Liora dipaksa menikah dengan Arkan demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Ia mengira Arkan hanyalah pengusaha kaya biasa yang dingin dan tertutup. Kehidupan baru Liora dimulai di kediaman megah namun penuh ketatapan. Pelan tapi pasti, Liora mulai melihat keanehan-keanehan: pengawal yang selalu berjaga, orang-orang yang menunduk takut saat melihat Arkan, dokumen rahasia, hingga pembicaraan tentang organisasi bernama Bayangan Hitam.
Liora perlahan mengetahui kenyataan pahit: suaminya bukan sekadar pengusaha, melainkan pemimpin mafia paling berkuasa yang menguasai jalur perdagangan gelap, ekonomi bawah tanah, dan memiliki koneksi hingga ke pejabat tinggi negara. Dunia Liora berantakan, rasa takut bercampur kagum. Di sisi lain, Arkan yang awalnya menganggap Liora hanya kewajiban kontrak, mulai tertarik pada ketulusan dan keberanian gadis itu yang tidak pernah lari meski sudah tahu siapa dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman dan Puncak Kekuasaan
Waktu berlalu dengan cepat, dua tahun telah berlalu sejak peristiwa pengkhianatan Raka. Kekuasaan kami kini mencapai puncaknya. Bayangan Hitam telah menjadi kekuatan terbesar dan paling berpengaruh di dunia, melampaui banyak negara adidaya sekalipun.
Kami memiliki koneksi dengan presiden, raja, pejabat tinggi, hingga pemimpin organisasi internasional. Semua orang ingin berteman dengan kami, semua orang takut menjadi musuh kami.
Namun, di puncak kejayaan ini, muncul satu ancaman terakhir yang paling berat dan paling berbahaya. Sebuah organisasi rahasia internasional bernama "Matahari Terang". Organisasi ini menganggap kami sebagai penyakit yang harus dimusnahkan dari muka bumi. Mereka adalah kelompok radikal yang menganggap diri mereka penjaga keadilan sejati, dan mereka bertekad menghancurkan semua kekuatan gelap di dunia—termasuk kami.
Berbeda dengan musuh-musuh kami sebelumnya yang bertindak demi uang atau kekuasaan, Matahari Terang bertindak atas nama prinsip dan keyakinan fanatik. Mereka memiliki sumber daya besar, teknologi canggih, dan jaringan mata-mata yang luas. Mereka tidak takut mati, dan mereka sangat terorganisir.
Suatu sore, saat kami sedang bersantai di ruang kerja, Damar masuk dengan wajah pucat dan cemas. Ia meletakkan berkas-berkas tebal di atas meja.
"Tuan Arkan, Nyonya Liora... kita punya masalah besar. Masalah terbesar yang pernah kita hadapi."
Arkan dan aku saling pandang, lalu menatap Damar serius. "Bicaralah, Damar. Apa yang terjadi?"
"Organisasi Matahari Terang telah mengumumkan perang terbuka pada kita. Mereka mengirimkan peringatan ke seluruh dunia bahwa dalam waktu tujuh hari, mereka akan menghancurkan Bayangan Hitam dan menjatuhkan kalian berdua.
Mereka sudah menyusup ke banyak cabang kita, mencuri data, dan merusak aset kita. Mereka bahkan memiliki dukungan diam-diam dari beberapa negara besar yang merasa terancam kekuasaan kita."
Aku memeriksa dokumen itu. Data-data yang ada di sana sangat lengkap dan akurat. Mereka tahu segalanya tentang kami: sejarah, aset, anggota, kelemahan, hingga rutinitas harian kami.
"Mereka berbeda dari Serigala Putih atau Raka," ucap Arkan pelan, matanya meneliti peta serangan yang dibuat musuh. "Mereka tidak bodoh, tidak serakah, dan tidak mudah ditakuti. Ini akan menjadi pertempuran paling sulit dalam hidupku."
Tiga hari berikutnya, serangan demi serangan terjadi. Aset kami dibom, markas kami diserang, mata-mata kami ditangkap. Kerugian kami besar sekali. Matahari Terang bermain secara cerdik, mereka menyerang dari bayang-bayang, membuat kami sulit melawan balik.
