Rosline gadis berusia 20 tahun yang terlahir bukan dari keluarga berada. Dia memiliki hidup yang sulit, bukan hanya menanggung beban hidupnya sendiri, tapi juga menanggung beban keluarganya. Suatu ketika Rosline mendapat tawaran kerja partime di salah satu rumah mewah untuk menjaga kakek tua, tapi tanpa diduga rumah itu ternyata rumah seorang Mafia kejam...
Rosline semakin bingung harus bertahan atau harus pergi dari sana. Sementara dia sangat butuh uang untuk keluarganya....
Apa yang terjadi selanjutnya dengan Rosline?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 : Kembali ke Mansion
Pintu minimarket otomatis terbuka.
Dan suasana langsung sedikit berubah. Daniel masuk kembali ke dalam minimarket dengan langkah tenang. Jas hitamnya masih rapi seperti tadi sore, bahkan ekspresinya juga masih sama datarnya.
Beberapa pegawai langsung otomatis diam lagi.
Rosline sendiri langsung refleks berdiri tegak. “Pa-Pak Daniel…”
Daniel mengangguk kecil. “Nona Rosline, jam kerja anda sudah selesai.”
Rosline langsung melirik jam dinding. Dan benar saja, tepat pukul sebelas malam. “Astaga…” Rosline langsung buru-buru melepas apron minimarketnya. “Cepat sekali…”
Salah satu teman kerjanya langsung berbisik pelan sambil melirik Daniel. “Ros… serius dia nungguin kamu dari sore?”
Rosline hanya mengangguk lemas.
“Gilaaa…”
Sementara itu Daniel tetap berdiri tenang sambil berkata formal. “Mobil sudah siap.”
Rosline menghela napas kecil pasrah lagi. Rasanya seperti dijemput sopir pribadi keluarga kerajaan.
Beberapa menit kemudian setelah berpamitan dengan teman-temannya, Rosline akhirnya keluar dari minimarket bersama Daniel.
Udara malam terasa dingin menyentuh wajahnya. Dan mobil hitam panjang itu masih terparkir tepat di depan minimarket seperti tadi sore.
Rosline sampai benar-benar tidak habis pikir.
“Pak Daniel…”
“Ya, Nona?”
“Bapak benar-benar menunggu saya dari tadi?”
“Iya.”
“Tidak bosan?”
“Tidak.”
Rosline langsung menatap pria itu tidak percaya. “Pak Daniel benar-benar mirip Tuan Bara…”
Daniel hampir tersenyum tipis lagi.
Tak lama kemudian mobil mulai melaju membelah jalanan malam kota. Lampu-lampu jalan terlihat berpendar samar dari balik jendela mobil.
Sedangkan Rosline perlahan mulai merasa mengantuk karena kelelahan bekerja seharian penuh. Matanya beberapa kali mulai terpejam sendiri.
Daniel yang duduk di depan sempat melirik melalui kaca tengah mobil. “Nona Rosline.”
"Iya?”
“Tuan Bara meminta saya memastikan Nona langsung beristirahat setelah sampai mansion.”
Rosline langsung membuka mata lagi kecil. “Dia masih bangun?”
“Masih.”
Rosline langsung menghela napas kecil dalam hati. Orang itu benar-benar tidak tidur apa…
Sementara itu...
Di mansion Alexander, Bara masih duduk di ruang tengah sambil membuka beberapa dokumen kerja di tabletnya.
Namun entah sejak kapan, tatapan pria itu beberapa kali justru beralih ke arah jam dinding besar di ruang tengah.
Dan Kakek Alberto yang memperhatikan sejak tadi langsung menyeringai jahil. “Kau menunggu gadis kurus itu pulang ya?”
Tatapan Bara langsung dingin. “Tidak.”
“Bohong.”
“Aku hanya memastikan dia tidak kabur.”
Kakek Alberto langsung tertawa kecil puas.
Sedangkan Bara kembali melihat layar tabletnya dengan wajah datar.
Mobil hitam itu akhirnya memasuki area gerbang mansion Alexander tepat beberapa menit sebelum tengah malam.
Rosline yang tadi hampir tertidur langsung tersadar pelan saat mobil mulai melambat.
“Kita sudah sampai, Nona.” ucap Daniel tenang dari depan.
Rosline mengucek matanya kecil lalu melihat keluar jendela. Dan benar saja, mansion besar itu masih terlihat terang meski sudah sangat malam.
Lampu-lampu taman menyala indah, membuat bangunan megah itu terlihat semakin mewah sekaligus menyeramkan di malam hari.
Rosline langsung menghela napas kecil pasrah. “Mansion ini indah sekali kalau di lihat pada malam hari.”
Tak lama kemudian mobil berhenti tepat di depan pintu utama mansion. Daniel buru-buru turun lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Rosline.
