Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?
"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."
Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Dedikasi Ben
Pintu ruang kerja Baron terbuka dengan dentuman yang nyaris tak terdengar, namun aura dingin yang menyambut Ben di dalam ruangan itu jauh lebih mematikan daripada ledakan apa pun.
Baron berdiri membelakangi pintu, menatap cakrawala Jakarta dari balik kaca setinggi langit-langit. Di atas meja mahoni di depannya, sebuah tablet menampilkan foto seorang wanita dengan senyum sinis yang familiar—Nadya. Anak dari Mano Fransiska.
Ben melangkah masuk, meninggalkan Lala di ruang tunggu luar. Ia tahu ini bukan waktunya untuk membicarakan desain atau insiden di mall. Sebagai kepala keamanan, ia gagal.
Nadya, wanita yang seharusnya mendekam di balik jeruji besi atau setidaknya berada di bawah pengawasan ketat, kini berkeliaran bebas.
"Nadya," suara Baron rendah, nyaris seperti geraman binatang buas. "Dia muncul di kediaman utama, Ben. Dia berani mendekati Gita saat aku sedang tidak di tempat."
Ben menegakkan tubuhnya, rahangnya mengeras. Rasa bersalah menghantam dadanya seperti hantaman godam. "Saya akan segera melacak lokasinya, Tuan. Saya akan memastikan dia tidak bisa menyentuh Nyonya Gita lagi."
Baron berbalik. Matanya yang tajam menatap Ben, seolah bisa membedah isi kepala asistennya itu. "Sejak kapan seorang Ben Arganza begitu lamban? Nadya sudah berkeliaran di luar selama dua puluh empat jam terakhir, dan tim intelijenmu baru melaporkannya sekarang?"
Baron melangkah maju, berhenti tepat di depan Ben. Ia bisa mencium aroma kayu cendana yang biasanya melekat pada Ben, namun kini, ada sesuatu yang berbeda. Ada distraksi.
"Konsentrasimu terpecah, Ben," desis Baron tajam. "Aku melihatmu di parkiran tadi. Aku melihat bagaimana kau menghabiskan waktu berjam-jam untuk seorang desainer interior sementara istriku terancam bahaya di rumahnya sendiri."
Ben menunduk, kepalan tangannya di samping tubuhnya mengetat. "Saya bertanggung jawab penuh, Tuan. Saya tidak akan membiarkan fokus saya terbagi lagi."
"Tidak akan?" Baron tertawa sinis, suara yang tidak mengandung humor sama sekali. "Kau sudah terbagi, Ben. Kau membawa 'bencana' itu ke dalam hidupmu, dan sekarang, kau membiarkan seekor ular seperti Nadya masuk ke pekarangan rumah kita."
Baron melempar dokumen di atas meja ke lantai di depan kaki Ben. "Pergi. Selesaikan ini. Jika Nadya tidak ditemukan dalam waktu dua belas jam, atau jika satu goresan saja menyentuh kulit istriku... kau tahu konsekuensinya, Ben. Aku tidak peduli seberapa brilian desainer itu. Aku tidak butuh tangan kanan yang hatinya sedang sibuk bermain asmara."
Ben membungkuk dalam. "Saya mengerti, Tuan."
Ia berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah kaku. Begitu pintu tertutup, ia mendapati Lala sedang berdiri dengan wajah cemas di ruang tunggu. Gadis itu menatapnya dengan pandangan penuh tanya, namun Ben tidak memberikan senyum atau kata-kata penenang seperti tadi.
Tatapan Ben kini kembali kosong, sedingin baja. Sistem pertahanannya telah kembali ke mode lockdown total.
"Lala," ucap Ben dingin, tanpa melihat ke arah gadis itu. "Pergi ke ruang desain. Kunci dirimu di sana dan jangan keluar sampai saya memanggilmu. Jangan dekati area keamanan. Jangan dekati kediaman utama. Paham?"
Lala tertegun melihat perubahan drastis pada pria di depannya. "Ada apa, Tuan Ben? Apakah saya membuat kesalahan lagi?"
Ben berhenti sejenak, tangannya yang memegang kunci ruangan gemetar tipis di balik saku jasnya. Ia ingin memeluk gadis itu, ingin mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, namun ia sadar—setiap detik yang ia habiskan untuk peduli pada Lala adalah detik di mana Nadya mungkin sedang mengincar Gita.
"Kesalahanmu adalah ada di sini," jawab Ben kasar, lalu ia melangkah pergi dengan langkah lebar yang mengintimidasi, meninggalkan Lala yang terpaku di lorong dengan perasaan tidak enak yang menghujam hatinya.
"Robot itu..." bisik Lala, matanya memanas, "dia benar-benar sudah kembali menjadi mesin."
Sementara itu, Gita yang ada di dalam Mansion, nampak masih sangat shock karena pertemuannya dengan Nadya beberapa puluh menit yang lalu.
"Jangan terlalu percaya diri karena kamu sudah menjadi istri Baron. Ingat! Kamu hanyalah ibu susu dari Alba. Kamu dinikahinya karena kamu sangat mirip dengan Aleena istri pertama Baron. Kamu hanya pengganti. Setelah Alba besar dan bosan denganmu, kamu akan dibuang ke tempat sampah!"
