NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Bukan Untuku

Pernikahan Yang Bukan Untuku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Lunaria Wulandari terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan. Demi menyelamatkan nama keluarga, ia harus menikah dengan Alex Lucas Dimitri—pria dingin dan penuh rahasia yang sejak awal tidak pernah menginginkan dirinya.

Awalnya Luna hanya dianggap pengganti. Namun semakin lama bersama, hubungan mereka berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan. Sayangnya, saat hati mulai saling menerima, masa lalu datang menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Terjebak Badai Salju

Hari keenam di Swiss dimulai dengan sangat menyenangkan.

Pagi itu Alex mengajak Luna pergi ke salah satu kawasan pegunungan yang terkenal dengan pemandangan Alpen dari atas gondola.

Begitu mendengar rencana itu, Luna langsung bersemangat.

"Serius?"

Alex mengangguk sambil menyeruput kopinya.

"Kalau nggak mau juga nggak apa-apa."

"Aku mau!"

Jawaban Luna terlalu cepat hingga membuat Alex tertawa kecil.

Belakangan ini pria itu memang semakin sering tersenyum.

Dan Luna mulai menyukai kebiasaan itu.

---

Perjalanan menuju stasiun gondola memakan waktu hampir satu jam.

Sepanjang perjalanan, Luna sibuk memotret pemandangan.

Sedangkan Alex hanya memperhatikannya diam-diam.

Sesampainya di lokasi, mata Luna langsung berbinar.

Gondola-gondola kecil bergerak perlahan di atas hamparan salju putih.

Pegunungan Alpen terlihat begitu megah.

"Indah banget..."

gumam Luna.

Alex menatap wajahnya yang penuh kekaguman.

Entah kenapa ia lebih menikmati melihat Luna daripada pemandangan di sekeliling mereka.

---

Saat gondola mulai bergerak naik, Luna langsung menempelkan wajah ke kaca.

"Alex, lihat!"

"Aku lihat."

"Nggak, lihat yang benar."

Alex akhirnya ikut melihat ke luar.

Hamparan pegunungan bersalju membentang sejauh mata memandang.

Sinar matahari memantul di atas salju.

Pemandangannya memang luar biasa.

Namun bagi Alex, ada sesuatu yang lebih menarik.

Seseorang yang duduk tepat di depannya.

---

Mereka menghabiskan hampir setengah hari di atas pegunungan.

Berjalan-jalan.

Berfoto.

Dan menikmati pemandangan yang tidak akan pernah ditemukan di Jakarta.

Namun menjelang sore, cuaca mulai berubah.

Langit yang tadinya cerah perlahan menggelap.

Angin mulai bertiup semakin kencang.

Alex langsung menyadarinya.

"Kita harus turun sekarang."

Luna mengangguk.

Mereka segera kembali menuju area parkir.

Namun sebelum sempat mencapai hotel, badai salju mulai turun.

Awalnya hanya sedikit.

Lalu semakin deras.

Dan semakin deras.

Jarak pandang mulai berkurang.

Jalanan menjadi sulit dilewati.

"Alex..."

Suara Luna terdengar gugup.

"Aku tahu."

Alex menggenggam kemudi lebih erat.

Situasi seperti ini tidak aman untuk dilanjutkan.

Apalagi hari mulai gelap.

Untungnya beberapa kilometer kemudian mereka menemukan sebuah vila kecil di pinggir jalan pegunungan.

Bangunannya sederhana.

Jauh berbeda dengan hotel mewah tempat mereka menginap.

Tapi untuk malam itu, mereka tidak punya pilihan lain.

---

Pemilik vila yang sudah lanjut usia menyambut mereka dengan ramah.

"Kalian beruntung menemukan tempat ini."

kata pria tua itu.

"Badai seperti ini bisa berlangsung sampai pagi."

Luna dan Alex saling pandang.

Berarti mereka harus bermalam di sana.

---

Vila itu kecil.

Hanya ada satu kamar tidur, ruang tamu sederhana, dapur kecil, dan perapian tua.

Sistem pemanasnya juga tidak terlalu bagus.

Meski api menyala, udara dingin tetap terasa.

Luna duduk di dekat perapian sambil memeluk lututnya.

"Dingin?"

tanya Alex.

Luna mengangguk cepat.

"Sangat."

Alex mengambil selimut tambahan lalu menyelimutinya.

"Tebakanku benar."

"Apa?"

"Kamu bakal kedinginan."

Luna mendengus.

Namun diam-diam ia merasa hangat.

Bukan karena selimut.

Melainkan karena perhatian kecil yang diberikan Alex.

---

Malam semakin larut.

Badai di luar masih belum mereda.

Suara angin terdengar menghantam jendela.

Pemilik vila sempat memberikan minuman hangat kepada mereka.

Luna yang belum pernah mencoba wine sebelumnya hanya mengira rasanya seperti jus buah.

Ternyata tidak.

Beberapa gelas kemudian, pipinya mulai memerah.

Dan Alex mulai menyadari sesuatu.

"Luna."

"Hm?"

"Kamu mabuk."

Luna langsung menggeleng.

"Nggak."

"Kamu mabuk."

"Nggak."

Alex menghela napas.

Jelas sekali wanita itu mabuk.

Karena biasanya Luna tidak pernah menjawab sesingkat itu.

---

"Aku punya rahasia."

kata Luna tiba-tiba.

Alex mengangkat alis.

"Rahasia apa?"

Luna menunjuk dirinya sendiri.

"Aku cantik."

Alex hampir tersedak.

"Ya."

Luna langsung tersenyum puas.

"Tuh kan."

Alex benar-benar tidak tahu harus tertawa atau bagaimana.

---

Beberapa menit kemudian.

Luna masih duduk di dekat perapian.

Namun kini tatapannya tertuju pada Alex.

Lama sekali.

Sampai Alex mulai merasa aneh.

"Kenapa?"

Luna tidak menjawab.

Sebaliknya, ia mendekat.

Jantung Alex langsung berdetak tidak normal.

"Luna?"

"Aku suka kamu."

Kalimat itu membuat Alex membeku.

Benar-benar membeku.

Luna tersenyum kecil.

"Aku suka kalau kamu senyum."

Alex tidak tahu harus berkata apa.

Karena selama ini ia juga sedang berjuang menghadapi perasaannya sendiri.

Perasaan yang semakin sulit diabaikan.

"Luna..."

Namun wanita itu sudah lebih dulu memeluknya.

Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, Alex membalas pelukan itu.

Perlahan.

Hati-hati.

Seolah takut semua ini hanyalah mimpi.

---

Malam itu menjadi malam yang mengubah banyak hal.

Bukan karena badai salju.

Bukan karena vila sederhana di tengah pegunungan.

Melainkan karena untuk pertama kalinya mereka berhenti menyangkal apa yang selama ini tumbuh di hati masing-masing.

Di depan perapian yang menyala hangat, Alex menggenggam tangan Luna.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, tidak ada lagi jarak di antara mereka.

Tidak ada lagi keraguan.

Tidak ada lagi status pengganti.

Yang ada hanyalah dua orang yang perlahan menemukan rumahnya dalam diri satu sama lain.

Di luar, badai salju masih terus turun.

Namun di dalam vila kecil itu, hati mereka justru terasa jauh lebih hangat daripada sebelumnya.

1
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat ✍️☺👈
wulaniii
gais like dan beri gift dungs biar semangat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!