Puncak masalah terjadi saat pemimpin Matahari Terang, seorang pria tua misterius bernama Tuan Han, mengirim pesan pribadi untuk kami. Ia mengundang kami berdua untuk bertemu di sebuah pulau terpencil di tengah laut. Katanya, jika kami berani datang, kita akan menyelesaikan masalah ini sekali seumur hidup. Jika kami tidak datang, ia akan terus menyerang hingga kami hancur.
"Ini jebakan, Arkan," kataku tegas setelah membaca pesan itu. "Dia ingin kita datang ke wilayahnya. Dia ingin membunuh kita berdua sekaligus."
Arkan mengangguk setuju. "Tentu saja itu jebakan. Tapi kita harus datang, Liora. Jika kita menolak, dunia akan mengira kita takut. Kepercayaan sekutu kita akan runtuh. Kita harus datang, kita harus menghadapinya, dan kita harus mengakhiri ancaman ini selamanya."
Ia memegang kedua bahuku, menatapku lekat-lekat. "Dan kau harus ikut. Karena ini bukan hanya pertarunganku, ini pertarungan kita. Dan aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Tujuh hari setelah peringatan itu, kami berangkat menuju pulau terpencil itu. Kami tidak membawa pasukan besar, kami hanya membawa Damar dan lima pengawal elit terbaik. Kami datang dengan kapal pribadi, mendarat di dermaga pulau itu yang sepi.
Di sana, di sebuah bangunan benteng tua di atas bukit, Tuan Han sudah menunggu kami. Ia duduk di kursi roda, tampak lemah dan tua, namun sorot matanya tajam dan penuh keyakinan. Di sekelilingnya, ada puluhan pasukan elit bersenjata canggih mengarahkan senjata ke arah kami.
"Selamat datang, Raja dan Ratu Bayangan," ucap Tuan Han dengan suara serak namun tegas. "Akhirnya kalian berani datang. Kalian memang sesuai legenda."
Arkan berdiri tegak di sampingku, tangannya santai masuk ke dalam saku celana, namun auranya siap menyerang kapan saja. "Kau mengundang kami, Tuan Han. Sekarang bicaralah. Apa maumu? Kenapa kau memburu kami?"
Tuan Han tertawa pelan. "Karena kalian adalah penyakit, Arkan. Kau dan organisasimu adalah noda bagi peradaban manusia. Kau menguasai dunia dengan kekerasan, kau mengatur hidup orang lain dengan hukummu sendiri. Kau merasa dirimu dewa? Kau merasa berhak menentukan siapa yang hidup dan mati?"
Ia menunjuk ke arahku. "Dan kau, Nyonya Liora... aku kecewa padamu. Kau wanita baik, wanita lembut. Kenapa kau memilih berdiri di sisi penjahat? Kenapa kau membantu kekejaman ini?"
Aku melangkah maju satu langkah, berdiri sejajar dengan Arkan. Suaraku tenang namun tegas, bergema di ruangan itu.
"Kau salah, Tuan Han. Kau melihat kami hanya dari satu sisi saja. Kau menyebut kami penjahat, tapi apa yang kau lakukan? Kau membunuh orang, menghancurkan nyawa, dan menimbulkan kerusakan demi keyakinanmu sendiri. Kau menganggap dirimu suci, tapi kau sama kejamnya dengan kami."
Aku menatapnya tajam. "Kau bilang kami menguasai dunia? Ya, benar. Kami berkuasa. Tapi kami menggunakan kekuasaan itu untuk melindungi. Kami menghentikan perang antar geng, kami membantu rakyat miskin, kami menegakkan keadilan di mana hukummu gagal.
Kau tidak tahu apa-apa, Tuan Han. Kau hanya melihat kulit luarnya saja. Dan satu hal lagi... aku tidak berdiri di sisi penjahat. Aku berdiri di sisi pria yang kucintai. Dan bersama dia, kami membangun dunia kami sendiri yang jauh lebih adil daripada duniamu yang penuh kepura-puraan."
Arkan tersenyum bangga mendengar jawabanku. Ia kembali menatap Tuan Han. "Kau punya keyakinanmu, Tuan Han. Kami punya keyakinan kami. Kau ingin menghancurkan kami karena kau pikir kami jahat. Kami akan melawanmu karena kami tahu apa yang kami perjuangkan itu benar. Sekarang, selesaikan ini. Apakah kita akan berunding, atau kita akan bertempur sampai mati di sini?"