Ucapan Nadya yang sangat kejam itu terngiang kembali.
"Ben yang membawamu ke sini kan? Ben yang bertanggungjawab atas semuanya! Asisten sialan itu yang sengaja ingin membuatku jauh dari Baron!" teriak Nadya.
Gita terduduk lemas di sofa ruang tamu kediaman utama, tangannya mendekap erat boneka kecil milik Alba. Kata-kata Nadya bagaikan belati yang diiriskan perlahan ke atas luka lama yang selama ini ia coba kubur rapat-rapat.
"Ibu susu... hanya pengganti... Aleena..."
Gita memejamkan mata, berusaha menahan napasnya yang tercekat. Selama ini, ia selalu merasa hubungannya dengan Baron adalah murni, penuh kasih sayang, dan saling melindungi. Namun, racun yang disebarkan Nadya hari ini memutar kembali ingatan-ingatan yang coba ia tepis: tatapan melankolis Baron di saat-saat tertentu, kemiripan fitur wajahnya dengan mendiang Aleena yang sering dibicarakan orang-orang di balik punggung mereka.
Nadya tidak berhenti di situ. Serangan verbal wanita itu begitu presisi, menghantam tepat di rasa tidak amannya.
"Ben yang membawamu ke sini," suara Nadya kembali bergema di kepalanya, tajam dan penuh kebencian. "Dia yang mengatur semuanya. Dia yang membuat rencana agar kau menjadi boneka untuk menenangkan Baron setelah kematian Aleena. Asisten sialan itu... dia tidak melindungimu, Gita. Dia hanya menjalankan prosedur pengamanan untuk sebuah 'objek' agar tidak rusak sebelum waktunya dibuang!"
Gita gemetar. Kepercayaan yang selama ini ia letakkan pada Ben—sang pelindung setia keluarga—kini mulai retak.
Apakah selama ini Ben hanya menganggapnya sebagai daftar inventaris yang harus dijaga agar Tuan-nya tetap tenang? Apakah setiap senyum sopan Ben, setiap pengawalan ketatnya, hanyalah eksekusi dari sebuah rencana dingin untuk menjaga 'pengganti' ini tetap dalam kondisi prima?
Di luar, suara langkah sepatu bot taktis terdengar mendekat. Itu suara langkah yang sangat ia kenal—langkah presisi Ben Arganza.
Gita segera berdiri, menghapus jejak air mata di sudut matanya dengan kasar. Ia tidak ingin terlihat lemah, tidak di depan pria yang baru saja dicap oleh Nadya sebagai dalang di balik seluruh drama hidupnya.
Pintu terbuka, dan Ben berdiri di sana, napasnya sedikit memburu, rahangnya tegang. Namun, saat tatapan mereka bertemu, Gita tidak lagi melihat sang pengawal yang setia. Ia melihat seorang pria yang baru saja gagal menjalankan tugasnya—seorang pria yang Nadya sebut sebagai arsitek dari seluruh penderitaannya.
"Nyonya," suara Ben terdengar kaku, penuh dengan nada perintah yang biasa ia gunakan pada bawahannya. "Saya telah menempatkan tim keamanan tambahan di setiap titik akses. Anda tidak diizinkan meninggalkan ruangan ini sampai—"
"Berhenti, Ben," potong Gita, suaranya dingin dan datar, membuat Ben tertegun.
"Nyonya?"
Gita melangkah mendekati Ben, menatap mata pria itu dengan tatapan yang penuh keraguan. "Apakah semua ini benar, Ben? Apakah aku hanya... sebuah proyek keamanan? Apakah pernikahan ini, kehadiran Alba, semuanya adalah bagian dari efisiensi yang kau bangun untuk Baron?"
Ben mematung. Pertanyaan itu menghantamnya jauh lebih telak daripada peluru mana pun yang pernah ia hadapi di medan perang. Ia melihat tatapan Gita yang terluka, dan ia tahu tepat siapa yang menanamkan pikiran itu ke dalam benak sang Nyonya.
"Nadya sudah mencuci otak Anda, Nyonya," ucap Ben, suaranya berusaha tetap tenang meski hatinya bergemuruh.
"Dia mengatakan kebenaran yang tidak berani kau ucapkan!" seru Gita, suaranya pecah. "Dia bilang kau sengaja membuatku menjadi boneka untuk menenangkan hatinya! Katakan padaku, Ben... apakah selama dua tahun ini kau memang hanya menganggapku sebagai aset yang harus dijaga, bukan sebagai manusia?"
Ben tetap diam. Ia tahu, di balik dinding-dinding kedap suara ini, kebenaran tentang pengabdiannya kepada Baron adalah sesuatu yang kompleks. Ia telah berjanji untuk menjaga keluarga ini dengan nyawanya, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa dedikasi itu akan dipertanyakan oleh wanita yang paling ia hormati di rumah ini.
"Maafkan saya nyonya, tapi sebaiknya anda istirahat sekarang. Anda sedang mengandung pewaris Frederick," ucap Ben tenang.
***
Like dong Gaess.
jadi nikmati aja alurnya