalu yang kelam.
"Saat itu Renard masih sangat muda. Dia dikepung oleh orang-orang serakah yang siap menjatuhkannya pada kesalahan sekecil apa pun. Di dunia bisnis yang kejam itu, kebaikan dianggap sebagai kelemahan, dan ketulusan adalah mangsa empuk." Mama Sofia kembali menatap Arumi, lalu menggenggam jemari menantunya itu dengan erat.
"Jadi, Renard memutuskan untuk mengunci rapat-rapat sisi lembutnya. Dia membangun dinding es yang sangat tebal di sekeliling hatinya agar tidak ada yang bisa menyakitinya lagi.
Dia berhenti memelihara hewan, berhenti tersenyum, dan memaksa dirinya menjadi sosok diktator yang ditakuti. Semua itu... dia lakukan murni demi melindungi posisi Mama dan menjaga warisan ayahnya."
Mendengar penuturan itu, ada sesuatu yang mendadak berdesir aneh di dalam dada Arumi. Rasa sesak yang samar menyergap hatinya. Ia membayangkan bagaimana seorang Renard muda harus berdiri sendirian di tengah medan perang penuh intrik, membuang seluruh masa mudanya, dan mengenakan baju zirah besi yang sangat berat dan dingin setiap hari.
Pantas saja pria itu begitu terobsesi dengan kata "reputasi" dan "harga diri". Ternyata, itu bukan sekadar kesombongan, melainkan mekanisme pertahanan diri yang ia bangun dengan darah dan air mata.
Malam harinya, jam menunjukkan pukul delapan malam ketika mobil sport Renard terdengar memasuki pelataran depan. Arumi yang baru saja selesai membantu Bi Sumi menyiapkan makan malam, berdiri di dekat lorong tangga saat Renard melangkah masuk ke dalam rumah.
Pria itu tampak luar biasa lelah. Dasinya sudah dilepas sama sekali, kemeja putihnya kusut, dan jaket jasnya tersampir lesu di pundak.
Namun, begitu matanya menangkap sosok Arumi yang berdiri menunggunya, Renard langsung menegakkan tubuhnya kembali, berusaha memasang wajah datar dan angkuh seperti biasa.
"Kenapa belum tidur?" ketus Renard saat berjalan melewati Arumi, meski kedua matanya diam-diam memindai kondisi istrinya seolah ingin memastikan gadis itu baik-baik saja setelah seharian bersama ibunya.
Arumi tidak membalas dengan kalimat sindiran seperti biasanya. Ia justru melangkah mendekat, lalu dengan gerakan alami yang lembut, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil jas yang tersampir di pundak Renard.
"Selamat datang di rumah, Tuan Renard. Mandilah dengan air hangat, saya dan Mama sudah menyiapkan makan malam kesukaan Anda di meja," ucap Arumi dengan nada suara yang sangat lembut dan tulus. Tatapan matanya tidak lagi memancarkan binar menantang, melainkan sorot mata penuh pengertian yang hangat.
Renard seketika membeku di tempat. Langkah kakinya terkunci. Ia menatap Arumi dengan sepasang mata elangnya yang melebar karena terkejut. Perubahan sikap Arumi yang mendadak menjadi begitu perhatian dan lembut membuat seluruh sistem pertahanan di otak sang miliarder mendadak mengalami error massal.
Semburat merah padam yang sangat pekat langsung menjalar cepat dari balik kerah kemejanya, naik memenuhi seluruh leher hingga ke ujung telinganya. Ia buru-buru merebut kembali jasnya dari tangan Arumi dengan gerakan yang sangat salah tingkah.
"K-kamu... jangan bersikap aneh-aneh, Arumi!" gagap Renard, suaranya meninggi demi menyembunyikan detak jantungnya yang mendadak berdegup dua kali lebih cepat. "Aku bisa mengurus diriku sendiri! Jangan berpikir karena semalam aku memberikan selimut, kamu bisa mulai bersikap sok perhatian padaku!"
Setelah melontarkan kalimat pertahanan diri yang sangat payah itu, Renard berbalik dan berjalan cepat—hampir setengah berlari—menaiki tangga menuju kamarnya, mengabaikan fakta bahwa ia baru saja menunjukkan sisi paling canggungnya di depan sang istri kontrak.
Arumi yang berdiri di bawah tangga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah cantiknya.
Dinding es yang dibangun Renard selama bertahun-tahun mungkin memang sangat tebal dan kokoh di mata dunia luar.
Namun malam ini, Arumi tahu pasti, dinding es itu perlahan-lahan mulai retak dan mencair, tepat di dalam rumah yang awalnya ia kira sebagai penjara emas yang dingin.