ini adalah kelanjutan cerita dari Dinda dan sistem,,dimana ini tentang kehidupan akhir bahagia wanita yang bernama Dinda Kirana,,setelah banyak rintangan dalam hidupnya,, akhirnya dia menemukan cinta yang benar-benar dia harapkan.
jangan lupa mampir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tangisan haru kerinduan
Mereka semua yang melihat mobil yang dikemudikan Rey masuk gerbang sontak berdiri tegak. Wajah mereka terlihat sangat bahagia.
Yang pertama turun dari mobil adalah Gara dengan gaya cool-nya. Dia merentangkan kedua tangan menyambut istrinya.
"Kemarilah, Baby. Aku tahu kamu pasti merindukan suamimu yang tampan ini," ucap Gara sambil tersenyum lebar.
Alexia tersenyum malu-malu. Dia berjalan menghampiri suaminya dan memeluknya erat.
"Sudah, Baby. Jangan sedih. Aku sudah pulang dan aku juga sangat merindukanmu. Kamu tahu, di malam hari aku tidak bisa tidur karena tidak bisa memelukmu. Baby, dalam tidurku aku selalu memikirkan mu. Dan di sana aku juga tidak selera makan karena memikirkan mu," ucap Gara dengan senyum lembut.
Verick dan yang lain yang mendengar ucapan Gara ingin muntah. Mereka muak kalau Gara sudah mulai gombal.
"Paman, apa kamu tidak memikirkan ku waktu makan?" Suara Vania membuat Gara tersadar. Dia menatap keponakannya dengan sinis.
"Tentu saja tidak! Aku hanya merindukan istriku. Kamu kan punya Ayah, untuk apa aku memikirkan mu," ucap Gara ketus.
Vania yang mendengar itu melotot dan berkacak pinggang.
"Ya sudah kalau memang kamu tidak memikirkan ku. Aku juga tidak peduli padamu," ucap Vania tak kalah ketus.
Dev mengacungkan jempol untuk putrinya karena membuat Gara tidak berkutik. Gara yang mendengar itu cemberut dan memeluk istrinya manja.
Tiba-tiba mereka melihat Dinda turun dari mobil dengan senyum lembut. Melihat kedatangan Dinda, air mata mereka menetes, terutama Verick. Dia berjalan menghampiri putri yang dirindukannya.
"Putriku? Kamu akhirnya pulang... hiks..." isaknya sambil memeluk Dinda erat, lalu mencium kening putrinya dengan air mata mengalir.
Dinda membalas pelukan ayahnya dan menepuk pundak Verick lembut.
"Ayah jangan menangis lagi. Apa Ayah tidak malu? Anak, cucu, dan menantu Ayah melihat kita," ucap Dinda. Verick menguraikan pelukannya dan menatap mereka semua yang menahan tawa.
Buru-buru dia menghapus air matanya dan melirik mereka dengan tatapan dingin. Vania yang melihat wanita cantik itu menatap wajah Dinda dengan tercengang. Dia terpesona dengan kecantikan bibinya.
Dengan ragu dia berjalan mendekati Dinda dan berdiri tepat di hadapan wanita yang sedang menatap ayahnya sambil terkekeh.
"Bibi cantik?" panggilnya. Dinda menoleh dan melihat anak kecil yang menatapnya dengan mata berbinar.
Dinda tersenyum manis, lalu berjongkok dan mengelus rambut Vania lembut.
"Apa ini keponakanku? Dia cantik sekali," ucap Dinda. Vania langsung memeluknya.
"Hiks... Bibi, akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Kalau Bibi pergi lagi, bawa aku. Aku ingin ikut dengan Bibi saja," ucapnya terisak. Semua orang terkekeh.
Alexia dan Wiwi berjalan mendekati Dinda dengan mata berkaca-kaca. Vania menguraikan pelukannya dan menatap wajah bibinya yang benar-benar cantik.
"Baiklah, Bibi akan membawamu jalan-jalan keliling dunia," ucapnya sambil terkekeh.
"Benarkah, Bi? Hore... Vania jalan-jalan sama Bibi yang cantik!" ucapnya bahagia. Dia melompat-lompat lalu memeluk kakeknya dengan sayang.
