"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."
Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.
Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.
Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.
Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK RAMBUT COKELAT DAN SABUN MINT
Matahari sore menggantung rendah di atas langit distrik barat. Sinarnya yang sewarna madu menyepuh kaca-kaca ruko tua Toko Kue Tradisional Nenek. Di balik etalase, Lyra Anya Cassandra sedang menghitung lembaran uang kembalian. Jemari kurusnya bergerak telaten, sementara kacamata bulatnya sedikit melorot di hidung bangirnya. Ia menyeka pelipisnya dengan ujung celemek kain putih bermotif bunga-bunga kecil miliknya.
Tring!
Lonceng kuningan di atas pintu berdenting nyaring. Aroma sabun mint yang sangat segar dan membumi seketika merangsek masuk, mengusir wangi kayu manis yang pekat.
"Lyra! Tebak siapa cowok paling keren se-kecamatan yang datang bawa bantuan?" Ryzan Jonarland melangkah masuk dengan cengiran lebar. Gaya rambut undercut cokelat gelapnya tampak sedikit berantakan karena angin jalanan. Ia mengenakan kemeja flanel merah-hitam yang dibiarkan terbuka, memamerkan kaus polos putih ketat yang membungkus tubuh tegapnya, dipadu celana jins hitam yang sedikit pudar di bagian lutut.
"Ryzan! Kamu berisik banget, suara kamu kedengaran sampai ke dapur tahu," protes Lyra sambil cemberut. Namun, sepasang mata cokelat jernih di balik lensa kacamatanya memancarkan binar kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
"Hehehe, biar ruko sepi ini jadi ramai," sahut Ryzan santai. Ia meraih nampan besi dari meja kasir dengan gerakan tangannya yang kekar namun teramat lembut agar tidak menyenggol jemari Lyra.
"Kamu kok lemas banget hari ini? Biasanya langsung bawel," tanya Lyra pelan. Matanya menatap wajah Ryzan yang tampak sedikit lebih pucat dari biasanya, dengan pelipis yang masih menyisakan bekas keringat mengering.
"Ah, itu... biasa, anak-anak SMA Taruna lagi digenjot habis-habisan sama pelatih baru," jawab Ryzan sambil mengulas senyum tipis di bibirnya yang sedikit kering. Ia menyandarkan tubuh jangkungnya di pilar kayu ruko, mencoba menyembunyikan rasa lelah setelah dipaksa berlari memutari lapangan sepak bola SMA Taruna sebanyak dua puluh kali tanpa jeda.
"SMA Taruna kan sekolah semi-militer yang terkenal disiplin, tapi masa latihannya sampai sekeras itu? Kamu kan baru kelas sepuluh, Ryz," gumam Lyra dengan kening berkerut dalam, menyuarakan rasa cemasnya.
"Gak apa-apa, Ly. Katanya sih ini buat persiapan turnamen antar sekolah bulan depan. Cuma... ya gitu, jadwalnya mendadak padat banget secara aneh," ucap Ryzan dengan alis tebalnya yang bertaut rapat. Ekspresi wajahnya yang biasa jenaka mendadak berubah serius dan penuh selidik selama beberapa detik, memikirkan keputusan mendadak dari dinas olahraga yang terasa sangat dipaksakan.
"Kalau capek, kamu gak usah ke sini sore-sore, Ryz. Fokus aja sama latihanmu," ujar Lyra dengan nada suara yang melembut penuh perhatian.
"Gak ada kamus capek buat jagain kamu dan Nenek, Lyra Anya Cassandra," balas Ryzan dengan senyuman hangatnya yang tulus. Tangannya yang hangat bergerak cepat mengacak-acak rambut kuncir kuda Lyra dengan gemas, membuat gadis itu memekik protes sambil merapikan kembali rambutnya yang berantakan.
Tepat saat tawa renyah Lyra pecah memenuhi ruangan ruko, sebuah bayangan hitam memanjang dari luar jendela toko. Di seberang jalan, di bawah naungan pohon trembesi yang gelap, mobil sedan mewah hitam mengkilap milik Elian Gava Alaric kembali terparkir senyap.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan dingin, Elian duduk kaku di kursi belakang. Jas seragam hitam SMA Elit Gava miliknya terkancing sempurna tanpa cela, kontras dengan kemeja kasual yang dikenakan Ryzan. Rambut hitamnya yang berpotongan comma hair tertata rapi menggunakan gel mahal, membingkai wajah simetrisnya yang pucat dan dingin seperti patung pualam.
Aroma parfum amberwood yang hangat dan maskulin menguar kuat di dalam mobil, namun aura yang dipancarkan dari tubuh tegap pemuda itu terasa sangat pekat dan menusuk.
"Dia masih punya waktu untuk tersenyum di sana," bisik Elian dengan nada suara yang teramat rendah dan dingin, menyerupai desis ular di dalam kegelapan. Manik mata hitam jelaganya yang tajam mengunci siluet Ryzan dari balik kaca mobil yang diturunkan hanya dua sentimeter.
Tangan kanan Elian yang mengenakan jam tangan kronograf hitam mahal mencengkeram erat tepi kursi di depannya hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Rahangnya yang tegas mengeras saat melihat tangan Ryzan menyentuh kepala Lyra. Warna-warna indah yang baru saja ia temukan pada diri Lyra, terasa seperti sedang dikotori oleh kehadiran pemuda dari SMA Taruna tersebut.
"Devan," panggil Elian pendek setelah menekan tombol panggil di ponsel pintarnya dan menempelkan benda itu di telinga.
"Ya, El? Ada apa lagi?" sahut Devan dari seberang telepon dengan nada santai.
"Jadwal latihan fisik untuk tim SMA Taruna... tambahkan sesi malam. Pastikan nomor punggung Ryzan Jonarland tidak pernah lepas dari pengawasan pelatih," perintah Elian dengan sangat lambat namun penuh penekanan yang mematikan. Wajah tampannya sama sekali tidak menunjukkan emosi, datar dan tanpa ampun.
"Sesi malam juga? Lo benar-benar mau menguras habis energinya, ya?" tanya Devan terdengar sedikit terkejut di seberang sana.
"Aku hanya ingin memastikan dia belajar arti kedisiplinan yang sesungguhnya di sekolah barunya, Devan. Matikan teleponnya," ucap Elian dingin sebelum akhirnya mematikan sambungan secara sepihak.
Elian menaikkan kembali kaca mobilnya hingga tertutup rapat tanpa celah. Ia menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kulit, menutup matanya perlahan untuk meredakan gejolak sosiopatik di dadanya. "Nikmati sisa kebebasanmu, Ryzan," gumam Elian dalam kesunyian kabin yang melaju perlahan meninggalkan distrik barat.