Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: CAHAYA DI BALIK SISA ASAP
Asap dari api unggun raksasa pesta kemenangan semalam perlahan menipis, menyatu dengan udara pagi Lembah Shrouded yang kini terasa jauh lebih segar. Tidak ada lagi hawa pekat nan mencekam yang biasanya dibawa oleh armada Penguasa Gorgan. Gerbang lembah yang selama bertahun-tahun menjadi simbol ketakutan, kini berdiri terbuka, menampakkan hamparan padang rumput hijau yang selama ini tersembunyi di balik sihir kegelapan.
Di atas bukit batu yang menghadap langsung ke arah desa Klan Kabut, Dion berdiri tegak. Pria itu mengenakan jubah berburu barunya yang berwarna hitam dengan sulaman perak di sepanjang lengannya—simbol kehormatan tertinggi yang diberikan oleh para tetua adat atas jasanya menumbangkan tirani Gorgan. Sepasang matanya yang tajam menatap riuh rendah para penduduk yang mulai beraktivitas, bergotong-royong membersihkan sisa-sisa dekorasi pesta semalam.
Dion menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terasa sangat ringan, sesuatu yang tidak pernah bisa ia lakukan selama bertahun-tahun menjadi bidak ancaman. Beban berat di pundaknya seolah ikut hancur bersama debu kematian Gorgan.
"Kak Dion!"
Sebuah suara melengking yang sangat ceria memecah keheningan di atas bukit. Sosok gadis kecil berambut kepang dua berlari kencang mendekati Dion, lalu langsung memeluk pinggang tegap kakaknya dengan sangat erat. Dialah Rhea. Alasan utama mengapa Dion rela menempuh jalan kegelapan dan dicap sebagai pengkhianat di masa lalu.
Dion tersenyum tipis, sebuah senyuman murni yang hanya ia simpan khusus untuk sang adik. Tangan besarnya mengusap lembut rambut Rhea. "Jangan berlari terlalu kencang, Rhea. Tanah di sini masih sedikit licin karena embun pagi."
"Habisnya Kak Dion hilang dari tenda pesta sejak subuh. Rhea kira Kakak pergi berburu lagi," gerutu Rhea sambil mendongak, menatap mata kakaknya dengan binar kebahagiaan yang utuh. Tidak ada lagi ketakutan akan diculik atau disiksa di dalam matanya. "Para tetua desa sedang mencari Kakak. Mereka bilang, posisi Pemimpin Penjaga Klan Kabut yang baru harus segera diisi, dan semua orang menginginkan Kakak."
Dion terdiam sesaat, matanya kembali menatap lurus ke depan. Kekuasaan, jabatan, dan penghormatan. Semua hal yang dulunya sangat ia hindari kini justru datang mengetuk pintunya. Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, Dion tahu bahwa kedamaian ini barulah permulaan. Menata ulang sebuah klan yang sempat retak akibat dompengan Gorgan tidak akan semudah membalikkan telapak tangan.
"Dia tidak akan menerima jabatan itu jika kamu terus meraksasanya dengan tanggung jawab baru, Rhea," sebuah suara lembut yang sangat familier mengalun dari balik semak-semak lebat di samping bukit.
Mayang melangkah maju dengan keanggunan seorang wanita klan yang anggun. Ia mengenakan gaun tenun khas Lembah Shrouded berwarna biru laut, kontras dengan rambut hitamnya yang dibiarkan terurai ditiup angin pagi. Di tangannya, Mayang membawa sebuah keranjang kecil berisi buah-buahan hutan yang segar.
Melihat kedatangan Mayang, Rhea langsung melepaskan pelukannya dari Dion dan beralih menggandeng tangan Mayang dengan manja. "Kak Mayang! Lihat Kak Dion, dia malah melamun di sini padahal semua orang di bawah sedang merayakan kebebasan."
Mayang terkekeh rendah, matanya melirik ke arah Dion dengan tatapan yang sarat akan kehangatan yang intens. "Kakakmu itu hanya butuh waktu untuk membiasakan diri dengan udara bersih tanpa asap sihir, Rhea. Pergilah ke tenda utama dulu, bantu bibi menyiapkan sarapan. Biar Kakak yang menjaga singa kaku ini di sini."