“Terima kasih Pak…” ucap Rosline pelan sambil turun membawa tas kecilnya.
Namun baru beberapa langkah menaiki tangga depan mansion. Pintu utama tiba-tiba terbuka dari dalam, dan sosok Bara muncul disana.
Rosline langsung refleks berhenti berjalan.
Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang sama seperti tadi sore, hanya saja bagian lengannya kini tergulung sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan.
Tatapan tajamnya langsung jatuh tepat pada Rosline. “Lama sekali.”
Rosline langsung gugup lagi. “Sa-saya baru selesai kerja Tuan…”
Bara melirik jam tangannya singkat. “Jam sebelas lewat dua belas menit.”
Rosline langsung melotot kecil. Dia menghitung?!
Daniel yang berdiri di belakang hanya diam pura-pura tidak mendengar.
Sedangkan Bara kembali berkata datar. “Mulai besok jangan pulang terlambat.”
Rosline langsung mengerucutkan bibir kecil kesal dalam hati. Aku bahkan baru selesai kerja, namun tentu saja ia tidak berani mengatakannya keras-keras.
“Baik Tuan…” jawabnya lemas.
Bara lalu melirik Daniel sekilas. “Barang-barangnya, mana?”
“Sudah dipindahkan ke kamar Nona, Tuan.”
Rosline langsung membeku. “Eh! Sudah?”
“Iya.”
“Tapi saya bahkan belum memilih kamar…”
“Kamarmu sudah disiapkan.”
Rosline makin tidak percaya. Hidupnya benar-benar diatur secepat kilat di mansion ini. Dan sebelum ia sempat protes lagi, perutnya tiba-tiba berbunyi kecil.
Krruukk...
Suasana langsung hening beberapa detik.
Mata Rosline langsung membesar malu. Sedangkan Daniel refleks memalingkan wajah sopan. Kali ini sudut bibir Bara terlihat bergerak tipis kecil seperti hampir tersenyum.
“Kau belum makan?”
Rosline langsung panik. “Su-sudah!”
Tatapan Bara turun pada paperbag makanan yang masih dipegang Rosline.
“Kau tidak pandai berbohong.”
Rosline langsung mati kutu. Sebenarnya tadi ia memang terlalu sibuk bekerja sampai lupa menghabiskan makanan yang Daniel bawakan.
Bara akhirnya mendecak kecil lalu berbalik masuk ke dalam mansion. “Ikut aku.”
Rosline berkedip bingung. “Hah?”
“Makan dulu.”
“Saya tidak lapar Tuan…”
“Kau mau pingsan saat menjaga Opa besok?”
Rosline langsung diam.
Beberapa detik kemudian gadis itu akhirnya mengikuti Bara masuk ke dalam mansion dengan langkah pelan.
Sementara Daniel hanya berdiri di belakang sambil memperhatikan keduanya. Baru kali ini selama ia bekerja dengan Bara Alexander, Daniel melihat atasannya mulai memperhatikan seseorang dan itu hanya seorang perawat.
Rosline mengikuti Bara menuju ruang makan mansion dengan langkah pelan dan hati-hati. Mansion besar itu terasa jauh lebih sunyi di malam hari. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar samar di lantai marmer.
Begitu sampai di ruang makan, Bara langsung menarik kursi salah satu meja panjang itu.
“Duduk.”
Rosline langsung menurut cepat. “Baik Tuan…”
Tak lama kemudian beberapa pelayan datang membawakan makanan hangat yang ternyata sudah disiapkan sejak tadi.
Rosline langsung melotot kecil melihat jumlah makanannya. “Ba-banyak sekali…”
“Makan.” ujar Bara singkat sambil duduk di seberangnya.
Rosline makin kikuk, jujur saja… makan berdua dengan Bara Alexander tengah malam begini terasa jauh lebih menegangkan dibanding melayani pelanggan minimarket saat promo besar.
Rosline mulai makan pelan sambil sesekali mencuri pandang kecil ke arah Bara. Pria itu kembali sibuk membuka tabletnya sambil membaca beberapa dokumen kerja. Tatapan matanya serius dan dingin seperti biasa.
Dan entah kenapa, Rosline baru sadar kalau wajah Bara sebenarnya terlihat lelah.
“Tuan…” panggilnya pelan tanpa sadar.
“Hm?”
“Kenapa belum tidur?”
Tatapan Bara sedikit terangkat dari layar tablet. “Aku bisa bertanya hal yang sama padamu.”
Rosline langsung diam lagi.
Benar juga, namun beberapa detik kemudian Bara tiba-tiba kembali bicara tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya.
“Kau dekat dengan Edwin?”
Sendok di tangan Rosline langsung berhenti bergerak.
“Hah?”