Tuan Han menghela napas panjang, lalu perlahan mengangkat tangannya. "Kalian cerdas, kalian kuat, dan kalian saling mencintai. Aku akui itu. Tapi tujuan mulia tidak bisa dicapai dengan cara kotor. Dan keberadaan kalian adalah ancaman bagi keteraturan dunia. Maafkan aku, tapi kalian harus dihilangkan."
Ia memberi isyarat. Pasukannya langsung mengangkat senjata siap menembak. "Tapi karena aku menghargai keberanian kalian, aku akan memberi kesempatan. Kalian berdua melawanku. Kalian menang, aku dan organisasiku akan lenyap. Kalian kalah... maka sejarah akan berakhir di sini."
Pertempuran pun dimulai. Pasukan Tuan Han menyerang serentak. Damar dan pengawal kami langsung membalas, membuat kekacauan. Arkan menarikku ke belakang tiang penyangga, bertempur dengan kecepatan dan ketangkasan yang luar biasa. Ia menembak tepat sasaran, bergerak lincah di antara peluru yang berhamburan.
Namun, jumlah musuh terlalu banyak. Damar dan pengawal kami akhirnya terdesak dan tertahan. Tinggallah aku dan Arkan yang kini dikepung rapat, mundur perlahan hingga punggung kami saling bersandar. Kami terjebak. Senjata kami hampir habis.
Arkan terengah-engah, bahunya kembali terluka terkena serpihan peluru. Ia menoleh ke arahku, tersenyum tenang meski situasi sangat genting.
"Maafkan aku, Liora. Sepertinya kali ini kita memang tidak bisa pulang," bisiknya lembut.
Aku memegang tangannya erat, menatap matanya dalam-dalam tanpa rasa takut sedikit pun. "Tidak apa-apa, Arkan. Ingat janjiku. Di mana pun kau berada, di surga maupun di neraka, aku akan selalu ada di sampingmu. Kita berjuang bersama, dan kita akan mati bersama."
Arkan mengangguk, matanya berkaca-kaca namun penuh cinta. Ia mengangkat senjatanya sisa peluru terakhirnya. "Baiklah. Mari kita tunjukkan pada mereka... apa artinya menantang Raja dan Ratu Bayangan Hitam."
Namun, tepat saat pasukan Tuan Han akan menyerbu masuk untuk membunuh kami, tiba-tiba terdengar suara deru mesin raksasa dari langit. Puluhan helikopter militer mendarat di halaman depan benteng itu. Ribuan pasukan elit Bayangan Hitam yang tersebar di seluruh dunia—yang sudah kami panggil diam-diam sebelumnya—turun dan mengepung seluruh pulau itu.
Ternyata, Arkan sudah menduga Tuan Han akan mengkhianati perundingan. Dia sudah mengerahkan seluruh kekuatan kami secara diam-diam, menunggu sinyal darurat dariku. Dan saat kami mundur saling bersandar tadi, aku sempat menekan tombol pengirim sinyal rahasia di jam tanganku.
Tuan Han terbelalak kaget melihat kekuatan raksasa yang kini mengelilinginya. Ia sadar, ia sudah terjebak dalam jebakan yang jauh lebih besar yang kami siapkan.
"Sudah selesai, Tuan Han," ucap Arkan dengan suara lantang dan berwibawa, kembali menjadi Raja Bayangan yang ditakuti. "Kau pikir kami datang ke sini hanya berdua? Kau pikir kami bodoh? Kau salah besar. Inilah kekuatan kami. Inilah bukti bahwa kami yang menguasai dunia ini."
Pasukan kami menyerbu masuk, melumpuhkan semua pasukan Tuan Han dalam hitungan menit. Tuan Han ditangkap hidup-hidup. Ancaman terakhir kami telah berakhir.
Di hadapan ribuan pasukan yang bersorak menyebut nama kami, Arkan dan aku berdiri berdampingan, tangan kami saling menggenggam erat. Kami telah mengalahkan semua musuh, melewati semua bahaya, dan membuktikan bahwa tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu memisahkan kami.
Tuan Han yang kini terikat, menatap kami dengan pandangan yang berubah dari kebencian menjadi kekaguman.
"Kalian menang..." ucapnya lirih. "Kalian bukan sekadar penjahat. Kalian adalah penguasa sejati. Karena kalian memiliki apa yang tidak kumiliki... kesatuan, cinta, dan kepercayaan mutlak."
jangan lupa mampir ya thor 💗, tinggalin jejak oke 😍