Rhea mengangguk antusias, lalu kembali berlari turun menuju desa sambil sesekali melambaikan tangannya.
Setelah sosok Rhea menghilang di balik pepohonan, keheningan yang intim mendadak menyelimuti Dion dan Mayang. Mayang berjalan mendekat, berdiri tepat di samping Dion, membiarkan bahu mereka saling bersentuhan ringan.
"Semalam kamu minum terlalu banyak madu fermentasi bersama para tetua," buka Mayang, nadanya terdengar seperti sebuah sindiran manis. "Aku mengkhawatirkan kondisimu. Bagaimana dengan luka dalam di dadamu? Apakah sisa sihir naga ungu itu masih bergejolak?"
Dion menoleh perlahan, menatap wajah cantik Mayang yang selalu menjadi oase di tengah gurun perjuangannya. Ia meraih tangan kanan Mayang, menyatukan jemari mereka dengan genggaman yang erat dan hangat. "Naga di dalam tubuhku sudah tenang, Mayang. Dia tahu bahwa musuhnya telah tiada. Yang tersisa di sini... hanyalah aku yang mencoba mempercayai bahwa semua ini nyata."
Mayang tersenyum haru, ia menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Dion, menghirup aroma maskulin mint dan kayu pinus yang menenangkan dari tubuh pria itu. "Ini nyata, Dion. Kita sudah menang. Kamu sudah mengembalikan senyum Rhea, dan kamu sudah membersihkan namamu di depan seluruh klan."
Namun, di tengah-tengah momen romantis yang menenangkan itu, Dion mendadak merasakan sesuatu yang aneh di dalam aliran darahnya. Sebuah getaran halus, sangat tipis namun beritme konstan, mendadak berdenyut di telapak tangannya yang sedang menggenggam Mayang. Getaran itu bukan berasal dari sihir naga ungunya, melainkan seolah ada sesuatu dari kejauhan yang sedang memanggil esensi sihir kabut perak miliknya.
Sementara itu, jauh di sudut terdalam hutan mati yang berbatasan langsung dengan ujung Lembah Shrouded, suasana justru berbanding terbalik dengan kemeriahan di desa. Di dalam sebuah gua batu yang gelap dan lembap, sisa-sisa reruntuhan altar pemujaan Gorgan tampak berantakan.
Sesosok bayangan misterius yang mengenakan jubah compang-camping berwarna kelabu tua tampak berdiri di depan retakan batu altar yang masih menyisakan sisa asap hitam tipis. Di tangan bayangan itu, terdapat sebuah batu kristal berukuran kepalan tangan yang memancarkan pendar cahaya merah darah yang redup.
"Gorgan memang sudah mampus karena kebodohannya sendiri," bisik suara parau dari balik jubah kelabu itu, terdengar sangat licik dan penuh intrik. "Tapi dia meninggalkan satu mahakarya yang sangat indah... Seorang pemburu yang mampu mengubah kabut perak menjadi naga legendaris."
Bayangan itu mengangkat kristal merahnya tinggi-tinggi. Detik itu juga, sisa-sisa asap hitam dari altar Gorgan seolah tersedot masuk ke dalam kristal, mengubah warnanya menjadi ungu pekat yang bergejolak hebat.
"Nikmatilah pesta kemenanganmu sepuasnya, Dion sang Pemburu..." tawa melengking yang sangat pelan namun menggigit malam bergema di dalam gua. "Karena rantai takdirmu yang sebenarnya... baru saja mulai melilit lehermu kembali."
Kembali ke atas bukit batu, Dion mendadak melepaskan genggaman tangannya dari Mayang dengan gerakan refleks yang mengejutkan. Pria itu memegang dadanya, sepasang mata elangnya menatap tajam ke arah hutan mati di batas cakrawala. Kabut perak tipis mendadak keluar dari pori-pori kulit tangannya, berputar-putar liar sebelum akhirnya menguap ke udara.
Mayang yang melihat perubahan drastis itu langsung dicekam rasa panik. "Dion? Ada apa? Apa yang terjadi dengan sihirmu?!"
Dion tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras sempurna, dan aura dinginnya yang mengintimidasi kembali keluar, memecah kedamaian pagi yang baru saja mereka nikmati. "Ada yang tidak beres, Mayang... Sesuatu yang lebih pekat dari Gorgan... baru saja terbangun."