Mereka semua tertawa melihat tingkah Vania yang membuat suasana keluarga jadi semakin hangat. Dinda melihat kedua adik iparnya, lalu merentangkan kedua tangan.
"Kemarilah. Aku tahu kalian berdua ingin menangis karena merindukan kakak ipar kalian yang cantik ini," ucap Dinda sambil tersenyum.
Alexia dan Wiwi berjalan dan memeluk Dinda erat. Mereka terisak karena bahagia dengan kehadiran kakak ipar mereka lagi.
"Kakak Ipar, hiks... Apa Kakak tahu, suamiku terkadang marah padaku. Dia sekarang berani padaku saat Kakak tidak ada di rumah. Hiks... Jangan pergi lagi. Nanti siapa yang membelaku? Aku sedih kalau Kakak tidak ada di sini," adu Wiwi polos sambil memeluk Dinda dan terisak.
Alexia mengangguk mendengar ucapan Wiwi. Dia juga membuka suara dan mengadukan suaminya, Gara.
"Kakak Ipar, adikmu yang bungsu itu juga terkadang pulang malam sekali dari restoran. Hiks... Aku kesepian. Dia terus saja bilang banyak pekerjaan di sana," adu Alexia dengan manja.
Dev dan Gara melotot. Mereka membuang muka melihat tatapan tajam dari kakaknya.
"Tenanglah, kakak ipar kalian sudah pulang. Dan Kakak akan memberi keduanya pelajaran yang tidak akan mereka lupakan," ucap Dinda sambil tersenyum menyeringai menatap kedua adiknya.
Sedangkan yang dilihat membuang muka. Apalagi mendengar ucapan kakaknya, mereka bergidik ngeri. Morgan terkekeh melihat wajah kedua adiknya yang ketakutan.
"Rasakan itu. Dan aku aman, adikku tidak akan memarahiku karena aku tidak membuat kesalahan apa pun," gumamnya sambil tersenyum bangga.
Verick juga bahagia melihat wajah kedua putranya yang ketakutan.
"Dan aku akan mengadukannya juga pada putriku kalau mereka bertiga mengabaikanku dan lebih peduli pada istri mereka," gumam Verick dengan senyum licik.
Wiwi dan Alexia mengangguk antusias. Mereka tersenyum bahagia dan menguraikan pelukan.
Dinda tersadar dan melihat Nathan yang belum turun. Mereka yang melihat wajah heran Dinda jadi penasaran.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu terlihat bingung? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Verick serius.
"Ayah, aku melupakan seseorang yang masih di dalam mobil," ucap Dinda. Mereka semua saling pandang.
Mata mereka menatap serius ke arah mobil. Sedangkan Nathan yang melihat semua keluarga Dinda menatap ke arahnya mendadak sesak napas. Keringat dingin membasahi wajahnya.
"Kenapa mereka semua menatap ke sini? Haa... haa... Aku kesulitan bernapas. Sialan, kenapa aku jadi sesak begini? Bisakah aku menghilang dari sini?" ucapnya gelisah. Beberapa kali dia menghapus keringatnya.
Dinda yang belum melihat Nathan keluar sontak memanggilnya keras.
"Mas Komandanku, kemarilah Sayang. Jangan malu, keluargaku sudah menunggu kedatanganmu," ucap Dinda tanpa merasa bersalah.
Deg.
Mulut mereka menganga. Ditambah ucapan Dinda, mereka semua tercengang. Mereka saling pandang dan hanya diam kaku tanpa berani bersuara.
Sedangkan yang dipanggil ingin pingsan. Apalagi mendengar ucapan Dinda, rasanya dia mau kejang-kejang.
"Dia... dia selalu... bersikap seperti itu. Lama-lama aku bisa kehabisan napas karena ucapannya," ucap Nathan terbata-bata. Tubuhnya bergetar hebat, apalagi melihat tatapan semua anggota keluarga Erlangga yang memang sedang menunggu kedatangannya.
Bersambung
berbagai peran dan kisah di ceritakan menjadi 1 dengan peran yang tegas dan sakti..
suka banget sama ceritanya, recommended deh pokoknya..
dan aneh nya aku menyukai tingkah mereka 🤣
apa kah dia sudah beranak-pinak
semangat thor