Andin seorang anak tunggal yang harus bekerja keras karena orang tuanya jatuh miskin dan bangkrut. Ia juga akhirnya terpaksa mau di menikah muda karena kondisi ekonomi keluarga yang mendesak.
Sementara Bimo terpaksa mau menikah dengan sistem perjodohan, karena adiknya Silvia sudah hamil duluan. Karena orang tua Bimo yang baru akan memberi restu untuk menikah pada Silvia setelah Bimo menikah, akhirnya Bimo menyetujui perjodohannya dengan Andin yang ia anggap hanya sebagai menyewa pelacur.
Akankah Silvia akan ketahuan?
Akankah Bimo mampu merubah pandangannya soal Andin dan bisa menerima Andin sebagai istrinya?
Akankah Andin mampu bertahan dengan segala ujian hidupnya dan ikhlas dengan segalanya?
Penasaran? Temukan jawabannya disini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dasp.98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Setelah lama membaca di kamar akhirnya Andin keluar kamar untuk makan siang. Ponsel pun ia tinggal di kamar karena hanya akan makan sedikit dan kembali ke kamar.
"Kak Andin, mau ikut aku gak? Nyobain masakan," ajak Silvia yang melihat Andin.
"Eh, eng... Maaf tapi aku masih mau baca," jawab Andin sungkan.
"Yaahh... Gak seru deh..."
"Em, aku tanya mas Bimo dulu ya. Boleh pergi apa enggak."
Silvia langsung tersenyum sumringah mendengar Andin mau mempertimbangkan ajakannya. Silvia juga langsung menyodorkan ponselnya agar Andin bisa langsung minta ijin tanpa perlu kembali ke kamarnya.
"Apa? " saut Bimo di ujung sana.
"Assalamu'alaikum Mas," ucap Andin.
"Wa'alaikumsalam... Andin? Kenapa?"
"Silvia ajak aku pergi, mau ngicipin makanan gitu. Boleh ik... "
"Gak usah! Di rumah aja! " Bimo langsung memotong ucapan Andin.
"Yaahhh Kak, kak Andin kan di rumah terus. Masa gak boleh main sama sekali?" saut Silvia begitu kakaknya menolak mengijinkan iparnya ikut.
Bimo hanya menghela nafas dan mendesah kesal. "Yaudah boleh tapi bentar! Sebelum maghrib dah pulang ya... " putus Bimo.
"Iye pelit!" jawab Silvia senang akhirnya Bimo mengijinkan.
Andin hanya tersenyum melihat Silvia yang bisa merayu Bimo dengan mudah. "Aku siap-siap dulu ya," Andin langsung ke kamar dan mengganti bajunya dengan celana panjang dan kemeja.
Tak lama Andin datang, penampilannya sangat sederhana. Aksesoris pun hanya cincin dan tas selempang kecil yang berisi dompet dan ponsel. Rambutnya di ikat, wajahnya tanpa polesan make up sama sekali. Mungkin hanya pelembab dan lipstik tipis. Benar-benar jomplang dengan Silvia yang terlihat glamor.
Sepanjang perjalanan Andin hanya diam mendengarkan Silvia yang bercerita ini itu. Sesampainya di sana Silvia langsung menempel dengan Aldo sementara Andin mengikuti di belakangnya, obat nyamuk.
Tau gini aku makan dulu di rumah. Batin Andin lapar dan tak satupun makanan bisa ia nikmati sampai kenyang. Jelas saja namanya juga cuma icip-icip. Usai acara icip-icip yang tak mengenyangkan itu, Silvia kembali mengajak Andin jalan. Kali ini mengajaknya makan siang dengan bebar. Aldo juga ikut tentunya.
Andin hanya ikut memesan makan sesuai yang di pesan Aldo dan Silvia. Andin juga hanya diam sambil membaca info soal novel yang akan segera rilis waktu dekat ini. Andin sedikit iri sebenarnya saat melihat kemesraan adik iparnya yang tak terpaut jauh usia dengannya.
Pasti Silvia seneng banget bisa nikah sama orang pilihannya. Pasangan serasi, cakep cantik. Batin Andin lalu tersenyum sekilas menatap Silvia.
"Kak Andin kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Silvia heran dan sudah menatap tajam Andin karena mengira ia genit pada Aldo. Apalagi Aldo ikut tersenyum begitu.
"Kamu cantik, pasti seneng bentar lagi nikah. Aku gak bisa bayangin gimana waktu kamu nikah nanti," jawab Andin.
Silvia dan Aldo hanya tersenyum dan tertawa kecil mendengar ucapan Andin.
"Apaan sih Kak. Kamu loh juga cantik," Silvia benar-benar tersipu malu akan jawaban Andin.
Andin hanya menundukkan pandangannya sambil tersenyum lembut mendengar ucapan Silvia. Aldo cukup tertegun melihat bagaimana senyum Andin. Aldo bahkan hampir terpesona dengan semua yang dilakukan Andin. Dari caranya berjalan, caranya bicara dengan lembut, pembawaannya yang kalem dan dewasa, caranya tersenyum dan lagi Andin terlihat sangat cantik tanpa make up. Bahkan bagi Aldo, Andin jauh lebih cantik tanpa make up.
Andin tak begitu sadar dan peduli dengan tatapan Aldo padanya yang penuh rasa terpesona padanya. Aldo juga menyemak dengan serius apa jawaban Andin tiap di tanya Silvia, atau cara Andin memisahkan seledri yang ada di mangkuknya. Aldo benar-benar terpesona pada Andin, sampai Andin menerima telfon dari Bimo yang membuatnya tersadar Andin sudah ada yang punya.
Coba gue kenal duluan sama Andin. Dah gue nikahin sejak lama! Beda jauh bener dari Silvia. Kalo gak bunting gak gue nikahin lo! Batin Aldo sambil menatap Silvia yang bergelayut manja padanya.
kaciaaaan🤪
semoga hubungan pernikahan andin dan bimo bisa menjadi lebih baik lagi...
🤭🤣🤣🤣🤣🥰🥰🥰
😂😂😂😂